Showing posts with label Cerita Dhia. Show all posts
Showing posts with label Cerita Dhia. Show all posts

04 March 2016

Ulang Tahun di Sekolah, Berbagi Kegembiraan

Hari ini syukuran ulang tahun Dhia di sekolahnya. Persiapannya -yang walaupun sederhana tapi teteup riweuh- bisa dibaca di sini.

Dimulai pukul tiga dini hari, masak nasi kuning. Mau bikin tigapuluhan pcs, jadi dua kali kloter masak pakai mejikom. Sambil nunggu nasi kuning mateng, ngegoreng pelengkapnya sambil ngantuk-ngantuk. Lalu ngemasin ke wadah mika yang saya beli kemarin. Udah kayak mau jualan nasi kuning. lol
Nasi Kuning

Pukul enam pagi, belum semuanya beres. Distop karna harus membangunkan, nyiapin dan nganterin Dhia berangkat ke sekolah. Setelah nganter Dhia, saya kembali ke rumah untuk merampungkan persiapan.
Acaranya dimulai pukul 10:00, jadi saya masih punya waktu untuk kembali melengkapi segala sesuatunya. Bingkisan sudah beres. Hadiah untuk game dan kuis, cek.  Korek api, cek. Pisau, cek. Tissiu, cek. Kemudian saya kembali lagi ke sekolah pukul setengah sepuluh.

Jam sepuluh teng, bertepatan anak-anak TK masuk setelah istirahat, acara pun dimulai. dari awal sampai akhir dipandu sama Ibu Guru. Saya bagian dokumentasi aja. :D

Roundown acara ulang tahun di sekolah tadi siang adalah sebagai berikut :

1. Bernyanyi

2. Games
Gamesnya berupa pertanyaan-pertanyaan mudah dari Bu Guru. Hadiah games ini adalah susu cair Morinaga Chil-go! Semua antusias ingin mendapatkan hadiah dengan menjawab pertanyaan dan juga bernyanyi maju ke depan.
games menjawab pertanyaan dan bernyanyi di depan

3. Tiup Lilin


4. Potong Kue
Berbagi potongan kue ulang tahun kepada semua teman-teman. Senangnya kuenya jadi habis. ^_^
Dhia dan Akram

5. Berbagi bingkisan
Bingkisan yang sederhana ini buktinya mampu membuat anak-anak bergembira. Satu persatu teman-teman Dhia mengucapkan selamat dan memberikan kado. ^_^
saat membagikan bingkisan

"Terima kasih teman-teman atas hadiah kegembiraan hari ini."
Terima kasih juga untuk Bu Rina dan Bu Hanna yang dengan sabar mendampingi Dhia di sekolah.


***
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan susu cair pertumbuhan Morinaga Chil-Go! 

"Berbagi Keceriaan, Berbagi Morinaga Chil-Go!"

Dhia bersama tumpukan kado dari teman-teman
***
Selain moment berbagi saat ulang tahun di sekolah, Dhia juga berbagi Morinaga Chil-Go! kepada teman-teman di sekitar lingkungan rumah. Anak-anak saya sudah saya biasakan berbagi sejak kecil. Jadi, mereka senang aja membagi-bagikannya, walaupun susu Chil-Go! sangat mereka sukai.

Sambil membagikan, sekalian memperkenalkan Morinaga Chil-Go! kepada Mamah-Mamahnya. Ternyata masih ada yang belum tahu, nih. Saya jelaskan kepada mereka bahwa susu Morinaga Chil-Go! ini adalah produk dari Kalbe. Sontak mamah-mamah yang lagi duduk 'ngariung' ( ngumpul ) menjawab "Ooooh'"
Mereka sudah sangat familiar dengan kata Kalbe ternyata. Karena Kalbe memang sudah lama berada di Indonesia. Makanya tak heran kalau banyak yang percaya dengan produk-produknya yang terkenal bagus.

Sambil duduk bersama sambil ngobrolin tentang tumbuh kembang anak, ngobrolin Morinaga Chil-Go! yang telah ditambahkan ke dalamnya prebiotik, protein, 9 vitamin dan 6 mineral, juga ngobrolin segala macem termasuk harga jengkol yang tetap dan harga bawang yang makin naik makin naik aja.
^_^

~Berbagi sehat, berbagi Morinaga Chil-Go!~

13 June 2015

Belajar Membuat Roti Panggang

Mau cerita waktu Dhia lagi belajar bikin roti panggang, ah.

Jadi, Dhia tuh sekarang udah mulai-mulai penasaran sama urusan dapur. Tiap kali saya mau masak pasti ngintilin aja. Nanya ini itu. Kadang bikin pernyataan 'aneh' :

"Mi..., Dhia bisa , kok."

Aku tahu maksudnya pengen motong-motongin tahu kuning yang mau kumasak. Saya pura-puranya nggak paham apa yang Dhia maksud. Dhia masih bilang gitu aja berkali-kali. Ya sudah saya kasihkan pisaunya. 

"Pegang pisaunya hati-hati, ya Iya;. Tajam. Kalau kena jarimu bisa berdarah."

Bener nggak ya pernyataanku ini? Entahlah. Tapi untunglah Dhia nggak parno duluan. Nggak langsung naruh pisaunya kembali. Justru malah semangat motong-motongin tahu setelah mengiyakan kata-kataku.

Terus pagi ini (sebenernya udah beberapa hari yang lalu sih, tapi nulisnya baru hari ini) ceritanya mau sarapan sama roti panggang. 
Ada persediaan roti tawar, mentega, coklat meses. Seperti yang sudah diduga, Dhia juga mau ikut nimbrung oles-oles dan tabur-tabur.
Oh well biar saja Dhia yang lakukan. Sementara saya nyiapain yang lain. 

Ceritanya ini Dhia yang ngoles-oles+naburin. Hehe, saya satu yang paling kanan. Yang lainnya Dhia sama Akram. 

Aku tuh sebenernya masih merasa takut-takut gitu. Ya gimana ya, oven kan panas kalo udah dinyalain. Tapi, anaknya pengen belajar.

Setelah roti beres dioles mentega dan ditabur meses. Kemudian masuk-masukin, Mbaaaak.

Abaikan oven yang dibersihinnya setahun sekali itu. Gosong sana-sini :D

"Perhatikan, ya Iya'." Dhia memperhatikan angka baik-baik. Aku meneruskan instruksiku. 
"Puter di sini. Pas in di angka ini. Baru nyalain." 

Nyeklekkin sendiri. Ini pertama kali. Kloter keduanya udah bisa sendiri.

Atur di 150 derajat. Waktunya 15 menit. Pemanasan atas bawah. Setelah bunyi "Thiiing!" pengen buru-buru mbuka ocen dan ngambil roti panggangnya.
Saya masih khawatir, soalnya panas. Sedangkan sarung tangan anti panasnya entah kemana (Akibat naro dimana aja.) 


Lho kok cuma tiga?

Tenang, setelah ini masih bikin lagi kok. Sampai 3 kali malah. :)))

Sudah mulai tahun kemarin sebenernya saya ngasih "cooking class" untuk krucils saya. Tapi nggak semua diabadikan memang. Cuman beberapa aja yang keliatan 'jadi'. wkwkwk 

*Pencitraan banget!*


Kenapa Dhia penasaran?

Jadi setiap saya masak, kalau saya lagi butuh piring, mangkok, sendok, dll saya sering minta tolong Dhia buat ngambilin. Walaupun lagi main, mau aja kalo disuruh-suruh.
Duuuh, nurut banget sih anakku. ( muji anak sendiri )

Kalau ditanya manfaatnya apa ngasih 'pelajaran' memasak. Bagiku, itu diperlukan agar Dhia nya ngerti caranya bikin sesuatu. Seperti yang ibu saya ajarkan dulu. Agar anaknya nggak manja.

Itu.

Cimahi, 13 June 2015 pkl 1:39 WIB di pagi yang menggigil.


27 May 2015

Berdua Saja

Apapun yang terjadi harus tetap disyukuri. Karena pasti ada kebaikan di dalamnya.
~uwien


Mungkin, saya termasuk yang kurang beruntung dalam mendapatkan lingkungan untuk kedua anak saya ini. Di tempat saya tinggal bukan sebuah komplek perumahan padat penduduk, termasuk jauh sama tetangga, dan deket jalan raya. Jalannya pas tanjakan yang "aduhai" jadi motor atau mobil pada ngebut kalo lewat sini -kuatir nggak kuat nanjaknya.

Sejak pindah ke sini lebih dari setahun yang lalu, tetangga yang saya kenal cuma warungnya Teteh. Saya mah sering ngobrol kalau beli jajan di warung. Eh, ada juga ding tetangga yang pernah berinteraksi sama saya, tapi nggak banyak. Kebangetan ya? :(

Saya : "Teh, kalau di sekitar sini, dimana ya yang banyak anak-anak main di luar? Kok saya kalau jalan-jalan jarang melihat anak kecil main di luar."

Teteh : " Iya, mbak. Di sini emang anak-anak kecilnya pada nggak pernah main di luar. Kebanyakan pada di dalem rumah aja."

Saya : "Oh, pantesan."

Teteh : " Coba jalan ke atas sana , mbak. ( daerah pegunungan jadi ada atas dan ada bawah , lol ) Di daerah SMK belakangnya lagi, di situ banyak anak suka pada main di luar pagi sama sore hari."

Dan sampai seminggu kemudian saya belum juga ngikutin saran dari Teteh.... *krik krik krik*

Sebagai ibu saya melihat Dhia mulai agak jenuh karena nggak ada temen main sebayanya. Bayangin deh, se-ta-hun. Walaupun kalau akhir pekan saya ajak main di luar atau berkunjung ke rumah teman yang punya anak sebayanya, tapi berbeda kalau sehari-hari bisa main sama temannya. Bener nggak? Makanya tahun ini Dhia mau saya masukkan ke sekolah TK. Biar punya teman baru.

Karena itulah, jadi sehari-hari Dhia dan Akram mainnya cuma berdua saja. Ambil positifnya aja kalau udah kayak gini mah. Mereka jadi akrab banget, kakaknya menyayangi adek, dan adek juga menyayangi kakak walaupun adek sering jail sama kakanya.

Saya sering ngambil foto, moment-moment dimana mereka sangat akrab saat bermain berdua. Kalau pas lagi berantem, ya berantem layaknya saudara pada umumnya. hehehe

Membaca buku berdua

main gadget
main dandan-dandanan
Kalau lagi main dandan-dandanan gini, saya yang lihat jadi ngikik-ngikik sendiri juga. Soalnya anak laki-laki sejati nggak suka bermain permainan cewek. Tapi bersedia nemenin kakaknya juga walaupun mungkin sebenernya frustasi. hahaha 
:) :) :)
Saya sering terharu sendiri lihat Dhia kalau saya lagi mengerjakan hal lain, Dhia mau membantu adiknya seperti ketika saya sedang nyetrika baju, Dhia mau memakaikan baju Akram, atau mengambilkan air dari dispenser, dll.
( Memang ya? Katanya rata-rata kalau yang kakaknya perempuan lebih bisa ngemong adiknya.)


Dhia membantu adiknya mengancing baju.

Ah baiklah, biarpun jarang main bareng teman sebayanya, saya masih berharap nanti kalau sudah sekolah Dhia punya banyak teman dan bergaul dengan baik dengan sesama.

25 May 2015

Memilih Sekolah TK

Memilih sekolah TK untuk anak menurut saya nggak bisa sembarangan. Karena, di sekolah TK ini dia akan banyak belajar berinteraksi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, dan mengenal orang dewasa baru ( ibu/bapak guru ).

Kemarin saya juga nyari-nyari TK untuk Dhia. Karena tahun ini dia sudah 6 tahun. Waktu umurnya 4 tahun sempat saya sekolahkan di KidsClub . Semacam kelompok bermain gitu. Terus setahun ini saya istirahatkan dari dunia sekolah agar Dhia nggak bosen. Secara dari Dhia masih bayi usia 7 bulan, setiap hari saya bawa ngajar di TK.

Awalnya saya dan suami sudah berunding untuk Dhia akan kami coba Home Schooling saja. Yang bertindak sebagai pembimbingnya ya saya sendiri ( dibantu suami tentu saja ). Tapi, setelah dipertimbangkan lagi, akhirnya kami memutuskan Dhia untuk sekolah saja. Pertimbangannya karena Dhia di rumah jarang bermain keluar bersama teman sebayanya. Jadi alangkah lebih baik kalo Dhia pergi ke sekolah dan bertemu banyak teman di sana.

Ada 3 TK sebagai kandidat untuk sekolah Dhia.

1. TK yang dekat sama rumah

Ini jaraknya sekitar 100 meter. Kalau berangkat sekolah, tinggal jalan kaki bentar udah nyampe.
Tapi, di sini halamannya nggak luas. Nggak ada alat bermain di luar ruangan seperti ayunan, perosotan dan semacamnya. Ruangannya cukup luas sih. Tapi, di sini juga muridnya buanyaaak. Ada 40 anak. whoaaa. Sedangkan pembimbing/gurunya cuma bertiga.
Terus, untuk masuk ke kelasnya harus naik anak tangga yang lumayan tinggi, karena letak tanahnya lebih tinggi dari jalan raya.

Yang bikin nggak nyaman juga, ibu-ibunya (orang tua murid) pada nungguin di depan kelas. Jadi saat saya masuk menemui guru, saya harus banyak bilang permisi.

Biaya masuknya standar 1 juta, kayak TK-TK lain di Cimahi.

*mikir-mikir dulu* next ke TK yang lain.

2. TK agak jauh dari rumah.

Jika Dhia sekolah di TK ini, kalau berangkat harus naik kendaraan.
Halamannya lumayan luas. Peralatan bermain di luar ruangan komplit banget.
Biayanya lebih murah dari pada TK yang pertama.

Tapi, saya belum melihat proses belajar di TK ini seperti apa. Karena pas saya survei, TK sedang libur.
Jadi saya belum bertemu dengan guru, dan belum melihat ruang kelasnya juga.

3. TK yang jauh banget dari rumah

( Ini saya namain TKnya kok gituya? gak disebutkan nama TKnya. hehehe.. tolong jangan protes *plakk* )

Ini TK nya baguuus banget. Tapi emang jauh juga dari rumah. Kalau yang pertama, nggak sampai 5 menit sudah sampai. Yang kedua, kurang lebih 10 menit naik kendaraan. Kalau yang ketiga ini, hampir 30 menit naik kendaraan.

Halamannya luaaas. Alat bermain komplit. Gurunya baik-baik. Ruang kelasnya bersih dan luas. Satu guru "megang" maksimal 10 anak.

Biaya masuk 5 kali lipat TK pertama, setara dengan fasilitas dan kualitasnya memang, sih.

Jadi, TK mana yang saya pilih? nanti di cerita saya selanjutnya aja.

Tips Memilih Sekolah TK
Saya tulis secara acak saja. Dan ini juga tips ala-ala saya

1. Sekolah memiliki halaman yang luas
Anak-anak membutuhkan tempat bermain dan menyalurkan tenaganya, berlari, melompat, memanjat dan aktivitas lain yang memancing/menstimulasi motorik kasarnya. Ini membutuhkan tempat yang luas.


2. Ruang kelas yang luas dan bersih
Selain halaman, ruangan kelas tempat "bermain" anak juga harus luas dan bersih. Kalaupun nggak luas banget, yang penting bisa ditolerir aja. Jangan sampai anak bermain (baca : belajar) bersempit-sempitan. Misalnya, ruangan 3x3 meter untuk 20 anak. Itu saya pernah lho menemukan, waktu kunjungan TK lain (waktu masih ngajar).

3. Kegiatan Bermain dan Belajar
Jadi sebelum mendaftar, sebaiknya main dulu ke sekolah, melihat bagaimana keseharian kegiatan bermain dan belajarnya. Nggak cukup dengan menanyakan program ke gurunya saja. Tapi melihat praktek keseharian secara langsung.
Ini karena saya nggak kerja, sih. Jadi masih bisa melakukan ini. Kalau orang tua bekerja, mungkin cukup dengan menanyakan kepada gurunya

4. Pembimbing/Guru/Pendamping Guru
Sekolah yang bagus, pasti punya standart untuk menjadi guru TK. Karena ada lhooh, TK informal yang gurunya hanya tamatan SMP. Guru yang baik tahu bagaimana menyikapi anak didiknya.
Jangan sampai, anak-anak dibentak dan sering dimarahi oleh guru karena lamban dalam memahami sesuatu, dengan dalih agar anaknya cepat bisa.

5.Alat bermain yang memadai
Baik permainan di dalam maupun di luar ruangan. Setidaknya ada alat untuk bermain. Lebih bagus kalau alat bermain edukatif.



Sepertinya ribet banget ya saya?


20 May 2015

Tega Menyuruh Anak

Saya udah lupa-lupa inget, waktu kecil kalau disuruh sama ibu langsung nurut dan dikerjakan atau enggak. Tapi yang jelas ibu saya sering banget nyuruh-nyuruh. Sedari saya masih SD sering disuruh ke warung membeli garam atau obat nyamuk. Padahal tengah asyik-asyiknya bermain sama teman.

Setelah saya SMP, saya sudah mulai disuruh mencuci baju seragam sekolah, kaos kaki, dan sepatu sendiri. Sering disuruh untuk membersihkan rumah dan menyapu halaman dan membantu mencuci piring ( minimal piring bekas makan sendiri ) setelah makan. Seingat saya sih, kadang saya nurut terkadang juga saya menggerutu ngerjainnya, kadang malah membangkang nggak mau sama sekali.

Waktu sekolah SMA, ibu mulai nyuruh saya untuk ngiris-ngiris bawang di dapur, mbantuin ibu masak. Kalo udah gini, saya nangis karena bawang. hehehe
Tak jarang juga kena pisau.

Itu dulu. Saya rasa, perasaan anak-anak rata-rata begitu kalau disuruh sama orang tuanya.

Setelah saya merasakan yang namanya melahirkan, apapun permintaan, keinginan ibu dan bapak langsung saya kerjakan. Dari hal-hal kecil sampai hal besar. Kalau saat ibu meminta saya belum bisa mengabulkan, saya pasti bertekad suatu saat bisa mengabulkan permintaannya.

Tega Menyuruh

Saat ini, Dhia umurnya hampir 6 tahun. Sejak kecil, saya biasakan untuk meminta tolong kepadanya (bahasa halus dari menyuruh). Awalnya dari hal-hal kecil saja. seperti menyuruhnya mengambil mainannya.
"Dhia, tolong ambil boneka itu."
Nah, dari sini awal mulanya. Menggunakan kalimat perintah sederhana yang bisa dimengerti anak ( usia 1,5 tahun ).

Setelah itu bisa ditambah lagi tahapannya. Seperti menutup pintu, mengambilkan barang, menyimpan batrang ke tempatnya semula, dsb.
"Dhia, tolong tutup pintunya."
Dan tidak lupa, setiap kali menyuruhnya, tidak lepas dari kata TOLONG.

Jadi, saya mulai dengan hal sederhana saja. Sehingga sampai diusianya sekarang, Dhia sudah mandiri dan bisa disuruh-suruh. :)
( aaah, pake bahasa yang lebih lembut saja ya. BISA MEMBANTU IBUNYA )

Ngangkatin jemuran
Kalau Akram juga sama. Di usianya yang hampir 3 tahun. Kalau dimintai tolong saya, Abi, atau Dhia, selalu langsung dikerjakan.

Iya, saya memang tega nyuruh-nyuruh anak. Tapi, saya mending seperti ini dari pada memanjakan anak atau nggak pernah menyuruhnya.

Saya tahu sekarang kenapa ibu saya dulu sering banget nyuruh saya. Iya, demi kemandirian saya juga. Begitu pula yang ingin saya terapkan kepada anak. Karena saya sadar, saya nggak akan selamanya bersama-sama mereka.

Itu kalau kata saya mah.

Kalau manteman bagaimana? Menerapkan pola asuh yang sama seperti saya atau nggak tegaan sama anak sehingga apa-apa selalu melayaninya?



02 February 2015

Acara Minum Teh dan Eksperimen

Pagi ini, Akram bangun lebih awal dari Mbaknya. Belum cuci muka dan apa-apa langsung bilang dengan suara yang belum fasih minta teh manis.

" I-num... Nteh... Anyis "

Saya mbatin, Akram habis ngimpi tentang teh manis gitu? Biasanya begitu bangun minta minum air putih kemudian minta segelas susu plus biskuit.

Lalu saya nyolokin air (*nah lhoh apa maksudnya ini?) -maksudnya nyolokin dispenser. Sambil nungguin air panas, Akram minta saya untuk menyalakan tipi, ngak saya turutin. Kemudian nunjuk-nunjuk minta diambilin tablet yang saya taro di atas lemari, nggak saya turutin juga. Lalu ke meja komputer minta dinyalain, nggak juga saya turutin.
Karena nggak juga terkabul keinginannya, Akram ngebangunin Dhia dengan cara digabruk (bahasa Indonesianya apa ya? semacam ditindihin gitu lah). Akhirnya mbak Dhia bangun juga setelah guling-guling hampir ngambek karna diganggu tidurnya.

Dhia dan Akram mendekati saya, setiap bangun tidur pasti minta disayang-sayang (dipeluk; dicium; ditanya-tanya tidurnya nyenyak apa enggak, bla bla bla) #Ahaaaiy

Air di dispenser udah panas. saya pun ngeluarin nampan, dua buah gelas, gula, dan teh celup.

"Ayooo ke depan (maksudnya ke teras depan), kita bikin teh celup yuuk!!" kata saya.

Anak-anak ngintil saya di belakang. Kemudian duduk manis di dekat nampan.

Acara minum teh di pagi hari pun dimulai.

Mereka celup-celup bergembira
Gulanya dua sendok aja , ya Mbak Dhia.

Kemudian terjadilah drama, wekekeke

"Mencari biskuit yang hilang"


  Kebiasaan makan biskuit dicelupin ke susu/teh manis 

 Eksperimen dengan teh manis

Oiya, beberapa waktu yang lalu (nggak jelas kapan yang pasti sebelum sebelum 2015) Dhia juga sudah pernah bikin teh manis sendiri. Saya cuma membantu menyediakan air panasnya aja. Kalau sekarang Dhia sudah berani nuangin air panas ke dalam gelas sendiri.

Waktu bikin teh manis itu, Dhia nanya-nanya :

"Kok nggak manis, ya Mi?" --> "Karena belum dikasih gula, Ia"
"Waah, kalo udah dikasih gula jadi manis, Mi!" --> "Berarti, rasa gula apa? Manis"

"Mi, lihat! Sendoknya bengkok!" kata Dhia dengan mata berbinar. Kemudian berulang-ulang ia mengangkat sendok dari gelas lalu menyelupkannya lagi, angkat lagi, celupkan lagi. lalu tertawa cekikikan.

Dhia, itu namanya pembiasan (saya jelaskan apa adanya :D ). Lihat deh, sendoknya nggak bengkok kan kalau di luar gelas, tapi kalau dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air, kita melihatnya seolah-olah sendoknya bengkok/patah.

"Ooo, begitu ya Mi" Dhia manggut-manggut.

Lalu...

"Waaaaw... gede buangeet!!" Dhia memekik.

"Apanya, Ia'?"

Dhia meletakkan gelas berisi teh manis itu di depan matanya, lalu berkata, "Ummi keliatan gede banget. Tanganku juga!"

"Wah, iya. Gelasnya bisa jadi kaca pembesar. Coba yuk kita lihat barang-barang yang lain."

Lalu Dhia mengambil beberapa mainannya dan mengamati dari balik gelas kaca berisi air teh hingga akhirnya teh manisnya habis.

Jadi, dari hal-hal kecil yang kita temui sehari-hari bisa jadi bahan pembelajaran buat anak balita, ya Manteman.








07 January 2015

Membuat Bingkai Foto


Kemarin sore sehabis Ashar, Dhia main di halaman bersama saya dan Akram. Kami main lempar tangkap bola juga lari-larian. Emang nggak kerasa sih kalau mainnya senang. Tau-tau udah setengah enam.

Malamnya Dhia anget, kecapaian mungkin. Atau masuk angin. Dan seperti biasa ketika Dhia panas/deman tidak lantas saya kasih obat. Sebelum tidur saya balur memakai minyak kayu putih sambil dipijat seluruh tubuh. Alhamdulillah Dhia bisa tidur dengan nyenyak. Hanya dua kali bangun minta minum.

Paginya, badan masih anget-anget dikit, tapi udah nggak pusing kata Dhia. Karena itu, kegiatan hari ini yang ringan-ringan aja. setelah makan, Dhia mau bikin bingkai foto dari kertas. Ia meminta saya menyiapkan bahan dan alat-alatnya.

Ini dia bahan-bahannya:

kertas warna, kertas foto/karton (pokoknya kertas yang keras)

lem, gunting, kain flanel
Saya jelasin gimana caranya.

1. Merekatkan kertas warna di atas kertas foto/ kertas karton.
2. Gunting kain flanel dengan bentuk pita seperti gambar di samping.

Kalau ini, saya bantu mengguntingnya karna bentuknya kecil-kecil.
 3. Dhia menempelkan potongan kain flanel di atas kertas warna pink.

4. Terakhir menempelkan hasil nomor 3 di atas kertas warna biru tadi.

Sudah dech, selesai.

Untuk Dhia, mengerjakan ini sekitar setengah jam lamanya. Tapi Dhia tersenyum puas bisa membuat bingkai untuk fotonya sendiri. Tinggal ngeprint foto dan ditempel di situ.










04 January 2015

Gambar-Gambar Dhia

Dhia sukaaa banget menggambar dan mewarnai. Kalo lagi nggambar, anteng bisa sampe setengah jam. Nggak bisa berjam-jam, karna direcokin ,dirusuhin sama adeknya. :v hahaha

Lagi serius 
Saya selalu bertanya sama Dhia, apa yang ia gambar, dan Dhia selaluuu panjang lebar menceritakan apa yang telah digambarnya. Deng, tapi kadang juga jawabnya singkat hanya beberapa kata. Jadinya, saya harus mancing-mancing agar Dhia bercerita banyak. Tapi, kalo Dhia udah capek menggambar, walaupun ditanya-tanya juga nggak akan jawab.
Yang Dhia lakukan setelah bermenit-menit menggambar,pasti langsung berbaring di tempat tidur. Dan bilang, "Haaaaah, capek." (*pake nada seperti kalo saya habis ngerjain tugas rumah dari pagi sampai sore*) hahaha, ditiru dech sama anak sendiri.

Oiya, yang bikin saya senang melihat-lihat hasil gambarnya adalah setiap Dhia menggambar orang, pasti wajahnya sedang tersenyum. Semoga memang, Dhia selalu senang dan bahagia menjalani kehidupannya.

Pertama kali bisa gambar orang
Trus ..trus.. Dhia juga suka menggambar pelangi. Dari sekian ratus lembar gambar-gambarnya, sering sekali menggambar pelangi. Saya jadi pengen tahu nich, apakah hasil gambar seorang anak mewakili perasaannya. Karena saya pernah lihat di drama korea (* -_- *), anak yang sedang bersedih akan menggambar sesuatu yang menyedihkan pula. :( :(  Contohnya anaknya Ibu Sun di Misaeng.

Pelangi dan senyum

Oiya, pernah denger nggak ?? "Pelajaran" mewarnai di TK atau PAUD itu kurang baik untuk anak usia dini. Katanya, karena mewarnai "membelenggu" imaginasi sang anak.
Kalau menurutku bukan mewarnainya yang membatasi imajinasi anak. Tapi kata-kata kita yang membatasinya. Misalnya, dengan mengatakan : "Lho, kok pohonnya merah, pohon harusnya warnanya coklat untuk batang dan hijau untuk daunnya." atau "Rambut harusnya berwarna hitam, dong." dan semacamnya. Walaupun dikatakan dengan nada yang lembut.
Jadi bagusnya (*mulai dech sok tau*) itu kalau mewarnai hasil gambarnya sendiri.

Saya sering bertanya, kenapa daunnya diwarnain merah. Jawabnya, "Itu, kayak yang di Tinker Bell." Owh, maksudnya sedang musim gugur.

Banyak banget dech gambarnya. Jadi di postingan saya bikin buat menyimpan gambar Dhia yang belum kebuang karena baru kemarin menggambarnya. Kebanyakan, kertas-kertas hvs dan buku tulis yang telah dicorat-coret itu akan terbuang begitu saja. Sayang, saya nggak kepikiran dari dulu untuk memotretnya.

gambar terbaru, masih anget :D
Selalu ada pelangi ^_^



Sebenarnya masih buanyaak lagi yang ada pelanginya, tapi udah kebuang

 Nanti, besok-besok kalau Dhia nggambar kemudian diwarnai, akan saya aplot lagi di postingan ini.

03 December 2014

Masa Penuh Keajaiban

Menjadi ibu di usia muda itu, seperti gadis kecil yang mendapat boneka baru. Itulah yang saya rasakan saat melahirkan anak pertama di usia 21 tahun. Saya seperti mendapat mainan baru. Saya timang-timang dalam gendongan, memandikannya, mengusapkan minyak telon dan bedak, memakaikan baju, dan mengajaknya jalan-jalan serta mengajaknya bicara. Persis saat dulu waktu saya kecil bermain boneka plastik.

Perasaan yang meletup-letup saat melihat "boneka" itu mengedipkan mata, tersenyum, menangis, mengompol dan bertambah besar... itu suatu miracle. Huhuhu, ketika hati berdebar dengan keajaiban-keajaiban itu, mata selalu sinkron menitikkan airnya. Sungguh sebuah kejadian yang tak cukup dideskripsikan dengan sejumlah kata.

new mom - baru melahirkan anak pertama :)

Waktu begitu cepat berlalu. Keajaiban demi keajaiban tak luput dari pengamatan saya. Saat melihatnya mulai memiringkan badan.

Rasanya ingin sekali ibu membantumu, nak. Tapi ibu biarkan sampai badanmu benar-benar bisa tengkurap dengan tenagamu sendiri karena itu tandanya dadamu sudah kuat menahan tekanan berat badanmu.



Begitu juga saat anak saya bisa merayap, ngesot, dan merangkak seperti tidak ada capeknya. Teruuus aja merangkak dari sudut ruangan ke sudut yang lain. Rumah yang hanya sepetak, waktu itu bisa dijelajahi sampai ke kolong tempat tidur. Saat malam tiba, saya pasti memijat lembut kaki dan seluruh tubuhnya yang seharian telah "bekerja keras". Ibu mana yang nggak meleleh melihat buah hatinya tidur pulas. Menatapnya bagai menatap syurga, begitu tentram dan damai. ;') Benar begitu, khan Bunda??
Subhanallah...

Pun saat anak belajar berjalan. Genggaman tangannya sangat kuat. Dengan terhuyung-guyung dan kadang terjatuh karena lepas pegangan,  Ia mengajarkan kepada saya, bahwa belajar (menjalani hidup) itu ada saatnya terjatuh, ada saatnya luka dan menangis. Tapi belajar tidaklah berhenti sampai di situ agar menjadi bisa.

Masa dibawah satu tahun sudah terlewati. Sekarang putri kecilku sudah bukan balita lagi.

"Dhia sekarang sudah besar, sudah enam tahun. Nanti kalau besar mau jadi dokter." celoteh putri saya.

Seketika saya menyadari, waktu ini sangatlah berharga. Saat-saat menemaninya tumbuh, adalah saat-saat saya belajar darinya.