27 May 2014

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 43 : GUA

Halloo...! Selamat datang di Turnamen Foto Perjalanan ronde ke 43.

Ah ya, sebelumnya trim's buat mbak Lies Wahyoeni yang sudah memilih fotoku yang ini sebagai pemenang ronde sebelumnya dengan tema GREY.

Sebenarnya, dua hari dua malam saya bakar menyan nyari-nyari ide untuk tema. Kemarin sempet bingung mau tema lorong, profesi, atau gua. Karena ini ronde ke-43 jadi agak susah nyari tema yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

 Oke, dan akhirnya sudah diputuskan untuk tema kali ini adalah GUA. Kenapa memilih tema ini? Yaaa, karna pengin aja (*plaak)
Boleh dibilang saya ini suka sekali "bermain" di alam. Dan salah satunya adalah gua. Diluar terlihat indah sedangkan di dalamnya menyimpan begitu banyak misteri. Di bawah ini adalah foto Gua Jomblang atau biasa disebut Luweng dan Gua Grubug yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
*Untuk info lebih lanjut , sila gugling aja. (*dilindes pake molen)

 Gua Jomblang atau Luweng Jomblang

Cahaya yang terpancar dari atas bak Cahaya dari Surga karna keindahannya.

Selamat , mengubek-ubek foldermu dan sila manteman bebas menginterprestasikannya. :)

Aturan Main :

1. Foto harus merupakan milik kamu sendiri / hasil karya sendiri.
2. Pasang foto GUA di situs masing-masing : web, blog, flickr, picasa, dsb. Bebas.
3. Masa submisi : 27 Mei - 2 Juni 2014
4. Submit foto pada kolom komentar di artikel ini dengan format:
  • Nama / akun Twitter bila ada.
  • Link blog
  • Judul foto dan keterangan, maksimal satu paragraf.
  • URL foto ( ukuran sekitar 600 pixel )
5. Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan direhost di web tuan rumah. Terutama jika foto terlalu besar atu bermasalah.
6. Submisi lebih cepat lebih baik sehingga fotomu bisa tertampil seatas mungkin.
7. Foto yang tidak patut tidak akan di upload di sini ( misal : mengandung kebencian SARA, nyeleneh, atau menghina pihak lain )
8. Foto tidak diperkenankan dalam bentuk kolase ( gabungan beberapa foto ).
9. Pengumuman pemenang 2 - 3 hari setelah batas submisi.

Siapa yang bisa ikut?

  • (Travel) blogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto total.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar!
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.


Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

  • Oke deh, ga apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, tumblr, dan blogspot gampang kok, pakainya. Jangan pake multiply ya, karena multiply akan segera gulung kasur ^^.


Hak dan kewajiban tuan rumah:

  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Mengupload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun, kecuali KKN dan sogokan!)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)


    Daftar Ronde Turnamen Foto Perjalanan:

    1. Laut – DuaRansel
    2. Kuliner – A Border that breaks!
    3. Potret – Wira Nurmansyah
    4. Senja – Giri Prasetyo
    5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
    6. Kota – Mainmakan
    7. Hello, Human! (Manusia) – Windy Ariestanty
    8. Colour Up Your Life – Jalan2liburan
    9. Anak-Anak – Farli Sukanto
    10. Dia dan Binatang – Made Tozan Mimba
    11. Culture & Heritage – Noni Khairani
    12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
    13. Malam – Noerazhka
    14. Transportasi – Titik
    15. Pasangan – Dansapar
    16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
    17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
    18. Hutan – Regy Kurniawan
    19. Moment – Bem
    20. Festival/Tarian – Yoesrianto Tahir
    21. Jalanan – PergiDulu
    22. Matahari – Niken Andriani
    23. Burung – The Traveling Precils
    24. Sepeda – Mindoel
    25. Freedom – Pratiwi Hamdhana AM
    26. Skyfall – Muhammad Julindra
    27. Jembatan – Backpackology
    28. Tuhan – Efenerr
    29. Gunung – Elisabeth Murni
    30. Batas – Ayu Welirang
    31. Jejak – Daru Aji
    32. Sungai – Omnduut
    33. Rumah Ibadah – Sikiky
    34. Kampung – Monda
    35. Museum – Avant Garde
    36. Taman – Ari Murdiyanto
    37. Pencakar Langit  – Dede Ruslan
    38. Terminal/Stasiun – Sy Azhari
    39. Hujan – Diah
    40. Danau – Messa
    41. Wastra – Indah
    42. Grey - Lies Wahyoeni  

    Foto yang sudah disubmit


    1. Nurul NOE / @nurulnoe
    Blog : www.nurulnoe.com
    Judul : Gua Londa
    Di dalam sebuah goa yang gelap dan dingin yang dijadikan sebagai pemakaman tradisinoal oleh masyarakat adat Toraja. Meski tengkorank dan tulang belulang manusia terserak dimana-mana karena peti mati yang membungkusnya telah lapuk dimakan usia, tidak lantas membuat gua ini menjadi tempat yang mengerikan. Lihat saja textur bagian dalam gua ini, ada stalagtit dan stalagmit, serta cekungan-cekungan yang seolah membentuk rak display alami bagi jenazah yang dikuburkan.


    2. Isna / @isna_saragih
    Blog : http://djangki.wordpress.com/2013/06/18/torehan-sejarah-di-goa-kasah/
    Judul : Torehan Sejarah di Goa Kasah
    Menurut penelitian, di goa ini manusia purba Kerinci pernah tinggal dan membangun peradabannya. Mereka telah mengenal gambar sebagai media tulis.


    3. Endah Kurnia Wirawati / @endahkwira
    Blog : http://muslimtravelergirl.blogspot.com/
    Judul : Antara Stalagtit dan Stalagmit
    Ini merupakan stalagtit dan stalagmit di Goa Langir, desa Sawarna, Banten. Karena ukurannya yang mini dan berdekatan seperti itu, beberapa penduduk setempat menyebut goa ini sebagai goa seribu candi.


    4. Syifna
    Blog : http://gatedelhi.wordpress.com
    Judul : Batu Caves
    Pertama kali mengunjungi Batu Caves di tahun 2012, dan kembali lagi di tahun berikutnya. Gua ini terdapat Kuil di dalamnya. Salah satu kuil umat Hindu yang populer. Di Batu Caves ini selalu di adakan Festival Thaipusam setiap tahunnya. Takjub saya melihatnya, bagaimana tidak. Untuk memasuki gua ini saya harus menaiki tangga yang tinggi hingga didalamnya akan kita temui kuil dan area yang luas untuk peribadatan Umat Hindu.


     5. Nama: qwunuz / @qwunuz
    blog : http://qwunuz.tumblr.com
    Judul : Buniayu, Si cantik dari sagaranten
    Keterangan: Gua vertikal sedalam 18 meter yang menyajikan keindahan yang tersembunyi. Ornamen-ornamen gue yang menawan sebanding dengan perjuangan melewati beberapa jalur, menghampiri setiap zona, yang bisa dikatakan tidak mudah.. Buniayu, si cantik dari sagaranten.


    6. Dee An / @dieend18
    Blog : http://www.adventurose.com
    Judul : Goa Belanda di Kawah Putih
    Goa Belanda yang ada di kawasan wisata Kawah Putih ini merupakan goa buatan yang tertutup untuk umum. Terdapat papan peringatan agar pengunjung tidak berada terlalu lama di depan goa. Bau belerang memang terasa lebih menyengat di area sekitar goa ini.



    23 May 2014

    Coffee Painting

    Jadi ceritanya, si Abi bikin kopi. Setelah kopinya habis, beliau lupa menyingkirkan gelasnya ke tempat cucian piring. Naah, Akram saat ini tuh lagi seneng-senengnya numpah-numpahin cairan (bukan cuma air yang udah dia tumpahkan, termasuk minyak wangi, handbody dan cairan yang lainnya).

    Nggak lama... Bertemulah Akram dengan gelas bekas kopi Abinya yang ditaruh di lantai. Tak lama kemudian Akram melancarkan aksinya. Dengan berbekal sedotan bekas susu kotak ( entah dari mana ia dapatkan) diciprat-cipratin ke seluruh lantai ruang keluarga.

    Saya begitu melihat kejadian seperti itu penginnya langsung jewer dapet ide, dari pada saya marahin mending saya kasih buku gambar aja.

















    Dan setelah sekitar limabelas menitan, Akram meninggalkan kopi dan sedotannya begitu saja. Ini dia coretan Akram. Kini dia beralih ke "petualangan" selanjutnya. ^_^

    12 May 2014

    Smiling Faces

    Seeing the children's faces, I be happy. Like the look of happiness that radiates with sincerity.


     Dhia and Akram was playing in the yard.

     His smile......

    *lol*

    Catatan ibunya :

    Saya paling suka saat melihat anak-anak saya tertawa lepas seperti ini. Saat mereka dibiarkan bermain tanpa perintah, mereka akan bahagia dan sehat karena aktiv bergerak dan berkeringat. ^_^
    Mbak Dhiaa... Akraaaam...! Ayo lariiii!! :D

    8 May 2014

    Hape Pertama [Flash Fiction]


    Dinda telah berada di depan toko telepon seluler.

    "Me-ga." ia mengeja kata yang terpampang besar di atas ruko itu. "Nggak salah lagi, inilah toko yang disebut-sebut kakakku sebagai toko paling murah seCimahi."

    Dinda melangkah masuk ke dalam toko itu. Dia celingukan mencari pramuniaganya. Setelannya mungkin tidak mengundang perhatian. Jelas saja, dengan seragam kerja, wajah kusam dan rambut berantakan siapa juga mau mendekat.
    Akhirnya setelah toko sedikit pengunjung, baru ia didekati seorang pramuniaga.

    "Sore, mbak. Ada yang bisa dibantu?"

    "Eng.. anu, mas. Saya mau beli hape."

    "Oh, mari sebelah sini." Pramuniaga itu menunjukkan etalase yang memajang berbagai jenis handphone.

    "Waduh, banyak sekali , ya, mas." Dinda melihat satu persatu. "Duuh, mana ya ,yang kemarin dibilang sama masku." Dinda bergumam. Ia berpikir sebentar. "Kata masku, Nokia yang tipe..., waduh saya lupa e, mas."

    Kemudian pramuniaga itu mengeluarkan beberapa contoh handphone merk Nokia yang sedang booming di tahun 2007. Dinda pun meneliti satu-satu.

    Akhirnya, setelah setengah jam berkutat di depan etalase toko, Dinda mengambil keputusan. Pramuniaga itu  lega terlihat dari bahu yang diturunkannya.

    "Ini aja, mas. Berapa harganya?"

    "Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, mbak. Sudah sama kartu perdananya." Dinda mengambil uang dari dalam tasnya, lalu membayarnya. Tidak banyak tawar menawar, karena Dinda tidak bisa menawar.

    "Terima kasih , ya mas." Dinda keluar toko. Senyumnya mengembang. Akhirnya, kini dia punya telepon genggam untuk pertama kalinya.

    ***

    Sore sepulang kerja di hari berikutnya. Dinda berjalan sambil terus memainkan telepon genggamnya.

    "Dinda, kamu nggak naik angkot?" tanya salah satu teman kerjanya.

    Dinda tersenyum, "Enggak, Fi, aku jalan aja."

    Gaji pertama Dinda, sudah habis dibelikan handphone.

    ~* End *~

    260 kata

    Dinda kok katrok bangeeuut, yak.. -_-





    Firewood


    This afternoon, I let Dhia not shower until five o'clock. What is she doing?





    This is my conversation with him. ^_^

    Me: "Dhia, what you're looking for?"
    Dhia: "Wood."
    Me: "For what it's woods?"
    Dhia: "To cook, Mi. As in Totoro."
    Me: * gawk *


    Oh yes, indeed Dhia love watching movies... My Neighboar Totoro. Apparently the main actors imitating Dhia, Satsuki, who took the firewood in his yard.

    Catatan ibunya :

    Kecerdasan anak itu banyak -majemuk. Dan masing-masing orang tua harusnya tahu apa kelebihan dari anak-anaknya. Kalau Dhia, salah satunya adalah menirukan gerak tubuh atau gaya orang lain yang ia lihat sehari-hari. Dalam contoh sederhana di atas saya bisa menarik garis bahwa akhlak Dhia sehari-hari juga dipengaruhi oleh perilaku saya dan ayahnya. Oiya, juga dari tontonaan yang ia tonton serta dari teman-teman sebayanya.
    Jadi, sebisa mungkin saya "saring" apa yang Dhia dan Akram lihat.
    ^_^

    3 May 2014

    Prompt Quiz #4 : Pulang

    credit
    Malam semakin pekat, namun aku tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Di dalam gerbong 7 ini tak banyak yang beraktifitas, sebagian memilih tidur karena perjalanan masih panjang untuk sampai ke Jawa Timur. Aku memilih melihat ke luar jendela, dari pada mengobrol dengan sebelahku. Di luar sana, malam tak bertabur bintang berhiaskan lampu dari rumah-rumah penduduk.

    Kinanti, ibu pulang, nak.

    Hampir delapan tahun aku meninggalkannya di desa bersama suami dan kedua kakaknya. Aku masih ingat tatapan sendu Kinanti, seperti mengikatku erat. Dia tek rela melepasku pergi. Namun, dengan berat dan hati hancur berkeping-keping, aku tetap melangkah pergi. Menjadi pembantu di Arab Saudi adalah pilihan terakhir setelah banting tulang di negeri sendiri tak merubah apapun.

    Kini aku sudah cukup punya tabungan untuk menyekolahkan ketiga anakku dan sebagian untuk modal usaha. Aku kembali dengan senyum kemenangan. Walau di luar negri hanya sebagai pembantu, namun di kampungku aku akan menjadi orang yang kaya raya. Aku sudah tak sabar melihat keluarga menyambutku dengan senyum bahagia.

    Membayangkan hal itu, aku jadi tersenyum sendiri. Kereta tetap melaju membelah kepekatan dan dinginnya malam.

    Akhirnya setelah lima belas jam perjalanan dari Jakarta, aku sampai di kampungku. Sudah banyak berubah. Sekarang lebih bersih dan terang. Tanah kosong kini sudah berubah jadi kebun sayur. Jalannya juga telah di aspal. Beberapa orang yang masih mengenalku, menyapa dan mengaku kaget dengan kedatanganku.

    "Darsih, oalaaah pangling aku. Sudah pulang ta dari Ngarab? Tambah manis ae." ujar lek Pon dengan suara tingginya.

    "Iya, lek. Tapi maaf, lek. Darsih pengin cepet sampai rumah. Nanti kita ngobrol lagi."
    Aku berseloroh pergi. Lek Pon menjulurkan tangannya hendak menahanku. Namun tidak jadi karena aku langsung pergi.

    Aku sampai di depan rumah. Kusapukan pandangan ke sekitar. Pohon di depan rumah sudah tinggi dan besar. Dulu Kinanti suka bermain ayunan di situ. Aku tersenyum sendiri mengingat tawa renyahnya. Kemudian aku masuk rumah, lebih tepatnya bilik yang dari dulu tak pernah terkunci itu. Aku menyesal karena tidak pernah mengirim uang maupun berkirim kabar.

    "Mas Joko, Bondan, Sarji, Kinanti !"
    Rumah ini terlihat rapi terawat. Anak-anak yang rajin.

    "Kinanti." aku menemukannya duduk di dingklik dekat tungku kayu bakar. Beringsut aku dekati Kinanti yang tertunduk. Rambut panjang menutupi sebagian wajahnya.

    Kupegang bahunya. Dingin. Kinanti mengangkat wajahnya.

    "Oouuh..!" aku membekap mulutku saat melihat wajah Kinanti hitam bak jelaga.

    "Darsih..Darsih..! teriakan lek Pon memaksa aku keluar rumah.

    "Lek..." aku menunjuk rumahku, tak sanggup meneruskan kalimat.

    "Ngapain kamu jongkok dan bicara sendiri? Rumahmu kebakaran saat suami dan anak-anakmu tengah tidur lelap. Lek ndak tau cara ngabari kamu waktu itu."

    Kubalikkan badanku. Kini pemandangannya jauh berbeda dari saat aku datang. Rumah kayu itu hanya menyisakan hitam jelaga di tanahnya.

    ~* End *~

    "Untuk QUIA MONDAY FLASH FICTION #4 - Scetch Prompt"


    432 kata