29 Jan 2014

25 Jan 2014

Sabtu Merindu

Sudah Sabtu lagi. Bener-bener nggak kerasa waktu berlalu. Mungkin karena saya kurang menyibukkan diri atau memang karena inilah tanda-tanda kiamat sudah dekat -seperti yang dikatakan Nabi Muhammad Sholallahu'alaihi Wassalam. Yang jelas... saya merasa waktu benar-benar tidak menungggu saya untuk menyadari bahwa saya sudah tertinggal jauh dari yang lain.

Setiap hari Sabtu, sudah menjadi jadwal rutin keluarga kecil saya untuk olahraga renang, jalan-jalan dan atau silaturahim. Karena akhir-akhir ini cuaca sedang (saya tidak mengatakan 'tak bersahabat') tidak baik untuk berenang dan mengajak anak-anak bepergian, ( hujan kriwis-kriwis dan dingin banget di Bandung) jadi selama hampir sebulan jadwal rutin kita itu nggak pernah terlaksana. Hari ini juga tidak.

Sedih? Enggak.

Menyalahkan cuaca? Pastinya nggak juga.

Pengen berenang dan jalan jalan? Iyaaaa. :)

Yup! Saya... rindu... berenang... dan jalan-jalan Pak Dheee ! ^_^



Setelah berenang biasanya makan es campur Pak Oyen.( :d ) Es campurnya paling enak dari es campur-es campur yang perna saya makan.. (*ngelap encesss)


Es campur dan bakso Pak Oyen depan RS Dustira Cimahi
Setelah itu, mempererat tali silaturahim ke rumah Mak Nini (nenek dari suami) atau Uwa' (Pak Dhe/Bu Dhe).


Hemmmh.. Begitulah. Hari Sabtu ini saya nggak kemana-mana. Hanya di rumah. Walaupun begitu tak menyurutkan semangat saya menjalani aktivitas. Fighting!! (*ciaaaat) #eh :D

****
200 kata.
Ikut GA Sabtu Merindu -nya Pak Dhe Cholik . ^^

24 Jan 2014

Menebar Energi Kasih Sayang


"Tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah SWT akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina."


Suatu hari Umar bin Khathab berjalan-jalan di seputar Madinah. Saat itu ia melihat seorang anak kecil sedang memainkan seekor burung pipit. Timbullah rasa iba dalam hati Umar. Ia pun segera membujuk si anak untuk menjual burung pipit mainannya. Anak itu setuju. Segera setelah bertransaksi, Umar melepaskan burung itu ke udara.

Setelah beliau wafat, sebagian sahabat mimpi berjumpa dengan Umar. Mereka bertanya, "Bagaimana Allah memperlakukan Anda?" Umar menjawab, "Allah mengampuni dan memuliakan."

Para sahabat bertanya kembali, "Apakah sebabnya? Apa karena kedermawananmu, keadilanmu, atau karena kezuhudanmu?".

"Ketika manusia menguburkanku dan mereka pulang, tinggallah aku sendirian di dalam kubur. Maka datanglah dua malaikat. Akalku hilang dan aku pun gemetar ketakutan. Mereka mendudukkanku untuk menanyaiku. Saat itulah terdengar suara tanpa rupa: 'Wahai Malaikat, tinggalkanlah hamba-Ku ini! Tidak usah kalian tanya atau kalian takut-takuti dia, sebab Aku menyayanginya dan akan Aku bebaskan siksaan daripadanya. Karena dia adalah seorang yang mengasihi seekor burung pipit waktu di dunia. Maka di akhirat Aku menyayangi-Nya," demikian keterangan Umar.

Di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Satu hukum yang menjelaskan bahwa sebuah energi tidak akan pernah hilang, ia hanya sekadar berubah bentuk. Sebagai sebuah ilustrasi, dari dulu hingga sekarang jumlah benda cair selalu tetap jumlahnya, hanya bentuknya saja yang berubah-ubah.

Hukum ini berlaku pula pada manusia. Setiap energi yang dihasilkan, entah itu energi positif (amal saleh) maupun negatif (dosa), nilainya tidak akan pernah hilang. Kita menolong orang yang kesusahan misalnya, maka energi positif tersebut akan selalu ada dan akan kembali pada kita. Bentuknya bisa sama, ditolong kembali oleh yang lain saat kita kesusahan, ataupun dalam bentuk berbeda, berupa pujian dari manusia, ketenangan jiwa, atau pahala di sisi Allah.

Bahkan, dalam pandangan Allah Swt, energi kebaikan tersebut akan dikembalikan kepada pembuatnya dalam jumlah yang berlipat-lipat. Difirmankan, Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walau sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (QS An-Nisa' [4]: 40).

Pengalaman Umar bin Khathab menjadi contoh konkret akan adanya hukum kekekalan energi. Walau hanya menolong seekor pipit, Allah SWT membalasnya dengan pahala yang teramat luar biasa. Umar telah memberikan energi kasih sayangnya dan Allah SWT membalasnya dengan energi kasih sayang yang jauh lebih besar. Tidak hanya itu, kebaikan yang terlihat "sepele" tersebut makin mengangkat derajat Umar di hadapan Allah dan semua makhluk-Nya.

Benar apa yang dikatakan Rasul bahwa tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah Swt akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina.

Ada kisah lain yang menunjukkan betapa energi kasih sayang yang dianggap sepele, mampu mengangkat pelakunya pada tempat yang terhormat. Di antaranya kisah seorang pezina yang diampuni Allah dan dimasukkan ke dalam surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Sebaliknya, ada seorang ahli ibadah yang divonis masuk neraka hanya karena mengurung seekor kucing tanpa diberi makan, sampai kucing tersebut mati kelaparan.

Kasih sayang dan kualitas beragama
Hakikat keberagamaan adalah terjalinnya kasih sayang. Allah SWT menurunkan Islam sebagai pemandu bagi manusia agar saling berkasih sayang dan menyebarkannya pada penghuni bumi yang lain. Allah SWT berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya' [21]: 107).

Karena itu, tidak mungkin seorang yang mengaku Muslim tega menyakiti makhluk Allah lainnya tanpa alasan yang jelas. Mukmin adalah mereka yang bisa memberi kedamaian kepada semua objek di sekitarnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Kalian tidak dianggap beriman sebelum kalian saling menyayangi." Para sahabat bertanya, "Bukankah masing-masing kita memiliki kasih sayang?". Beliau menjawab, "Yang dimaksud bukanlah kasih sayang seorang di antara kalian kepada sahabatnya. Tetapi kasih sayang untuk umat manusia, kasih sayang yang bersifat umum".

Bila kasih sayang sudah menyebar di muka bumi, maka curahan kasih sayang Allah pun akan tertuang di atasnya. "Kasihilah yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihi yang di langit". Sebaliknya murka Allah akan turun tatkala kita menzalimi yang di bumi.

Boleh jadi, kesempitan hidup yang kita derita, salah satu penyebabnya adalah telah lunturnya kasih sayang di dalam hati kita. Lihatlah, kita sering tidak peka terhadap kesusahaan orang lain. Saat teman sakit, kita anggap itu biasa dan tidak terenyuh untuk sekadar menanyakan kabar atau menjenguknya. Saat ribuan TKI diusir dari negara lain, kita menganggapnya sebagai hal biasa. Jarang kita memberi perhatian pada mereka walau dengan seuntai doa.

Ada satu hadis dari Abu Hurairah yang layak kita renungkan. Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat, 'Wahai Anak Adam! Aku telah sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku'. Dia (Anak Adam) menjawab, 'Ya Rabbi, bagaimanakah aku menjenguk-Mu, padahal Engkau Rabb al-Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu, bahwa hamba-Ku telah menderita sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu menjenguknya, niscaya kamu dapati (pahala dari) Ku berada di sisinya'.

'Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan'. Dia menjawab, 'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabb al-Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya makan, niscaya kamu dapati balasannya ada pada-Ku'.

'Wahai anak Adam! Aku meminta minum, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum'. Dia menjawab: 'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabb al-'Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapati balasannya ada pada-Ku'." (HR Muslim).

Apa makna dari "Aku sakit engkau tak menjenguk-Ku, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan. Aku haus tapi engkau tak memberi-Ku minum?". Bagaimana Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahakaya berfirman bahwa Dia sakit, Dia lapar dan Dia haus? Hakikatnya, Allah itu bersama orang-orang yang kesusahan. Siapa yang menyayangi dan menolong mereka, nilainya sama dengan menyayangi dan "menolong" Tuhannya.

Siapa yang menebarkan energi kasih sayang, maka ia akan mendapatkan balasan yang sama bahkan lebih. Wallahu a'lam bish-shawab.

23 Jan 2014

Roti Mariam @Kambing Bakar Kairo

gak bisa moto, jadi fotonya kurang menggiurkan. gak seperti aslinya

Roti mariam ini saya beli di Kambing Bakar Kairo. Nggak seperti roti-roti kebanyakan di Indonesia yang empuk, roti mariam teksturnya tipis dan keras seperti roti-roti timur tengah pada umumnya. Topingnya terdiri dari keju dan meses.

Itu... fotonya masih dalam bungkusnya. *nggak nyeni bangeeets :D

Pengen nyoba? Silahkan datang langsung ke Kambing Bakar Kairo Cimahi di jalan Gatot Subroto no 23, Cimahi

20 Jan 2014

Ketika Email Gagal Terkirim




Maaf kalau postingan kali ini saya curhat berdarah. T_T

Malam ini, ketika saya mengecek email. Saya terkagetkan dengan email kepada keb.even seperti gambar di atas yang ternyata gagal terkirim! Dan parahnya kenapa saya baru nyadar sekarang cobak ??!
Rasanya saya ingin teriak-teriak, nangis guling guling, ngesot-ngesot sambil nggigitin bantal sekaligus. MENYESAL BANGET.

Oiya, sebelumnya mau saya ceritain, bahwa KEB (Kumpulan Emak Blogger ) dimana saya ngumpul bersama para Emak mau mengadakan Srikandi Blogger 2014 (sebuah penghargaan untuk blogger perempuan). Ini tahun ke-2 KEB mengadakan acara ini. Melihat gegap gempita kemeriahan acara ini sebelumnya -walaupun nggak datang langsung dan hanya melalui internet- tentu saja saya sebagai warga KEB juga ingin ikut 'bersenang-senang' di dalamnya. Ya, BERSENANG-SENANG saya pilih untuk mewakili perasaan saya ketika memutuskan membuat CV (Curiculum Vitae) khusus SB2014. Karena apa? Karena saya sadar kemampuan saya dalam pe-blog-an belumlah seberapa. Saya cuma mau berpartisipasi, biar ikut deg-degan menantikan siapa kandidat SB2014. Dan ikut bersenang-senang berkompetisi dengan para emak blogger yang lain.

Namun, kalau kejadiannya seperti ini,  CV yang saya kirim pada hari terakhir pendaftaran ternyata gagal terkirim, saya jadi merasa nggak ambil bagian dari acara ini. Merasa gagal menaklukkan keminderan dan gagal menjadi warga KEB yang baik. :( :( *garuk-garuk tembok.

Tolong, kali iniiii aja... Biarkan saya menangis semalam. T_T

Memang nggak ada sich yang melarang saya untuk curhat berdarah. Tapi saya sadar kalau postingan seperti ini membuat beberapa pembaca merasa risih, mungkin termasuk anda yang nyasar kesini? Jadi, saya meminta ijin kali ini. (*dan saya masih garuk-garuk tembok) 

Saya menyesal sekali emailnya waktu itu gagal terkirim.
Saya kecewa nggak jadi ikut dalam Srikandi Blogger 2014.
Saya sedih nggak ikut deg-degan dalam kompetisi.
Saya ..... T_T

Lalu, kalau kamu nangis guling-guling gitu emang keadaan akan berpihak padamu? emailnya akan secara ajaib terkirim, gitu?

Ya enggak, sich. Namun setidaknya kalau air mata keluar...akan sedikit melegakan hati, karena begitulah cara wanita mengobati dirinya sendiri. Menangis. Dan bagi saya menulis juga cukup melegakan hati.

Akhirnya... setelah saya terdiam cukup lama saya memang harus melepaskan perasaan tidak mengenakkan ini. Agar saya bisa kembali merasakan perasaan lapang, kemudian meneruskan pekerjaan yang lain-lain, kemudian saya bisa menulis lagi.

"Kita berjalan di jalan cinta. Di penghujungnya kita akan berjumpa lagi."


gambar punya founder KEB


18 Jan 2014

#KEB di Mataku



Bismillahirrahmaanirrahiim...

Sedikit cerita awal kenal dengan KEB 

Lebih dari setahun yang lalu saya gabung bersama KEB. Awalnya saya penasaran sama cover picturenya yang di like salah seorang teman di facebook, setelah saya klik saya diantar ke sebuah grup yang unik, dari namanya. Namun waktu itu saya belum tau apa itu blog,blogger . Mulai dari sinilah saya belajar, tak hanya belajar menulis, namun juga belajar banyak hal seperti memasak dan yang lain.

Setelah beberapa lama tinggal di KEB

Saya merasa sangat nyaman berada di komunitas KEB, emak-emaknya asyik-asyik dan welcome banget. Walaupun saya masih malu-malu untuk berinteraksi. Namun lama-lama, saya memberanikan diri juga untuk muncul di dinding ( *iih kayak cicak aja). Mungkin karena terbawa suasana atau karena saya sudah merasa aman dan nyaman, karena semuanya perempuan jadi merasa ada yang 'mendengarkan' dan saling support.

Saya menjadi banyak teman. Dari sekian banyak jumlah member KEB, ada beberapa yang jadi lebih dekat dan akrab. jadi nambah saudara.

KEB itu Ngangenin 

Setiap buka facebook, selalu saja tergoda untuk mampir ke 'rumah' KEB. Selalu saja ada hal baru yang menambah wawasan. Atau sekedar cuap-cuap dengan para emak, ngobrol lewat tulisan ternyata nggak kalah seru sama ngobrol langsung. :)

Ultah KEB yang ke-2 

Nggak nyangka di ulang tahunnya yang kedua KEB bisa sebesar ini. KEB tumbuh dengan kebersamaan, saling berbagi, dan kreativitas. Bersama itu pula para emak di KEB semakin berkembang.

Happy Birthday KEB...!
Jayalah di udara, jayalah di hati perempuan Indonesia.


17 Jan 2014

Ekspedisi Goa Jomblang

Waktu 'ngacak-acak' komputer ( semua hardisk dari laptop-laptop dan komputer jadul di jadiin satu di komputer ini ), saya nemuin banyaaaak sekali foto Kang Budi saat masih muda dulu, bareng temen-temennya di SQUAD. Foto apaan? Foto saat mereka bareng-bareng mendaki gunung. Yup. kerjaannya pecinta alam , khan, naik-turun gunung.

Saya pun penasaran. Kali ini saya tertarik sama Gua Jomblang karena bentuknya yang vertikal amazing banget , lain dari gua-gua lain yang umumnya horizontal. Jadi, hari ini saya mengumpulkan hasil wawancara ( *halah wawancara) kemarin, lusa, dan kemaren kemarennya lagi -maafkeun informasi waktu yang tak karuan soalnya ngobrolnya kepotong potong- di sini. Biar kalau sewaktu-waktu saya lupa, bisa dibaca-baca lagi. Sekaligus ngasih perbandingan Gua Jomblang dulu dengan yang sekarang . Pssst, kata salah satu temen saya udah jadi obyek wisata, lho. Dan ternyata setelah saya gugling, memang benar sekarang banyak yang menawarkan jasa tour Luweng Jomblang.

Emm, kembali ke tanya jawab saya. Pertama kali saya liat foto ini saya melongo. Belum pernah liat gua vertikal yang gede banget : "Wuiih, keren. Ini siapa Kang?"
"Oooh, itu saya dan temen-temen SQUAD waktu ekspedisi ke Luweng,"


Saat masuk ke Luweng Jomblang. Keren ya.  Gak lupa mengibarkan bendera SQUAD

Saya : " Berapa orang yang ke sana?"
Kang Budi : " Kami berenam. Di foto ini cuma lima. Satu orang sebagai tukang fotonya."

fotonya keliatan jadul, orangnya juga jadul-jadul , kekeke :p


Saya : " Kang, tahun berapa pertama kali ekspedisi ke Luweng Jomblang?"
Kang Budi : " Pertama kali tahun 2006. Kemudian tahun-tahun berikutnya 2007 dan 2009. Waktu pertama kali ke sana warga di sekitar sana pada heran 'Ngapain ke Luweng' kata warga yang kebetulan berpapasan dengan kami . Karena waktu itu belum pernah ada yang ke sana (Luweng Jomblang)."
Saya : "Jadi, sebelumnya belum pernah ada yang ke sana?"
KB : " Sebelumnya mungkin sudah, cuma nggak banyak seperti sekarang. Setelah orang dari luar negri itu datang dan syuting di situ tahun 2009, selanjutnya para pecinta alam ramai ke situ kan? Dan bahkan yang saya dengar, sekarang anak kecilpun bisa masuk kesana, karena sudah ada pemandu dan peralatan yang lengkap. "

Saya : " Ceritakan dong bagaimana perjalanan dari Bandung sampai di sana( Gua Jomblang, Yogyakarta )
Kang Budi : "Kami berenam touring pake motor. Kebetulan di Yogya ada kenalan saat jadi relawan waktu gempa dulu. Jadi, kami istirahat di sana.

di sinilah kami melepas lelah

Saya : " Trus, apa yang paling berkesan dengan ekspedisi ini?"
KB : " Tentu saja semuanya berkesan. Bayangin aja, kami hanya berenam saja di dalam hutan yang belum sering dijamah sama manusia. Masih ada binatang buasnya. Penduduk sekitar situ juga tidak pernah ke luweng. Mereka (warga sekitar) masih takut, karena ketika malam hari muncul suara-suara dari dalam gua. Lalu, ada juga saat mau turun ke dasar luweng dan saat naik kembali ke atas. Dan yang paling mengesankan ketika masuk ke dalam gua horizontalnya, setelah berjalan sekitar 300 meter sampai pada sebuah gua vertikal lagi namanya gua Grubug. Gua Grubug terlihat lebih kecil penampakannya (namun sebenarnya gede juga) karena Gua Grubug lebih tinggi yaitu 90 meter. Kalo cuaca sedang cerah dan masuk pada jam sebelas sampai sekitar jam 1 atau jam 2, kita akan melihat pancaran cahaya dari luweng Grubug ini. Kalo sekarang lebih terkenal dengan....sssh apa namanya? Cahaya Syurga kalo nggak salah. "

Saya : ...diam...
 *hening*
Selanjutnya biarlah foto-foto yang bicara :)

persiapan sebelum turun


 turun ke dasar Luweng


Apa-aaan.. cuma gitu doang?
iya

Jadi, mana yang disebut 'cahaya syurga' itu?
Sabar ya.. nanti kita lanjutkan di 'Ekspedisi Goa Jomblang bagian kedua'.

12 Jan 2014

Prompt #35 : Serenade

sumber
"Kita berdua ada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Ada sebuah pohon besar yang rindang di sana. Kita berjalan menuju ke arah pohon itu. Ada seorang anak tengah berlarian di sana. Lihatlah anak kecil itu. Dia laki-laki atau perempuan?"

 "Perempuan" jawabku.

"Mari kita ke sana. Anak kecil itu berlari mendekati kita. Tangannya dibentangkan bak burung yang mau terbang. Perhatikan baik-baik anak itu. Matanya yang besar, berbinar memancarkan kedamaian syurga. Bulu matanya lentik sekali. Wajahnya bulat putih dan bercahaya. Anak perempuan itu menggandeng tangan kita, mengajak bermain bersama. Berlari dan berkejaran. Rasakan betapa bahagianya kita berdua. Gendonglah anak ini dan peluklah ia. Rasakan dekapannya dan belailah rambutnya."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Aku tersenyum dan berbisik, "Bahagia. Damai sekali rasanya."

"Hemm, baiklah. Sekarang tarik nafas yang dalam. Sekali lagi. Sekarang perlahan tinggalkan alam bawah sadarmu. Tarik nafas lagi dan kamu akan semakin kembali ke alam sadar. Sekarang, perlahan bukalah matamu."

Kubuka mata. Kulihat suamiku masih duduk di sampingku. Alunan musik serenade masih mendayu. Aku mengelus dengan lembut perutku yang semakin membesar.

"Terima kasih, Mas. Sekarang aku nggak cemas lagi menghadapi persalinan."

Dan diapun mengecup keningku.

*** 

183 kata.
Dibuat untuk prompt #35 Monday Flash Fiction.

Emmm, liat gambar itu otomatis teringat saat di hipnoterapy sama suamiku. Ketika saya mengandung anak pertama. Spontan aja, langsung dibikin ff nya. #eaa.. Based of true story. ;)

7 Jan 2014

Gigi Tumbuh Gigi Tanggal



Hari ini saya tiba-tiba merenung. Saat melihat gigi anak saya, Akram 1 tahun setengah, sudah ada 12 buah. Sepertinya baru kemarin giginya ada empat atas bawah. Kalau sebelumnya, saya langsung jingkrak-jingkrak. Eee, ini pun iya. :D

Beberapa jam setelah itu, gigi geraham saya tanggal, namun tanggalnya gak langsung dengan akarnya. Mripil sedikit demi sedikit gitu. Rasanya sedikit ngilu dan gak nyaman di lidah karena gigi yang masih menempel menjadi tajam. Sehingga mengganggu saat saya mengeluarkan suara, jadi terdengar ‘cadel’. Jadi seharian itu saya nggak banyak omong. :(



Hemm, dengan diambilnya sedikit saja kenikmatan dari tubuh saya, rasanya semakin membuat diri ini mengagungkan Sang Pencipta.

Betapa cintanya Ia terhadap makhluknya, sehingga memberi tubuh yang super duper canggih ini. Memberi gigi yang tumbuh dengan sempurna, bentuknya sempurna, letaknya pun sempurna sehingga tak menyusahkan kerja organ lain.


 Gigipun bertasbih menyebut AsmaNya –dengan bahasa yang tak dapat didengar telinga, namun bisa dipahami bagi mereka yang berfikir- saat ia mulai tumbuh pertama kali.


Gigi mematuhi perintahNya untuk tumbuh bertahap menyesuaikan dengan perkembangan pemilik tubuh. Gigi tidak protes saat manusia masih kanak-kanak hanya memunculkan 20 buah saja, padahal gigi bisa saja protes, “Tuhan, aku mau semua keluargaku  bisa berkumpul saat ini juga.” Tapi itu tidak ia lakukan. Ia sabar menunggu bertambahnya umur manusia untuk bertemu dengan gigi yang lain. Coba bayangkan ketika bayi baru lahir, tiba-tiba ke-20 giginya sudah nangkring di rongga mulutnya, khan ngeri? hehe

Allah menciptakan segala sesuatu itu pasti tidak sia-sia. Dan mengambil sesuatu dari muka bumi inipun nggak sia-sia, semua pasti ada maksudnya. Seperti yang baru saya alami (errr, walaupun ini akibat ulah saya juga gak merawat gigi dengan baik) Hal kecil memang, hanya seedikit bagian gigi saya yang hilang. Namun, ini membuat saya berfikir sangat banyak. Sangat banyak.

Allah memberi Allah akan memintanya kembali suatu saat.
Semua yang ada di tubuh kita adalah titipan, kalau yang nitip mau mengambilnya masa kita mau marah?

# Do you thinking about this?

3 Jan 2014

Akram : Newborn

Akram was born on Sunday, June 2, 2009. It weighs 3.1 kilograms 49 centimeters in length. 

Thank you mother, you have taken the trouble of carrying and giving birth.

Meanwhile, his brother ... patiently waiting in the waiting room. ^.^



1 Jan 2014

Menginstall Sabar



Seminggu ini, saya merasakan banyak terjadi “tantrum” pada diri saya. Awalnya saya nggak menyadari. Hingga tadi sore, menjelang Maghrib, Kang Budi bilang begini:
“Kenapa, siiih. Teriak-teriak mulu, Mi?”
“Ini lo, Bi. Akram numpahin air”

Lalu, beberapa menit kemudian.
Prang !!
“Astaghfirullah, Akram. Mau dibawa kemana toplesnya?” pekikku saat Akram (1,5 tahun) menenteng toples beling sambil berjalan kesana-kemari.
“Kenapa lagi, Mi?” tanya Kang Budi masih dengan suara datarnya. Seperti pura-pura nggak tahu. Iya, soalnya beliau lagi membaca, sih.
“Ini lho, Bi. Akram angkat-angkat toples, terus toplesnya jatuh menimpa mangkok kesayangan Umi.” Kataku sembari membersihkan pecahan beling.

gambanya dari sini


Dan…masih banyak yang lain lagi di hari-hari sebelumnya. Untuk hal-hal kecil seperti ini, sekarang saya mudah kaget dan menjerit atau teriak.
Dua minggu lalu, Kang Budi masih menganggap hal ini wajar (katanya tadi), ketika saya sedang ‘merah’ maka emosi akan  mudah meledak. Namun, seminggu setelah ‘merah’ berlalu, kok, masiiih ada saja tantrumnya. Hal ini telah beberapa kali diisyaratkan oleh Kang Budi. Cuman sayanya nggak paham.

Maka dari itu, sebelum tidur malam ini, saya menulis di sini.
Saya berusaha memahami isyarat dari suami saya. (Beliau diam, seperti biasa menunggu beberapa saat biar saya mengerti dengan sendirinya). Dan setelah saya terdiam cukup lama (sambil ngelonin anak saya yang kecil) saya jadi mengingat lagi kejadian yang dulu-dulu, ke masa-masa saya masih punya anak satu yang masih batita.
Saya masih ingat dengan jelas. Kalau cuma persoalan anak menumpahkan air, mengacak nasi dari piring, memecahkan gelas, atau membudal buku-buku dari lemari, itu sama sekali nggak membuat saya marah. Ckck, ah… itu adalah hal kecil dan biasa saja. Namun, ketika sudah ada anak yang kedua dan anak pertama sudah lebih besar, saya merasa hal kecil semacam itu menjadi pemicu ledakan emosi.

Saya jadi berpikir, kalau begini berarti saya harus meningkatkan kesabaran saya, ya? Kalau begitu saya harus menginstall kesabaran saya ke level 2.
Ya! Mungkin seperti itu. Anak saya sudah dua, tapi kalau kesabaran saya masih di level satu, ya nggak bakal nyampe. Akibatnya, rasa kasih sayang yang ingin kita tunjukkan kepada anak-anak bisa jadi “salah jalan”. Maksud hati ingin melindungi anak dari rasa sakit atau marabahaya (misalkan ketika anak batita kita sedang seneng-senengnya naik turun tangga, atau suka memanjat pohon, atau suka lari-larian), yang keluar justru omelan, bentakan, pukulan, atau yang lebih parah udah diomelin dicubitin pula.
“Jangan naik-naik. Awas nanti jatuh!”
Atau,
“Kamu tuh,ya.. Jadi anak nggak bisa diem apa? Pecicilan saja. Kalau jatuh gimana coba?” Ngomel-ngomel sambil nyubitin.
Kalau untuk kejadian yang satu ini, saya belum pernah sampai segitunya. Cuma, saya menyaksikan sendiri bagaimana Bibi saya melakukan itu kepada anaknya.
Nah kawan-kawan, hal inilah yang sedang saya pikirkan.
Jangan-jangan memang antara punya anak 1, 2, 5, 11, dan seterusnya itu tingkat kesabaran ibu harusnya juga ikut bertambah levelnya, ya. Jangan-jangan, anak hadir dalam kehidupan saya biar saya juga belajar lebih sabar dari sebelumnya.
Bisa jadi hal ini berlaku juga kalau anak-anak semakin bertambah besar lalu menginjak usia remaja dan seterusnya.

Lalu saya berpikir lagi. Berarti, LUAR BIASA ya, seseorang yang memiliki banyak anak, itu pasti level sabarnya juga lebih tinggi. Luar biasa ya, seseorang yang mempunyai anak remaja yang sedang mencari jati diri dan tetap sabar menyikapinya.
Sampai akhir tulisan ini, saya masih berpikir terus.

“Sepertinya itulah yang harus saya lakukan. Kesabaran itu kan nggak ada batasnya. Saya harus menaikkan level sabar saya ke level yang lebih tinggi. Mulai saat ini kawan.”

Oiya, ingatkan saya kalau saya kurang sabar,ya. Biar saya install lagi sabarnya ke level 3, 4, 5, 11 dan seterusnya.