20 Oct 2018

Styrofoam Aman untuk Bungkus Makanan

Dear friends,
Akhir pekan ini sangat berfaedah buat saya dan keluarga. Pasalnya, Sabtu pagi tanggal 13 Oktober kemarin, saya bisa ngajakin anak-anak playdate bersama teman-teman. Sementara itu, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang Styrofoam di acara Blogger Gathering Cooking in Style with chef Vera Christiani yang bertajuk How to Make Good and Quality Take-Away Foods.

Selama ini saya tahunya styrofoam itu berbahaya, nggak baik buat kesehatan, sampahnya sulit diurai secara alami oleh tanah. Jika kamu berpikir hal yang sama seperti saya, saya berharap kamu baca tulisan ini sampai akhir. :)



Adalah Ir Akhmad Zainal Abidin, M. Sc., Ph.D ( Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB ) dan DR. Dianika Lestari ST. (Dosen program Teknik Pangan di ITB ) sebagai dua narasumber yang membawa pencerahan dan pemahaman baru tentang styrofoam / ps foam / polystyrene / polistiren.

Jujur aja sih, masyarakat awam seperti saya ini dan (mungkin) kebanyakan orang di luar sana beranggapan bahwa styrofoam itu berbahaya. Soalnya isu yang berkembang di masyarakat memang  seperti itu, kan? Bahkan sampai ada surat edaran dari Ridwan Kamil pada tahun 2016 (saat menjabat wali kota Bandung) tentang pelarangan penggunaan styrofoam untuk bungkus makanan. Hal tersebut menjadikan Bandung sebagai kota pertama yang melarang penggunaan styrofoam. #cmiiw

Ditambah lagi isu yang beredar adalah adanya kandungan styren ( suatu senyawa penyebab kanker) yang dipakai pada styrofoam ini. Gimana nggak su'udzon sama styrofoam coba. -__- Ditambah lagi saat melihat penampakan sampah di sungai-sungai dan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), kebanyakan adalah sampah plastik dan styrofoam. Saat banjir melanda, sampah plastik dan styrofoam yang terlihat pertama kali. Lalu kita langsung mengambil kesimpulan bahwa penyebab banjir adalah styrofoam ini. Kasihan sekali 'si styro', dia disalahin melulu. Padahal sampah berat seperti kayu, ranting pohon, bahkan kasur lah yang menyumbat aliran sungai di bagian bawahnya. *puk-puk styro*

Ditambah lagi manajemen sampah yang ada di Indonesia pada umumnya tercampur dan hanya memindahkan sampah dari rumah ke TPS lalu ke dibuang ke TPA. Hal ini membuat citra plastik sebagai bahan yang tidak ramah lingkungan. Inilah faktanya, kebiasaan manusia dan managemen sampah yang buruklah yang menyebabkan banjir serta tercemarnya tanah dan laut.

credit : pixabay

Sampah ini memang sudah menjadi momok di Indonesia. Menurut saya sih perlu banget adanya sinergi antara pemerintah, industri dan masyarakat. Saya berharap pemerintah mengeluarkan peraturan agar masyarakat memilah sampah rumah tangganya masing-masing sebelum diangkut oleh petugas kebersihan. Semacam di Korea Selatan sana, dong. Kalau kamu suka nonton drama Korea, sering banget ada adegan yang menunjukan bagaimana masyarakat sana mengelola sampahnya. Mereka diwajibkan memilah sampah. (Ada gunanya juga eikeh sering nonton drama Korea, salah satunya belajar managemen sampahnya. lol)

Jika pemerintah tidak mengeluarkan peraturan pengelolaan sampah dari rumah tangga, yang terjadi adalah akan sia-sia jika yang memilah sampah hanya segelintir orang. Harus ada pengelolaan minimal dari tingkat RT/RW. Misalnya, saya tinggal di perumahan padat penduduk. Lahan nganggur di sekitar rumah hampir tidak ada. Lalu dari rumah saya, sudah dipilah mana sampah membusuk, sampah bakar, sampah plastik, dan sampah daur ulang lain. Namun saat petugas kebersihan yang datang dua hari sekali mengambil sampah di lingkungan kami, ternyata semua sampah tersebut disatuin. Yasalam.. Sia-sia dong udah milahin sampah, karena yang melakukan hanya sedikit orang. Akhirnya menyerah karena : buat apa memilah sampah toh pada akhirnya dicampur juga. :(

Namun jika pemerintah membuat peraturan, melakukan penyuluhan dan sosialisasi (mengenai pemilahan sampah maupun zero-waste) pada tingkat desa, serta menyediakan alat untuk recycle sampah plastik dan styrofoam, paling tidak akan meminimalisir sampah pada tingkat desa sehingga beban TPA akan semakin berkurang.

Setelah saya mendengarkan penjelasan profesor Zainal, saya jadi melongo bego. Saya baru tahu kalau ternyata STYROFOAM AMAN UNTUK BUNGKUS MAKANAN. (sampai dicapslock biar manteb gaes) Ini yang ngomong bukan saya lho ya, tapi ilmuwan, seorang profesor lho.



Berbeda dengan apa yang selama ini saya ketahui bahwa styrofoam bahaya untuk kesehatan dan lingkungan. Saya pun jadi lebih antusias mendengarkan pemaparan prof Zainal.

Fakta singkat tentang Styrofoam

Styrofoam atau Polistiren Foam dibuat dengan bahan baku Polistiren / bahan plastik serbaguna yang banyak digunakan untuk pembuatan berbagai produk seperti kemasan makanan, barang elektronik, mainan anak-anak, suku cadang kendaraan bermotor dan mainan anak-anak.

Polistiren tidak sama dengan Stiren , ya. Polistiren dan Stiren adalah dua zat yang berbeda. Nah, senyawa yang bisa menyebabkan kanker adalah Stiren / Stirena ini. Meskipun polistiren terbuat dari stiren, namun masih tetap aman sebab kadar stiren dalam wadah styrofoam sebenarnya juga tidak terlalu banyak, yakni sekitar 0-39 ppm (part per million).

Dalam realitanya, stirena sebenarnya juga sudah ada dalam beberapa bahan makanan atau minuman yang kerap kita konsumsi. Kadar ini setara dengan saat kita mengkonsumsi stirena pada stroberi, tepung, kacang, daging sapi, kopi, dan lain sebagainya. Kata prof Zainal.



Alasan kenapa Polistiren aman untuk kemasan makanan berikut ini adalah beberapa alasannya seperti yang diungkapkan bu Ika bahwa styrofoam cocok untuk wadah makanan take-away, ini dia faktanya:
  • Bahan isolasi yang efektif untuk keamanan makanan. Bahan makanan segar lebih lama. Sehingga masa penyimpanan lebih lama.  Saya kerap mengamati dan bertanya-tanya, kenapa di supermarket bungkus daging, buah potong, sayuran dan lain-lain menggunakan alas stryrofoam. 
  • Bersih, Higienis, tidak berpori.
  • Ringan. 95-98% busa polistiren berisi udara, sisanya plastik.
  • Mudah diolah kembali menjadi barang baru yang bermanfaat. Polistirena bisa didaur-ulang dan dengan manajemen sampah yang ideal. Mudah diolah kembali menjadi bahan bakar, dll.
  • Kuat, tahan lama dan tahan banting. 
  • Ekonomis. Lebih murah dibandingkan dengan kemasan yang lain



Namun, banyak nih yang mempertanyakan, bagaimana dengan dampak lingkungannya? Bukankah selama ini masyarakat luas memahami bahwa styrofoam bahaya bagi lingkungan?

Prof Zainal mengungkapkan, Styrofoam ini memang sangat sulit diurai bahkan mungkin tidak bisa diurai secara alami oleh tanah. Hal ini menjadi isu juga bahwa styrofoam bahaya buat lingkungan. Padahal, jika sampah diolah dengan sistem terpilah seperti Management Sampah Zero (Masaro), akan menghasilkan nilai ekonomi dan mendatangkan keuntungan bagi daerah yang melakukannya. Styrofoam ini bisa diurai dengan cara thermal dan dengan kimia. Bisa juga dengan menghancurkannya menjadi barang lain yang lebih bernilai jual seperti BBM dan beton ringan.

Fyi, Masaro adalah konsep pengelolaan dan pengolahan sampah terbaru yang dikembangkan oleh Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB. Ini dianggap paling solutif oleh para ahli dalam menanggulangi sampah di Indonesia. Dalam konsep ini, baik sampah yang bisa membusuk maupun tidak, bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi baik. Hingga saat ini, Masaro sudah dicoba di beberapa daerah di Indonesia seperti di Indramayu, Majalengka, Cirebon, Karawang, Solo, Anambas, Pekanbaru, dll. Diharapkan dengan sudah dilakukan di daerah tersebut, membuat pemerintah daerah lainnya dapat menerapkan Masaro.

Selain dua narasumber yang sudah ahli di bidangnya, juga ada chef Vera Christiani yang demo masak membuat masakan ayam bumbu kuning dan soto kuning bogor. Di atas mejanya telah tersedia berbagai bahan makanan yang dibungkus memakai styrofoam.



Kata chef Vera, beliau memang selalu menggunakan stryrofoam untuk membungkus bahan-bahan makanan saat travelling. Strukturnya yang kuat, tahan lama dan tahan banting namun tidak memakan tempat.


    Chef Vera memberikan tips dalam memasak. Chef jebolan Master Chef Indonesia ini ternyata suka sekali menggunakan rempah-rempah Indonesia dalam membuat masakan.
    " Kita jangan takut untuk menggunakan herbs asli Indonesia." ujarnya.
    Aroma masakan ayam bumbu kuning dan soto kuning bogor menguar membuat perut keroncongan selama acara. :)

    Pada sesi selanjutnya adalah anak-anak belajar membuat sushi bersama ayah/ibu. Kegiatan ini asyik sekali buat anak-anak. Dhia dan Akram antusias saat menggulung nasi dan mencetak dengan berbagai bentuk.



    Ah, senang sekali mengisi waktu bersama keluarga. Anak-anak senang karena bertemu teman-temannya. Sementara saya mendapatkan pengetahuan baru dan membuka perspektif yang selama ini salah tentang styrofoam.

    20 comments:

    1. Keren nih sampahnya bisa didaur ulang jadi bbm, bermanfaat banget ya teh sebelumnya aku masih termakan isu kalo ini berbahaya

      ReplyDelete
      Replies
      1. aku juga, tapi karena yang bilang ahlinya maka nggak anti lagi sama maknan yg dibungkus sama styrofoam

        Delete
    2. nah kan aku yang dulu menjadi orang garis keras dukung no strofoam karena kemakan berita styrofoam bahaya dan segala rupi bahkan mie seduh favorit aku aja berganti jadi plastik teh asa ga enak huhu padahal prose penanganan yang mantap bisa jadi sesuatu yang mantul ya teh

      ReplyDelete
      Replies
      1. Aku berharap pak RT bikin peraturan sampah di cimohay land bagian kamarung diberlakukan dengan masaro

        Delete
    3. Senangnya dapat ilmu baru nih, tfs ya teh

      ReplyDelete
    4. Sependek yg saya tau, styrofoam memang aman untuk wadah makanan. Styrofoam dilarang karena mayoritas penggunanya sering buang sembarangan. Ini bisa jadi karena kurang informasi dan keterbatasan lahan.

      ReplyDelete
    5. Alhamdulillah berkesempatan ikut acara ini. Jadi terbuka deh ya insight tentang styrofoam ini. PR besarnya, tentu saja adalah sampahnya. Semoga segera hadir teknologi massal yang bisa mengubah styrofoam jadi yang bermanfaat kayak yang dipunya MASARO. :)

      ReplyDelete
    6. Gara-gara ikut event ini aku jadi punya wawasan baru, sekarang gak perlu terlalu khawatir lagi

      ReplyDelete
    7. Kasian styrofoam selalu disalahin padahal bahannya nggak berbahaya ya teh πŸ˜‚

      Meni seneng ih Dhia sama Akram belajar bikin sushi, jadi pengen coba rasanya πŸ˜†

      ReplyDelete
    8. Jadi lega deh kalo trnyata si styrofoam ini aman. Mdh2an ga jadi kambing hitam lagi ya. N yg masih peer banget itu ya soal pemilahan sampah. Nice article😘

      ReplyDelete
    9. keren ya teh sampahnya bisa di daur ulang jadi bbm

      ReplyDelete
    10. Untung weh baca tulisan di blog ini jadi lebih paham deh tentang seluk beluk stryfoam :))

      ReplyDelete
    11. Emang paling praktis ngemas makanan pakai styrofoam ya

      ReplyDelete
    12. AKu mau dibikin Sushi sama Dhia dan kram juga, dong. Kirim ke Cijerah pake kemasan styrofoam, deh Wi, ga usah pake T********e Kan aman, ga berbahaya hehehehe *modus, ih celamitan sama anak kecil*

      ReplyDelete
    13. Aku jadi baru tau informasi yg benar ttg styrofoam. Selama inu ditakutkan, tp ternyata aman sekarang.
      Terus juga sampahnya bisa di daur ulang utk BBM, hebat 😍

      ReplyDelete
    14. AKu mah i styrofoam da, hihihi walaupun dulu dilarang suka bandel soalnya praktis, eh, ternyata aman, jadi tenang, deh

      ReplyDelete
    15. sekarang mah gak perlu risau dan galau kalau beli seblak yang diwadahin styrofoam!
      nuhun infonya teteh...

      ReplyDelete
    16. Sempet saya ngelarang Mama pake styrofoam gara-gara isu yang beredar. Ternyata aman ya dipakai buat bungkus makanan.

      ReplyDelete
    17. Alhamdulillah ya, ternyata styrofoam ini aman buat makanan :)

      ReplyDelete

    Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)
    Mohon maaf komentar dimoderasi karena banyaak spam yang masuk.