25 December 2013

[Cerpen Gurita] Rumah untuk Moli



Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah Taman Laut Kanak-Kanak. Riri si gurita kecil berwarna merah hendak berangkat ke sekolah bersama Ibunya. Riri senang sekali karena akan bertemu teman-temannya dan Gurunya yang baik hati.



“Ibu, aku sudah siap.” Kata Riri kepada ibunya. Riri sudah memakai tas dan topi warna merah kesukaannya.

“Oke, ayo kita berangkat.”

Riri dan Ibu Grita pergi menyusuri terumbu karang yang indah-indah. Di jalan, mereka bertemu dengan Pak Dudut si ikan badut berwarna kuning dan anaknya Moli. Kelihatannya Pak Dudut sedang ada masalah. Begitu juga dengan Moli.

“Selamat pagi, Moli. Selamat pagi, Pak Dudut.” Ucap Ibu Grita dan Riri hampir bersamaan.

Namun bukannya menjawab Pak Dudut malah diam dan terus saja berenang melewati Riri. Moli, anaknya mengikuti dari belakang. Dari raut wajahnya Moli nampak sedih.

“Ibu, kenapa Pak Dudut dan Moli tidak menjawab ucapan salam kita? Mereka sombong,ya Bun?” Riri bertanya kepada Ibunya.

“Eeh, Riri, nggak boleh langsung menilai orang hanya karena satu kejadian. Biasanya keluarga Pak Dudut kan baik sama kita. Mereka selalu tersenyum dan menyapa kita.”

“Lalu, kenapa jadi begitu, Bun?”

“Bunda juga kurang tahu, Riri. Sebab Bunda kan belum ngobrol sama Pak Dudut dan Moli.” bu Grita berkata lembut sambil membelai kepala Riri.

“Nanti sepulang sekolah, kita coba berkunjung ke rumah Pak Dudut,ya.”

Riri menganggukkan kepalanya tanda setuju. Namun dalam hatinya, ia masih merasa bingung dan sedikit sebal dengan Moli dan ayahnya karena tidak mau menyapa.

Hari ini, Bu Guru Pe mengajak murid-muridnya untuk berkeliling menyusuri Taman Laut yang sangat indah. Banyak sekali tanaman dan terumbu karang yang indah berwarna-warni. Semua anak sangat senang dengan pelajaran hari ini. Kecuali Moli, ia dari tadi hanya diam saja.

“Moli tidak ikut bermain sama teman-teman?” Bu Phe bertanya kepada Moli. Yang ditanya hanya diam dan tertunduk. “Kenapa wajahmu jadi sedih begini? Maukah kamu cerita sama Ibu Guru?”

Sebenarnya Moli ingin sekali bercerita apa yang menimpa keluarganya kepada Bu Phe. Tapi ia takut kalau teman-temannya tahu, ibu dan ayahnya akan malu.

“Baiklah kalau Moli tak mau cerita. Tapi, kalau Moli butuh Ibu, Bu Guru akan selalu ada buat Moli.” Bu Phe meninggalkan Moli sendiri menuju tempat duduk di dekat anak-anak yang tengah bermain.

Tiba saatnya pulang sekolah. Sebelum pulang, Bu Phe menanyakan kepada murid-murid apa yang mereka dapatkan dari kegiatan hari ini. Anak-anak antusias menjawab secara bergantian.
Anak-anak telah berdoa dan bersiap pulang. Para orang tua sudah menunggui anaknya.

Siang ini, Riri dan ibunya langsung pergi ke rumah Pak Dudut. Barusan ketika menjemput Moli, Pak Dudut Nampak tergesa-gesa sekali. Jadi, Bu Grita tidak sempat menanyai.

Sesampainya di rumah Moli, Bu Grita dan Riri sangat kaget melihat koral tempat tinggal keluarga ikan badut sudah porak-poranda.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi, Pak Dudut?” tanya Bu Grita.

“Rumah kami dirusak oleh manusia. Mereka mengambil rumah dan juga menangkap Ibunya Moli.” Ucap Pak Dudut sedih.

Tidak banyak yang mereka bicarakan. Riri dan Bu Grita segera pamit pulang.

“Riri sangat kasihan sekali melihat Moli dan ayahnya, Bu.”

“Iya, ibu juga.”

“Kita harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”

Semalam, Riri tidak bisa tidur karena memikirkan Moli.

“Besok aku harus bantu Moli.” Ucap Riri dalam hati.

Keesokan harinya, Riri dan ibunya berangkat ke sekolah lebih awal.
Bu Grita menceritakan keadaan Moli dan keluarganya kepada Bu Phe. Sementara itu, Riri bercerita kepada teman-temannya dan meminta teman-temannya ikut membantu.
Hari itu Moli tidak berangkat sekolah. Murid-murid, guru, dan para orang tua sudah mengetahui musibah yang dialami keluarga Moli. Jadi, hari itu mereka menyusun rencana dan membagi tugas untuk membantu Moli.
Sore harinya, Bu Phe dan muridnya sudah siap dengan kejutan yang mereka bawa untuk Moli.

“Moli, ini teman-teman Moli yang bikin. Semoga Moli bisa kembali ceria.” Kata Bu Phe.

“Moli, ini terima,ya.” kata Riri sambil menyerahkan sebuah bingkisan.

“Pak Grita, kami orang tua murid kemarin mencarikan tempat tinggal untuk keluarga Bapak. Mari ikut bersama kami.” Kata Bu Grita.

Sekarang, Pak Dudut dan Moli sudah punya rumah lagi, yaitu sebuah koral yang sudah tidak ditinggali oleh ikan-ikan warga Kota Laut. Dan Moli bisa tersenyum lagi sekarang. Semua itu berkat bantuan orang tua murid TK Taman Laut dan juga Riri dan teman-temannya.

22 December 2013

Simbokku Sayang



Tadi pagi, saya nelpon Ibu saya di kampung. Berhubung Hari Ibu jadi pinginnya saya mengucapkan "Selamat Hari Ibu" gitu, pingin memberikan suatu kata-kata yang manis, yang spesial dan membuat kami lebih dan lebih menyayangi. Namun, begitu telpon dari saya diangkat sama Ibu yang terdengar bukannya suara yang saya rindui, tapi malahan ocehan dari ponakan saya yang tinggal (red: diasuh) sama Ibu. Errr, langsung gak mood, dech, asli!

Biasanya saya nelpon Ibu bisa sampai 20 bahkan 30 menit. Ngobrol apa aja tentang saya, kadang gantian Ibu yang cerita keadaan di kampung. Lha ini gak sampai 10 menit sudah saya tutup, habisnya niat awal khan mau bersayang-sayangan sama Ibuk.

Dari waktu yang sebentar tadi, yang saya ngobrol sama Ibu diiringi ocehannya ponakan, beliau mengabarkan kalau di sana lagi kebanjiran. Dari satu kabupaten, 6 kecamatan kebanjiran. Yang ada, sekarang saya malahan sedih.

Jadi,ya.. sekarang saya masih rindu sama Ibu saya. Mau minta dianterin buat pulang sama Kang Budi, gak enak karena untuk liburan sekolah kali ini kita gak berencana ke rumah orang tua. Dan, Kang Budi pun lagi banyak cetakan buku yang harus diselesaikan.

Oh, jadi panjang lebar begini curhatnya.

Hari Ibu kali ini, saya kangen juga sama lagunya Iwan Fals yang judulnya Ibu. Sembari nulis ini, saya puter berulang-ulang lagunya.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu...Ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu...Ibu
 

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu...Ibu

Ibuku persis seperti yang digambarkan Iwan Fals dalam lagunya. Beliau dari kecilnya,dari umur 12 tahun, sudah ikut membantu ibunya mencari nafkah. Begitu menikah dengan Bapak saya, beliau juga banting tulang mencari nafkah sendiri untuk membiayai kelima anaknya, dan juga suaminya. Sampai anak-anaknya tumbuh besar, sekolah, bekerja, bahkan anak-anaknya sudah menikahpun, beliau masih terus bekerja.

"Kemana, anak-anakmu wahai Ibu!" jerit hatiku. Sayapun sampai sebesar ini belum mampu membalas semua perjuanganmu. Setidaknya membiarkannya menikmati masa tua dengan senang. Saya belum mampu, Ibuuuu. Dengan apa kumembalas??

Ingin selalu menemani hari-harimu, melayanimu, membahagiakanmu dan Bapak. Namun di sisi lain, akupun harus menemani suamiku memperjuangkan cita-cita dan mimpi-mimpi kami.

Hanya do'a-do'a yang selalu aku panjatkan kepada Yang Maha Esa, semoga Simbok (panggilan untuk Ibuku) selalu sehat dan bahagia.
Simbok...engkau adalah Bidadari dari taman syurga-Nya, yang diutus untuk menjadi malaikat penjagaku di dunia.




sumber Youtube

09 December 2013

Prompt #32: Aku dan Didi


Aku misuh-misuh di dalam kamar. Kenapa sih harus aku? Kenapa bukan mbak Lita saja. Dia juga kan nganggur. Kerjaannya seharian cuma di depan komputer.

Kuremas-remas jemariku menahan geram. Kukepalkan lalu kutinjukan ke bantal beberapa kali. Kupelototi poster Jet Li di dinding.

“Ciat ciat ciat!” Aku sudah sangat mahir menirukan gayanya.

“Arrgh! Harusnya aku sudah bersama Najwa di bioskop.” Gara-gara bayi ini, jadi nggak jadi.

Aku menoleh, memandang tajam pada seorang bayi laki-laki di sudut ruangan kamarku. Melihat wajahnya yang polos membuatku sebal, aku jadi ingin melakukan sesuatu. Segera kucari senjata di dalam tas sekolahku.

“Aha, ketemu. Sini kau.” Kuraih Didi dari lantai. Kuhadapkan wajahnya kepadaku. Dan langsung kulancarkan aksiku. Pertama kugoreskan di pipi, lalu ke hidung kemudian melingkar ke mata. Setelah selesai aku berdiri menjauh.

Bayi lelaki itu merangkak mendekatiku. Dia berhenti di beberapa langkah dari tempatku berdiri. Pandangan kami beradu. Kurasakan kedua matanya seperti sebilah pedang yang mengoyak-ngoyak pikiranku dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kulakukan.

Sesaat aku takut akan terjadi sesuatu padanya. Akupun hampir menangis menyesali perbuatanku. Panik mulai menyerang. Gawat. Apa yang harus kulakukan?

“Oaaa.. Oaaa..!” akhirnya tangis Didi pecah juga. Alarm tubuhku mengharuskan kakiku untuk segera berlari menuju jendela. Namun terlambat. Seorang wanita setengah baya tetiba muncul dari pintu.

“Fariiiid! Kamu apain lagi Didi. Ya ampuuun, dicoret-coret lagi?! Sudah Ibu bilang tolong jaga Didi sebentar sementara ibu mencuci. Kakakmu Lita kan sedang mengerjakan skripsinya. Kenapa malah mengganggu adikmu!” Ibu berhasil menjewer kupingku sebelum kumelompati jendela.

“Aw!”


***
237 kata

Prompt #31: Air Keabadian Cinta

credit
Percy menghempaskan tubuhnya di rerumputan. Merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.

"Percy, ayo sini! Angin sedang bagus....(kamu mau melewatkan ini hanya dengan duduk di bawah pohon saja, huh?!)" pekik Pram dari kejauhan.

Percy tak mendengar kalimat Pram selanjutnya. Fokusnya tertuju pada keayuan wajahnya. Percy terpesona dengan kelincahan Pram memainkan layang-layang. Angin membuat rambutnya yang panjang tergerai ikut terbang bersama khayalan Percy.

Percy memegang dada kirinya, "Ish, kenapa jantungku semakin berdegup kencang?" batinnya. Percy mengalihkan pandang matanya ke langit, ia tak kuasa lagi memandangi Pram.

Layangan membumbung tinggi ke langit. Pram mengikatkan benangnya pada sebuah tiang kayu, kemudian berlari menghampiri Percy.

"Huuft!" Pram menghempaskan tubuhnya di samping Percy yang sedang duduk.

Pram menoleh, degup jantungnya kembali mengencang. Ketika bersama-sama Prameswari selalu saja seperti ini. Entah sejak kapan Percy sendiri tak tahu persis, yang pasti setiap kali memandang wajah dan senyum gadis remaja itu, hatinya selalu tak karuan. 

"Kau ingat sejak kapan, Pram? Kita sudah sering bermain bersama. Main di kali atau menyelam menikmati keindahan taman laut, ke perpustakaan, atau main layangan seperti ini." Percy membuka percakapan. Pandangannya menuju lautan lepas di depan mereka. Bermain layang-layang di pantai sangat mereka sukai.

"Ya, aku ingat dengan jelas." ujar Pram.

"Pram, apakah kamu merasakan perasaan yang sama sepertiku?" Percy hanya mampu bertanya dalam hati.

"Percy, ayo kita pulang!"

"Ah. Oh, kamu pulanglah dulu. Aku masih ingin di sini."

Prameswari melangkah meninggalkan Percy yang sedang gundah.

Percy melangkah menuju tepian laut dan duduk di sana.

"Ayah, kau tahu perasaanku? Sepertinya aku menyukai Pram. Ah, tidak. Bukan suka, tapi aku sudah jatuh cinta padanya. Aku tak ingin terpisah darinya." Percy bicara pada laut.

Sejenak diam lalu kembali berkata, "Yah, engkau adalah seorang Dewa Laut. Bantulah aku agar aku dan Pram bisa terus bersama."

Poseidon mendengar curahan hati anaknya. Ia memberikan sesuatu untuk membantunya. Dari kejauhan Percy melihat kilau cahaya mendekat ke arahnya kemudian terhenti di dekat kakinya. Sebuah botol berisi cairan merah.

"Minumlah air itu bersama dengan orang yang kamu cintai, niscaya cinta kalian abadi. Tapi, jika dia tidak mencintaimu, sesuatu yang buruk akan terjadi." Percy mendengar seruan yang hanya ia sendiri yang mendengar.
***
Pram baru saja keluar dari ruang kelasnya. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Percy sudah menunggunya di bangku taman dengan membawa dua gelas jus apel, jus yang sudah dicampur dengan air keabadian cinta. Mereka sedang asyik berbincang sambil menikmati kripik kentang dan jus apel ketika tiba-tiba langit yang cerah menjadi gelap. Gemuruh angin semakin mendekat dan memusari tubuh Pram. Tubuh Pram membumbung tinggi. Sesaat Percy mendengar teriakan Pram sebelum tubuhnyapun ikut tergulung pusaran angin.

***
Pas 400 kata
FlashFiction ini dibuat untuk MondayFlashFiction

07 December 2013

Prompt#1 : G-String Merah


 Aku udah di parkiran nih, Jack.

 Oh ok. Elu langsung masuk kamar aja dulu, ya. Gw masih mandi nih.
Mehhh... Dion nyengir. Jaman sekarang. Mandi, hape juga dibawa. Watsapan sambil mandi. Dion terkekeh sendiri. Dia menuju kamar nomor dua di deretan kanan. Dibukanya pintu yang memang tak pernah terkunci, lalu masuk.


Kamar itu tak terlalu luas. Dipenuhi dengan barang-barang praktis. Dion menggelesot di lantai bersandarkan tempat tidur. Tapi tiba-tiba matanya tertarik pada sesuatu yang berwarna merah yang sedikit menyembul keluar dari bawah bantal. Penasaran, karena hampir tak ada baju setahu Dion yang berwarna merah di kamar ini, ditariknya benda berwarna merah itu.

Dion terkesiap. G-String? G-String warna merah?




Dion perlahan mengambil g-string itu takut yang punya nongol dari kamar mandi. Lalu menyelipkannya di bawah pantatnya. Tak mau gegabah tetiba marah-marah kepada Rojak.

Rojak keluar kamar mandi lima menit kemudian. "Eh, sorry agak lama. Biasa, ritual. Hehehe" Rojak yang terkenalnya dipanggil Jack cengengesan sambil mengacak-acak rambutnya pakai handuk.

Perasaan Dion tak karuan. Campur aduk antara bimbang dan cemburu tapi juga penasaran.
"Keluarkan. Jangan. Keluarkan. Atau jangan, ya? Aku ingin tahu siapa cewek terakhir yang bersama Rojak. Ah, tapi kalau doi marah bagaimana?", berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Dion.

Sial, kenapa aku cemburu? Cewek manapun dengan gampang ia dapatkan. Sedangkan aku, satupun nggak ada.

Akhirnya Dion tak mampu laagi menahan kegalauannya. Lalu ia mengeluarkan g-string merah dari bawah pantatnya, "Punya siapa lagi ini, Jack?!"

Jack yang masih sibuk sms-an sedikit kaget namun cepat-cepat dibuangnya ekspresi itu.

"Heran aku. Tampang kamu itu nggak lebih ganteng dari si Dede yang di Opera van Java itu, tapi cewek kamu banyak, cantik-cantik pula."

Rojak malah cuma cengar-cengir. Kemudian duduk di atas tempat tidur, menepuk pundak Dion, "Bener elo mau tau? Akan gue kasih tau nanti. Sekarang cao, kita pergi."

***
 
"Stop di sini." Rojak turun dari motor. Berdiri dengan senyum lebar dan menoleh ke Dion.

Dion menyeringai, "Ngapain kita ke sini, Jack?! Tempat serem kayak gini." pandanganya menyapu sekitar.

"Udah, Elu ikut aja."

Rojak mengetuk rumah kayu yang seperti tak berpenghuni itu.

"Masuk, Cu." Terdengar suara kakek-kakek dari dalam rumah.

Mereka berdua kemudian masuk dan duduk di depan pak tua itu.

"Ini teman saya, Mbah. Namanya Dion. Dia ingin ajimat seperti yang saya punya."

-----------------------------------------------------------------------

278 kata.
Dibuat untuk MFF.
Challange ini udah dari bulan April lalu, cuman saya baru ingin nulisnya sekarang :p



01 December 2013

Belajar Membaca Iqro'

candid camera
Minggu-minggu ini Dhia mulai agak males kalau diajak membaca Iqro'. Banyak sekali alasannya, ya cape' lah, ya laper lah , ya pengen maen ini pengen maen itu. :(
Hmmm, segala cara udah dilakukan untuk membujuknya. Dan akhirnya kemarin Dhia mau lagi mengulang bacaannya dari A sampai Tsa. Masih hafal, Alhamdulillah. Kalo huruf Ja, Ha, Kho nya kadang-kadang masih ketuker-tuker.

Pernah gak teman-teman mengalami hal semacam ini? Anak meluncurkan berbagai alasan biar gak melakukan apa yang ibunya minta (dalam tulisan ini khususnya belajar). Berikut yang saya lakukan untuk menyikapinya. Bisa saja setiap anak beda penanganan, ingat lagi bagaimana karakternya,ya.

Pertama. Ketika anak sedang gak mood untuk belajar jangan di paksa, sekali lagi jangan dipaksa. Pertanyaannya, kalau gak mood nya itu terjadi setiap disuruh membaca Iqro', gimana? Jangan dimarahi. Cari tau kenapa anak gak mood terus menerus, apakah karena kecapaian, mengantuk, lapar, dan sebagainya. Makanya, saya harus jeli saat Dhia dalam kondisi seperti itu gak akan saya ajak untuk belajar Iqro'.

Kedua. Timing yang tepat. Saya selalu mencari waktu yang tepat untuk mengajaknya membaca Iqro', Saya menetapkannya setelah shalat Maghrib berjamaah di rumah. Jika sedang baik mood-nya, Dhia akan otomatis mengambil Iqro' dan langsung duduk di depan saya.

Ketiga. Contoh dari orang tua. Saya tidak hanya menyuruh anak untuk ini dan itu, namun harus dengan teladan. Saya membiasakan diri untuk mengaji tiap habis sholat, maka disitu Dhia melihat kebiasaan ibunya. Jadi, ketika habis sholat Dhia akan mudah untuk diajak mengaji.

Keempat. Kasih hadiah. Hadiah itu bentuknya macam-macam. Jika Dhia mau mengaji, saya selalu memberikan pelukan dan pelukan kepadanya. Selain itu juga mengatakan hal-hal yang membuatnya senang. Seperti : "Dhia anak yang sholehah,ya, mau belajar membaca Iqro'." Atau ketika Dhia ikut berbelanja saya membelikannya es krim (kesukaannya) "Dhia, ini hadiah karena Dhia mau mengaji."
Namun, hadiah gak mesti saya berikan agar Dhia gak mengaji karena ingin mendapat hadiah.

Terakhir, konsistensi saya sebagai ibunya menjadi hal terpenting dalam mengajak dan mengajari anak membaca Iqro'. Kalau diri sendiri gak bisa konsisten bagaimana anak mau bisa? Namun ada cara lain bagi orang tua yang gak mau repot mengajari atau gak sempat dan berbagai alasan lain, yaitu antar anak ke tempat mengaji atau Taman Pendidikan Al-Qur'an di dekat rumah.

Untuk yang terakhir, saya memilih mengajari sendiri anak-anak saya di rumah. Dengan begini akan menjadi salah satu sarana menjalin keakraban dengan mereka. ^_^

18 November 2013

Prompt #5 : Dilema




Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu tentang ini semua." Ucap Roni pada dirinya sendiri.

“Tapi Ririn harus tahu, Ron. Cepat atau lambat dia pasti akan tahu juga, walaupun kita tutup-tutupi.” Marni berkata santai sembari memainkan gelas wisky di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang rokok.

“Tapi tidak sekarang. Aku minta waktu seminggu menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini padanya. Kamu, jangan berani-berani menemuinya tanpa sepengetahuanku.”

“Oke. Kalau begitu, kamu harus memberiku uang untuk tutup mulut.” Marni  berdiri dari tempat duduknya dan menyondongkan badannya ke Roni.

“Baiklah. Tapi awas. Jangan coba-coba mendekati Risaku!” Roni berkata sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Marni dan menatapnya tajam.

Roni lalu berjalan ke lemari dan mengambil sebuah amplop dari laci.

“Ririn sebentar lagi pulang. Pergilah!” ucap Roni sambil melemparkan amplop tadi.

***

Ririn menghempaskan lembaran kertas ke meja. Roni yang sedang membaca buku kaget melihat lembaran yang  dua hari lalu diberikan oleh Marni kepadanya.

“Apa maksudnya ini, Pa. Ini Akte Kelahiranku ,kan? Siapa Marni. Kenapa di situ yang tertulis bukan nama Mama Ira ,Pa? Jawab Ririn, Pa, jangan diem aja. Jadi, selama ini Papa membohongi Ririn dan Mama?”

Roni tak bisa berbuat apa-apa melihat Ririn pergi dan membanting pintu.

============================================================
204 kata
Dibuat untuk MondayFlash Fiction

Prompt #4 : Boneka Untuk Risa




Bayu masuk ke sebuah toko boneka di pasar Seribu. Dia memilih-milih beberapa boneka. Beberapa saat ia terdiam, mengingat-ingat apa yang dikatakan Risa kepadanya. Akhirnya Bayu menemukan boneka seperti yang Risa katakan. Setelah membayar di kasir ia bergegas pulang.

"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang. Ia bisa membayangkan wajah berseri Risa ketika tahu ia membelikan boneka lagi sesuai yang diinginkannya. Bocah 13 tahun itu mengikuti ibu dari belakang. Melewati ruang makan, Bayu mencomot satu buah kue donat dari dalam kardus Dunkin Donut’s.

Ibu masuk ke kamar Risa, lalu meletakkan boneka itu di tempat tidur diantara ratusan boneka yang bentuknya berbeda-beda.

“Risa, ini boneka baru yang kamu mau. Semoga kamu senang.” Kata ibu.

Sesaat tubuh ibu bergoncang. Tatapan mata ibu berubah, pun dengan gerik tubuhnya.
Ibu mengambil lagi boneka yang tadi ditaruhnya lalu berkata, “Waaah, bagus sekali bonekanya. Risa sangat suka. Terima kasih, Bayu.”

Bayu yang masih mengunyah donat berkata, “Jadi betul ya boneka itu yang kamu inginkan?”

“Iya” Risa mengangguk dengan cepat.
Lalu keduanya asyik mengobrol sampai tak terasa sudah hampir Maghrib.

Tubuh ibu bergoncang lagi, kemudian pingsan. Tak berapa lama ibu siuman, ia sudah terbiasa dirasuki arwah Risa, saudara kembar Bayu yang meninggal saat usianya 3 tahun. Semenjak itu, sebulan sekali Risa selalu meminta dibelikan boneka oleh Bayu.
=========================================================
227 kata
Dibuat untuk Monday Flash Fiction