23 June 2019

Pengalaman Ikut Kelas Access Bars Consciousness


Don’t let your mine determine what you choose.
Let what you know.
Lead you in CHOICE.
~Gary Douglas



Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan, keputusan saya untuk mengikuti kelas Bars ini bisa membawa perubahan dalam hidup saya. Banyak perubahan menjadi lebih baik. Perubahan apakah itu? Nanti akan saya ceritakan. Sekarang, kita flashback dulu ke beberapa bulan sebelum hari kelas BARS di hotel Panorama Lembang pada tanggal 14 April 2019 lalu. Kira-kira sebulan sebelumnya, saya yang dalam keadaan kacau menerima Access Bars dari seorang teman dekat. Sebut saja namanya Nchie Hanie, saya memanggilnya Teh Nchie (praktisi Bars di Lineation). :)

Dalam bahasa sederhananya, BARS ini sebagai "alat bantu" menghilangkan stress, me-rileks-kan badan, menenangkan pikiran yang meloncat-loncat, membuang sampah negatif bahkan yang sudah mengendap di otak selama bertahun-tahun. Ini yang saya tau sebelum ikut kelas. Ternyata ... Bars lebih dari itu. Buanyaaak banget manfaatnya.

Cerita lengkap pengalaman saya sebagai pasien BARS, baca di sini yaa: Oh Ternyata Begini Rasanya di-BARS?

Setelah saya merasakan manfaat dari BARS, otak logis saya bekerja dan saya jadi berfikir, oh andai keluarga saya ikut merasakan BARS juga. Tentu akan sangat bagus. Namun, saya kemudian kembali berfikir, jika satu sesi Bars di Lineation (dan dimanapun) itu Rp 500.000 ... berapa biaya yang harus saya keluarkan supaya keluarga saya mendapatkan BARS? Maka dari itu, ketika ada informasi ada kelas BARS di Bandung, saya merasa tertarik dan langsung klik pengen ikutan. Lalu, mendaftarlah saya untuk ikut kelas yang difasilitatori oleh dokter David Budi Wartono.

flyer info kelas bars Bandung


[Teh, nanti ya transfernya]
Saya mengirim pesan teks ke admin sambil berfikir bagaimana cara saya dapat uang untuk bayar kelas BARS.

Alhamdulillah, semesta mendukung. Seminggu sebelum kelas dimulai, saya mendapat rezeki nomplok pas banget dengan jumlah yang harus saya bayarkan untuk ikut kelas ini.

14 April 2019 - Hotel Panorama Lembang


Pada awalnya, saya berencana mengajak Akram (7) anak saya nomor 2 ikut kelas BARS, sudah saya daftarin untuk ikut kelas ini. Ternyata enggak jadi ikut si anak teh. Sayang banget. Padahal kalau bocah ikut, akan sangat bermanfaat banget, bisa saling memberi Bars setiap hari.

Access Bars bisa dipelajari anak-anak?

Kalau Anda bertanya begitu, mari toss dulu. Sama dengan saya yang enggak yakin anak-anak bisa belajar. Pada kenyataannya, anak-anak justru lebih cepat belajar. Ini membuat terkedjoet aku terheran-heran. Anak-anak yang ikut pada kelas waktu itu emang langsung bisa tanpa baca modul.
Makin nyesel nggak membujuk Akram lebih keras lagi.
Eh tapi nggak boleh gitu juga ding, soalnya kelas Bars ini enggak boleh ada paksaan. Harus dengan keinginan sendiri. Jadi inget lagi waktu pertama kali mau dikenalkan Bars, jiwa saya denial ... menolak, nggak mau diBars.



Kelas Bars dimulai dengan aturan di kelas. Aturannya adalah tidak ada aturan. Yhaaa Anda tidak salah baca. Dalam kelas Bars with dokter David Budi Wartono ( selanjutnya saya tulis dr. Dave aja yaaa), peserta dibebaskan. Mau jalan-jalan silahkan, mau bolak-balik ke toilet bebas, mau makan atau minum juga silahkan. Kalau mau ngantuk dan tertidur silahkan.

Kemudian, kelas berlanjut dengan sesi 'Memperkenalkan Diri'. Kami (para peserta) diminta menceritakan motivasi apa yang membuat ingin mempelajari Bars.

Peserta pertama bercerita, bahwa beliau baru saja ditinggal (meninggal, red) oleh suaminya. Membawa perasaan sedih yang mendalam dan hancur karena ditinggal belahan jiwa. Perasaan saya nggak karuan waktu ibu ini bercerita, dan saya pun ikut menangis merasakan emosi ibu tersebut. Saya dari dulu emang gitu, mudah banget trenyuh hingga ada yang bilang kalau saya tuh cengeng. :)


Setiap peserta menceritakan alasan ikut kelas Bars ini. Sampai pada giliran saya. Agak aneh karena waktu itu saya bisa bercerita dengan lancar. Padahal biasanya saya kalau ngomong tuh belibet, otak sama mulut kadang suka nggak nyambung, suka banyak aaa eeee aaa eee nya. hehehe

Saya bercerita ke dr. Dave, bahwa motivasi saya ikut kelas karena ingin menularkan Bars kepada keluarga saya. Maksudnya, saya ingin orang terdekat (yang dimulai dari keluarga) mendapatkan manfaat Bars.


Iya, sesimple itu motivasi saya ikut kelas BARS. Agar bisa kontribusi ke orang lain, memberikan energy positif seperti yang dilakukan teh Nchie Hanie pada saya. Kayaknya menyenangkan sekali bisa bantu orang keluar dari stress dan masalahnya.

Pada sesi ini, saya jadi menyadari ... ternyata saya sebenarnya tuh orangnya empath, bisa menyerap emosi dari sekitar. Saya tidak mengetahui ini dari awal. Bahkan nggak cuma emosi, apa yang dirasakan orang lain di sekitar saya ( misalnya pusing ), saya bisa merasakannya. Dan 'bego'nya saya tidak menyadari hal ini.
Pantesan, saya selama ini sering banget sedih yang nggak ada sebabnya, tiba-tiba menangis tanpa sebab, tiba-tiba minta peluk ke suami lalu nangis sesenggukan tanpa tahu sebabnya sampai suami saya bingung. Saya juga sering migrain dan sakit di beberapa bagian tubuh.

Sekarang saya sadar apa yang terjadi sehingga saya seperti itu.


***

Setelah sesi perkenalan selesai, dilanjutkan belajar Bars dan langkah-langkahnya.

Ada satu modul yang isinya pakai bahasa Inggris. Waduh, saya bakalan roaming deh ini, secara kemampuan bahasa Inggris saya tidak bagus. Saya mencoba membaca dan memahami isinya. Oh my ... nggak mudeng akutu. Apalagi di monitor disetelin video berbahasa Inggris, jadi makin bengong bego. lol

Untungnya sama dr. Dave diterjemahin, jadi  saya paham walau sedikit.

"Untuk yang nggak bisa bahasa Inggris, nggak usah khawatir karena energy (Bars) itu nggak butuh bahasa."



Apa itu BARS?

“The Bars” adalah terapy sentuhan pada titik kepala yang membantu meredakan pikiran yang meloncat loncat, mengembalikan kita pada keseimbangan dan menciptakan kemudahan, kedamaian dan rasa damai seperti halnya pada pijat, meditasi, bahkan lebih dari sekedar itu saja. Sentuhan di 32 titik bars di kepala bertujuan untuk mendefrag otak kita dan membuang sampah electromagmetic yang terkumpul dari seluruh kehidupan jiwa kita.

32 titik dikepala ini menyimpan 32 masalah dalam kehidupan kita. Melakukan sesi Bars ibaratnya seperti mendelete junk file dan degfrag dalam komputer. Begitu banyak files yang nggak kepakai akan menuh-menuhin memori, pun dengan begitu banyak virus, aktivitas nonstop dan sebagainya akan membuat komputer bermasalah. Begitu pula otak kita, dengan segitu banyaknya aktivitas dan masalah dalam kehidupan.

Bars sangat dibutuhkan untuk menata ulang, melepaskan trauma dan emosi negatif yang tersimpan dari seluruh kehidupan jiwa. Dengan Bars kita akan bisa memilih berbagai possibilities - peluang baru yang memungkinkan kita berubah dari kondisi apapun, seperti stuk dalam kehidupan atau keuangan, stress, depresi, anxiety, psikosomatis, penyakit kronis, kesialan dalam hidup, kutukan, dll.



baca juga: Pengalaman sebagai Pasien Bars

Why Bars?

Kalau menurut pengalaman saya, Bars ini mudah dijalani baik untuk terapist maupun pasiennya namun hasilnya luar biasa, memuaskan, membuat nyaman badan, pikiran tenang. Pengen lagi dan lagi.

Kata dr Dave,
Bars hanya memberdayakan kemampuan dan diri kita sendiri, bukan skill baru seperti bisa terbang terus menjadi dukun atau ikut ajaran sesat. No! Bars hanya memunculkan skill yang sejak lahir jarang disadari dan dipergunakan dengan baik.

Tonton video dari founder Gary Douglas yg menjelaskan apa itu access Bars



Setelah menjelaskan teori dari modul yang sebenernya belum aku mengerti betul waktu itu (sekarang juga masih terus belajar), dr Dave mempersilahkan kami untuk langsung praktekin Bars. Ada yang di-Bars ada yang nge-Bars. Begitu bergantian sampai 4 kali.

Sesi kelas Bars berlangsung seru. Tetap masih bisa ngemil, makan dan sholat. Tempat yang dipilih jadi venue kelas juga asyik banget di hotel Panorama Lembang. Tempatnya sejuk, asri, dan bersih. Mushola tersedia dengan baik.

Setelah 4 kali sesi Bars, saatnya kelas berakhir. Ya ampun nggak kerasa udah mau malam. Masing-masing peserta diberikan sertifikat oleh dr Dave. Yeaaay... saya seorang praktisi Bars sekarang.

How does it get better any than that, what else is possible...

bersambung....



***

Apakah anda membutuhkan Bars?

Coba jujur dalam dirimu dan tanyakan pada hati nuranimu, apakah Anda membutuhkan Bars? Hanya anda yang tahu. Bars hanya modalitas untuk mereka yang telah siap menjadi dirinya sendiri seutuhnya.

Buat manteman yang tertarik ikut kelas Bars, silahkan bergabung aja dulu untuk cari tahu di grup facebook ataupun grup whatsapp.

grup facebook: Indonesia Access Consciousness
grup whatsapp untuk info peserta baru: https://chat.whatsapp.com/IFFtZVfJumJC4PCIBhZd85


13 comments:

  1. Sejak tau pertama kali tentang Bars,aku jadi kepingin di Bars mbk.. Serius, kayaknya rileks banget ya hadil akhirnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga ada rezeki bisa di-Bars ya mbak. aamiin

      Delete
  2. Waktu di bandung pernah nyoba bars nih

    ReplyDelete
  3. Aku juga tipenya denial, Win...
    Bisa gak siih meruntuhkan benteng keangkuhanku?
    Aku selalu merasa bahwa....aku baik-baik saja.
    Aku gak ada apa-apa.
    Aku bahagia dan memaafkan semua hal buruk yang pernah terjadi padaku.

    Gituuu...terus.
    Jadi aku butuh di BARS gak niih...?

    Huhuu~
    ((lalu mendadak pengin peluk Uwien...))

    ReplyDelete
  4. Dari awal baca tuh aku pakai mikir: apa sih itu bars...
    Ea untung aku baca sampai kelar. Cuma emang belum begitu paham juga, eh
    Cuma kebayang aja pasti pas lagi acara itu bakal rileks secara ada pijet pijet (yalord bahasaku). Omong-omong bars itu sudah sepopuler apa sih, Kak?

    ReplyDelete
  5. Awal baca artikel penasaran apa itu bars.. panjang ke bawah ditengah2 artikel baru ada pengertian bars.. ternyata itu adalah terapi khusus.. hmhm kayak asik ya di terapi gitu?

    ReplyDelete
  6. Pas awal baca aku sempet bingung muter-muter, apa sih bars.
    Ternyata diakhir di jelasin.
    Aku dulu pernah ikut pelatihan brain power. aku kira ini semacam itu. tapi ternyata beda. ternyata emang ada ya 'degfrag' manusia. Jadi penasaran deh. Karena kadang aku tipe perfeksionis yang akhirnya bikin overthinking gitu :((

    ReplyDelete
  7. Aku baru tahu tentang bars dari artikel ini. Jadi penasaran pengen meliput sesinya. , pasti menarik untuk diulas

    ReplyDelete
  8. Hi aku pernah nyobain dibars

    dan bener, enak banget udahnya

    ReplyDelete
  9. Menarik mb metodenya... Bagus juga kalau bisa dipraktikkan ke orang lain. Jadi bisa memberi manfaat... Sepertinya cocok buat terapi keluarga ini.. Tfs mb.. Semoga sehat selalu...

    ReplyDelete
  10. Ya ampun.. jadi ini tho artinya Bars? Rasanya saya pernah melihat foto seorang blogger sedang melakukan Bars di Instagram, dan saya sangka waktu itu dia sedang latihan pijat kepala. Ternyata ada tujuan lain yang hendak dicapai daripada sekedar head massage ya..

    ReplyDelete
  11. Membaca tentang praktik Bars mengingatkan saya pada skripsi saya puluhan tahun lalu, Spiritualitas New Age. Bars ini masuk dalam salah satu metode healing New Age, yaitu praktik penyembuhan dengan cara menata ulang emosi agar bisa melepaskan trauma masa lalu.
    Sehat selalu ya,Mbak :)

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)
Mohon maaf komentar dimoderasi karena banyak spam yang masuk.