Showing posts with label Cerita Akram. Show all posts
Showing posts with label Cerita Akram. Show all posts

10 July 2018

Membimbing Anak Laki-Laki Agar Bisa jadi Imam Shalat

Assalaamu'alaikum, dear friends.. :)
Berharap teman semua dalam keadaan sehat lahir batin.

Akhir-akhir ini saya jarang cerita anak ke 1&2. Sibuk. Riweuh iya. Lebih memprioritaskan bayi daripada lainnya. Meskipun begitu, syukur Alhamdulillah Dhia&Akram tetap sayang sama adiknya. Mereka nggak cemburu. Ajaib emang sih.

Ngomong-ngomong udah lama nggak curhat nih. Kali ini kembali mau mengabadikan moment tumbuh kembang anak-anak. Dimana Akram sekarang sudah bisa jadi imam sholat. huhuhu

Usianya 6 tahun. Bisa ngimami embaknya walau kadang masih nolah-noleh. Walaupun setiap waktu sholat, saya jadi alarm bagi Dhia&Akram. "Ayo, udah adzan. Sholat dulu sana!"
Kadang masih merengek nawar raka'at sholat.
"Akram, ayo sholat dulu. Dhuhur 4 raka'at ya."
" Kok empat? Akram maunya 3."
"Tiga itu kalau Maghrib."
Walaupun cemberut namun tetap dikerjakan. Walaupun lamaaa namun tetap dikerjakan. Walaupun baju Akram basah kuyup setelah berwudhu, ibunya tetap bisa tersenyum karena ada mesin cuci. ;p

Sekali dua kali mereka nggak berangkat juga ke kamar mandi (untuk mengambil wudlu), mulut saya gak akan berhenti mengatakan hal yang sama : "Mbak, Mas, ayo sholat dulu. Mainnya bisa diterusin lagi nanti setelah sholat."

Entah mengapa, kemampuan berbicara saya meningkat setelah beranak 3 (baca: lebih cerewet) lol. Saya seperti enggak pernah capek mengomel. (((Ingat! Wanita selalu benar.)))

Saya kadang suka terharu sendiri. Subhanallah anak lanangku sudah bisa jadi imam shalat untuk kakak perempuannya. Kalau diingat-ingat, entah berapa kali saya selalu menyuruh mereka mengerjakan sholat. Banyak! Kadang sehari full 5x. Kadang ( eh sering ) ada juga bolong-bolongnya. Emak satu ini emang belum bisa setiap hari konsisten. Ampuni ya Allah.

Semua ini enggak instant. Ada proses. Ada usaha. Ada do'a.

Saya nggak pandai menulis tips. Saya hanya mau mencatatnya di sini agar saya nggak lupa aja.

1. Membimbing anak menghafal bacaan sholat.

Yang saya lakukan : hanya mengucapkan dengan suara keras bacaan sholat.
Awalnya enggak hafal. Semakin sering mengucapkan, Akram akan terbiasa mendengar. Otomatis akan hafal dengan sendirinya.
Saat gerakan rukuk dan sujud pun dibaca dengan suara keras.

2. Sambil mengajari bacaan sholat, saya kasih tau juga gerakan yang benar.

Bagaimana posisi tangan saat takbir. Bagaimana posisi ruku dan sujud. Bagaimana posisi kaki saat duduk diantara dua sujud dan tasyahud awal&akhir. Dan sebagainya.

Ada proses. Gak hanya sebulan dua bulan. Bertahun-tahun. Diawali dengan mengikutkan anak-anak saat saya dan Abudi shalat berjamaah (yang lebih banyak mainnya) hingga mengajari menghafal bacaan shalat.

Buah dari ikhtiar itu, sekarang, mengingatkan Dhia&Akram untuk sholat berjama'ah terasa lebih ringan. Dan mereka bisa sholat sendiri (tanpa saya).

Q : Dhia&Akram sholatnya rajin nggak? Apakah masih bolong-bolong?
A : Kadang sehari sholat full, kalo lagi rajin. Seringnya cuma 4 waktu. Ibunya lembek banget. Sering Kurang tega membangunkan mereka di subuh hari. hiks

Q : Apakah mereka selalu manis dan menurut?
A : Enggak! Kadang mereka nggak mau nurut saat diingatkan untuk sholat. Kadang ngambek (karena saya terus ngomong 'ayo buruan sholat dulu') dan berakhir dengan ngumpetnya anak-anak di lemari pakaian atau krukupan selimut, nangis.

baca juga : Agar si Kakak Tidak Cemburu dengan Kehadiran Adik

MasyaAllah..  Bertambah satu ceklis ini : membimbing Akram agar bisa jadi imam sholat.
Bersamaan dengan megajari jadi imam sholat, berdampingan dengan kemampuan yang lain yaitu:
- anak bisa bersuci ( cebok, mandi,wudhu ). Ini juga harus istiqomah/konsisten mengecek cara anak-anak ber-taharah/bersuci.
- anak telah mengenal aurat (laki&perempuan). Selalu mengingatkan malu kalau kelihatan alat kelaminnya sama orang lain selain orang tua. Malu dilihat jika gak pakai baju walaupun sama saudara kandung. Enggak boleh mandi bareng karena sudah besar ( 6 dan 9 tahun). mandi harus gantian.
- Akram bisa adzan&iqamat. Adzan belum benar semua, masih 75% an . Iqamat 95 % sudah benar lancar dan pelafalannya sudah hampir sempurna.

Dan yang paling susah ceklisnya adalah ISTIQOMAH, konsisten.

Mengawali itu mudah. Yang berat itu istiqomah.

16 May 2016

Asyiknya Bermain Permainan Baru dari Indomilk


“ Kekuataaaan api… ciyaaatt! Kekuataaan tanaaah…!” tiba-tiba Akram (4) berseru sembari  kaki memasang kuda-kuda serta tangan menjurus ke depan. Saya intip dari dapur (saat itu saya tengah memasak). Ternyata dia sedang menonton televisi. Nonton Boboboy yang tayang di salah satu stasiun TV swasta.

Ada yang belum kenal sama Boboboy? Ini lho seperti ini. Salah satu dari sepuluh tokoh animasi/kartun favorit anak-anak Indonesia.

Gaya Akram menirukan aksi BoboiBoy

Akram excited banget waktu saya bilang ke dia kalau hari Kamis nanti mau saya ajak main dan melihat kartun/animasi yang dia suka.

“Dhia diajak nggak, Mi?” kakaknya  yang mendengar pembicaraan kami ikut nimbrung.

“Dhia ,kan sekolah. Jadi kali ini nggak bisa ikut dulu nggak apa-apa , ya Dhia’.” Dhia mengatupkan bibirnya, tapi tidak membantah.
“Nggak apa-apa, Umi.”
~~~ah Dhia ;') 

Jadilah Kamis, 31 Maret saya berangkat berdua  (setelah mengantar Dhia ke sekolah). Saya tidak lupa bilang ke Bu Gurunya, bahwa saya akan terlambat menjemput Dhia. Saya minta ijin agar Dhia boleh bermain dulu di sekolah sampai jam setengah satu. (Acara ini sampai pukul 12. Dhia pulang jam 12. Sementara perjalanan dari tempat acara ke sekolah Dhia kurang lebih setengah sampai satu jam).

***

Acara launching Papan Permainan Indomilk BoboiBoy berjalan lancar dan seru. Acara ini, setidaknya bagi saya, layaknya playdate karena beberapa teman yang hadir membawa serta anaknya. Anak-anak dibolehkan menjajal bermain Papan Permainan tersebut.

Ada tawa dan keriaan di wajah anak-anak. Saat ibunya menyimak informasi dari PT Indolakta dan psikolog anak -Saskhya Aulia Prima, anak-anak berkumpul dan bermain bersama. Ada yang asyik berbincang, mewarnai  dan main gadget bareng.

Sampai di rumah, Akram masih saja teringat tadi ngapain aja di sana. Dia pun bercerita kepada sang Kakak. Si Kakak dengan antusias mendengarkan ceritanya. 
Si adik menunjukkan apa yang dibawanya sepulang dari ‘bermain bareng BoboiBoy’. Dikeluarkan dari tas sebuah kertas berwarna biru, sekotak besar susu, dan dua kotak sedang susu. Untuknya sendiri dan satunya ia berikan kepada kakaknya.

Si adik terus saja melanjutkan ceritanya, diulang dan diulang entah berapa kali. Hahaha. Si kakak masih saja sabar mendengarkan. :')

Beberapa hari kemudian, kami pergi ke sebuah swalayan untuk berlanja bulanan. Akram masih teringat kalau ia mau membeli susu kotak bergambar BoboiBoy agar bisa bermain hal yang ia mainkan saat ‘Bermain Bersama BoboiBoy’. 

“Yang banyaaaak, Mi!” tegasnya.

Iya, Papan Permainan ini bisa dimainkan dengan kartu karakter yang bisa didapat di kemasan kecil dan sedang susu UHT Indomilk edisi BoboiBoy.

Borooong!!! Hahaha


Di rumah….
“Ayok.. Ayok..Kita minum susunya, yuk.” Kakak Dhia berinisiatif.

Lalu diguntingnya kotak susu itu setelah habis diseruput.

Dua hari kemudian, 10 karakter  berbeda sudah didapatkan. Mereka sudah bias memulai memainkannya. Yeaaa!

Gimana, sih caranya bermain permainan ini?
Syaratnya :
Pertama, harus ada papan permainannya. Bisa didownload di website www.indomilk.com kemudian diprint.
Kedua, harus ada minimal 10 kartu karakter. Boleh sama atau beda. Kartunya bisa didapat di kemasan susu kotak indomilk kemasan kecil dan sedang. Kumpulkan ke24 karakternya.
Ketiga, harus ada minimal 2 anak yang bermain.

Caranya simple banget , untuk anak-anak juga mudah dimengerti. Dhia dan Akram sudah bermain ini. Mereka suka.

Dalam bermain permainan ini, mereka belajar memikirkan strategi, sehingga melatih daya pikirnya (kognitif). Mereka berinteraksi dengan temannya saat bermain (sosial). Permainan ini juga untuk menyeimbangkan permainan di gadget dengan permainan nyata. Serta melatih emosionalnya. Saat bersuit, ada saatnya menang, ada pula saatnya kalah.



Sampai tulisan ini ditayangkan, Dhia dan Akram masih suka bermain bersama melalui papan permainan BoboiBoy, loh.

Ngomong-ngomong, papan permainan ini sangat gampang lecek. Lebih baik dilaminating , sih. Atau ngeprintnya lebih banyak aja. Kalau lecek langsung bisa ganti.


Uwien,
Salam cinta dari yang rumahnya nggak pernah rapi. >_<


26 April 2016

Main Hujan-Hujanan, Yes or No?

main hujan-hujanan
Main hujan-hujanan, yes or no? Dengan melihat foto di atas sudah dipastikan saya menjawab YES.

Main hujan-hujanan bagi seorang anak itu sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan. Saya masih inget banget waktu saya masih kecil ( usia SD ). Main hujan-hujanan menjadi salah satu kegiatan favorit. Hal ini menjadi Joy Memory yang sampai sekarang masih tersimpan dalam otak saya. Saya masih ingat betul bagaimana tetesan-tetesan air hujan membasahi sekujur tubuh.

Sayangnya, dulu, ibu saya selalu memarahi saya ketika beliau tahu saya main hujan-hujanan. Pulang-pulang dalam keadaan basah kuyup. Walaupun selalu dimarahi habis hujan-hujanan, saya nggak kapok dan melakukannya lagi dan lagi.

Sekarang, saat saya sudah menjadi ibu, masa iya saya nggak mengijinkan mereka merasakan senangnya main hujan?

" Ibu yang konyol. Nanti anaknya sakit lhoh. Kasian anaknya, main hujan-hujanan kok dibiarin. Awas masuk angin. Nanti batuk pilek loh. "
Saat saya menemani anak saya main hujan, ada saja komentar tetangga seperti itu. Pun saat saya mengunggah fotonya si sosmed. Pasti ada lah orang tua yang mbatin dan nggak sepaham dengan saya. Dan saya menghargai itu. :)

Kalau saya dibilang saya ibu yang konyol, saya memang konyol, hihihi.... Terkadang apa yang saya lakukan dalam mengasuh anak memang tidak mainstream seperti orang tua lainnya. Ya salah satunya main hujan-hujanan ini. :)
Kalau dibilang kasihan anaknya, nanti sakit. Saya kembali lagi ke memori masa kecil saya dimana main hujan-hujanan itu sesuatu yang seru dan menyenangkan. Anak saya juga minta dengan sopan bahwa dia ingin main hujan-hujanan. Sekiranya saya tidak mengijinkan, mereka tidak lantas merengek atau menangis.
Gak takut anaknya sakit. Siapa sih orang tua yang mau anaknya sakit. Walaupun "cuma" masuk angin atau batuk pilek, saya yakin tak ada satu orang tuapun yang pengen anaknya sakit.
Main hujan-hujanan ini salah satu upaya agar anak saya "kebal" sama air hujan. Jadi saat nanti mereka kehujanan tidak lantas sakit.

Main hujan-hujanan juga ada prosedurnya. Ada S&K-nya.
Saya membolehkan anak-anak main hujan-hujanan dengan catatan :

- Anak-anak sedang dalam kondisi fit, tidak habis sakit.
Jangan sampai anak baru sembuh dari demam misalnya, diperbolehkan main hujan-hujanan.

- Hujan yang tidak disertai petir dan angin.

- Hujan lebat, bukan gerimis yang rintik-rintik.
Hujan lebat lebih asyik dari pada gerimis. Percaya nggak percaya, air hujan bisa menjadi terapi kesehatan buat tubuh (ini teori ngasal saya sih).

- Tidak terlalu lama. 10 - 15 menit cukup.
Jangan sampai jari anak mengeriput, dan bibirnya membiru.

- Tidak terlalu sering.
Apalagi yang tinggal di kawasan industri atau daerah yang tingkat polusi udaranya sangat tinggi. Karena hujan di kawasan ini merupakan hujan asam yang tidak bagus (bukan cuma untuk manusia) untuk kehidupan hayati.
Akram yang di musim penghujan tahun ini berusia 3 tahun lebih, main hujan-hujanannya juga masih bisa dihitung pake jari.

- Setelah selesai main hujan-hujanan, langsung mandiin anak. Guyur seluruh badan dengan air dingin atau air hangat kuku. Kalau pakai air hangat yang mendekati panas, nanti justru akan merasa dingin.  Keramas dan sabunin sampai bersih.

- Setelah mandi, baluri seluruh tubuh anak dengan minyak kayu putih.
Pakaikan pakaian yang hangat. Minumkan minuman hangat. Kalau di kotak obat ada persediaan, berikan madu+air hangat. Kalau perlu minum tolak angin untuk anak.

Main hujan-hujanan itu nggak bikin sakit kok asal benar cara dan penanganannya. (((benar cara dan penanganannya)))

Salam dari Cimahi yang akhir-akhir ini kalau siang selalu hujan.

23 February 2016

6 Barang yang Harus Dibawa Saat Mengajak Balita ke Acara Sekolah

Besok sekolah Dhia ada acara outing atau program sekolah yang mengambil tempat di luar lingkungan sekolah sebagai tempat belajar. Ini bukan pertama kalinya sekolah Dhia ngadain outing. Sebelum-sebelumya udah pernah.

Outing kali ini bertemakan Polisi Sahabat Anak ( PSA ) jadi kita akan pergi ke Taman Lalu Lintas di Bandung. Terus, karna besok masih hari kerja, jadi Akram (3,5 tahun) mau nggak mau harus ikut juga. Gak mungkin kalau Abudi suruh ngasuh.

Biar outing besok tetap lancar, bahagia, dan bebas tantrum, ini 6 barang yang harus dibawa saat mengajak balita ke acara outing sekolah :

1. Baju Ganti
Gak ada yang tau kemungkinan yang terjadi. Jadi saya selalu bawa baju ganti kalau membawa Akram ke acara outing sekolah. Bisa aja si anak tiba-tiba ngompol, ini buat yang udah gak bawa-bawa WC(baca:diapers sekali pake alias penampung pipis) kemana-mana. Atau si anak tiba-tiba mabok darat dan muntah-muntah. Atau pas minum ketumpahan susu. dan lain-lain. Bisa repot kalo nggak bawa baju ganti.

2. Tissu Basah dan Kering
Terdengar sepele ya? Tapi pernah waktu kapan saya nggak bawa ini jadinya ngelap tangan kotornya, ngelap mulut yang belepotan, dan ngelap-ngelap yang lain pake kerudung. bwahaha... habisan nyari-nyari yang jualan tissu nggak ada. Yaudah kerudung merangkap lap deh. -__-

3. Kantong Kresek
Kresek kecil dan kresek gede. 
Buat apaaa???
Kresek kecil ini buat jaga-jaga barangkali si anak mabuk darat. Kalau nggak bawa kantong kresek sendiri, terus si anak muntah-muntah...kan jadi mengganggu yang lain. Inget ya..ini acara outing sekolah bukan pake mobil pribadi (biasanya nyarter angkot kalau jaraknya cuma Cimahi-Bandung mah).
Kresek besar, buat nyimpen sampah. Kalau di tempat outing susah nemu tempat sampah, kita bisa nyimpen sampah di kresek sampai ketemu dengan tong sampah. Jadi kan nggak mengotori tempat tersebut.
Lihat yang lainnya bebas membuang sampah dimanapun, ngapain susah-susah nyimpen sampah di kresek. Lah, mulai dari diri sendiri aja dulu ya. :) 

4. Obat-obatan
Umumnya sih obat-obatan P3K seperti minyak kayu putih buat masuk angin, obat memar kalau-kalau anak jatuh pas bermain, dan hansaplas untuk menutup luka.
Outing bareng anak-anak TK itu rawan banget lecet. Karena mereka seneng banget lari-larian. Apalagi di ajak ke alam terbuka gini. Beuuh, makin aja pecicilannya mencapai derajat tak dapat terhindarkan. Gak bisa dilarang, kasihan anaknya dong lihat yang lainnya puas bermain. Jadi kalau saya mending membawa P3K dari pada melarang anak ikut bermain karena takut lecet.

5. Makanan dan Minuman
Kalo nggak bawa "senjata" ini bisa-bisa anak tantrum karna laper dan haus. Mungkin ada yang berpikir : ah disana juga banyak yang jual makanan dan minuman, ntar beli aja di tempat.
Tapi sebaiknya bawa beberapa dari rumah. Jadi sewaktu-waktu anak balita minta minum dan ngemil langsung bisa keluarin dari tas. Dan tentu saja harga ditempat outing biasanya lebih mahal.
Kalau anak masih ngedot, jangan sampai ketinggalan dotnya atau susunya. Bisa berabe, cyin.

Terus yang ke 6. Bawa bekal uang yang cukup.
Ini sih udah pasti atuuuh.
Di tempat rekreasi pasti banyak barang-barang yang menarik perhatian si adek ataupun kakaknya. Bekal uang yang cukup untuk jaga-jaga aja sih ( kalau anaknya lempeung seperti anak saya. Kalau saya bilang nggak beli, ya mereka mau nurut tanpa mengeluarkan tangisan dan tantrum.)

Itu sih yang biasa saya bawa kalau ngajak balita keluar. Nyiapinnya juga dari sehari sebelumnya biar nggak riweuh di pagi harinya.

Punya pengalaman serupa? sharing yuk!

27 May 2015

Berdua Saja

Apapun yang terjadi harus tetap disyukuri. Karena pasti ada kebaikan di dalamnya.
~uwien


Mungkin, saya termasuk yang kurang beruntung dalam mendapatkan lingkungan untuk kedua anak saya ini. Di tempat saya tinggal bukan sebuah komplek perumahan padat penduduk, termasuk jauh sama tetangga, dan deket jalan raya. Jalannya pas tanjakan yang "aduhai" jadi motor atau mobil pada ngebut kalo lewat sini -kuatir nggak kuat nanjaknya.

Sejak pindah ke sini lebih dari setahun yang lalu, tetangga yang saya kenal cuma warungnya Teteh. Saya mah sering ngobrol kalau beli jajan di warung. Eh, ada juga ding tetangga yang pernah berinteraksi sama saya, tapi nggak banyak. Kebangetan ya? :(

Saya : "Teh, kalau di sekitar sini, dimana ya yang banyak anak-anak main di luar? Kok saya kalau jalan-jalan jarang melihat anak kecil main di luar."

Teteh : " Iya, mbak. Di sini emang anak-anak kecilnya pada nggak pernah main di luar. Kebanyakan pada di dalem rumah aja."

Saya : "Oh, pantesan."

Teteh : " Coba jalan ke atas sana , mbak. ( daerah pegunungan jadi ada atas dan ada bawah , lol ) Di daerah SMK belakangnya lagi, di situ banyak anak suka pada main di luar pagi sama sore hari."

Dan sampai seminggu kemudian saya belum juga ngikutin saran dari Teteh.... *krik krik krik*

Sebagai ibu saya melihat Dhia mulai agak jenuh karena nggak ada temen main sebayanya. Bayangin deh, se-ta-hun. Walaupun kalau akhir pekan saya ajak main di luar atau berkunjung ke rumah teman yang punya anak sebayanya, tapi berbeda kalau sehari-hari bisa main sama temannya. Bener nggak? Makanya tahun ini Dhia mau saya masukkan ke sekolah TK. Biar punya teman baru.

Karena itulah, jadi sehari-hari Dhia dan Akram mainnya cuma berdua saja. Ambil positifnya aja kalau udah kayak gini mah. Mereka jadi akrab banget, kakaknya menyayangi adek, dan adek juga menyayangi kakak walaupun adek sering jail sama kakanya.

Saya sering ngambil foto, moment-moment dimana mereka sangat akrab saat bermain berdua. Kalau pas lagi berantem, ya berantem layaknya saudara pada umumnya. hehehe

Membaca buku berdua

main gadget
main dandan-dandanan
Kalau lagi main dandan-dandanan gini, saya yang lihat jadi ngikik-ngikik sendiri juga. Soalnya anak laki-laki sejati nggak suka bermain permainan cewek. Tapi bersedia nemenin kakaknya juga walaupun mungkin sebenernya frustasi. hahaha 
:) :) :)
Saya sering terharu sendiri lihat Dhia kalau saya lagi mengerjakan hal lain, Dhia mau membantu adiknya seperti ketika saya sedang nyetrika baju, Dhia mau memakaikan baju Akram, atau mengambilkan air dari dispenser, dll.
( Memang ya? Katanya rata-rata kalau yang kakaknya perempuan lebih bisa ngemong adiknya.)


Dhia membantu adiknya mengancing baju.

Ah baiklah, biarpun jarang main bareng teman sebayanya, saya masih berharap nanti kalau sudah sekolah Dhia punya banyak teman dan bergaul dengan baik dengan sesama.

02 February 2015

Acara Minum Teh dan Eksperimen

Pagi ini, Akram bangun lebih awal dari Mbaknya. Belum cuci muka dan apa-apa langsung bilang dengan suara yang belum fasih minta teh manis.

" I-num... Nteh... Anyis "

Saya mbatin, Akram habis ngimpi tentang teh manis gitu? Biasanya begitu bangun minta minum air putih kemudian minta segelas susu plus biskuit.

Lalu saya nyolokin air (*nah lhoh apa maksudnya ini?) -maksudnya nyolokin dispenser. Sambil nungguin air panas, Akram minta saya untuk menyalakan tipi, ngak saya turutin. Kemudian nunjuk-nunjuk minta diambilin tablet yang saya taro di atas lemari, nggak saya turutin juga. Lalu ke meja komputer minta dinyalain, nggak juga saya turutin.
Karena nggak juga terkabul keinginannya, Akram ngebangunin Dhia dengan cara digabruk (bahasa Indonesianya apa ya? semacam ditindihin gitu lah). Akhirnya mbak Dhia bangun juga setelah guling-guling hampir ngambek karna diganggu tidurnya.

Dhia dan Akram mendekati saya, setiap bangun tidur pasti minta disayang-sayang (dipeluk; dicium; ditanya-tanya tidurnya nyenyak apa enggak, bla bla bla) #Ahaaaiy

Air di dispenser udah panas. saya pun ngeluarin nampan, dua buah gelas, gula, dan teh celup.

"Ayooo ke depan (maksudnya ke teras depan), kita bikin teh celup yuuk!!" kata saya.

Anak-anak ngintil saya di belakang. Kemudian duduk manis di dekat nampan.

Acara minum teh di pagi hari pun dimulai.

Mereka celup-celup bergembira
Gulanya dua sendok aja , ya Mbak Dhia.

Kemudian terjadilah drama, wekekeke

"Mencari biskuit yang hilang"


  Kebiasaan makan biskuit dicelupin ke susu/teh manis 

 Eksperimen dengan teh manis

Oiya, beberapa waktu yang lalu (nggak jelas kapan yang pasti sebelum sebelum 2015) Dhia juga sudah pernah bikin teh manis sendiri. Saya cuma membantu menyediakan air panasnya aja. Kalau sekarang Dhia sudah berani nuangin air panas ke dalam gelas sendiri.

Waktu bikin teh manis itu, Dhia nanya-nanya :

"Kok nggak manis, ya Mi?" --> "Karena belum dikasih gula, Ia"
"Waah, kalo udah dikasih gula jadi manis, Mi!" --> "Berarti, rasa gula apa? Manis"

"Mi, lihat! Sendoknya bengkok!" kata Dhia dengan mata berbinar. Kemudian berulang-ulang ia mengangkat sendok dari gelas lalu menyelupkannya lagi, angkat lagi, celupkan lagi. lalu tertawa cekikikan.

Dhia, itu namanya pembiasan (saya jelaskan apa adanya :D ). Lihat deh, sendoknya nggak bengkok kan kalau di luar gelas, tapi kalau dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air, kita melihatnya seolah-olah sendoknya bengkok/patah.

"Ooo, begitu ya Mi" Dhia manggut-manggut.

Lalu...

"Waaaaw... gede buangeet!!" Dhia memekik.

"Apanya, Ia'?"

Dhia meletakkan gelas berisi teh manis itu di depan matanya, lalu berkata, "Ummi keliatan gede banget. Tanganku juga!"

"Wah, iya. Gelasnya bisa jadi kaca pembesar. Coba yuk kita lihat barang-barang yang lain."

Lalu Dhia mengambil beberapa mainannya dan mengamati dari balik gelas kaca berisi air teh hingga akhirnya teh manisnya habis.

Jadi, dari hal-hal kecil yang kita temui sehari-hari bisa jadi bahan pembelajaran buat anak balita, ya Manteman.