20 Jun 2013

FF Prompt #17 : Guru

credit

"Ridwan, ayo cepat! Sebentar lagi giliran kita!"

"Iya sebentar!" jawab Ridwan dari balik pintu kamar mandi.

Tiga menit berlalu, Ridwan baru keluar dari kamar mandi.

"Kamu lama banget sih di kamar mandi, ngapain?"

"Eeee...anu..itu." Ridwan hanya tergagap dan nyengir kuda.

"Issshhh, ditanya malah nyengir. Itu dicari sama Bu Guru, sebentar lagi giliran kita tanding. Ayo cepat!"

***
Ridwan dan Adi berlari menghampiriku. Kemana saja mereka? Adi kan sudah dari tadi kusuruh mencari Ridwan.

"Ayo siap-siap sekarang giliran kita. Ridwan, kamu kenapa? Sakit?"

"Enggak Bu"

"Yang benar? Ya sudah, ayo ke lapangan"

Pertandingan laripun dimulai. Ridwan dan sembilan siswa dari sekolah lain berlari mengelilingi lapangan. Ada yang aneh dengan Ridwan, larinya melambat, tidak seperti waktu latihan tempo hari.

priiittt...!

Finish. Ridwan berada di posisi ke tiga. Itu berarti nanti dia akan tanding lagi. Aku segera menghampirinya.

"Ridwan, kamu terlihat agak pucat. Kalau sakit bilang sama Bu Guru. Nanti kamu akan tanding lagi, sekarang duduklah." kataku sambil menyodorkan minuman dan makanan ringan.

Kutinggalkan Ridwan bersama murid-muridku yang lain. Aku harus menyemangati Adi, murid yang satu ini memang harus mendapat perhatian ekstra.

"Ayo, Di. Kamu pasti bisa, semangat!"

"Semangat!"

Aku dan Adi lantas mengepalkan tangan bersama-sama.

***
Akhirnya babak pertama usai. Babak ke-dua akan segera dimulai.

"Ayo anak-anak, kita kumpul dulu di sini. Ibu absen ya."

"Budi, Dina, Hana, Ratna, Ridwan..."

"Kemana Ridwan dan Adi?"

"Tidak tahu Bu" jawab anak-anak serempak.

Dari jauh terlihat Adi berlari tergopoh-gopoh ke arahku.

"Ibu...Bu Guru...hos hos.. Ridwan bu, Ridwan menangis di depan kamar mandi. Dia ee' di celana."

Aku segera menyusul Ridwan ke kamar mandi. Kutemukan anak berusia 5 tahun itu menangis dengan celana penuh kotoran.

Aaah..., anak-anak. :)

17 Jun 2013

Pia Legong Bali

Saudara saya baru pulang dari pulau Bali dan ngasih saya oleh-oleh Pia Legong. Saya kira mau ngasih sekotak gede, ternyata ngasihnya cuman satu biji. keliatan maruknya. :p

gambar dok. pribadi
ini dia foto Pia Legong itu, rasa keju, yang hanya satu-satunya. -_-

Jadinya, saya penasaran sama si pia yang uenak tenan ini. Orang jauh-jauh dari Bandung, datang ke tokonya, udah ngantrinya lama, dapetnya cuma satu kotak pula. :'((

Setelah saya nanya-nanya, kalau mau "aman" beli Pia Legong ternyata harus reservasi dulu lewat telepon. Kalau tidak,ya seperti yang saudara saya dapatkan hasilnya. :D

Pia Legong ada 3 varian rasa :
Rasa Coklat, Rasa Kacang Hijau, dan Rasa Keju. Jadi pingin nyobain ketiganya. :v (*ngacai)

pinjem dari sini

Yang perlu diingat, bahwa Pia Legong yang ASLI hanya bisa anda dapatkan di satu tempat yaitu di Ruko Kuta Megah 12/L Jalan Raya By Pass Ngurah Ray.  Tidak membuka cabang di manapun.

Wow, eksklusif banget ya Pia Legong ini.

15 Jun 2013

FF Prompt#16 : Kisah dari Balik Jendela


Dokumen Pribadi  Hana Sugiharti
"Woow.. bagus sekali Ma. Lihat sini dech Ma!" Rasha melambaikan tangan kepadaku dengan mata berbinar.

"Oya?" jawabku dengan antusias.

Lalu kudekati Rasha yang berdiri di jendela. Kutempelkan pipiku di pipinya, mencoba mencari sesuatu yang menarik, yang sedang Rasha lihat. Aku mengernyitkan dahi karena tak menemukan sesuatu yang menyolok.

"Rasha lihat apa? Ceritakan dong." pintaku dengan wajah memelas seperti anak kecil.

Bagi Rasha, berdiri di jendela flat lantai lima ini merupakan sesuatu yang baru. Ia begitu terpesona dengan pemandangan jauh di luar sana. Umurnya baru tiga setengah tahun, dan ini pertama kali ia berdiri di situ.

"Ma, itu apa? Kalau yang itu apa? Itu di sana apa?" Rasha mencerocos.

Lalu kuarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rasha.

"Oh, itu namanya pohon kurma." jawabku ketika Rasha menunjuk ke arah bawah. Berarti itu berada di lingkungan flat kami.

"Kalau yang itu, yang ada menara yang tinggi namanya masjid." jawabku ketika Rasha menunjuk lurus ke arah depan.

"Nah, kalau yang jauh di sebelah kiri Rasha, yang luas sekali, itu namanya gurun pasir, sayang." jawabku ketika Rasha menunjuk arah kirinya. Aku hafal sekali pemandangan di luar jendela itu sebab sudah sebelas tahun aku dan suamiku tinggal di sini.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

"Sayang, itu tante Hana sudah datang. Mama bukakan pintu dulu ya."

Hana adalah adikku. Setiap hari dia datang untuk mengajak Rasha bermain, mengajarinya menggambar, atau sekedar mengobrol denganku.

"Hai Rasha" sapa Hana.

"Tante Hana, ayo kita menggambar lagi. Sekarang menggambar gurun pasir saja. Barusan Rasha melihatnya sama Mama." Rasha mencerocos lagi. Aku lalu duduk di sofa dekat jendela.

Hana yang lihai menggambar segera mengambil pensil dan kertas. Tak berapa lama jadilah gambar yang sama seperti yang dilihat oleh Rasha.

"Nah, sekarang coba Rasha yang menggambar." Hana memberikan krayon dan kertas gambar kepada Rasha. Rasha sudah terbiasa setiap kali tantenya habis menggambar lalu iapun akan diminta menggambar oleh tantenya. Rasha naik ke atas meja makan yang berada di dekat jendela, kemudian larut dalam kertas dan krayon. Sesekali ia melongok ke luar jendela, memastikan apa yang ia gambar itu menyerupai aslinya.

Sementara aku memperhatikan Rasha dengan mata berkaca-kaca. Semakin menambah buram penglihatanku saja, Rasha terlihat hanya seperti bayangan.

"Kak, kakak menangis lagi." ucap Hana setelah duduk di sampingku.

"Aku tidak tega melihat Rasha, Han. Sampai kapan aku akan begini terus. Sampai kapan juga kau akan menemani Rasha setiap hari. Suatu hari nanti engkaupun akan punya keluarga, punya anak yang lucu-lucu. Kakak tidak mau merepotkan kamu terus." air mataku sudah tak terbendung lagi. Memang biasanya juga begini. Aku masih belum sepenuhnya menerima kehilangan sebagian penglihatanku tak lama setelah melahirkan Rasha.

Rasha menghampiri kami. Ia menunjukkan kepadaku hasil menggambarnya.

"Ma, bagus tidak?"

"Iya iya sayang, bagus sekali gambarmu. Anak mama pinter menggambar ya seperti tantenya" jawabku terbata sambil memeluk Rasha.

Aku menciumi rambut Rasha sambil menangis. Gambar Rasha semakin tak terlihat oleh mataku, pun dengan puluhan gambar hasil karya Rasha yang lain yang tertempel di dinding. Hana mengelus dengan lembut punggungku. Entah berapa lama lagi Glaukoma ini benar-benar merenggut penglihatanku.

"Rasha, maafkan mama harus berpura-pura." ucapku dalam hati.

credit
=================================================================

spesial pake telor dibuat  untuk MFF

8 Jun 2013

[Jalan bareng Bocah] Museum Geologi Bandung

hai, Assalaamu'alaikum teman-teman.
UKK ( Ujian Kenaikan Kelas ) anak-anak kayaknya sudah selesai, yaa. Kini tiba waktunya libur sekolah. Kalau libur sekolah, ibunya juga penginnya libur kan ya dari keriweuhan pagi hari. Membiarkan mereka melupakan buku pelajaran dan tugas untuk sejenak rasanya tak berlebihan. Liburan kemana ya? :)

Demikian kata tetangga sebelah yang anaknya sudah sekolah. Mereka mau liburan ke Bali, katanya. Duuu, ikut seneng dech.
Kalau anak saya dua-duanya masih balita, jadi setiap hari adalah hari libur bagi kami. :D
Tapi bersyukur karena Abinya anak-anak mengerti bahwa kami bertigapun juga pengen refreshing ( #hehehe ).

Setelah berunding tempat mana yang mau dikunjungi (antara Kebun Binatang, Museum, atau berkunjung ke rumah saudara ) akhirnya kami putuskan untuk ke Museum Geologi saja.

dokumen pribadi

Kenapa kami memilih ke Museum? Pertimbangannya karena :

1. Tempatnya dekat dari rumah.
A adalah rumah saya. Dekat bukan? :D

Google Map
Kami memilih menggunakan sepeda motor agar lebih cepat sampai.

Kalau dari arah Jakarta juga sangat mudah. Setelah keluar dari gerbang tol Pasteur langsung lurus saja melewati jembatan Pasopati kemudian ikuti jalurnya.

2. Tiket masuknya yang sangat murah
Untuk pengunjung umum harga tiketnya 3000 rupiah. Sedangkan anak-anak yang belum sekolah tidak dikenakan biaya masuk. Jadi, kami hanya membeli 2 buah tiket saja. :)



3. Tempatnya yang nyaman dan luas.
Di sekitar jalan Diponegoro masih banyak pohon-pohon besar, jadi tempatnya masih sejuk dan rindang. Anak-anak saya bebaskan bergerak kemanapun mereka mau, namun tetap saya awasi.
Mereka terlihat sangat menikmati acara jalan-jalan kali ini. Lihat saja ketika Dhia bercerita : ke Museum Geologi .

Informasi umum Museum Geologi Bandung

Alamat Museum : Jl. Diponegoro No. 57 Cihaur Geulis, Neglasari, Bandung, Jawa Barat.
Telepon             : (022) 7202669
Jam Buka           : Senin-Kamis  jam 08:00-16:00 WIBB
                           Sabtu-Minggu jam 08:00-14:00 WIBB
                           Tutup pada hari Jum'at dan libur Nasional
Harga tiket        : - umum : Rp 3000
                         - pelajar/mahasiswa : Rp 2000
                         - turis asing/pelajar asing Rp 10.000

Jadi, jalan-jalan ke museum tidak hanya rekreasi biasa akan tetapi juga menambah pengetahuan tentang batuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak.

Selamat menikmati hari libur di Museum Geologi Bandung . :)

Di bawah ini, Dhia bercerita petualangannya di Museum Geologi. cekidot:


Hari ini aku, de' Akram, Ummi, dan Abi pergi ke Museum Geologi, Bandung. Walaupun aku belum sekolah, tapi kita sekeluarga pengen liburan. hehe ^_^

Karena pas liburan sekolah, Museumnya jadi rammmee, kalo hari-hari biasa mah sepi :(




Aku sangat senang melihat batu-batuan yang banyak bentuknya, lucu-lucu.


Tuh liat, de' Akram serius banget ya...hehe
Aku juga lagi serius melihat-lihat.

                                                   
Ini aku dan dede foto di fosil pohon. Ini pohon yang udah jadi batu lho kakak. (Yaeyalah Dhia, yang namanya fosil ya udah jadi batu #ummi ikut komen :p )



Hai de' akram mau kemana?


 Kalau yang ini foto di depan fosil hewan...., emmmm (*noleh ummi) #bisik-bisik : "hewan apa namanya mi?"
(#umminya nyengir, hehehe :D )


wooow... gedhe banget yaa, Dhia jadi keliatan kecil. Kata ummi, ini namanya Tiranosaurus.


Ini lagi liat liat tulisan dan gambar batu-batuan. Aku sih belum ngerti karena belum bisa membaca. Tapi aku suka lihat gambarnya yang bagus-bagus. Batu-batunya beda sama yang biasa aku maenin.




Pulangnya beli minuman dan gelang yang ada tulisannya Museum Geologi.




Kakak-kakak, ada yang mau liburan ke Museum? Nanti cerita ke Dhia ya.. Kalau sempat mampir ke rumah Dhia yang deket banget dari Museum Geologi nggak sampe 5 menit. ^_^



Ikhlas

Kapal sudah merapat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Kapten Birawa bersama 800 pasukannya segera turun dari kapal. Dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Kapten Birawa sudah rindu sekali pada istri dan kedua anaknya. Selama 12 bulan ia meninggalkan keluarganya untuk bertugas di daerah perbatasan RI-Papua Nugini. Selama itu pula ia dan keluarganya tak saling berkirim kabar. Hanya sekali ia mengirim surat untuk istrinya, sekali itu juga di balas.

Sampai di rumah, Kapten Birawa mulai curiga karena rumah yang ia dan keluarga tempati tampak kotor tak terawat. Hatinya mulai khawatir ketika tak mendapati istri dan anak-anaknya di sana. Hatinya semakin tak karuan ketika menanyakan kepada tetangga terdekat, namun tak ada satupun yang menjawab. Birawa mencoba menenangkan pikirannya. Ia duduk di ranjang yang sudah berdebu itu. Tak sengaja, ia melihat ada amplop warna merah muda tergeletak di bawah vas bunga. Dia bertanya dalam hati, "surat cinta milik siapa ini? Jangan-jangan istriku pergi bersama pria pemilik surat ini."

Dengan tangan yang gemetar Birawa membuka amplop itu, kemudian membacanya.

untuk Mas Birawa tercinta,


Hatiku remuk-redam ketika mendengar kabar bahwa Kapten Birawa menghilang saat bentrok dengan pemberontak. Kemudian ada kabar lagi bahwa Kapten Birawa telah dinyatakan gugur, akan tetapi tidak ditemukan jasadnya. Mas ini sangat sulit untuk kuterima. Sepuluh bulan aku bertahan di rumah ini menunggu keajaiban. Aku sangat merindukanmu. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Kudus, ke rumah orang tuaku. Karena jika aku di sini terus, kasihan anak-anak. Mungkin aku sudah gila karena mengharapkanmu kembali dalam keadaan hidup. Maka, kutulis surat ini jika engkau kembali segeralah susul aku ke Kudus. 


salam rindu,
Sri

Kemudian, Birawa segera ke Kudus. Sampai di depan rumah orang tua Sri, Birawa mematung. Tubuhnya bagai tersambar petir. Ia melihat di dalam rumah sedang ada pengajian. Terlihat Sri dan kedua anaknya yang sedang menangis sesenggukan memeluk fotonya. Sesaat dia bingung, iapun meraba wajahnya, melihat tangan, kaki, dan tubuhnya yang serba putih bercahaya. Menyadarkan Birawa untuk mengikhlaskan semua yang terjadi pada dirinya.


Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta



4 Jun 2013

FF#15: Too Much Love Will Kill You

"Hei lihat dia, cakep sekali bukan?" bisik seorang pemudi berpakaian putih abu-abu kepada temannya.

Temannya mengangguk-angguk seraya melihat ke arahku, genit. Mereka pun hanya berlalu dan masih membicarakan aku. Aku hanya diam, hal seperti itu sudah sering sekali kutemui. Siapa yang tak suka dicintai, dipuji dan didambakan banyak orang.

Perasaan seperti itu tak pernah kudapatkan berbulan-bulan yang lalu. Kesepian di dalam belantara kehidupan. Kadang dianggap sampah yang hanya diinjak-injak oleh binatang. Hingga akhirnya seorang wanita yang penuh cinta dan kasih menyelamatkanku dari kesendirian dan ketidakberhargaan. Akupun sangat mencintainya. Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakannya.

"Rocky...Rocky... come here!" teriak seorang wanita. Ya, dialah wanita yang kucintai. Marcella, tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah merekah semakin membuatku kagum padanya. Selain karena hatinya yang lembut.

Anjing itu tampak senang, dan melahap semua makanan yang disediakan. Kemudian dijilatnya wajah wanita itu. Ah, aku cemburu.

Marcella melihat ke arahku. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Ia bergegas ke dalam rumah, lalu keluar lagi dengan membawa gunting di tangannya.

Marcella berlari ke arahku. Membelai dan menciumku dengan lembut.
Lalu,...
KREK....!

--***--

Inilah saat bagiku memberikan semua yang kupunya untuk dia. Mengharumkan kamarnya dan mewarnai meja riasnya. Meskipun dengan begitu, sisa waktuku tinggal sedikit untuk bersamanya.
.......

gambar dari sini

=================================================================

Jumlah kata : lebih kurang 190 kata.

Prompt #15 : Too Much Love Will Kill You benar-benar membuat khayalanku kemana-mana.
#gubrak

3 Jun 2013

FF #14 : Roselin


credit : dokumen pribadi Kartika Kusumastuti

Roselin melihat keluar jendela, ia lihat sekilas bukit di seberang rumahnya. Kemudian melihat ke jalan, mengamati setiap lelaki yang melewati jalan depan rumahnya. Sedang mencari-cari seseorang, tapi sepertinya tak ditemukannya. Roselin belum menyerah, dibuka daun jendela kamarnya lalu melongok ke bawah.

"Daddy...daddyyy..." Roselin sedikit berteriak, namun juga tak ada jawaban.

Angin dingin menyergap wajahnya.
Roselin menghela nafas sebentar. Terduduk.

"Daddy, dimanakah kau?" gumamnya, diremaslah roknya yang basah.

 Ia ingin menangis tapi tak bisa. ia sudah jarang sekali menangis sejak setengah tahun yang lalu. Roselin tak mau dikatakan anak cengeng oleh ayahnya.
 Dipandangnya sebuah foto di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.

" Mom, seandainya kau disini sekarang..."

Lima menit berlalu, Roselin bangkit dan kembali dengan buku di tangannya. Duduk lagi di depan jendela kamarnya. Mengulang lagi membaca buku Snow White untuk ke-lima kalinya.

Sesekali dilihat jendela kamarnya, melihat jauh ke bukit, ke jalan, dan ke pagar rumahnya. Sepi. Putih. Salju sudah berhenti turun, menyisakan angin dingin yang tak terlalu kencang. Dinginnya menerpa wajahnya yang putih bersih. Roselin tak kuat, ditutup kembali daun jendela kamarnya. Kembali duduk di dekat jendela.

"Roselin..Roseliiin..!"

Roselin mengenali suara itu. Senyumnya mengembang. Bergegas ia berlari keluar kamar, tak menghiraukan kucingnya yang duduk di tangga. Dipeluk erat kaki ayahnya.

 "Daddy, kemana saja.... ?" tanya Roselin.

Roselin mengikuti ayahnya ke meja makan.

"Aku cemas karena saat bangun tidur tak menemukanmu, Dad."

Ayahnya tersenyum sambil membuka bungkusan yang tadi dibawanya.

"Daddy ke pasar, menjual kayu bakar lalu membeli beberapa daging dan roti. Maaf kau jadi menunggu lama, daddy mencari sesuatu di kota."

Roselin tak memperhatikan ayahnya lagi, ia cemberut duduk di bawah meja makan.

"Selamat ulang tahun Roselin" tiba-tiba ayahnya menyodorkan kue kecil rasa coklat ada hiasan bunga mawar, sesuai dengan namanya, Roselin, lengkap dengan lilin angka empat yang menyala.


ilustrasi dari sini

=========================================================================



huwaaa.. lagi belajar nulis flash fiction ini. Entahlah , bagus atau nggak yang penting sudah berani menulis. Monday Flash Fiction, Prompt #14 : Desa Berselimut Salju

Akram Bercerita : Umurku Satu Tahun

 Hari ini , umurku satu tahun lhooh... Do'a Ummi buat aku >> Semoga Akram menjadi anak yang sholeh, baik, cerdas, sehat dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin


berdoa bersama sebelum bobo


Akram bangun tidur

 Terbiasa mandi pake air dingin sejak usianya 8 bulan. Air dingin membuat kulitnya sehat.

akram berani mandi pake air dingin



bingung nich mau pake baju apa yaa?

ummi akram yang jadi penata gaya nya


yuk, jalan-jalan ^_^

 Sudah bersih dan wangi, aku siap buat jalan-jalan bareng ummi, abi, dan mbak Dhia. Siapa mau ikoooot ?

2 Jun 2013

Pak Oyen

Es Campur yang palling enak se-Cimahi. This is it, ES CAMPUR Pak Oyen. Letaknya di depan pisan RS Dustira.


Sekalian sama baksonya, hehehe :)


Tempatnya yang sederhana, namun masih nyaman untuk kalangan sekelas saya , emak yang hemat cermat manfaat. :p