1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

13 June 2015

Belajar Membuat Roti Panggang

Mau cerita waktu Dhia lagi belajar bikin roti panggang, ah.

Jadi, Dhia tuh sekarang udah mulai-mulai penasaran sama urusan dapur. Tiap kali saya mau masak pasti ngintilin aja. Nanya ini itu. Kadang bikin pernyataan 'aneh' :

"Mi..., Dhia bisa , kok."

Aku tahu maksudnya pengen motong-motongin tahu kuning yang mau kumasak. Saya pura-puranya nggak paham apa yang Dhia maksud. Dhia masih bilang gitu aja berkali-kali. Ya sudah saya kasihkan pisaunya. 

"Pegang pisaunya hati-hati, ya Iya;. Tajam. Kalau kena jarimu bisa berdarah."

Bener nggak ya pernyataanku ini? Entahlah. Tapi untunglah Dhia nggak parno duluan. Nggak langsung naruh pisaunya kembali. Justru malah semangat motong-motongin tahu setelah mengiyakan kata-kataku.

Terus pagi ini (sebenernya udah beberapa hari yang lalu sih, tapi nulisnya baru hari ini) ceritanya mau sarapan sama roti panggang. 
Ada persediaan roti tawar, mentega, coklat meses. Seperti yang sudah diduga, Dhia juga mau ikut nimbrung oles-oles dan tabur-tabur.
Oh well biar saja Dhia yang lakukan. Sementara saya nyiapain yang lain. 

Ceritanya ini Dhia yang ngoles-oles+naburin. Hehe, saya satu yang paling kanan. Yang lainnya Dhia sama Akram. 

Aku tuh sebenernya masih merasa takut-takut gitu. Ya gimana ya, oven kan panas kalo udah dinyalain. Tapi, anaknya pengen belajar.

Setelah roti beres dioles mentega dan ditabur meses. Kemudian masuk-masukin, Mbaaaak.

Abaikan oven yang dibersihinnya setahun sekali itu. Gosong sana-sini :D

"Perhatikan, ya Iya'." Dhia memperhatikan angka baik-baik. Aku meneruskan instruksiku. 
"Puter di sini. Pas in di angka ini. Baru nyalain." 

Nyeklekkin sendiri. Ini pertama kali. Kloter keduanya udah bisa sendiri.

Atur di 150 derajat. Waktunya 15 menit. Pemanasan atas bawah. Setelah bunyi "Thiiing!" pengen buru-buru mbuka ocen dan ngambil roti panggangnya.
Saya masih khawatir, soalnya panas. Sedangkan sarung tangan anti panasnya entah kemana (Akibat naro dimana aja.) 


Lho kok cuma tiga?

Tenang, setelah ini masih bikin lagi kok. Sampai 3 kali malah. :)))

Sudah mulai tahun kemarin sebenernya saya ngasih "cooking class" untuk krucils saya. Tapi nggak semua diabadikan memang. Cuman beberapa aja yang keliatan 'jadi'. wkwkwk 

*Pencitraan banget!*


Kenapa Dhia penasaran?

Jadi setiap saya masak, kalau saya lagi butuh piring, mangkok, sendok, dll saya sering minta tolong Dhia buat ngambilin. Walaupun lagi main, mau aja kalo disuruh-suruh.
Duuuh, nurut banget sih anakku. ( muji anak sendiri )

Kalau ditanya manfaatnya apa ngasih 'pelajaran' memasak. Bagiku, itu diperlukan agar Dhia nya ngerti caranya bikin sesuatu. Seperti yang ibu saya ajarkan dulu. Agar anaknya nggak manja.

Itu.

Cimahi, 13 June 2015 pkl 1:39 WIB di pagi yang menggigil.


4 comments:

  1. Wahhh. Dhia hebat dah mau mengerjakan semua sendiri Mbak. Belajar yang banyak buat masak Dhia. Jadi chef nanti

    ReplyDelete
  2. Waaa rajinnya. Mesesnya itu banyak amat, aku mau :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang senengnya buanyak banget ngasih mesesnya

      Delete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)