02 May 2020

TANTRUM


TIDAK USAH MALU JIKA ANAKMU TANTRUM⁣⁣
TANTRUM ITU NORMAL

⁣⁣
Alhamdulillah... dia ( Arfan, yang bulan ini genap 2 tahun) tantrum juga akhirnya. ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚⁣⁣
Kemarin dia marah-marah sampai jedut-jedutin kepala ke tembok. Tapi jedutinnya pelan -setelah sekali dua kali dia jedutin keras ke tembok kerasa sakit, mungkin ) Aku ketawa dalam hati lihatnya. Terus dia juga nangis guling-guling di kasur sambil melentingkan badan. Aku langsung tahu kalo itu tantrum. Tanda-tandanya udah sangat jelas. (anak udah 3 atuh ih, kacida mun teu ngarti mah) ๐Ÿ˜…⁣⁣
⁣⁣


Reaksiku? ya ... biasa aja.☺⁣⁣
⁣⁣
Trantrum itu normal, gaes.

Semua anak pasti pernah tantrum meskipun untuk sebagian anak cuma beberapa kali selama usia batita atau balita. Malah kata expert, kalo anak nggak pernah tantrum, kita musti khawatir. ⁣⁣
⁣⁣
Tantrum itu luapan emosi. Dan itu ada sebabnya. Biasanya kalo keinginan anak tak terpenuhi. Tapi ada juga sebab lainnya seperti terlalu ngantuk, terlalu lapar, sementara ibunya tidak responsif. Atau si anak lagi nggak enak badan, nggak dipedulikan, dll. Sebab lain karena si kecil belum bisa mengekspresikan perasaannya.

Kalo waktu Arfan tantrum kemarin itu, penyebabnya karena dia gak mau udahan mandinya, padahal udah lama mainan di kamar mandi sambil berendam di bak ๐Ÿ™„ Simboknya ini khawatir dia masuk angin kalo lebih lama lagi.⁣⁣ Makanya sedikit dipaksa keluar dari bak.
⁣⁣
Ini yang aku lakukan saat anak tantrum:⁣⁣

Pada saat anak tantrum di rumah, lebih mudah mengatasinya karena nggak ada yang ikut campur.
- Tetap tenang/jangan kebawa emosi⁣⁣
- Peluk erat anak, tapi biasanya anak akan berontak sih⁣⁣
- Kalo anak melakukan hal bahaya misal nangis guling-guling seperti Arfan...amankan tempat, misalnya aku taroh dia di kasur yang empuk. Jadi pada saat dia guling-guling nggak akan kena lantai. Jangan sampai ada benda yang bisa membahayakan si anak dan berada di dekatnya.
- Peluk lagi⁣⁣
- Kalo masih nggak mau, aku akan kasih 'label' emosi anak. misalnya: "Adek marah,ya? Adek kesal? adek masih pengen mainan di kamar mandi, ya? Besok lagi, ya, main di kamar mandinya. Sekarang pakai baju dulu. Misalnya itu mah. ⁣⁣
- Biasanya anak udah mulai tenang kalo kita nggak ikutan emosi, peluk lagi deh. ๐Ÿงก⁣⁣



Gimana saat anak tantrum di luar rumah?


Nah, ini yang seringkali menantang, yha khaan? Karena ada faktor luar seperti "tatapan orang" dan perasaan kita yang nggak enak seperti "Apa kata orang kalo anakku nangis kejer di tempat umum? nanti aku dikira orang tua yang nggak becus." Pasti ada pikiran seperti itu, hahaha.
Namun, anak nggak akan sampai tantrum nangis meraung-rung jika reaksi orang tuanya sudah benar.

Misalkan, lagi di emol. Terus anak minta sesuatu (paling sering sih mainan atau jajanan) dimana saat itu agenda kita bukan untuk itu. Ini yang aku lakukan, sejauh ini (menghadapi 3 anak saat usia mereka masih balita) alhamdulillah berhasil, nggak sampai si anak guling-guling di lantai mall.

- Jangan emosi dulu, ibunya atau ayahnya tetap tenang. Jangan langsung nge-gas (teriak) ngasih tahunya. Iya aku tahu, bagi sebagian orang sabar itu sangat sulit. Tapi cobalah tingkatin kesabaran demi anak yang 'lebih mudah dikasih tahu' di kemudian hari. :)
- Aku selalu merendahkan badan saat bicara sama anak-anak. Kalau posisiku lagi berdiri, aku akan membungkuk atau berjongkok.
- Pelankan suara. Bahkan aku akan sedikit berbisik. Suara pelan supaya si anak lebih mendengarkan lagi. Apa, ya, kalo kata ahli parenting (?) aku lupa. Pokonya intinya, lebih pelan suaramu, anak akan lebih memperhatikan dari pada bicara dengan suara yang lantang.
- Kasih pengertian, bahwa hari itu tidak beli hal yang anak minta (aku contohin aja hal spesifik yaitu minta mainan, ya).
"Hari ini nggak beli mainan dulu, ya. Lain kali kita ke sini lagi khusus untuk membelinya. Nanti kamu bisa menabung dulu untuk membeli itu."

- Jika anak sudah terlanjur melancarkan tantrum, gimana?
Kalau hal yang aku sebut sebelumnya nggak berhasil dan berujung anak tantrum, jangan pernah kabulkan keinginannya. Karena reaksi pada saat tantrum itu adalah koentji. Kalo alasannya kasihan karena nangis kejer, seperti pada kasus minta mainan, maka lain kali kalo Anda tidak menuruti keinginan anak, mereka akan tantrum lagi. Begitu seterusnya setiap kali anak minta sesuatu selalu nangis dulu/tantrum dulu. Nggak mau gini kan?

Yaelah, beliin aja sih apa susahnya dari pada anak nangis.
Bhaiqeu, aku mengerti sekali bahwa "sultan mah bebas". haha

Tapi kalau aku, walaupun ada uang untuk membeli akan tetap mengajarkan ke anak bahwa tidak semua permintaannya bisa terkabulkan. Semoga hal kecil tersebut berguna untuk mereka saat dewasa. Semoga emosinya tidak 'tak terkendali' ketika keinginannya nggak terpenuhi. jangan sampai anakku kelas ketika dewasa, meng-halal-kan segala cara untuk memenuhi keinginnya. Aku nggak mau anak-anakku menjadi "monster".

Semakin besar anak, tantrum semakin sulit ditangani. Maka, pada saat tantrum pertama kali muncul adalah koentji juga bagaimana kita bereaksi/menghadapinya. ๐Ÿ˜‰⁣⁣
⁣⁣
Eh udah panjang aja, nih.
Just sharing, ya.

Kalau kalian punya pengalaman yang sama atau berbeda, yuk sharing juga di kolom komentar. barangkali ada orang tua lain yang membutuhkan dan membaca cerita kita.
⁣⁣

0 komentar:

Post a comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)
Mohon maaf komentar dimoderasi karena banyak spam yang masuk.