1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

27 April 2017

Toilet Training Idealnya Usia Berapa? Anakku 4 tahun Sudah Bisa Cebok Sendiri Setelah BAB


14 April 2017 pukul  15:35 WIBB
Hari itu adalah p..ertama kali Akram bisa cebok sendiri dengan benar setelah selesai pup/ buang air besar. Usianya sekarang 4 tahun 10 bulan. Waaa senengnya hati emaknya ini. Keberhasilan toilet training pada anak kedua saya ini datang lebih cepat dari perkiraan saya. Puji syukur kepada Allah karena telah memudahkan saya dalam mendidik anak. Lalu ada teman yang bertanya toilet training idealnya usia berapa sih?


Saya akan jawab lewat tulisan ini, ya teman-teman. Biar sekalian panjang dari awal hingga akhir. Niat saya hanya berbagi cerita saja, bukan mau menggurui harus begini harus begitu. Aku mah nggak gitu orangnya (meureun eta oge).

Sebetulnya nggak ada standart ideal kalau menurut saya. Karena standart ideal parenting tiap orang tua 'kan berbeda-beda. Betul nggak? Bisa jadi suatu hal baik bagi saya, namun belum tentu baik untuk keluarga lain. Tentu saja saya harus nilis : silahkan dipakai bagi yang ingin mencoba cara saya memberikan toilet training ke anak. Kalau yang enggak setuju dan atau tidak bisa menerapkan ya gak apa-apa.

Saya menerapkan toilet training pada Akram saat usianya sekitar 9 bulan. Saat itu saya tidak bekerja ( hanya bekerja dari rumah ). Lebih tepatnya saya resign ngajar Taman kanak-kanak setelah melahirkan Akram. Belum jadi blogger seperti saat ini yang banyak acara dan job. Jadi, saya masih fokus ngurusin dua anak saya, suami saya, dan bisnis kecil-kecilan yang saya rintis di rumah. Memang sih, karena waktunya ada dan saya telaten memulai toilet training sejak kecil.

Baca : Resign Setelah Melahirkan Anak Ke Dua

Sekadar informasi, Akram ini minumnya full ASI, nggak dicampur dengan susu sapi sampai usianya 2 tahun penuh, sampai disapih. Katanya anak yang minum ASI frekuensi pipisnya nggak sesering anak yang minumnya susu sapi/susu formula. Fakta ini saya dapat dari tetangga (anaknya 5. 4 anaknya ASI, sedangkan yang bungsu full dengan susu formula). Makanya mau gak mau beliau ini belum menerapkan toilet training walau anaknya sudah 10 bulan.
           
Kalau boleh saya artikan, toilet training itu kita terapkan saat kitanya siap. Siap kalau sewaktu-waktu ke-ompol-an, siap lantai yang habis dipel tiba-tiba di sudut sana tergenang ompol si kecil, siap menghadapi kenyataan bahwa : CUCIAN BAJU AKAN SEMAKIN BANYAK. haha
Gak masalah ya kalau ada mesin cuci. Tapi dulu saya mah belum punya, jadi ya... aku harus kuat nyuci sejolang.

Apa saja yang saya lakukan saat toilet training?

Anak di usia ini (9 bulan) belum bisa bicara. Paling masih coing (celotehan yang belum jelas) seperti wawaaw, mamama, papapapa, dan coing yang lainnya. Berisik namun tak bermakna. Di tahap awal, kita mungkin akan terganggu tidurnya karena di malam hari harus mengganti celana bayi yang basah. Tapi nggak papa, hanya awalan  saja kok. Dulu saya malah nge-gantiin celana sambil merem, hahaha. Saya juga minta ke Abudi untuk gantian mengganti celana. Mau aja Abudi mah. Kalau suaminya ogah-ogahan gimana? HARAP BERSABAR..ITU UJIAN. :D

Saat usia Akram 9-10 bulan (sebulan lepas dari pospak/diapers), begitu Akram bangun di pagi hari, saya langsung ajak dia ke toilet (tentunya setelah membaca do'a bangun tidur). Saya-nya sambil bicara begini : “Pipis dulu yuuk di kamar mandi.” Dengan bicara seperti itu kita sudah mengenalkan ke anak beberapa kosakata. Mengenalkan kamar mandi / toilet.
Bantu anak pipis dengan cara ditatur. Waktu awal-awal, (saat ditatur) Akram kadang pipis kadang juga enggak. Gak papa karena si anak belum terbiasa ditatur. Nanti lama-lama akan terbiasa. Posisi naturnya yang nyaman agar anak nggak berontak.

Anakku takut kalau lihat lubang WC/closet, Wien.
Pipisnya jangan di atas lubang closetnya, di lantai kamar mandi aja gapapa kok.
Anakku kalau masuk WC selalu nangis, gimana tuh Wien?
Cari tahu dong penyebabnya kenapa. Apakah pernah trauma apa ketika di WC ( dimarah-marahin dan disekap di WC misalnya, atau melihat wajah orang tua/pengasuh saat kesal di dalam WC yang disebabkan gara-gara anak ngompol/pup di celana misalnya.). Bisa coba cara ini kalau anak takut masuk WC : "Adek takut? takut apa? coba yuk kita mohon kepada Allah untuk melindungi kita saat di kamar mandi. Lalu baca doa "Allahummainni a'udzubika minal hubusi walkhobaa'its."
Tapi kalau ketakutannya udah gak wajar sih mending konsultasi dengan ahli.

Usia 10 bulan sampai 1 tahun, normalnya anak sudah bisa berdiri dengan berpegangan satu tangan, lalu akan diikuti dengan berjalan sambil berpegangan. Pada anak yang perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding perkembangan bahasanya (seperti Akram), ia akan bisa berjalan lebih dulu daripada ngomongnya. Akram sendiri bisa jalan saat usianya 11 bulan dan ngomong jelas di usia 3 tahun.

Pada siang hari, Akram yang sudah bisa jalan masih saja ngompol dimana aja bahkan sampai umur 1 tahun lebih. Jadi memang agak capek ketimbang anak pake pospak sih. Otomatis cucian jadi lebih banyak dari biasanya. Heu-heu.
Di tahap ini, saya membiasakan setiap 2 jam sekali saya bertanya padanya : “Akram mau pipis?” Bisa ditebak Akram jawab apa? Dia nggak bereaksi. Wkwk. Tapi yasudah sabar aja, tetap bertanya pada anak dan setiap 2 jam sekali saya bawa ke kamar mandi untuk pipis. Mau pipisnya keluar atau tidak, yang penting ke kamar mandi aja dulu.

Semakin besar, anak sudah mulai bisa menunjukkan ekspresi. Gerak-gerik saat mau pipis udah terlihat, nggak lagi pasang muka leumpeung. Di tahap ini, saya hanya perlu memperhatikan anak aja. Amati bahasa tubuhnya. Saat gerak-geriknya menandakan mau pipis, buru-buru saya ajak ke kamar mandi. Seperti apa tanda-tanda anak mau pipis? Seringkali anak akan bergidik. Kadang ia memegang kemaluannya sendiri. Sering juga ia akan gelisah mondar-mandir kesana kemari. Kitanya harus peka sama bahasa tubuh anak.

Tiap kali saya berhasil membawa anak pipis di kamar mandi, saya selalu bersorak. “Horeee, adek pinter sudah bisa pipis di kamar mandi.” Entahlah si anak ngerti apa enggak. Tapi aku yakin sih anak mengerti soalnya dia kan melihat mimik muka kita yang menunjukan kebahagiaan. Kemudian anak akan berfikir : Oh, mamaku senang kalau aku pipisnya di kamar mandi.

Begitu terus sampai anak bisa ngomong : " Ma, mau pipis. "

Percayalah...di saat pertama kali mendengar kalimat 'ma mau pipis' disitu kita bisa norak-norak bergembira karena saking bahagianya. Anakku sudah pinter bilang 'ma mau pipis'.

Di sini, kita perlu mengajarkan anak kita cara membersihkan penis dari sisa air kencing dengan benar (bisa dibantu ayahnya kalau ibu nggak tahu). Jangan sampai nggak ngajarin caranya. Ada lhoh yang dia anaknya sudah SD, tapi tiap kali pipis, si anak itu nggak pernah cebok, langsung ngacir gitu aja. huhuhu.

Berbeda dengan Akram, Dhia (anak pertama) kemandirian untuk ke kamar mandi sendiri tumbuh setelah ia masuk sekolah TK. Nanti saya ceritain kenapa sebabnya.

Setelah toilet training sukses pada tahap 'Bilang kalau mau pipis' kita dihadapkan pada 'Bilang kalau mau pup'. Lagi-lagi kita membutuhkan kesabaran yang ekstra lebih, karena anak pasti akan pup di celana. Belum lagi kalau mencret, pupnya bisa kemana-mana. Ke baju, ke lantai, kena karpet, kena mainan. Otomatis cucian semakin banyak! Harap bersabar...ini ujian. hahaha

Di tahap ini, lagi dan lagi kita harus menggunakan observasi / pengamatan kita pada anak. Lihat dan baca bahasa tubuhnya. Ini ciri-ciri anak mulai kerasa mau pup : ekspresi wajahnya berubah seperti mau mengejan. Anak ngumpet di balik pintu (hayo anak siapa ini? :) ) Akram dulu juga gini, saat kerasa mau pup malah cari tempat ngumpet seperti di belakang pintu, di bawah meja, di pojokan, dll. Kalau udah gitu saatnya kita bilang : "Dek mau pup/eek/bab ? Yuk ke WC."

Lama kelamaan, anak akan paham bahwa rasa itu adalah rasa mau eek. (((rasa itu))) wkwk
lalu dia akan bilang : "Ma, mau eek."
Dan disini emaknya akan norak-norak bergembira lagi yeaaa anakku sudah bisa bilang dulu sebelum pup, jadi enggak pup di celana lagi. Bebas nyikatin celana yang kena pup. Etapi nggak langsung mulus begitu saja sih. Masih sering juga kelepasan pup di celana.

Setelah tahap di atas lulus. Kita masih harus mengajarkan kemandirian yang lain. Yaitu membuka celana sendiri sebelum pipis/pup. Saya menerapkan hal ini waktu Akram usia 3,5 tahun. Pada awalnya susahnyaaaa naudzubillah. Disini harus konsisten menyuruh anak melepas celana sendiri, kecuali saat dia memakai celana jeans atau celana yang memang susah untuk dibuka sendiri sama anak seusia ini. Makanya, kalau di rumah mah, saya pakein celana kolor aja biar gampang bukanya. Disini harus konsisten ya kitanya. Hasilnya di usia kurang dari 4 tahun Akram sudah bisa melepas celana sendiri saat mau buang air.

Di tahap ini saya sudah mulai santai. Kalau Akram bilang : "Mi, mau pipis/eek." saya hanya tinggal menjawab : "Ya. Nanti kalau udah selesai, bilang ya...panggil yang keras."
Dan bisa ditebak sendiri. Panggilan ini akan sering terdengar, bahkan disaat saya baru makan sesuap. lagi enak-enaknya menikmati sayur lodeh, goreng pindang, plus sambel. Tiba-tiba ada yang teiak memanggil dari dalam kamar mandi : "Miii, udaaaaah!" wkwkwk

Oiya, urusan cebok-menyeboki ini saya nggak sendiri lho. Punya partner yaitu suami. Saat Abudi ada di rumah. Urusan nyeboki selalu sama beliau (khusus Akram, kalau Dhia tetap sama saya).
Wien, kalau suami gak mau bantuin gimana? Seandainya suami gak mau bantuin walau "cuma" sekedar nyebokin bilang aja gini : "ai bikin anaknya aja seneng, giliran nyebokin anak sendiri masa gak mau."  hahaha

Setelah melewati ratusan hari tukang odong-odong mangkal di depan rumah, akhirnya 8 April 2017 pukul  15:35 WIBB, pertama kali Akram bisa cebok sendiri. Saat pertama kali tahu, saya juga kaget banget. Tiba-tiba Akram bilang : "Mi, udah cebok sendiri.' Langsung saya periksa dong apakah sudah bersih apa belum. Beneran, belum bersih banget  >_<

Dari situ saya ajarin cebok yang benar. Pakai air yang banyak biar bersih. Lalu disabuni biar nggak bau. Jangan lupa setelah cebok, harus cuci tangan lagi memakai sabun cuci tangan (kalau nggak ada, sabun cuci piring juga bisa laah)

Beberapa hari kemudian, Akram sudah pinter lho ceboknya. Bersih dan nggak lupa cuci tangan pakai sabun.

Alhamdulillaah...well done!


Teman-teman, ibu-ibu.... Kita sudah berhasil memberikan toilet training pada anak. Kita sudah berhasil mengajarkannya satu tahap kemandirian. Setiap keberhasilan kecil kita dalam mengasuh anak, bolehlah kira merayakannya barang sebentar, misalnya : bikin minuman kesukaan sambil selonjoran bentar di depan TV nonton drama favorit, atau ngeteh sambil membaca buku (saat anak kecil kita tidur).


Gitu deh sekelumit kisah emak-emak mengajarkan Toilet Training pada anak. Harapannya anak-anakku bisa mandiri dalam hal taharah/ bersuci. Bukan berarti setelah ini tugas selesai 'kan. Masih banyak yang harus diajarkan kepada anak-anak tentang kemandirian.


Salam cinta dari aku yang udah jarang nyebokin.

Uwien *love sign*

12 comments:

  1. pinter ya mbak umur 4 tahun udah bisa cebok sendiri

    ReplyDelete
  2. yeay keren anakku baru bisa cebok klo pipis doang mba klo pup duh teriakan membahana masih terdengar hahaha...aku niatkan ah bismillah semoga tepat 4 tahun anakku bisa cebok sendiri abis pup kayak kaka Arkan aamiin

    ReplyDelete
  3. Hebaat, 4th sudah cebok buat pupi sendiri.
    Aku ngajarin Raya toilet training pelan2 banget karena pemalas hihihi, untungnya terbantu karena di daycare diajarin bareng2. Sekarang kalau pergi2 udah full ngga pake popok disposal, tapi masih pake popok kl tidur karena emaknya pemalas :D

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat dulu ketika Marwah toilet training, usia 3 apa 4 tahun saya lupa hihih. Tapi emang keren banget kalau anak udah sejak dini mandiri cebok sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sedikit lega krn pas lagi enak-enaknya makan gak dipanggil lagi buat nyebokin, hihi

      Delete
  5. Kalo mentatur anak aku udah dari dua bulanan. Dan dr umur sgitu udah aku sounding, kalo mau pipis bilang mama. Alhamdulillah umur 15bulanan aku udah berani bawa anak2 pergi2 tanpa diapers

    ReplyDelete
  6. aku jujga untuk anak lelakiku ya sekitar 9 bulan deh, krn waktu aku dulu belum ada popok sekali pakai jadi niat banget ngajarin biar gak ngompol lagi,dan mudah tpi lagi anak cewek agak sulit baru bisa satu tahun lebih krn kalau cowok aku suka nyentil "alat kemaluannya" jadi dia mau pipis, kalau cewek kan gak ada yg bisa disentil. Aku lihat anak2 sekarang sulit rn terbiasa pakai popok sekali pakai ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda-beda memang ya Mamah Tira. Anakku yg perempuan toilet training berhasil pas udah masuk TK

      Delete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)