25 October 2026

Menemukan ‘Vibe’ Baru di Tengah Riuhnya Peran: Cerita dari Peluncuran Jajaran AI PC ASUS & Accessories Terbaru

Ada hari-hari ketika meja kerja saya di sudut Uwienbudi Creative Space—terlihat seperti miniatur dari sebuah kerajinan tangan yang belum selesai. Di sebelah kanan ada invoice percetakan yang harus dikirim ke pelanggan, di layar laptop terbuka draft tulisan blog yang belum tuntas, dan di sebelah kiri... tiba-tiba ada mainan Arda yang tergeletak manis.

Belum lagi kalau sayup-sayup terdengar suara, "Mamaaa, lihat deh..." dari si kecil yang sedang berada di fase super kreatif dan butuh perhatian ekstra.




Sebagai ibu dari empat anak yang juga mengelola bisnis mandiri dan aktif sebagai public relations komunitas, hidup saya ini memang tidak punya satu kotak pekerjaan yang rapi. Semuanya sering kali berjalan bersamaan. Makanya, buat saya, laptop dan perintilannya itu bukan cuma sekadar alat elektronik biasa. Mereka adalah "partner tempur" sekaligus ruang kerja portable yang wajib bisa diandalkan kapan saja dan di mana saja.


Nah, beberapa waktu lalu, tepatnya pada 22 Oktober 2026, saya berkesempatan hadir langsung di acara “ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Bandung 2026”. Menghadiri acara yang digelar di Ballroom 1 Hilton Hotel Bandung ini selalu memberikan energi tersendiri buat saya. Begitu masuk ke ruangan, mata saya langsung tertuju pada panggung utama. Di sana, tiga punggawa ASUS Indonesia—Brama Setyadi (Head of Public Relations and Digital), Davina Larissa (Country Marketing Manager), dan Adrian Pradipta (Technical Public Relations)—menyapa hangat seluruh rekan media, blogger, dan kreator lokal Bandung.

Pak Brama membuka presentasi dengan memaparkan fakta yang bikin saya berdecak kagum: ASUS sukses mempertahankan posisinya sebagai Brand Laptop No. 1 di Indonesia sejak 2013. Mereka berhasil mendominasi pasar tanah air dengan raihan pangsa pasar Consumer Notebook sebesar 36% dan Consumer Gaming sebesar 37%. Angka yang luar biasa ya, Manteman? Mengingat persaingan dunia teknologi itu dinamis sekali, mempertahankan posisi puncak selama lebih dari satu dekade jelas bukan perkara gampang.


Lalu, apa sih rahasia di balik ketangguhan ASUS hingga terus memimpin pasar komputasi di Indonesia? Dijelaskan bahwa pilar utama mereka bersandar pada dua hal: Innovation that Moves the Industry dan No.1 Quality & Service. Melalui pernyataan dari Lenny Lin selaku Country Manager ASUS Indonesia, ASUS berkomitmen memperkuat standar kualitas dan layanan purna jual demi memastikan setiap perangkatnya tangguh menghadapi aktivitas harian penggunanya di Bandung dan seluruh Indonesia.

Ketika Kecerdasan Bukan Lagi Gimmick: Menyambut Era Baru AI PC yang Mandiri


Selama acara berlangsung, ada satu tema besar yang terus digaungkan: "Leading the AI PC Era". ASUS tidak main-main dalam membangun ekosistem bertenaga kecerdasan buatan ini. Dengan performa komputasi dahsyat hingga 1 Petaflop FP4 AI, ASUS memamerkan lini laptop terintegrasi AI yang sangat komprehensif, mencakup hampir semua segmen pengguna:


• Vivobook & Vivobook S: Ditujukan untuk kebutuhan Everyday AI dan Next-Level AI. Dibekali NPU berkecepatan 50+ TOPS hingga 80 TOPS pada varian tertinggi, laptop ini jauh melampaui standar minimal Copilot+ PC dari Microsoft. Sangat cocok untuk pekerja kantoran atau blogger seperti saya yang butuh efisiensi tinggi tanpa hambatan.

• Zenbook: Mengusung konsep Next-Gen AI yang memadukan keindahan desain premium, bodi ultra-tipis, dan performa cerdas. Menggunakan material inovatif Ceraluminum™, laptop ini menjadi salah satu yang tertipis dan teringan di kelasnya. Salah satu primadonanya adalah Zenbook DUO yang memiliki dua layar sentuh penuh.

• ProArt: Diberi label Elite AI, seri ini dirancang khusus untuk para kreator konten profesional yang membutuhkan komputasi AI kelas berat guna mempercepat proses kreasi visual.

• ROG & TUF Gaming: Menawarkan kekuatan Next-Gen AI bagi para gamers dan kreator, memastikan performa visual tetap mulus dan responsif.



Hebatnya lagi, ASUS memperkenalkan beberapa aplikasi pintar bawaan (Local AI Tools) yang dijalankan langsung di perangkat tanpa perlu bergantung pada koneksi internet. Ada ASUS Virtual Assistant OMNI, sebuah AI chatbot eksklusif yang beroperasi sepenuhnya secara offline demi menjaga privasi data kita.


Ada juga ASUS Zenni Claw, sebuah platform AI Agent yang jauh lebih pintar dari chatbot konvensional. Lewat fitur ASUS Skills, Zenni Claw mampu memahami tujuan pengguna, menyusun langkah kerja, hingga menyelesaikan tugas multi-tahap secara mandiri—mulai dari menyusun draf presentasi, membuat itinerary perjalanan, hingga merangkum berita harian. Dukungan pemrosesan ini bisa dipilih secara lokal, cloud, maupun hybrid sesuai dengan kebutuhan kita.

Ekspresi Tanpa Batas: Laptop Bertenaga yang Pas dengan Gaya Personalmu


Dari sekian banyak pemaparan produk, sesi "ASUS Pick Your Vibe" yang dipandu oleh Mas Adrian Pradipta adalah momen yang paling bikin mata saya berbinar-binar. Lewat tema ini, ASUS menegaskan bahwa pengguna tidak perlu lagi bingung memilih antara laptop bertenaga atau laptop yang stylish.



ASUS memamerkan jajaran produk terbaru mereka yang sangat modis, seperti ASUS Vivobook 14 hingga ASUS Vivobook Go 14 sebagai rekomendasi laptop pelajar terbaik. Keduanya tampil memikat dengan layar NanoEdge ber-bezel tipis yang nyaman di mata, serta hadir dalam 3 varian warna yang mencerminkan karakter penggunanya.

Dan yang paling bikin gemas adalah deretan aksesorinya (Perfect Pair), seperti:
• ASUS Marshmallow Keyboard (KW100) & Mouse (MD100): Desainnya yang minimalis, nirkabel, ringkas, dan dilengkapi tombol yang senyap (silent). Hadir dengan pilihan warna pastel yang super estetik: Lilac Mist Purple, Quiet Blue, dan Sage Green yang bisa dipadukan serasi dengan warna Vivobook pilihan kita.
• ASUS SmartO Mouse (MD200): Dirancang ergonomis dengan sandaran ibu jari dan sensor presisi tinggi, sangat cocok menemani aktivitas jangka panjang seperti pengerjaan tugas kuliah atau proyek kreatif.



Bebas Khawatir di Rumah Riuh: Jaminan Tangguh Berstandar Militer dan Servis VIP


Sebagai seorang ibu, salah satu ketakutan terbesar saya adalah faktor durabilitas perangkat kerja. Beruntung, di booth durability test kemarin, saya menyaksikan langsung bagaimana laptop ASUS diuji secara ekstrem melewati standar militer US MIL-STD 810H—mulai dari tes guncangan, kelembapan, suhu ekstrem, hingga tekanan udara rendah yang sangat relevan dengan iklim tropis Indonesia.


Ketangguhan fisik ini disempurnakan oleh perlindungan purnajual yang luar biasa. ASUS memberikan peningkatan garansi berupa hingga 3 Tahun Garansi Internasional & 3 Tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP) untuk lini premium seperti ProArt, Zenbook, serta Vivobook S series dan Vivobook Flip. Sementara untuk jajaran Vivobook classic, kini mendapatkan hingga 2 Tahun Garansi Internasional & 2 Tahun ADP. Bahkan, ekosistem aksesori mereka (kecuali backpack) mendapatkan garansi penggantian 100% selama 1 tahun untuk kendala fungsional!


Semua layanan ini didukung oleh jaringan 141 titik layanan resmi di seluruh Indonesia dan cakupan internasional di lebih dari 90 negara. Khusus bagi pengguna Zenbook, ProArt, dan ROG, ASUS menyediakan ASUS Premium Service yang terdiri dari:
1. Fastlane: Jalur antrean prioritas agar kunjungan servis berlangsung cepat.
2. Free Round-Trip Shipping: Fasilitas jemput dan antar laptop gratis dari rumah ke service center.
3. Laptop Spa: Perawatan berkala gratis untuk membersihkan debu dan kotoran, hingga pergantian pasta prosesor jika diperlukan.



Mahakarya untuk Para Profesional: Kenalan dengan ASUS ProArt Berteknologi RTX Spark

Nah, primadona sesungguhnya di acara ini adalah ASUS ProArt P14 dan ASUS ProArt P16 yang baru saja resmi diluncurkan pada 20 Oktober 2026. Kedua laptop kreator ini langsung menjadi bintang demo di lokasi pameran. Dilengkapi dengan layar sentuh berteknologi ASUS Lumina Pro OLED, akurasi warna yang dihadirkan benar-benar nyata dan akurat demi mendukung kebutuhan kreator profesional.


Dapur pacunya luar biasa bertenaga karena ditenagai oleh superchip NVIDIA RTX Spark™ pertama di Indonesia. Chip ini menggabungkan GPU 6144-core dan CPU 20-core dalam satu wadah Unified Memory yang masif—yaitu 64GB pada ProArt P14 dan 128GB pada ProArt P16! Spesifikasi monster ini membuat model AI generatif dan workflow Agentic AI lokal bisa berjalan mulus langsung di dalam laptop secara offline.


Di sesi demo, kami diperlihatkan bagaimana Hermes Agent bekerja secara lokal: membaca folder proyek, merangkum brief klien, lalu menulis draft naskah baru tanpa ada satu pun dokumen yang keluar dari laptop. Keamanan data bener-bener terjamin! Bagi kreator video, aplikasi seperti DaVinci Resolve Studio mampu memanfaatkan 6.144 CUDA Core-nya untuk mengakselerasi workload video hingga resolusi 8K.


Dengan bobot yang tergolong ringan untuk kelasnya (1,4 kg untuk P14 dan 1,7 kg untuk P16), lolos uji MIL-STD 810H, serta dilindungi garansi 3 tahun penuh, laptop ini benar-benar mendefinisikan ulang apa itu laptop kreator masa depan.

Menghargai Pilihan dan Langkah Hidup Kita


Pulang dari acara peluncuran tersebut, saya merenung sejenak. Memilih teknologi yang tepat ternyata mirip sekali dengan cara kita dalam menjalani hidup. Kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti vibe atau standar orang lain.




Jika ritme hidupmu saat ini menuntut mobilitas tinggi dengan komputasi AI lokal kelas berat, seri ProArt atau Zenbook adalah belahan jiwamu. Namun, jika kamu membutuhkan partner harian yang cerdas, tangguh, penuh warna, dan ramah untuk menemani menulis di kafe atau mengelola bisnis dari rumah, jajaran Vivobook dan aksesori Marshmallow-nya sudah lebih dari cukup untuk membuat harimu produktif dan menyenangkan.


Teknologi yang baik bagi saya bukanlah teknologi yang memaksa kita untuk bekerja tanpa henti hingga melupakan kehidupan nyata. Sebaliknya, teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu menyelesaikan tugas-tugas kita secara cepat, efektif, dan cerdas berbasis AI. Dengan begitu, kita bisa menghemat banyak energi dan memiliki lebih banyak waktu luang untuk kembali kepada esensi hidup yang paling bermakna: memeluk anak-anak, menemani pasangan, berkontribusi di komunitas, dan tentu saja, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk terus bertumbuh tanpa perlu overthinking.


Jadi, dari seluruh ekosistem laptop AI dan aksesori cantik yang dipamerkan ASUS kemarin, mana nih yang paling cocok dengan ritme dan langkah hidup yang sedang Manteman jalani saat ini? Yuk, kita saling berbagi cerita di kolom komentar!

 



This entry was posted in

30 September 2026

Apa Itu Open Cost Umroh? Memahami Biaya Umroh Desember 2026 dari Sudut Pandang Jemaah

 Open Cost adalah cara menetapkan harga paket umrah dengan terbuka dan transparan. Calon jemaah bisa mengetahui rincian biaya yang sebenarnya, seperti biaya tiket pesawat, hotel, transportasi, visa, dan kebutuhan lainnya.

Untuk paket tertentu, harga yang ditampilkan masih berupa perkiraan (estimasi). Jadi, jumlah akhirnya bisa berubah karena ada biaya yang mengikuti kondisi pasar, misalnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan harga tiket pesawat.

Sederhananya:

Open Cost berarti calon jemaah tidak hanya diberi tahu “harga paketnya berapa”, tetapi juga bisa memahami uang tersebut digunakan untuk biaya apa saja.


 ....

 “Kalau saya tahu uang saya dipakai untuk apa saja, apakah saya akan lebih tenang memilih travel umroh?”

Pertanyaan yang ada di pikiran banyak calon jamaah, termasuk saya. Semakin dekat dengan rencana keberangkatan umroh, semakin banyak hal yang ingin diketahui.

Bukan hanya, “Berapa harga paketnya?”

Saya sebagai calon jamaah (aamiin) mulai bertanya: tiket pesawatnya berapa? Hotelnya seperti apa? Apakah penerbangannya transit? Visa dan transportasi sudah termasuk? Lalu, dari total uang yang saya bayarkan, sebenarnya berapa yang merupakan biaya perjalanan dan berapa yang menjadi biaya jasa travel?

Di titik itulah saya menemukan konsep yang cukup menarik dari Open Travel: Open Cost.

Bukan sekadar menawarkan paket umroh, Open Travel mencoba mengajak calon jemaah melihat lebih jauh apa yang ada di balik sebuah angka harga.


Ketika Harga Tidak Lagi Sekadar Angka

Sebagai konsumen, kita biasanya terbiasa menerima harga dalam bentuk paket.

Misalnya, sebuah travel menawarkan paket umroh dengan satu angka. Kita tinggal membandingkan: yang satu berapa, yang lain berapa. Fasilitasnya apa saja. Hotelnya di mana. Pesawatnya apa.

Selesai.

Tapi konsep Open Cost membuat saya melihat harga dengan cara yang sedikit berbeda.

Dalam sistem ini, komponen biaya riil seperti tiket pesawat, hotel, visa, transportasi darat, konsumsi, handling, dan kebutuhan operasional lainnya dijelaskan kepada calon jemaah.

Saya membayangkannya seperti membuka struk belanja.

Bukan hanya melihat angka total di bagian bawah, tetapi bisa memahami apa saja yang membentuk angka tersebut.

Dan menurut saya, di sinilah letak hal yang menarik.

Transparansi bukan berarti harga dijamin tidak berubah.

Open Travel menjelaskan bahwa angka yang ditampilkan merupakan estimasi biaya riil pada saat itu. Nilainya masih dapat berubah mengikuti kondisi seperti kurs dan harga tiket pesawat menjelang keberangkatan.

Jadi, saya justru akan mencatat hal ini sebagai sesuatu yang perlu dipahami sejak awal.

Harga terbuka bukan berarti harga yang selamanya tetap.




Lalu, Apa Bedanya dengan Travel Umroh Lain?

Pertanyaan berikutnya tentu saja muncul.

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya membedakan Open Travel?”

Setiap travel tentu memiliki konsep dan cara pelayanan masing-masing. Open Travel membawa pembeda melalui beberapa hal, salah satunya adalah transparansi biaya melalui sistem Open Cost.

Selain itu, Open Travel memperkenalkan filosofi “Gerakan Khidmah”, dengan nilai Amanah, Transparansi, dan Ta'awun atau semangat saling membantu.

Yang membuat saya semakin penasaran justru bukan hanya istilah-istilah tersebut.

Ada satu bagian lain yang terdengar tidak biasa:

bayar jasa seikhlasnya.

Dan di sinilah saya mulai tertarik saat dijelaskan oleh Open Travel.


“Bayar Jasa Seikhlasnya” Itu Maksudnya Apa?

Kalau biaya paket adalah biaya riil, lalu bagaimana dengan jasa travel?

Ini pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya, mungkin juga di kepala banyak calon Jemaah lainnya.

Dalam konsep Open Travel, fee jasa pelayanan tidak dipatok sebagai margin tetap yang dimasukkan ke dalam harga paket.

Jemaah memberikan fee jasa secara sukarela, di luar biaya riil operasional, sesuai keikhlasan dan kemampuan masing-masing.

Tapi ada satu hal yang menurut saya penting untuk digarisbawahi:

“Seikhlasnya” bukan berarti gratis.

Ini juga bukan berarti travel tidak mendapatkan penghargaan atas pelayanan yang diberikan. Konsepnya lebih seperti bentuk kepercayaan dua arah. Open Travel membuka biaya riil perjalanan kepada calon jemaah. Kemudian jemaah memberikan apresiasi terhadap jasa pelayanan secara sukarela.

Jadi, biaya operasional dan fee jasa ditempatkan sebagai dua hal yang berbeda. Dan yang menarik, sistem ini tidak berarti standar fasilitas paket menjadi seadanya.




Coba Lihat Paket Umroh Plus Thoif Akhir Tahun

Salah satu paket yang ditawarkan kemarin adalah “Umroh Plus Thoif Akhir Tahun” selama 12 hari.

Jadwal keberangkatannya adalah 26 Desember 2026 sampai 6 Januari 2027.

Untuk penerbangan, paket menggunakan Saudia dengan direct flight tanpa transit.

Sementara untuk akomodasi, hotel yang dicantumkan adalah hotel bintang 3, dengan jarak sekitar 5–7 menit ke Masjidil Haram dan 4–6 menit ke Masjid Nabawi.

Estimasi biayanya adalah Rp34.427.048 per pax untuk kamar quad, setelah mendapatkan subsidi sponsor Rp1 juta.

Harga modal yang tercantum adalah Rp35.427.048.

Di sini saya garisbawahi pada kata: estimasi. Karena angka tersebut merupakan estimasi biaya riil, bukan harga yang dijamin flat sampai hari keberangkatan. Karena itu, menurut saya calon jemaah perlu melihat informasi ini secara utuh, bukan hanya mengambil angka Rp34 jutaan lalu udah.




Kalau Saya Menjadi Calon Jemaahnya…

Saya mungkin akan bertanya lebih banyak.

·       Bagaimana rincian biaya tiketnya?

·       Bagaimana kalau kurs berubah?

·       Apa saja yang termasuk dalam biaya operasional?

·       Bagaimana mekanisme fee jasa seikhlasnya?

·       Dan tentu saja, siapa sebenarnya penyelenggaranya?

Sebelum ke sana, ada baiknya kita cek siapa dibalik Open Travel dan track recordnya. Penyelenggaranya adalah PT Pariwisata Qurani Berkah Gemilang, dengan No. PPIU: 022000445203600002. Kantornya berada di Ruko Pesona Cisaranten Indah No. 8, Cisaranten Kulon, Arcamanik, Bandung, dengan CEO Fajar Permana.



Buat saya, informasi seperti ini penting karena memilih perjalanan ibadah bukan sekadar membandingkan harga. Ada rasa percaya yang juga perlu dibangun.



Justru Karena Transparan, Kita Harus Lebih Banyak Bertanya

Ada hal yang saya sukai dari konsep seperti ini: ketika biaya dibuka, posisi kita sebagai konsumen tidak berhenti pada pertanyaan “berapa harganya?”

Pertanyaannya bisa menjadi lebih kritis:

“Apa yang membentuk harga itu?”

Dan menurut saya, itu adalah pertanyaan yang sehat.

Karena perjalanan umroh bukan pembelian biasa. Ada uang yang kita siapkan, ada waktu yang kita kosongkan, ada keluarga yang mungkin kita tinggalkan sementara, dan tentu ada harapan besar untuk menjalankan ibadah dengan tenang.

Karena itu, transparansi seharusnya bukan membuat kita berhenti bertanya.

Sebaliknya, transparansi memberi kita kesempatan untuk bertanya dengan lebih baik.

Saya juga tidak akan langsung menyimpulkan bahwa konsep Open Cost otomatis cocok untuk semua orang. Calon jemaah tetap perlu membaca rincian, memahami kemungkinan perubahan biaya, memastikan fasilitas, dan menanyakan mekanisme pelayanan sebelum mengambil keputusan.

Tetapi justru di situlah menariknya.

Open Travel menawarkan sebuah cara berbeda untuk melihat biaya perjalanan umroh: bukan hanya dari angka akhirnya, tetapi dari apa yang ada di balik angka tersebut.


Jadi, Apakah Open Travel Layak Dipertimbangkan?

Sebagai calon jamaah, saya tidak akan langsung nanya, “Ini travel paling murah atau bukan?”

Saya akan bertanya: “Aku paham gak sih sama apa yang aku bayar?”

Karena buat saya, harga yang terlihat murah gak otomatis membuat hati tenang. Begitu pula harga yang lebih tinggi belum tentu otomatis pasti bagus. Yang ingin saya lihat adalah informasi yang jelas, fasilitas yang bisa dipahami, legalitas yang dapat dicek, dan mekanisme biaya yang terbuka.

Dan konsep Open Cost setidaknya menawarkan titik awal untuk percakapan itu. Bukan berarti tidak ada hal yang perlu ditanyakan. Justru sebaliknya.

Semakin terbuka sebuah penawaran, semakin penting kita membaca detailnya.




FAQ Singkat

1. Apa itu Open Cost?
Open Cost adalah sistem penetapan harga paket umroh dengan membuka komponen biaya riil seperti tiket, hotel, visa, transportasi, konsumsi, handling, dan biaya operasional lainnya.

2. Apakah harga Rp34.427.048 pasti tetap?
Tidak. Angka tersebut merupakan estimasi biaya riil dan dapat berubah mengikuti kurs serta harga tiket menjelang keberangkatan.

3. Apakah “bayar jasa seikhlasnya” berarti gratis?
Tidak. Fee jasa diberikan secara sukarela di luar biaya riil operasional.

4. Kapan paket Umroh Plus Thoif Akhir Tahun berangkat?
26 Desember 2026 sampai 6 Januari 2027, selama 12 hari.

5. Apa fasilitas utamanya?
Saudia direct flight tanpa transit dan hotel bintang 5 dengan jarak sekitar 5–7 menit dari Masjidil Haram serta 4–6 menit dari Masjid Nabawi.


Kalau Anda (Calon Jamaah Umroh yang Dirahmati Allah) Ikut Penasaran…

Mungkin pertanyaan paling menarik setelah membaca artikel ini bukan lagi: “Berapa harga umrohnya?”

Ganti menjadi: “Sebenarnya, apa saja yang saya bayar?”

Buat manteman yang ingin melihat langsung konsep Open Cost, detail paket, dan mekanisme pelayanan Open Travel, cek informasi resminya melalui dev.opentravel.id, Instagram @opentravel.id, atau WhatsApp 0851-8818-8147. Channel tersebut merupakan kanal resmi.

25 August 2026

Review ASUS ExpertBook Ultra: Ketika Laptop Bukan Sekadar Alat Kerja

Ada hari-hari ketika meja kerja saya terlihat seperti peta kecil kehidupan. Di satu sudut ada pesanan pelanggan yang belum selesai. Di layar laptop terbuka desain, email, WhatsApp, dokumen pekerjaan, dan bahan tulisan. Belum selesai satu pekerjaan, sudah muncul pekerjaan lain.

Lalu terdengar suara:

“Mamaaa…” dari si kecil Arda.

Saya menoleh.

Kadang Arda dan anakku yang lain hanya ingin bertanya atau ingin ditemani. Kadang cuma ingin nunjukin sesuatu yang menurut mereka sangat penting.


Begitulah kehidupan saya.

Saya menjalankan bisnis percetakan, mengelola Uwienbudi Creative Space, menjadi istri, ibu dari empat anak—Dhia, Akram, Arfan, dan Arda—dan di sela semuanya saya juga menjalankan peran sebagai public relations di komunitas Berkembang Bersama.

Kalau ditanya pekerjaan saya apa, saya sering bingung menjawabnya. Karena hidup saya gak punya satu kotak pekerjaan. Pagi bisa menjadi pengusaha, siang jadi ibu, sore ngurus komunitas, dan malam kembali menjadi istri dan ibu. Sering kali semuanya terjadi bersamaan.

Karena itu, bagi saya laptop bukan sekadar perangkat elektronik.

Ia adalah meja kerja yang bisa dibawa ke mana-mana.

Dan ketika ASUS memperkenalkan ASUS ExpertBook Ultra (B9406CAA) sebagai laptop bisnis flagship, saya tertarik melihatnya dari pertanyaan sederhana:

Apakah laptop ini benar-benar cocok untuk perempuan seperti saya yang punya banyak peran?



Ringan, tetapi Tetap Tangguh

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah mobilitas. ExpertBook Ultra memiliki bobot mulai dari 0,99 kg pada varian POLED, sementara versi Tandem OLED berbobot sekitar 1,09 kg. Bagi saya, itu berarti tas kerja yang lebih ringan. Soalnya tas saya bukan cuma berisi laptop dan charger. Ada dokumen, buku, barang pekerjaan, bahkan kadang barang anak.

Menariknya, ringan bukan berarti ringkih.

ASUS menyebut ExpertBook Ultra telah melalui 24 prosedur pengujian US MIL-STD-810H, termasuk pengujian ketahanan fisik dan tekanan hingga 100 kg dalam skenario tertentu.

Saya suka konsepnya: bukan laptop untuk dipajang, tetapi laptop yang memang siap diajak bekerja.




Layar yang Relevan untuk Pekerjaan Kreatif

Sebagai pemilik bisnis percetakan dan creative space, saya cukup sering bekerja dengan visual. Desain, foto, poster, konten media sosial, hingga presentasi. Karena itu, layar menjadi bagian penting.

ExpertBook Ultra menawarkan layar 14 inci 3K 2880 × 1800 dengan rasio 16:10. Pada konfigurasi Tandem OLED, kecerahannya mencapai 1.400 nits HDR peak, mendukung 100% DCI-P3, touchscreen, anti-glare, serta VESA DisplayHDR True Black 1000.

Bagi saya, ini bukan sekadar membuat laptop terlihat cantik.

Saat bekerja di Creative Space, rumah, ruang meeting, atau bahkan di luar ruangan, layar yang terang dan nyaman dilihat tentu sangat membantu.

Multitasking yang Memang Saya Butuhkan

Ada satu kata yang paling menggambarkan pekerjaan saya: multitasking.

Bisa mengerjakan proposal sambil membalas pelanggan. Membuka desain sambil berdiskusi dengan tim. Meeting sambil mencatat. Lalu tiba-tiba menjawab pertanyaan anak.

ExpertBook Ultra hadir dengan pilihan prosesor hingga Intel Core Ultra X9-388H, dengan NPU hingga 50 TOPS untuk pemrosesan AI. Tersedia pula RAM hingga 64 GB LPDDR5X dan storage hingga 2 TB PCIe 5.0 NVMe SSD, tergantung konfigurasi.

Buat saya, angka-angka ini baru terasa berarti ketika diterjemahkan ke pekerjaan sehari-hari: lebih leluasa membuka banyak aplikasi, mengolah file besar, dan menjalankan berbagai pekerjaan tanpa harus terus-menerus menunggu perangkat. no lemot lemot club!




AI yang Bisa Membantu Pekerjaan

Saya selalu punya pertanyaan ketika mendengar kata AI:

“AI-nya bisa membantu saya apa?”

Pada ExpertBook Ultra, fitur seperti ASUS AI ExpertMeet dapat membantu transkripsi, penerjemahan, dan optimasi kamera berbasis AI.

Sebagai PR komunitas, ini menarik. Dalam meeting, saya tidak hanya perlu mencatat apa yang dikatakan orang. Saya juga perlu memahami pembicaraan, menangkap keputusan, dan memikirkan langkah berikutnya.

Kalau teknologi bisa membantu mengurangi pekerjaan administratif, saya bisa lebih fokus pada komunikasi itu sendiri.


Port Lengkap, Tidak Banyak Drama

Saya juga tidak suka membawa terlalu banyak dongle. ExpertBook Ultra menyediakan dua Thunderbolt 4, dua USB-A 3.2 Gen 2, HDMI 2.1, dan audio jack 3,5 mm.

Untuk saya yang sering berpindah tempat, ini terasa praktis. Datang ke meja kerja, sambungkan perangkat yang diperlukan, lalu lanjut bekerja.

Selain itu, perangkat ini mendukung Wi-Fi 7 dan Bluetooth 6.0, yang relevan untuk pekerjaan yang sangat bergantung pada koneksi internet.


Baterai dan Keamanan

ExpertBook Ultra menggunakan baterai 70 Wh dan ASUS mengklaim daya tahan hingga 26 jam dalam kondisi pengujian tertentu. Pemakaian nyata tentu bergantung pada konfigurasi dan beban kerja. Untuk saya, baterai besar berarti lebih fleksibel ketika bekerja jauh dari stopkontak.

Namun ada satu hal lain yang semakin penting bagi saya: keamanan data.

Data pelanggan, file desain, dokumen bisnis, materi komunitas, dan berbagai informasi pekerjaan semuanya tersimpan secara digital.

ExpertBook Ultra membawa ASUS ExpertGuardian, TPM 2.0, Windows Hello, fingerprint, privacy shutter, serta perlindungan BIOS pada konfigurasi tertentu.

Bagi saya, keamanan bukan fitur yang keren karena terdengar canggih. Keamanan penting karena data adalah aset.


Jadi, Apakah Cocok untuk Saya?

Jawaban saya: cukup masuk akal, terutama untuk kebutuhan profesional.



Saya melihat kekuatan ExpertBook Ultra bukan pada satu fitur saja, melainkan kombinasi:

ringan, kuat, performa tinggi, layar premium, AI, konektivitas lengkap, dan keamanan bisnis.

Tentu laptop flagship seperti ini bukan untuk semua orang. Jika kebutuhan hanya browsing, mengetik dokumen sederhana, dan pekerjaan ringan, spesifikasi setinggi ini mungkin terasa berlebihan.

Tetapi untuk orang yang pekerjaannya melibatkan banyak aplikasi, file kreatif, meeting, mobilitas, dan kebutuhan keamanan, kelas perangkat seperti ini mulai terasa relevan.

Karena pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah laptop ini mahal?”

Tetapi:

“Apakah perangkat ini sebanding dengan nilai pekerjaan yang saya lakukan dengannya?”


Karena yang Saya Beli Bukan Hanya Laptop

Pada akhirnya, saya kembali ke meja kerja.

Ada laptop. Ada printer. Ada kertas. Ada pekerjaan.

Dan mungkin sebentar lagi terdengar lagi:

“mamaaa…”

Saya tahu saya akan menoleh. Karena saya adalah ibu. Setelah itu mungkin saya kembali ke layar, karena saya adalah pengusaha. Nanti ada pesan dari komunitas, karena saya juga bagian dari Berkembang Bersama.

Begitulah hidup saya.

Saya gak sedang menjalani terlalu banyak kehidupan. Saya hanya menjalani satu kehidupan yang memiliki banyak peran. Dan saya percaya teknologi yang baik bukan teknologi yang membuat kita bekerja tanpa henti. Teknologi yang baik justru membantu kita bekerja lebih efektif, sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk kembali kepada hal-hal yang penting.

Kepada anak-anak, pasangan, komunitas, daaan kepada diri sendiri.

Karena di antara suara printer, notifikasi pesan, desain yang harus selesai, dan empat anak yang memanggil, saya tetap ingin punya ruang untuk menjadi saya.

Bukan hanya perempuan yang bekerja.

Bukan hanya pemilik bisnis.

Bukan hanya ibu.

Tetapi seorang perempuan yang terus berkembang.

Dan mungkin, seperti laptop yang saya bawa ke berbagai sudut kehidupan, saya pun sedang belajar melakukan hal yang sama:

tetap ringan, tetap kuat, terus bergerak, dan tetap punya ruang untuk bertumbuh.

Seperti ASUS yang terus berinovasi, semoga tahun ini ASUS menjadi nomor 1, begitupun saya... lebih banyak mengambil keputusan dan mengurangi overthinking.

This entry was posted in

13 August 2026

Aku Tidak Hilang, Aku Hanya Sedang Menjalani Hidup


Aku Tidak Hilang, Aku Hanya Sedang Menjalani Hidup

Ada masa ketika aku begitu rajin menulis.

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, banyak kejadian yang ingin kusimpan dalam kata-kata. Tentang anak-anak, tentang rumah, tentang menjadi seorang ibu, tentang kerjaanku kini, tentang hal-hal kecil yang sering kali terasa sederhana tetapi ternyata meninggalkan banyak makna.

Lalu sejak aku mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, aku seperti enggan membagikan kisah hidupku yang dulu kusenangi. aku berhenti update blog ini, karena aku menjalani "kehidupan nyata" ku.

Tulisan terakhirku di blog ini adalah di akhir 2025. Setelah itu, halaman ini seperti ikut tenggelam dalam kesedihan bersamaku.

Padahal hidup tidak pernah benar-benar berhenti



Hai, aku Uwien.

Seorang ibu dari empat anak.

Dua di antaranya sudah remaja—anak-anak Gen Z yang perlahan mulai punya dunianya sendiri. Mereka mulai punya pemikiran sendiri, pilihan sendiri, teman-teman sendiri, dan tentu saja… mulai tidak selalu membutuhkan ibunya seperti dulu.

Dua lainnya adalah anak Gen Alpha.

Satu berusia 8 tahun, sedang berada di usia ketika rasa ingin tahu begitu besar dan dunia terasa seperti tempat yang penuh hal baru. Dan satu lagi masih berusia 3 tahun. Masih kecil. Masih banyak meminta digendong. Masih sering mencari ibunya. Masih berada di fase ketika satu rumah bisa mendadak ramai hanya karena satu anak kecil sedang punya keinginan yang sangat penting menurut dunianya.

Empat anak.

Empat fase kehidupan.

Empat cara berbeda untuk menjadi ibu.

Dan di tengah semua itu, ada aku.

Uwien.

Seorang ibu yang ternyata juga sedang belajar menjadi dirinya sendiri.



Mungkin itu alasan kenapa aku berhenti menulis. Bukan karena aku tidak punya cerita. Justru mungkin karena terlalu banyak cerita.

Hari-hari berjalan begitu cepat. Ada urusan anak-anak, rumah, pekerjaan, keluarga, aktivitas, percakapan-percakapan kecil yang kadang baru terasa penting ketika hari sudah selesai.

Ada hari-hari ketika aku ingin menulis, tetapi tubuh lebih dulu meminta istirahat.

Ada hari ketika sebuah kejadian terasa begitu menarik untuk dituliskan, tetapi kemudian berlalu begitu saja karena ada banyak hal lain yang harus dikerjakan.

Dan akhirnya aku berpikir,

“Nanti saja.”

Nanti ketika lebih senggang.

Nanti ketika pikiran lebih tenang.

Nanti ketika punya waktu untuk menulis dengan baik.

Ternyata “nanti” bisa menjadi sangat panjang.


Tahun 2026 sudah berjalan cukup jauh.

Dan aku baru menyadari sesuatu.

Aku tidak kehilangan keinginan untuk menulis.

Aku hanya sedang menjalani hidup.

Menjalani hari-hari sebagai ibu dari empat anak dengan segala riuhnya.

Aku masih menulis di instagram dengan tulisan-tulisan pendek. Aku masih menulis di buku jurnal ku. Dan aku masih MENULIS UNTUK DIRIKU SENDIRI di suatu tempat yang hanya aku dan Allah saja yang tahu.


Menjadi ibu bagi anak-anak yang punya dunia mereka sendiri, sambil di saat yang sama masih menjadi tempat pulang bagi anak-anak yang begitu kecil dan membutuhkan banyak hal dariku. Ada momen ketika aku merasa sedang berdiri di tengah dua dunia.

Di satu sisi, ada anak-anak yang mulai besar dan mengajarkanku tentang melepaskan. Di sisi lain, ada anak-anak kecil yang masih mengajarkanku tentang memeluk, menemani, mengulang hal yang sama berkali-kali, dan menikmati hal-hal sederhana.

Jujur ini nggak mudah. 

Dan mungkin di antara semua itu, aku juga sedang belajar sesuatu tentang diriku sendiri. Tentang menjadi perempuan. Tentang menjadi ibu. Tentang waktu. Tentang perubahan. Tentang menerima bahwa tidak semua fase hidup harus berjalan sesuai rencana.




Dulu aku mungkin mengira menulis harus dilakukan ketika punya sesuatu yang besar untuk diceritakan.

Harus ada perjalanan.

Harus ada pengalaman menarik.

Harus ada pelajaran penting.

Harus ada tulisan yang cukup bagus untuk dibaca orang.

Sekarang aku mulai berpikir berbeda.

Mungkin menulis tidak selalu harus tentang sesuatu yang besar.

Mungkin menulis bisa tentang secangkir kopi yang diminum dalam keadaan dingin karena lupa.

Tentang anak yang tiba-tiba memeluk.

Tentang percakapan dengan anak remaja yang membuat kita berpikir sepanjang malam.

Tentang rumah yang berantakan tetapi terasa hidup.

Tentang rasa lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Tentang menjadi ibu yang kadang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi di lain waktu juga sama bingungnya dengan anak-anaknya.

Tentang aku.

Tentang kita.

Tentang hidup yang sebenarnya sedang kita jalani.



Jadi, kalau hari ini aku kembali menulis di blog ini, aku tidak ingin menyebutnya sebagai sebuah comeback besar. Aku juga tidak ingin berjanji bahwa setelah ini aku akan selalu rajin menulis. Aku hanya ingin kembali. Kembali ke tempat di mana dulu aku menyimpan banyak cerita.

Kembali menulis apa yang mungkin terlalu kecil untuk menjadi berita, tetapi terlalu berarti untuk dilupakan. Kembali mencatat perjalanan menjadi ibu dari empat anak. Kembali bercerita tentang dua anak remaja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Tentang dua anak kecil yang masih begitu dekat dengan dunia masa kanak-kanak. Dan tentang seorang ibu yang ternyata masih terus belajar menjadi dirinya sendiri.

Mungkin selama ini aku berpikir bahwa aku berhenti menulis. Padahal mungkin aku hanya sedang mengumpulkan cerita.

Cerita yang belum selesai. Cerita yang masih berjalan. Cerita tentang kami. Cerita tentang aku.

Jadi, hai.

Aku Uwien.

Ibu dari empat anak.

Blogger yang sempat lama tidak menulis.

Dan hari ini, aku ingin menulis lagi.

Bukan karena hidupku sudah lebih tenang. Bukan karena akhirnya aku punya banyak waktu.

Tetapi karena aku mulai sadar—

hidup yang sedang kujalani ini ternyata layak untuk dicatat.


Dan mungkin, tulisan ini adalah halaman pertama dari perjalanan itu lagi.