Aku Tidak Hilang, Aku Hanya Sedang Menjalani Hidup
Ada masa ketika aku begitu rajin menulis.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, banyak kejadian yang ingin kusimpan dalam kata-kata. Tentang anak-anak, tentang rumah, tentang menjadi seorang ibu, tentang kerjaanku kini, tentang hal-hal kecil yang sering kali terasa sederhana tetapi ternyata meninggalkan banyak makna.
Lalu sejak aku mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, aku seperti enggan membagikan kisah hidupku yang dulu kusenangi. aku berhenti update blog ini, karena aku menjalani "kehidupan nyata" ku.
Tulisan terakhirku di blog ini adalah di akhir 2025. Setelah itu, halaman ini seperti ikut tenggelam dalam kesedihan bersamaku.
Padahal hidup tidak pernah benar-benar berhenti
Hai, aku Uwien.
Seorang ibu dari empat anak.
Dua di antaranya sudah remaja—anak-anak Gen Z yang perlahan mulai punya dunianya sendiri. Mereka mulai punya pemikiran sendiri, pilihan sendiri, teman-teman sendiri, dan tentu saja… mulai tidak selalu membutuhkan ibunya seperti dulu.
Dua lainnya adalah anak Gen Alpha.
Satu berusia 8 tahun, sedang berada di usia ketika rasa ingin tahu begitu besar dan dunia terasa seperti tempat yang penuh hal baru. Dan satu lagi masih berusia 3 tahun. Masih kecil. Masih banyak meminta digendong. Masih sering mencari ibunya. Masih berada di fase ketika satu rumah bisa mendadak ramai hanya karena satu anak kecil sedang punya keinginan yang sangat penting menurut dunianya.
Empat anak.
Empat fase kehidupan.
Empat cara berbeda untuk menjadi ibu.
Dan di tengah semua itu, ada aku.
Uwien.
Seorang ibu yang ternyata juga sedang belajar menjadi dirinya sendiri.
Mungkin itu alasan kenapa aku berhenti menulis. Bukan karena aku tidak punya cerita. Justru mungkin karena terlalu banyak cerita.
Hari-hari berjalan begitu cepat. Ada urusan anak-anak, rumah, pekerjaan, keluarga, aktivitas, percakapan-percakapan kecil yang kadang baru terasa penting ketika hari sudah selesai.
Ada hari-hari ketika aku ingin menulis, tetapi tubuh lebih dulu meminta istirahat.
Ada hari ketika sebuah kejadian terasa begitu menarik untuk dituliskan, tetapi kemudian berlalu begitu saja karena ada banyak hal lain yang harus dikerjakan.
Dan akhirnya aku berpikir,
“Nanti saja.”
Nanti ketika lebih senggang.
Nanti ketika pikiran lebih tenang.
Nanti ketika punya waktu untuk menulis dengan baik.
Ternyata “nanti” bisa menjadi sangat panjang.
Tahun 2026 sudah berjalan cukup jauh.
Dan aku baru menyadari sesuatu.
Aku tidak kehilangan keinginan untuk menulis.
Aku hanya sedang menjalani hidup.
Menjalani hari-hari sebagai ibu dari empat anak dengan segala riuhnya.
Aku masih menulis di instagram dengan tulisan-tulisan pendek. Aku masih menulis di buku jurnal ku. Dan aku masih MENULIS UNTUK DIRIKU SENDIRI di suatu tempat yang hanya aku dan Allah saja yang tahu.
Menjadi ibu bagi anak-anak yang punya dunia mereka sendiri, sambil di saat yang sama masih menjadi tempat pulang bagi anak-anak yang begitu kecil dan membutuhkan banyak hal dariku. Ada momen ketika aku merasa sedang berdiri di tengah dua dunia.
Di satu sisi, ada anak-anak yang mulai besar dan mengajarkanku tentang melepaskan. Di sisi lain, ada anak-anak kecil yang masih mengajarkanku tentang memeluk, menemani, mengulang hal yang sama berkali-kali, dan menikmati hal-hal sederhana.
Jujur ini nggak mudah.
Dan mungkin di antara semua itu, aku juga sedang belajar sesuatu tentang diriku sendiri. Tentang menjadi perempuan. Tentang menjadi ibu. Tentang waktu. Tentang perubahan. Tentang menerima bahwa tidak semua fase hidup harus berjalan sesuai rencana.
Dulu aku mungkin mengira menulis harus dilakukan ketika punya sesuatu yang besar untuk diceritakan.
Harus ada perjalanan.
Harus ada pengalaman menarik.
Harus ada pelajaran penting.
Harus ada tulisan yang cukup bagus untuk dibaca orang.
Sekarang aku mulai berpikir berbeda.
Mungkin menulis tidak selalu harus tentang sesuatu yang besar.
Mungkin menulis bisa tentang secangkir kopi yang diminum dalam keadaan dingin karena lupa.
Tentang anak yang tiba-tiba memeluk.
Tentang percakapan dengan anak remaja yang membuat kita berpikir sepanjang malam.
Tentang rumah yang berantakan tetapi terasa hidup.
Tentang rasa lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Tentang menjadi ibu yang kadang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi di lain waktu juga sama bingungnya dengan anak-anaknya.
Tentang aku.
Tentang kita.
Tentang hidup yang sebenarnya sedang kita jalani.
Jadi, kalau hari ini aku kembali menulis di blog ini, aku tidak ingin menyebutnya sebagai sebuah comeback besar. Aku juga tidak ingin berjanji bahwa setelah ini aku akan selalu rajin menulis. Aku hanya ingin kembali. Kembali ke tempat di mana dulu aku menyimpan banyak cerita.
Kembali menulis apa yang mungkin terlalu kecil untuk menjadi berita, tetapi terlalu berarti untuk dilupakan. Kembali mencatat perjalanan menjadi ibu dari empat anak. Kembali bercerita tentang dua anak remaja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.
Tentang dua anak kecil yang masih begitu dekat dengan dunia masa kanak-kanak. Dan tentang seorang ibu yang ternyata masih terus belajar menjadi dirinya sendiri.
Mungkin selama ini aku berpikir bahwa aku berhenti menulis. Padahal mungkin aku hanya sedang mengumpulkan cerita.
Cerita yang belum selesai. Cerita yang masih berjalan. Cerita tentang kami. Cerita tentang aku.
Jadi, hai.
Aku Uwien.
Ibu dari empat anak.
Blogger yang sempat lama tidak menulis.
Dan hari ini, aku ingin menulis lagi.
Bukan karena hidupku sudah lebih tenang. Bukan karena akhirnya aku punya banyak waktu.
Tetapi karena aku mulai sadar—
hidup yang sedang kujalani ini ternyata layak untuk dicatat.
Dan mungkin, tulisan ini adalah halaman pertama dari perjalanan itu lagi.



