22 Apr 2014

Prompt #47 : Kaila


credit

Kaila yang duduk di sebelahku tengah serius merunduk. Kedua jempolnya menari indah di atas telepon genggamnya.

"Psst.. gila lo. Kalau ketahuan bisa mampus kita." Bisikku tetap mengawasi bu Erri yang berdiri di depan kelas. Kaila tak peduli, ia terus saja melakukan aktivitasnya. Bermain game.
Sepanjang waktu kerjaannya nge-game. Hanya saat tidur dia berhenti. Huh! Bahkan aku pernah lihat dia memainkan jempolnya dalam tidur. Mungkin saat itu dia sedang bermimpi main game.

"Ehh, bu Erri melihat ke arah lo tuh." Aku tendang kakinya. Kaila tergagap, secepat kilat hapenya sudah masuk ke dalam tas, kemudian pura-pura mengerjakan soal ulangan.

"Kenapa lo nggak bilang, Mel ?" Kaila berbisik, melotot padaku.

Gigiku beradu hingga menimbulkan bunyi, "Udah tauk. Lo aja yang nggak denger."

Disaat Kaila stress, pelariannya adalah bermain game.
"Satu-satunya yang bisa menghilangkan penat gue adalah ini, Mel." katanya dua tahun lalu.

Dia memang gamer sejati. Di telepon genggamnya berbagai jenis permainan ada. Dan itu ia mainkan di setiap waktu, termasuk di kelas saat ulangan seperti sekarang. Kecuali ketika mata pelajaran yang gurunya killer, baru dia bisa duduk manis.

Kaila yang anak tunggal dari pasangan pebisnis besar memang haus kasih sayang dan perhatian. Yang ia tahu ,kasih sayang dari kedua orang tuanya adalah dengan memberinya gadget. Makanya, dari kecil teman Kaila hanyalah game. Setelah masuk SMA barulah dia berteman, itupun hanya denganku. Anak perempuan dari keluarga sederhana.

Hari ini di kantin, Kaila main game lagi. Aku yang duduk di depannya tak digubris. Aku hanya bisa geleng-geleng sambil menikmati mi bakso, traktiran dari Kaila.

"Kaila sayaaaang, lo harus makan dulu. Inget perut tuh, udah keroncongan!"
"Hemmm.." Kaila hanya bergumam.
"Ntar kalo maag lo kumat lagi, siapa coba yang repot? Gue La..gue!"

Kemudian aku bicara panjang lebar mengingatkan Kaila ketika penyakit maagnya  kambuh karena dua hari tidak makan nasi. Karena nge-game sepanjang waktu. Waktu itu aku yang menungguinya di rumah sakit. Sementara mama papanya hanya mempercayakan anaknya kepadaku. Tentu mereka memberiku upah yang cukup besar. Dasar Kaila, dalam keadaan terbaring di tempat tidur rumah sakitpun ia masih mencari telepon genggamnya dan bermain game.

Sepertinya Kaila mulai mengaminkan perkataanku, jempolnya berhenti.
"Oke deeech, nyonya besar." Kaila menyeruput kuah bakso dan mulai makan. Aku tersenyum puas.
" Oya ,Mel. Pulang sekolah bareng, ya. Kita mampir dulu ke FO. Gue pengen beliin sesuatu buat ibu lo." Aku hanya mengangguk.

Hari ini di sekolah aku sangat bahagia karena Kaila mau menuruti perkataanku. Aku tersenyum puas. Memandang Kaila menghangatkan dadaku. Aku merasa semakin menyayanginya seperti saudara sendiri. Kami sudah berteman hampir tiga tahun. Banyak kejadian yang membuat kami semakin dekat. Dan kali ini  dia membelikan baju yang harganya selangit untuk ibuku tercinta.

"Thanks ,ya La. Gue nggak bisa membalas semua ini." Air mataku hampir tumpah.

Aku menggamit lengan Kaila yang dari tadi masih bermain game. Kami keluar dari FO dan hendak menyeberang jalan. Kulihat tali sepatuku lepas, akupun jongkok untuk menalinya. Tiba-tiba terdengar klakson dan rem mobil berderit. Saat kudongakkan kepalaku, tubuh langsing Kaila telah terpental dan jatuh di aspal. Darah mengalir membanjiri aspal.

"Kailaaa..!"

***End***
Bandung, 22 April 2014

495 kata
untuk Monday Flash Fiction Prompt #47 : Sang Mariyuana

17 Apr 2014

Picking Cherry Tomatos


Today, I took the kids accompany me gardening. I show them the cherry tomato plants that I planted in the yard.
Dhia picking 2 stalks, play it and then eat it. She ate grain, tamarind said. While Akram did not want to taste.

Look at the cute fruit. Dhia and Akram would prefer to play it.

Cherry Tomato

Picking Tomato

Catatan ibunya :

Akhirnya saya berhasil menanam dan merawat tanaman tomat. yeaaay...!
Anak-anak suka warna-warna yang menyolok seperti merah, biru dan kuning.
Begitu melihat tomat ceri yang imut itu, Dhia langsung ingin memetiknya.
Sepertinya tema minggu ini berhasil. Mengenalkan anak jenis tanaman dan bermain di kebun.
Ini cukup untuk membantu mereka belajar, dari buah tomat bisa ibu tanyakan : Apa warnanya? Apa bentuknya? Bagaimana rasanya? Ini halus atau kasar? Baunya seperti apa? dan lain sebagainya. Kemudian motorik halusnya adalah anak belajar memetik buah dari batangnya dengan hati-hati. Ini merangsang motorik halusnya.

Esok hari apa lagi , ya? ^_^


12 Apr 2014

Lindungi Anak dengan Aplikasi Anak Cerdas


Dhia dan Akram sedang asyik bermain tablet

Anak saya, Dhia, usianya belum genap 5 tahun. Namun, ia sudah mahir memainkan gadget milik kami, orang tuanya. Tak heran, karena anak-anak itu cepat sekali belajar, ya kan? Apalagi Dhia sudah mengenal laptop/tablet sejak usianya 2 tahun. Dan sekarang saat kami sudah mempunyai smartphone, hanya dengan sekali dua kali melihat ayahnya, Dhia sudah lancar sekali sentuh sana dan sini. Berbeda dengan ibuya ini. Sampai sekarang, masih kikuk menggunakan smartphone. hehe :D

Sebagian orang tua pengguna internet memperbolehkan anak-anak mereka memainkan gadget/smartphone. Bahkan ada juga yang membelikan khusus untuk si anak. Karena mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan zaman, maka sedini mungkin orang tua mengenalkan anak-anak dengan internet. Hal ini pula yang terjadi pada saya. Mom/Dad boleh setuju atau tidak, yang jelas hal ini sangat membantu ketika saya hendak melakukan sesuatu yang tidak ingin "diganggu" oleh anak-anak. Misalnya ketika saya hendak menulis atau hal lain yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Akan tetapi saya juga merasa khawatir ketika Dhia sedang nge-game, ya, anak yang satu ini adalah penggemar game online. Jangan tanyakan bagaimana ia bisa mahir nge-game, muahaaha. :D
Saya sedikit ketakutan kalau-kalau Dhia membuka aplikasi yang tidak sesuai untuk usianya (red, konten dewasa ). Pernah suatu ketika saya kecolongan. Di game online yang walaupun kategorinya untuk anak, tetap saja ada konten yang bukan untuk anak-anak, iklan misalnya. Alhamdulillah waktu itu Dhia langsung memberitahu saya sehingga bisa cepat teratasi. Saya kasih tahu Dhia untuk tidak sembarangan mengeklik, syukurlah Dhia mengerti dan menurut. Hal ini membuat saya merasa sangat bersalah. Sejak saat itu saya sangat berhati-hati dan selalu mendampingi terutama saat anak menggunakan internet.

Apabila dengan terpaksa tidak bisa mendampingi anak saat berinternet, bagaimana?
Ya, saya berikan gadget yang tidak tersambung dengan internet. ;)
Namun hal ini pasti tidak akan berlangsung lama. Semakin tambah umur tentu rasa penasarannya semakin bertambah. Untungnya sekarang saya telah menemukan sebuah aplikasi yang bisa mengamankan anak dari konten-konten yang tidak sesuai dengan umurnya.

Apa itu?

Awalnya, saya mengira hanya aplikasi game-game khusus anak, namun setelah saya unduh, saya mendapatkan lebih dari itu. Dengan aplikasi ini, saya bisa mengontrol konten-konten apa saja yang bisa diakses oleh anak saya. Seperti dapat dilihat pada gambar di bawah, orang tua tinggal mengatur mana saja yang dibolehkan.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan sistem proteksi. Jadi, sebelum smartphone kita/ tablet Android diberikan pada anak, pastikan proteksi dalam keadaan ON.


Lalu, setiap bulannya kita akan menerima laporan apa saja yang anak buka dari tablet/smartphonenya melalui email yang didaftarkan. Mom/Dad tahu sendiri,khan. Anak-anak itu karena belum tahu dan selalu penasaran pasti segala dipencet atau diklik. ^_^

Lalu ada apa saja di dalam Aplikasi Anak Cerdas ini ?
Setelah selesai mendownload, kita akan masuk di home-nya. Ada tiga macam kategori di sana, Mom/Dad bisa melihatnya satu-satu. Ada edukasi , permainan, dan e-book. Masing-masing bisa langsung diinstall  atau diunduh sesuai kebutuhan.


Selanjutnya, mari kita masuk ke dunia anak. Nah, Mom/Dad yang mempunyai anak usia kelas 1-6 SD, di aplikasi ini tersedia berbagai latihan soal dari kelas 1 sampai kelas 6 SD dengan 4 mata pelajaran seperti terlihat dalam gambar di bawah ini. Untuk Dhia, saya tidak mencobakannya. Namun saya mempunyai sepupu kelas 4 SD.

Bibi saya mengeluhkan anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD susah sekali belajar, susah kalau disuruh mengerjakan soal latihan. Makanya nilainya selalu jelek di mata pelajaran matematika dan sains. Ini bukan karena anaknya bodoh, tidak ada anak yang bodoh menurut saya, yang ada anak hanya kurang minat belajar pada mata pelajaran tertentu saja. Kemudian saya cobakan aplikasi ini kepada sepupu saya itu. Bisa ditebak, khan? Anak ini mau menjawab soal-soal latihan yang ada di aplikasi. Bahkan dia sangat senang, mau mengulang dan mengulang lagi . Dipikirnya mungkin ini seperti bermain tablet pada umumnya. hihihi *ngikik senang :)))
Catatan : Sebaiknya sebagai orang tua tidak memaksa anak mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Lebih baik, kembangkan potensi yang disukai oleh si anak. Right?


Oke, lanjut, ya. Mari kita masuk di Dunia Tekno. Di sini kita bisa menemukan berbagai artikel yang sangat bermanfaat. Informasinya akan terus diupdate oleh tim Acer Indonesia. Jadi menambah .pengetahuan juga kan Mom/Dad ? :)
Oiya, ada juga bermacam-macam e-book yang bisa diunduh secara gratis.


 Dengan Aplikasi Anak Cerdas ini, membuat kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan dan tentu saja aman.

Bagaimana Mom/Dad, masih khawatir tentang kegiatan anak berinternet? Coba aplikasi ini di smartphone dan tablet Android anda. Langsung saja kunjungi websitenya, download,  and be happy netizen.

***
Postingan blog ini diikutsertakan dalam lomba blog aplikasi Anak Cerdas kerja sama Kumpulan Emak Blogger dan Acer Indonesia.

9 Apr 2014

Prompt #46 : Ketika Ibu Jatuh Cinta

credit
Bunyi klakson dan deru kendaraan bersahutan menambah kegarangan Jakarta siang itu. Aku dan gengku berkumpul di café kawasan Kemang. Tak sengaja aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagiku. Duduk di café seberang jalan bersama seorang pria berjas hitam. Mereka mesra sekali. Ah.. Ibu, sudah lama tak kulihat senyum sebahagia itu.

Tak lama mereka keluar , lalu masuk mobil Accord hitam.
Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar tak menghiraukan  ibu yang menyuruhku makan malam.

“Ya, Tuhan…kenapa ibu tega melakukannya. Apakah ibu mau meninggalkan kami demi laki-laki itu?”

Di sekolah, aku tidak konsentrasi dengan pelajaran.
“Nanti aku akan ke cafe, mungkin mereka di sana,” pikirku.

Dugaanku benar. Pria itu memberi seikat bunga dan menyematkan cincin di jari manis ibuku. Tiba-tiba gerimis turun. Kubiarkan diriku basah.

Jam tiga aku sampai di rumah. Tidak ada orang. Ayah belum pulang kerja, kakak di kampus, dan ibu….
Jam setengah tujuh satu persatu pulang. Dan semua berlalu masuk ke kamar masing-masing.

Makan malam terasa canggung. Tidak ada kehangatan sama sekali. Ayah dan kakak lebih senang memainkan handphonenya dari pada ngobrol denganku.

“Ehheem. Ayah, kakak, Lala …ada yang mau ibu bicarakan dengan kalian. Ibu…”

Aku membanting sendok dan garpu, “Ibu tidak usah bilang apa-apa, Lala nggak mau dengar!” aku berlari ke kamar dan membanting pintu.

Malam itu aku sakit. Dan ibu sangat telaten mengurusku hingga aku sembuh seminggu kemudian.

Sore ini, diam-diam aku membuntuti ibu. Sesuai dugaanku, ia kembali bertemu dengan pria itu. Setiap gerak-gerik mereka kuamati dari jauh. Kali ini, ibu tidak berdandan dan memakai baju bagus seperti dua minggu yang lalu. Ibu mengembalikan cincin kepada pria itu kemudian pergi sambil menangis.

Thank’s God.
*


Hari berlalu. Aku menunggu hujan reda di halte. Melintas di depanku mobil ayah. Aku hendak menyetopnya namun kuurungkan. Karena di sampingnya duduk seorang perempuan muda memakai rok mini. Mereka bergenggaman tangan.

*** end ***

300 kata

Bandung, 9 April 2014

7 Apr 2014

Looking for Grasshopper


Akram serius mengamati tanaman


Today, me and my boys play in the yard beside the house. There was a lot of green grass. Akram immensely, he is free running and sitting on green grass. Akram abruptly stopped when he saw something. When I approached it turns out, olalaaa .... two different types of locusts adjacent. 

Because Akram can not speak, so he just pointed and said something that was not obvious.
But, I think Akram will say: "Mi, grasshoppers were talking, huh?"

dua belalang berbeda jenis

Catatan ibunya :

Bermain di kebun atau di luar ruangan sangat membantu perkembangan Motorik Kasar dan Motorik Halus anak, karena mereka akan bebas berlarian dan mengenal lingkungan dengan melihat secara nyata, meraba tanaman, melihat berbagai macam hewan dan tumbuhan, mencium aroma/baunya, dan lain sebagainya.

6 Apr 2014

Prompt #45 : Janji Kita

credit
"Sssst, jangan bilang siapa-siapa, ya! Ini rahasia kita berdua."
Aku mengangguk. Panji melempar senyum.

"Nanti saat usia kita 21 tahun, kita ketemu lagi di sini. Ingat ya, Wik, tanggal 10 Desember. Di manapun saat itu kita berada, kita harus kembali ke sini dan membuka isi kaleng itu." Dia berdiri dan berkacak pinggang. Melihat sekeliling.

"Aman."

"Ayo, Wik. Kita pulang. Nanti kamu dicari Simbokmu." Ia menarik lenganku.
Aku menoleh ke belakang, memandang gundukan tanah di bawah pohon itu.
Aku ingin tahu apa isinya. Tapi aku sudah berjanji pada Panji untuk tidak membukanya.

Panji semakin erat menggandeng tanganku.
"Siap ya Wik, kita akan berlari." Belum lagi aku menyiapkan diri, Panji sudah menyeretku.

"Ayo! Masih jauh dari rumah. Tadi aku pamit ke emakku cuma mau belajar kelompok. Bisa babak belur aku kalau sampai kemaleman." Aku dan Panji masih berlari.

Kutatap wajahnya dari samping. Keringat membanjiri kening dan lehernya. Aku tersenyum sambil terus berlari mengiringi irama kakinya.
*
Hari ini, tiba-tiba aku teringat akan pohon di halaman sekolah SD kami. Pada kaleng itu. Pada janjiku dan Panji dikala. Setelah sekian lama melupakannya. Mencoba melupakannya, karena Panji sudah menikah dengan perempuan Aceh, dan tinggal di sana. Sehari sebelum waktu dimana kita akan membuka kaleng itu.

Dan tiga tahun aku berjuang melupakan Panji. Aku benar-benar lupa.Isi kaleng itu, aku sudah tidak tertarik lagi. Pada akhirnya aku menikah dengan Jarwo, teman SD ku, teman dekat Panji. Lalu setelah menikah dengan Jarwo aku diboyong ke Semarang. Lima tahun menikah, cerai karena aku mandul.

Lalu, kenapa saat ini aku jadi teringat akan janji itu? Dan entah rasa apa ini, yang tak terbendung dan mengaduk aduk perasaan untuk kembali ke pohon itu.

Apakah pohon di halaman sekolah kini masih ada?
Apakah kaleng itu masih ada di sana?
Atau sudah lenyap di makan usia?

Keesokan harinya, aku bertekad kembali ke Situbondo. Naik bus kota menuju tempat kelahiranku. Walaupun Simbok dan Bapak sudah tiada, namun rumah bekas kami tinggal masih ditempati oleh Bu Lek. Sekalian silaturahmi, pikirku.

Begitu sampai di Situbondo, desa Curah Tatal, aku langsung menuju SDN 7 Curah Tatal, tempat aku bersekolah dulu. Bangunannya banyak berubah setelah lima tahun aku tidak melihatnya. Namun pohon itu...pohon itu masih ada. Aku berlari menghampiri. Lalu menangis tersedu memeluknya. Seperti memeluk Panji yang tiba-tiba saja kurindui.

Kubuka kaleng yang sudah berkarat itu. Secarik kertas yang sangat usang, dan sebuah jepit rambut. Jepit rambut  satu-satunya yang kupunya. Ada tulisan di dalamnya. Aku termangu setelah membaca tulisan itu.
Wiwik koncoku, janji lho... balikin kelerengku yang kamu lemparin ke sungai. Semuanya ada 255 buah. Nanti aku balikin jempit rambutmu ini. Panji.
 Aku telah salah sangka. Panji, kukira kau menyukaiku. Tidakkah kau dengar janjiku? Janji seorang perempuan kepada laki-laki yang dikasihinya. Walau janji di dalam hati saja, karena aku ... bisu.

*** 

Bandung, 06-04-2014
445 kata

Dibuat untuk Prompt Challenge #45 : Ada Apa Dengan Cinta Monday Flash Fiction.

5 Apr 2014

Wingko Jolla Jolly

Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin... paket yang saya tunggu dari pagi akhirnya sampai juga. Sore hari menjelang sunset, wingko Jolla Jolly yang saya pesan dari mas Rudi (Belalang Cerewet) telah mendarat dengan selamat. Karena memakai jasa pengiriman YES (Yakin Esok Sampai) jadi cepat sampai. Dan ini menjadi nilai plus menurut pandangan saya sebagai pembeli.
Bungkusnya rapih dan masih dalam keaaan rapat berbungkus plastik. Anak-anak saya ikut-ikutan heboh. Penasaran apa yang ada di dalam kotak itu.


Cepat-cepat saya buka pembungkusnya. Dan, taraa... langsung suka sama kemasannya yang warna merah hati itu. Terkesan elegan gitu. (*makin gak sabar ingin makan wingkonya).


Begitu saya buka box-nya, di dalamnya nampak berjajar rapih 12 buah wingko dengan kemasan plastik tiap bijinya. Ini poin kedua yaitu higienis. Jadi saya nggak was-was untuk memakannya. Menggiurkan sekali, bukan? :)
Saya memesan dua box, satu box rasa original dan satu box rasa keju.

Sambil motoin ini sebenarnya rebutan sama krucil. Mereka juga gak sabar mau menyantapnya. :D
 Kedua anak saya ini ternyata suka, lho. Kalau saya suka yang rasa original. Rasa ini ada taburan wijen di luarnya.. Sedangkan suami suka yang rasa keju. Kalau rasa keju ada potongan keju di atasnya.

Akram dan Dhia suka

 Wingko, yang selama ini sering saya makan itu teksturnya keras , dan ukurannya cuma selebar uang koin seribuan ( yang biasa saya beli ) dengan kemasan kertas yang lebar. Naaah, kalau wingko yang satu ini beda. Lembut banget. Dan ukurannya lebih besar. Tuh kaan, liat aja fotonya. Klimis gitu, cakep. muahaha :D


Di mana bisa mendapatkannya?
Kalau manteman ingin membelinya, langsung saja hubungi mas Rudi, hubungi 085710817089 .
 Ah, ke saya juga boleh, tapi nanti kena pajak terlebih dahulu. :D
Oiya, kata yang punya, wingko jolla jolly ini ada 4 varian rasa, ada original, keju, talas, dan coklat. Tinggal pilih mana yang disuka.

Wokeeeyh..! Saya mau lanjut makan wingkonya. Bye... :)))
This entry was posted in

4 Apr 2014

Kripik Bayam atau Rempeyek Bayam

Langkah 1

Saya menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, a.l.:
  • Daun bayam
  • Tepung beras
  • 1 butir telur
  • Air
    Bumbu :
- Bawang putih
- Merica bubuk
- Garam secukupnya
- Gula 1 sdt

#Jika ingin lebih praktis, pakai penyedap bubuk saja. Kalau saya terbiasa nggak pake penyedap / MSG.




Langkah 2

Campur bahan-bahan di atas menjadi satu sampai rata. Tingkat keencerannya seperti membuat rempeyek. (*Ini susah dijelasin, sayangnya nggak ikut kepoto karena riweuh sama anak-anak).
Adonannya jika diambil pake sendok dan ditumpahkan, nggak akan bersisa di sendoknya.
Masukan bumbu, sesuaikan dengan banyaknya adonan. Jangan lupa icipin dulu sebelum di goreng.

Langkah 3

Goreng dalam wajan dengan minyak panas. Caranya dibleberkan di bagian pinggir wajan (bukan di dalam minyaknya). Goreng sampai kekuningan dan renyah.

Angkat dan sajikan.

*Masukan dalam wadah kedap udara agar tetap kriuk sampai beberapa hari.

3 Apr 2014

1 Apr 2014

Buku Lama : Berpacu Nasib di Kebun Karet



Hari ini, karena melihat rak buku yang super berantakan. (*kalau belum berantakan banget belum diberesin sich*). Saya menyempatkan diri untuk merapihkannya. Secara saya kalau mberesin buku butuh waktu lama. Iya, bisa sampai berjam-jam. Sambil ngrapiin sambil buka-buka dan membaca cepat.
Diantara deretan buku, saya menemukan sebuah novel yang berjudul Berpacu Nasib di Kebun Karet. Saya hampir lupa kapan saya membelinya. Untungnya, kebiasaan saya ketika membeli buku langsung dibubuhi tanda tangan sendiri, :p


Sudah lama juga belinya. Tahun 2008.

Tentang Buku Ini.

Judul  : Berpacu Nasib di Kebun Karet
Penulis : M.H. Szekely Lulofs
Judul asli : Ruber
Diterbitkan di Amsterdam tahun 1933.
Dicetak di Indonesia tahun : 1985 ( cetakan pertama )

Waw, yang bikin saya melongo ...bahkan sayapun belum lahir. Lebih tua-an mbak buku ini. :)
Kalau sekarang nyari, dijamin nggak bakal ada di toko buku-toko buku.

Jalan ceritanya?
Oh, itu... saya belum mbaca sebenarnya,hehe. Kalo gitu habis ini akan saya baca dan (mungkin) menuliskan reviewnya.


Oke segitu aja dech gejenya. Kalau manteman, punya buku tua? Sharing di sini , yuk :)