27 May 2020

Tips Menghadapi Krisis Air 2020

Ingatan saya mengembara ke masa kecil dulu. Anak-anak kecil usia sekolah dasar ramai-ramai bermain di sungai. Meloncat masuk ke dalam air bukanlah ketakutan kami. Yihaaa, bak tarzan, bergelantung di akar pohon yang menjuntai lalu menceburkan diri di jernihnya air sungai.

Di kampung halamanku, Purworejo, ada sebuah sungai besar yang berhulu di gunung Sumbing dan berhilir di pantai selatan. Di sana ada sebuah bendungan tua yang dibangun pada masa Belanda. Bendungan Siwatu namanya. Di sanalah tempat bermain anak-anak kecil yang tinggal di sekitarnya. Sungainya jernih, banyak ikan, masih banyak bebatuan besar dan kecil di tengahnya. Kalau pintu air bendungan sedang ditutup, airnya sangat surut. Kami riang gembira karena bisa menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Di tengahnya ada pulau pasir yang lumayan besar untuk bermain puluhan anak.

foto hanya ilustrasi. (dok. pribadi) 


Lain dulu lain sekarang, semenjak bendungan diperbaharui, kondisinya banyak berubah. Kini warna airnya tak jernih lagi. Batu-batu di tengah sungai entah kemana. Pohon-pohon besar di pinggir sungai juga lenyap. Kini kondisinya gersang dan yang pasti tidak bersahabat. Anak-anak di sekitar sana sudah tidak ada lagi yang bermain di sungai. Bahkan orang tua dan penjaga bendungan tegas melarang karena sering ada korban anak tenggelam.

Rindu akan sungai yang seperti dulu.

Anak-anak sekarang, sudah tidak mengenal bermain di sungai. Kalaupun ada, mungkin sangat jarang. Kalaupun ada, mungkin di daerah pegunungan yang belum tersentuh pembangunan. Kalaupun ada, mungkin memang sudah terbiasa meski dengan kondisi air kotor dan tercemar, seperti yang dilakukan masyarakat sepanjang sungai Musi.

Keberadaan sungai ini harus dilestarikan mengingat sungai merupakan sumber air untuk kehidupan. Namun sayang, perbuatan manusia merusak bentang alamiahnya, misalnya daerah penampungan air dan daerah aliran sungai, merusak ekosistem sehingga mencemari air sungai dengan limbah. Hal ini demi pembangunan yang mencari keuntungan.

Problem krisis air tak bisa dihindari. Pprediksi krisis air mengancam hampir 10% wilayah di Indonesia atau setara dengan dua kali luas pulau Jawa. Tak hanya itu, kualitas air juga diperkirakan menurun signifikan. Badan Kesehatan WHO menyebut, krisis air ini merupakan dampak terjadinya perubahan iklim ekstrim.

foto hanya ilustrasi. (dok. pribadi) 

Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan siaran Ruang Publik radio KBR tentang Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan 2020 dengan narasumber Koordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA), Muhammad Reza dan Kelompok masyarakat peduli air dari Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur, Cak Purwanto.



Isu kekeringan tentunya hampir setiap tahun pasti ada. Ada baiknya informasi perubahan iklim seperti ini dapat disebarluaskan ke masyarakat agar mereka dapat mempersiapkan diri. Bukan untuk nakut-nakutin, tapi untuk lebih waspada dan mempersiapkan diri.

Tips Menghadapi Krisis Air


Menurut Cak Pur, krisis air itu tidak hanya tentang kuantitas air namun juga kualitas air. Meskipun air banyak dan melimpah, jika itu tidak bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari, maka bisa dikategorikan sudah krisis air (bersih). Di Indonesia, banyak sungai yang sudah tercemar dan tidak layak. Hal ini dikarenakan perbuatan kita yang membuang sampah, limbah rumah tangga dan industri di sungai.

Berikut tips-tips untuk menghadapi krisis air:
- memanfaatkan dan menampung air hujan
Saya ingat waktu tinggal di rumah kayu, dimana sumber airnya jauh dari rumah. Kami harus menggunakan pipa ratusan meter untuk menyalurkan air ke rumah. Ketika musim kemarau datang, kami harus ngirit-ngirit air.
Waktu hujan datang, kami seperti diberi sesuatu yang berharga. Rasanya senang sekali. Pada saat hujan itulah kesempatan kami untuk memenuhi bak penampungan air.

- membuat bio pori skala kecil di rumah
Di sekitar tempat tinggal yang sekarang, jalan di gang sudah menggunakan aspal. Meskipun jalan kecil yang cuma bisa masuk 1 mobil kecil, kami para warga sekitar dengan sadar membuat biopori di sepanjang gang ini. supaya air hujan cepat meresap ke tanah dan tidak menggenang.

- perlu sinergi dengan antar elemen, mulai dari komunitas di masyarakat, pelaku penggiat lingkungan  sampai pemerintah harus mencari satu titik tengah, harus saling bersinergi.

Pemerintah taati mahkamah agar apa yang dilakukan masyarakat tidak sia-sia.

Masalah tentang air memang tidak akan pernah ada habisnya, namun jika kita bisa bekerjasama, kita pasti bisa melalui masa-masa sulit itu nantinya.


Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

0 komentar:

Post a comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)
Mohon maaf komentar dimoderasi karena banyak spam yang masuk.