23 Jul 2014

Gara-Gara TwiRies


Nggak tau kenapa, ya, setiap kali saya melihat atau bertemu sama anak kembar itu rasanya pengen nyubit pipinya. Apalagi kalau kembarnya masih usia kanak-kanak. Gemes gitu !
Terus, kalau ketemu anak kembar itu tiba-tiba saya menjadi orang yang super kepo. Penginnya memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang spontan keluar dari kepala. Hih, nyebelin banget kan? hahaha.

Saya tau kalau itu nyebelin pas udah nonton video ini. Entah saya menjadi orang yang keberapa yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Bisa jadi orang ke satu juta delapan ratus ribu lima puluh sembilan. heuheu.


Walau bagaimanapun bertemu orang yang mirip banget secara fisik tuh amazing. Subhanallah bingiiit! Ya kan?! Ya kan?! :))

 Awal Pertemuan dengan Twiries

Waktu itu , tepatnya tanggal 5 Juli 2014 saya hadir di acara buka bersama komunitas Kumpulan Emak Blogger di Bandung. Kebetulan orang yang duduk di sebelah saya membawa buku dengan sampul hijau ( *digaris bawahi, karena saya suka warna hijau. #emang penting, ya? kekeke ).

Karena penasaran saya minta ijin untuk melihat isinya. Dari sepintas baca di situ , "Wah, kayaknya asyik nich novelnya." batin saya. Dan ternyata, setelah ngobrol sana-sini, penulisnya itu adalah yang duduk di sebelah sebelahnya saya. (*lah, bingung kan? )

Kemudian berkenalanlah saya sama yang punya TwiRies ini. Waktu itu yang hadir cuma teh Evi Sri Rezeki, sedangkan teh Eva Sri Rahayu nggak dateng. Dan saya pun terbengong sekaligus pengen nyubit pipinya. ( *piiiis :D )

Beli Satu Bonusnya Banyak

Dari suka pada pandangan pertama sama TwiRies, saya berniat mengadopsinya. Namun sayang, waktu itu teh Evi-nya keburu pulang, berharap dapet tanda tangan dan fotonya. :(

Penyesalanku tidak lama. Setelah chatting sama teh Evi dan tukeran nomer telepon, akhirnya saya bisa memilikinya juga. (*Tunggu! Ada yang terlewat. ) Ada yang spesial di sini. Di belahan bumi mana coba, seorang penulis mau mengantarkan sendiri bukunya kepada pembeli? #plaaak

TwiRies ini menjadi salah satu buku yang spesial karena dianter langsung oleh penulisnya sendiri ke rumah saya. Huwaaa..! Rasanya pengen kayang dan koprol tujuhpuluh kali. hahaha :v


Sayangnya saya belum ketemu sama teh Eva dan dapet tanda tangannya. :(

Bagian yang Saya Suka

Secara keseluruhan, saya suka sama buku yang satu ini. Ringan dan sukses membuat saya ngakak guling-guling. Tanpa mengurangi esensi/isi buku yang menceritakan kehidupan si kembar. Tapi kalau ditanya yang paling berkesan atau yang paling disuka, saya akan jawab bagian komiknya. hahaha :D .

Komiknya ini serasa melengkapi tulisan , yang selalu disisipi ekspresi , menjadi lebih hidup lagi. Jadi pas membaca TwiRies, saya berasa masuk ke dalam cerita. Merasakan benar-benar di dekat mereka saat itu. Gak cuma ngebayangin doang.

komik is the best 

Kejadian-Kejadian Bareng Twiries

1. Waktu saya baca TwiRies sambil nemenin anak-anak bermain. Dhia (5tahun) keheranan melihat saya tertawa terus-terusan.
Saya  : hahaha.. wkwkwk..hihihi
Dhia  : "Umi kenapa, ih?"
Saya  : "Eh, oh, ini mbak, lucu." hahaha hihihi *masih ketawa.
Dhia  : "Hadeuuuh, kenapa sih?" ( Dhia sering sekali mengulang-ulang bertanya dengan kata 'kenapa')
"Berisik, tauk." katanya sambil berlalu.

2. Siang itu saya sedang membaca TwiRies. Kemudian saya tinggal sebentar membuat susu untuk Akram. Ketika saya kembali untuk meneruskan membaca, Dhia yang sedari tadi sibuk ngguntingin kertas, kini sudah serius melihat-lihat gambar komiknya. Hemmm

3. Sore hari, ketika itu saya sedang menyiapkan makanan untuk berbuka. Sambil menunggu masakan matang, saya masuk ke dalam rumah. Niatnya biar menunggunya nggak kerasa lama jadi saya ambil TwiRies dan membacanya. Beberapa saat kemudian, *hidung saya mengendus-endus mencium sesuatu. "Gosooong!" hahaha

4. Perhatikan syair ini --->
Aku Evi. Aku Eva.
Kami sama tapi tak sama
Eva sipit-sipit belo
Evi belo-belo sipit
du du du du
Aku Evi. Aku Eva.
Kami sama tapi tak sama
Eva manis-manis manja
Evi manja-manja manis
du du du du
Aku Evi. Aku Eva.
Kami sama tapi tak sama
Eva malu-malu kucing
Evi malu-malu meong
du du du du
Walaupun selera kami berbeda, namun kami satu jiwa
Jika yang satu tersakiti, yang lain juga tersakiti
du du du

Kenal nggak sama syair itu? Iya, itu syair lagu di Book Trailer TwiRies. Lagunya enakeun, jadi saya sambil masak, nyuci, ngepel, dan lain-lain jadi sering mendendangkan lagu itu. muehehe

5. Setelah tarawih, dan anak-anak sudah pada bobo. Saya ngambil cemilan lalu tiduran sambil baca TwiRies.
Abi     : "Lagi ngapain, Mi?"
Saya   : "Lagi ngemil zombie goreng."

Udah. Lima aja, dech. *dziiigh

Foto Unik Bareng Twiries ?

What?! Saya kan pemalu dan kikuk kamera. Selain itu saya nggak bakat narsis. hehehe
Ketika diminta bikin foto unik bareng TwiRies saya sempat berfikir mau pakai gaya alay ( #hih, udah basi keleus ) ; terus mau pakai gaya nungging, nangkarak, nangkuban (#pasti aneh); akhirnya ini dia foto yang-menurut-saya-sudah-aneh-dan-unik. *khaaaah

Foto bersama TwiRies ala emak-emak. :p

fotografer : kang Budi
lokasi : di kebon samping rumah
model : Uwien

*kemudian ditimpuk masa pake molen pisang*



18 Jul 2014

Jangan Jadi Reaktor

Hemmmh... sebenernya saya pengin banget nulis ini dari sejak beberapa hari yang lalu. Ceritanya biar saya bisa puas ngata-ngatain orang itu. Siapa? Entahlah. Pokoknya waktu itu saya masih emosi. Jadi saya urungkan niat untuk menuliskannya, ya, supaya tidak terbawa emosi. :)

Jadi saat sebelum pilpres dan beberapa hari sesudahnya. Bahkan sampai hari ini. Orang-orang, yang semangat banget menjadi (sok) relawan, atau yang mendukung salah satu calon secara fanatik, akan begitu membahana juga dalam berkoar-koar. Mereka membalas "pantun" dari kubu lain dengan menuliskannya di media sosial -milik mereka sendiri. Nah, karena saya membaca kata-kata -maaf makian- itu, jadi saya sebagai temannya jadi merasa bahwa kata-kata itu buat saya. Padahal mungkin bukan.

Karena hal itulah saya jadi mikir, mikir, dan mikir lagi. Kenapa , ya, orang-orang itu pada bereaksi seperti itu? Ini pertanyaan yang saya sendiri juga susah menjawabnya. Saya nggak mau memaparkan asumsi saya di sini kenapa orang bisa begini bisa begitu, karena saya nggak tau apa yang melatarbelakangi mereka bertindak seperti itu.

Jangan Jadi Reaktor 

Saya sudah lama mendengar kata-kata tausiah ini dari seorang ustadz kondang dan beliau salah satu favorit saya.
"Jadi orang itu jangan jadi reaktor. Artinya jangan mudah bereaksi terhadap sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang seperti ini akan cepat merasa capek."
 Begitulah kata ustadz waktu itu. Contoh dalam keseharian seperti apa?
Misalnya, ketika sedang berkendara di jalan raya yang panas dan sedikit macet. Tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi menyalip. Orang yang reaktor, akan mengumpat sambil mengeluarkan sumpah serapah kepada si pengendara motor.
Kalau saya ambil contoh dalam kejadian di sosmed tadi, jika orang yang reaktor , ia akan membalas "pantun" yang nylekit itu dengan menuliskan hal yang serupa di akun media sosial pribadinya. Dan ini pun akan dibaca oleh teman-temannya. Dan teman-temannya yang reaktor pun akan melakukan hal serupa. Begitulah seterusnya. Lingkaran "pantun nylekit" itu nggak akan ada putusnya.

Lalu Apa yang Sebaiknya Dilakukan? 

Saya akan tuliskan apa yang sudah saya lakukan saja. Saya sering sekali menemui hal-hal yang memancing kemarahan. Namun tidak serta-merta saya akan membagikannya ke dunia maya yang mengerikan ini, kalau tidak mau dibilang jahat. Karena itu akan memancing reaktor-reaktor lain bermunculan. (*huahahaha, #ketawa syetan. ya ya ya... kalau sudah begitu , syetan yang akan senang)

Biasanya, saya akan mencari alasan-alasan baik yang saya buat sendiri. Misalnya, dalam kasus berkendara tadi. Saya akan terlebih dahulu berpikir mencari seribu satu alasan, mungkin dia terlambat, dan dia harus cepat-cepat, mungkin istrinya mau melahirkan jadi kudu cepat, dan bla bla bla.
Atau di kasus media sosial, saya biasanya akan cari tau apa penyebabnya. Jika sudah kenal baik akan saya tanya langsung melalui pesan pribadi. Atau jika belum kenal, saya akan menjadi stalker untuk beberapa saat. ^_^ v
 Gak ada kerjaan banget , dech , stalking -in orang. hehehe apa boleh buat dari pada saya berburuk sangka sama orang itu atau lebih jauh lagi memutus pertemanan. muehehe :p

Jika hal itu tak berhasil mengerem , gimana?
Saran saya sich. Segera log out dan letakkan perangkat mu yang menghubungkanmu dengan media sosial. Simple bukan? *kemudian ditimpuk rame-rame pake molen pisang*

Sudah Merasa Gak Jadi Reaktor ?

Emang loe gak pernah emosi apa kalo ada yang ngatain ?
Nah, itu. Sampai saat ini, saya juga masih terus berlatih untuk nggak bereaksi berlebihan dengan sesuatu yang bersifat negatif. Membuang jauh-jauh perasaan ingin membalas sebuah kejahatan dengan kejahatan. Karena saya tidak ingin energi negatif itu menyebar ke alam dan kembali lagi kepada saya.

Bersambung....


13 Jul 2014

Hadiah Ulang Tahun

".... Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzdzibaan...."

Masih terdengar suara Mama melantunkan ayat suci Al Qur'an. Seperti biasa selepas Isya', Mama selalu menyempatkan diri untuk mengaji di tengah kesibukannya sebagai reporter. Lantunannya menenangkan hatiku.
Tidak lama kemudian ayah masuk bersama adik perempuanku. Ia membawa sebuah bungkusan dan kue ulang tahun.

Mama menghentikan tilawahnya, kemudian mencium tangan ayah.

"Halo, Kak." Papa dan Risa menyapa dan menciumku.

"Yuk, kita mulai." Risa sudah tak sabar. Ia pun langsung menyanyikan lagu kesukaan kami dengan centil. Tidak berubah sejak dua tahun lalu saat dia masih sekolah TK. 

"Bila umurku bertambah. Aku bersyukur pada Allah. Kuucapkan Alhamdulillah. Semoga Allah memberi berkah."

Disambut tepuk tangan Mamah dan Papah. Aku sangat senang. Di hari ulang tahunku yang ke duabelas ini bisa berkumpul dengan keluarga.

"Selamat, ya, Ridwan." Papa dan Mama bergantian menciumku. Risa juga.

"Kak, aku bawa kado buat Kakak." Risa meletakkan sebuah kotak kecil di meja.

"Oiya, ini hadiah dari Papa dan Mama." Risa menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur'an.

"Syaamil Qur'an ini sudah lama Kakak inginkan, kan?" sambung Papa. Mama hanya memegang tanganku.

"Kak Ridwan, ayo kita mengaji bersama." ucap Risa bersemangat. Seketika ia sudah membuka plastik pembungkus. Dan membaca dengan lantang. 
"A'uudzubillaahi minasysyaitaanirrajiim. Bismillaahirrahmaanirrahiim..."

Suara Risa menyejukkan hatiku. "Ya Allah, terima kasih atas karunia ini." ucapku dalam hati. Air mataku menetes. Mama menyeka dengan tangannya yang lembut.

"Kakak, anak mama yang sholeh. Kami selalu berdo'a buat Kakak. Agar Kakak disayang Allah. Agar Kakak cepat bangun dan bisa mengaji lagi seperti dulu." bisik mama di telingaku.

Setelah puas bercerita, kemudian mereka bertiga beranjak pergi meninggalkan aku yang terbaring koma di tempat tidur rumah sakit ini. Sekarang Al Qur'an inilah yang menemaniku.

~ End ~

Bandung, 12 Juli 2014
Flash Fiction ini diikutsertakan dalam lomba Syaamil Qur'an bekerjasama dengan Paberland dengan tema #AyoNajiTiapHari