Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

10 April 2017

#MemesonaItu Suami dan Ayah yang Perhatian


Suatu hari di bulan Mei 2009

Aku tengah hamil 8 bulan. Sesuai petunjuk dari dokter, usia 8 bulan seorang ibu hamil sebaiknya banyak berjalan kaki agar persalinan lancar. Jadi aku berjalan kaki setiap pagi selama kurang lebih setengah jam. Dengan perut yang besar dan susah payah menjaga keseimbangan, aku berjalan perlahan didampingi suami. Sesekali duduk di bangku di pinggir jalan, menghela nafas karena capek.  Suamiku yang dari tadi menuntunku, kini bercongkok di hadapanku. Meraih kakiku lalu memijat dengan lembut.

Saat itu aku sangat terpesona olehnya.

Malam pun tiba. Saatnya kami rehat dari perkerjaan yang menyita pikiran dan tenaga. Dalam sisa tenaganya, ia mengubah posisi tidur. Ia baringkan badannya di dekat kakiku. Ia raih kakiku lalu memijat lembut tumit dan telapak kakiku. Dengan sisa tenaga karena lelahnya mencari nafkah di siang hari, masih sempat memberikan perhatian seperti ini kepada istrinya yang tengah hamil tua.

Saat itu aku sangat terpesona olehnya.

Dia tidak pernah membiarkan istrinya yang sedang hamil kecapekan. Dia bangun lebih pagi untuk mencuci dan menjemur baju, menyapu dan mengepel lantai, juga  memasak untuk sarapan kami.
Saat itu aku sangat terpesona olehnya.

Saat aku menahan sakit karena kontraksi mau melahirkan, dia sepanjang waktu mendampingi, menjaga dan menguatkan aku. Memberi semangat dan juga pelukan hangat. Bahkan menemani di detik-detik buah hatinya keluar dari gua garba. Menyaksikan saya mengerang dan  berdarah-darah, membuat saya seperti tidak sendiri merasakan sakitnya melahirkan.

Saat itu aku sangat terpesona olehnya.

Sebulan pertama kehadiran bayi mungil, dia selalu menemaniku begadang karena si kecil tidak tidur sepanjang malam. Bergantian menjaga bayi sangat melelahkan, tapi ia lakukan agar istrinya tetap sehat. Berbulan-bulan pula dia tetap memperhatikan dan membantu saya. Membantu urusan domestic seperti mencuci dan memasak sudah tidak perlu ditanya lagi, dia suami yang rajin dan selalu membantu meringankan tugas istri. Sering mengajak jalan-jalan atau sekadar makan di luar agar aku tetap waras dan bahagia.

Saat itu aku sangat terpesona olehnya.

Begitu juga saat saya hamil-melahirkan anak kedua.

Oh…Bagaimana aku tak terpesona olehnya?

Kini, anak kami sudah 7 dan 4 tahun. Apa yang dilakukannya? Ia tetap menjadi suami yang memesona.

Setiap pagi, ia mengantar anak perempuannya berangkat ke sekolah. Setiap malam sepulang kerja, ia selalu menemani anak perempuannya mengerjakan PR dan belajar. Setiap malam, ia mendengarkan kedua anaknya berceloteh. Juga menemani anak laki-lakinya sampai tidur pulas. Dalam sisa tenaganya, ia selalu menyempatkan mendengarkan ceritaku. Curahan hatiku. Kami selalu membicarakan banyak hal sebelum tidur. Ia adalah teman ngobrol dan curhat yang paling asyik.

Oh… Bagaimana aku tak terpesona olehnya?

Di usia pernikahan kami yang memasuki 9 tahun, ia tetap menjadi suami yang memesona. Memesona bukan melulu soal fisik. Wajah yang rupawan, tentu saja memesona. Badan yang seksi dengan dada bidang dan perut sixpack tentu saja sangat memesona. Tapi buat apa semua itu jika tidak perhatian dan pengertian kepada istri?

Seorang suami yang memesona , adalah ia yang pengertian dan perhatian. Bukan hanya kata-katanya saja yang manis, tapi tindakan dan perilakunya sangat baik kepada istrinya. Itulah pesona sejati seorang suami di hadapan istri masing-masing.

Seorang ayah yang memesona, dia tidak melulu disibukkan dengan urusan pekerjaan dan mencari maisyah (nafkah) saja. Namun, ia juga ikut andil dalam memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknyalah pesona sejati seorang ayah. 

Jadi, #MemesonaItu adalah suami dan ayah yang perhatian, yang penuh kasih sayang.


18 March 2017

Saya Ibu yang Mengupload Foto Anak

"Saya ibu yang mengupload foto anak" 

Dengan meledaknya kasus kejahatan dan kekerasan pada anak baru-baru ini, membuat banyak orang tua yang sudah terlanjur memposting foto-foto anaknya merasa menyesal. Berbuntut dengan tindakan hapus satu demi satu foto anak yang sudah diupload di media sosial. (walaupun rasanya sayang banget, karena itu kenangan)

Himbauan dari lembaga perlindungan anak terus mengalir. Peringatan dari teman-teman pun sudah sering berseliweran di timeline. Niatnya baik, yaitu mengingatkan agar orang tua agar nggak kebablasan mengekspos anak sendiri. Ada dengan cara yang santun namun ada pula yang dengan marah-marah menjudge orang tua tidak sayang anak dan sebagainya. Ada pula yang mendoakan anaknya kenapa-napa baru tahu rasa. Oh My, kita abaikan dulu ya komentar yang bikin dada panas.

pixabay

Saya pun merasakannya. Jujur, saya sendiri sering upload foto anak-anak saya ke media sosial. Saya merasa baik-baik saja karena sebelum mengupload suatu foto, saya sudah pertimbangkan kepatutannya dan keamanannya.
- Setting privasi untuk teman tertentu saja.
- Tidak memposting foto anak sedang telanjang atau yang mempermalukan anak.
- Tidak menyebutkan secara detail alamat rumah. Termasuk nama dan alamat sekolah, nama tempat les.
- Tidak menyebutkan secara detail jadwal kegiatan anak secara publik. 
- Tidak perlu update banget/upload foto anak disaat kejadian di dunia nyata. Kalau saya memilih untuk menunda, misalnya fotonya sekarang, upload besok atau kapan-kapan.

Lalu begitu membaca kasus kejahatan seksual pada anak di dunia maya, saya merasa sebagai pendosa membaca tulisan seseorang yang dengan "nada" marah-marah kepada orang tua yang mengunggah foto anaknya ke media sosial. 
*ciee baper, curhat ya Wien?* Iya, saya kok merasa jadi horang tuwah yang sangat nista karena mengupload foto anak.

pixabay


Bagi orang tua yang menjadikan facebook seperti album foto anak-anak, akan sayang sekali jika harus menghapusnya. Karna tujuannya ya cuman itu tadi : menyimpan foto agar tidak hilang. Kalau disimpan di handphone atau laptop/komputer kan suatu saat bisa rusak atau hilang. Ini saya alami sendiri. Memory komputer 1 tera berisi semua foto kenangan yang jumlahnya ribuan, serta downloadan drama dan film yang mencapai beratus-ratus judul tiba-tiba rusak. Udah deh tamat. :( 
Ya kalau film masih bisa dicari atau download lagi. Lha kalau foto kenangan? kan nggak bisa mengulang ke jaman waktu kecil lagi. hiks hiks 
Jika diunggah di sosial media, kita bisa melihat lagi foto-foto kenangan jaman dulu. Bisa sih dengan alternatif lain yaitu upload di penyedia seperti drobbox dan google drive. Tapi ini gak semua orang paham cara penggunaannya. 

Kalau kita kaji lebih banyak, kejahatan seksusal pada anak tidak hanya terjadi baru-baru ini kok, namun dari dulu juga sudah ada. Karena sekarang ini pengguna sosial media sudah semakin banyak, maka untuk satu berita mudah sekali heboh, menjadi viral dan terblow up tak terkendali. Gemparlah negara api.

Untuk para orang tua yang tetap ingin mengupload foto-foto anaknya, lakukan beberapa hal ini yuk agar anak tetap aman.

1. Tinjau lagi pengaturan privasi di facebook.

Facebook telah menyediakan fitur pengaturan privasi lho. Manfaatkan itu untuk memilah siapa saja yang bisa melihat kiriman kita. Jangan semua kiriman disetting publik, karena semua orang termasuk yang nggak login facebook bisa melihat kiriman kita.
Jika sudah terlanjur banyak foto-foto kece si anak bahkan sudah menjadi albun foto keseharian anak, kan sayang banget ya kalau mau menghapus semua foto itu. Kalau saya sih nggak usah dihapus, cukup ubah privasi saja menjadi hanya saya atau teman dekat yang sudah kita pilih.

2. Pilah kategori teman

Ini juga sudah disediakan sama facebook. Bagi orang tua yang menjadikan facebook hanya untuk menjalin silaturahmi dengan teman lama, lebih baik tidak konfirmasi permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal. Berhati-hati karena sekarang banyak sekali akun-akun palsu.
Jika facebook dijadikan ladang menjemput rezeki, pasti di daftar teman banyak yang enggak kenal,  seperti akun saya. hehe

3. Membuat akun pribadi anak

Kalau album foto anak di facebook pengaturan privasinya sudah 'hanya saya', giliran di instagram nih. Kita bisa membuat akun sendiri khusus untuk mengupload foto anak di instagram, lalu digembok. Dan jangan izinkan siapapun follow selain keluarga sendiri (hanya ayah/ibu). Catet, jangan izinkan siapapun follow akun IG khusus anak kita walaupun itu teman yang sudah kenal di sosial media. Ingat! Teman masih bisa makan teman. (hihihi piiiss)
Jangan juga paman/bibinya karena dalam kasus pedhopil yang sedang heboh ini pelakunya adalah paman dan tetangga dekat.
Nah di akun ini kita bisa bebas mengupload foto anak sebanyak yang kita mau. Tapi tetap ingat amankan akun yaaa... karena akun media sosial bisa dihack atau diambil alih oleh orang-orang yang nggak bertanggung jawab jika password dan lain-lainnya nggak secure. Ganti password secara berkala, kalau bisa yang rumit. Mudah lupa password? tulis password di suatu tempat tapi jangan di handphone.

Saya pun bikin akun IG anak untuk menyalurkan hasrat upload foto anak yang menggebu-gebu. Yang punya anak kecil mungkin memahami ini, lucu dikit - cekrek - upload. Perasaannya hampir sama dengan penggemar Kpop/Kdrama yang pengen setiap saat nge-ship bias. (Abaikan kalimat terakhir, cuma penggemar drakor yang tahu XD )


25 August 2016

Saya Pejuang ASI Eksklusif dan Saya Bangga

Menyemarakkan Pekan ASI Dunia yang jatuh pada tanggal 1-7 Agustus, ijinkan saya bercerita sedikit tentang perjuangan saya memberikan ASI ekslusif di 6 bulan pertama kedua anak saya. Apa saja yang sudah saya lakukan untuk persiapan dan pelaksanaan pemberian ASI sehingga bisa berhasil.



Yang sudah-sudah, pembahasan tentang ASI vs sufor selalu menjadi pro-kontra para ibu di jagad raya ini. Makanya saya biasanya hanya menyimak saja pembahasan ini dan berusaha memposisikan diri di keduanya. Sehingga saya menulis ini hanya bermaksud berbagi pengalaman sukses dalam memberikan ASI eksklusif.

Persiapan Sebelum Hari Kelahiran Tiba

Jauh sebelum bayi saya lahir, saya sudah berencana bahwa nanti saya hanya akan memberikan ASI tanpa bantuan susu formula di 6 bulan pertamanya. Karena sudah berencana dan bertekad seperti itu, maka dari awal kehamilan anak pertama, saya mencari ilmunya dengan membaca-baca informasi di internet dan juga menanyakan langsung kepada bidan/dokter saat memeriksakan kandungan. Sambil selalu memanjatkan doa agar nanti semuanya berjalan lancar.

Selain mengumpulkan berbagai macam informasi, saya juga menyiapkan "alat"nya (baca:payudara) agar saat nanti digunakan sudah siap. Kalau tidak dipersiapkan dari jauh hari, kemungkinan besar bisa lecet saat menyusui.
Apa saja persiapannya? Antara lain: disaat mandi, bersihkan puting susu dari daerah aerola (daerah yang berwarna gelap). Di area puting ini, biasanya ada kotoran baik itu kulit mati atau daki yang menutupi lubang-lubang kecil tempat keluarnya air susu. Nah, setiap mandi saya bersihkan itu dengan lembut, nggak perlu digosok pake batu kali, ya. hehe
Sambil dibersihkan, juga sambil dipilin-pilin dan ditarik-tarik. Pijatan pilin-tarik ini membuat puting menjadi lebih panjang sehingga nanti pas diberikan ke bayi lebih mudah. Lalu melakukan pijat di area payudara dengan baby oil atau minyak zaitun.

Persiapan lainnya adalah membaca cara menyusui yang baik dan benar. bagaimana posisinya dan segala macam tentang hal teknis menyusui bayi baru lahir. Ini penting karena, posisi atau cara ibu menyusui juga berpengaruh terhadap kesuksesan memberikan ASI.

Mencari informasi tentang makanan yang bisa meningkatkan produksi ASI. Jadi saat trimester ketiga saya perbanyak makan makanan tersebut. Bisa search sendiri bahan makanan apa saja yang bisa meningkatkan produksi ASI. Jangan malas mencari informasi sebanyak mungkin ya, Moms.

Setelah Bayi Lahir

Setelah bayi lahir kedunia, perasaan yang meluap-luap pada saya tak bisa terelakkan. IMD yang saya idamkan tak bisa terlaksana karena Bu Bidan berkata saya sudah terlihat dalam kondisi kelelahan. Jadi proses menyusu pertama bukan saat bayi masih berdarah-darah lalu diletakkan di atas perut saya kemudian bayi akan mencari puting ibunya sendiri. Itu ekspektasi saya sebelumnya. Tapi karena kenyataannya saya kelelahan, pemberian ASI pertama kali dilakukan setelah bayi dibersihkan dan dibedong, sayanya juga sudah bersih dan ganti baju.

Lancar keluar susu yang melimpah? enggak, cyiin. Kedua anak saya, dua-duanya ASI baru keluar di hari ketiga dan kedua pasca melahirkan.

Menurut ibu bidan, (saya mengutip perkataan Bu Bidan saja ya dari tadi, hehe... )
Menurut Bu Bidan, bayi baru lahir itu bisa bertahan tanpa asupan makanan selama maksimal 5 hari karena dalam tubuhnya masih menyimpan cadangan makanan yang berasal dari plasentanya. Saya bersyukur saat tempat bersalin mendukung keputusan kami (saya dan suami) untuk memberikan ASI ekslusif.

Godaan untuk memberikan susu botol, tidak hanya dari ASI saya yang belum keluar, namun dari orang tua saya yang menunggui dan membantu merawat saya saat melahirkan dan setelahnya. Neneknya tentu saja enggak tega melihat anak hanya mengenyot puting yang enggak keluar air susunya. Namun setelah mendengarkan penjelasan suami saya, akhirnya neneknya pun ikut mendukung. Ya, peran lingkungan sangat mempengaruhi kesuksesan memberikan ASI ekslusif.



ASI Tidak Keluar? Apa yang harus dilakukan?

Sudah saya ceritakan di atas, ASI saya juga tidak langsung keluar di hari pertama melahirkan. Hari kedua juga sama, masih belum keluar. Yang ada anak saya sering menangis karena usahanya mendapatkan ASI belum juga menampahkan hasilnya. Hari ketiganya barulah keluar, itupun hanya yang sedikit itu. Yes, colostrum yang berwarna kekuningan dan cuma sedikiiiit banget akhirnya keluar di hari ketiga.

Dari hari 1-3 itu, saya harus berdamai dengan perasaan kasian kepada bayi saya yang cuma mengempeng susu tanpa keluar air susunya. Thats so hardly to me. Tapi walaupun enggak keluar, saya tetap memberikan puting saya agar bisa disedot anak saya. Gerakan mulut bayi ini merupakan rangsangan agar ASI bisa keluar.

Selama 2 hari itu bayi dikasih apa dong? Hanya ditetesi air putih hangat saja agar bibir dan mulutnya enggak kering.

Pokoknya di fase ini, penuh drama banget. Ya begadang karena di malam hari harus tetap memberikan ASI (walaupun belum keluar) 2 jam sekali, ya nahan rasa kasihan ke anak, ya nahan rasa sakit bekas jahitan, dan sebagainya.

ASI Keluar, sudah kelar perjuangannya? Belum, cyiin.

Setelah ASI keluar, semakin hari semakin bertambah banyak saja produksi ASInya. Saya mengalami bengkak di payudara disertai panas dingin. Di fase ini, ASI harus lebih sering diberikan agar bengkak enggak semakin parah dan membuat ibunya sakit. Rasanya lega sekali setelah dihisap habis.

Bengkak karena menampung banyaknya air susu, menjadikannya keras sekali. Saya mengatasinya dengan pijat ibu menyusui. Kebetulan di sekitar tempat tinggal saya ada seorang tukang pijat yang bisa memijat ibu pasca melahirkan dan bayi bayu lahir. Saat pemijatan, payudara dipencet keras, sehingga lubang-lubang kecil di area puting bisa terbuka. Ditandai dengan ASI yang memancar, serta saya lihat lubang-lubang kecilnya jadi bertambah banyak. Pijat pasca melahirkan ini membuat ASI semakin lancar keluarnya. Sedangkan si bayi jadi lebih nyenyak tidurnya.
Mungkin kalau yang tinggal di perkotaan bisa mencari mom and baby spa. Biasanya melayani pijat bayi dan ibunya.

Demikian sekelumit pengalaman saya memperjuangkan ASI eksklusif di 6 bulan pertama. Saya sungkem kepada senior pejuang ASI yang lebih dahsyat perjuangannya. Dan Barakallaah untuk Moms yang memberikan ASI dimudahkan segala-galanya.

Tulisan ini sekalian sharing pengalaman, juga sekalian diikutsertakan dalam Give Away ASI dan Segala Cerita Tentangnya yang diadakan oleh duniabiza.com


17 June 2016

Cerita di Awal Pernikahan dan Bulan Madu

Dulu, waktu baru saja menikah nggak bulan madu? Saya enggak kok. Lagian ngapain cobak bulan madu.helloooo... (*gaya songong mode on)
*langsung diantemi sama warga* wkwk

Iya, saya dulu nggak bulan madu. Setelah menikah nggak langsung liburan kemanaa gitu. Nggak kepikiran tuh (nggak sempat memikirkan) buat liburan ke Yogja, piknik ke gunung,  atau plesir ke pantai. Atau halan-halan kemanaaa gitu...

Enggak saya mah. Boro-boro bulan madu atau travelling, sehari setelah menikah saya malah langsung kerja karena cuti yang diberikan sama perusahaan tempat saya bekerja cuma 2 hari plus satu hari Minggu. Jadinya, bulan madu ya di kamar kostan aja. ahiw

Walaupun saya dulunya nggak bulan madu dan hepi-hepi traveliing berdua, bukan berarti kehidupan rumah tangga saya nggak bahagia di awal pernikahan. Romantisme orang yang baru mengenal dan sebulan kemudian langsung menikah seperti kami berdua adalah pengalaman yang sangat menakjubkan . Misalnya, memotoran berdua, juga sudah berasa seperti dunia milik berdua . halagh 

Menikmati  indahnya pacaran setelah menikah adalah masa-masa yang sering kami kenang dan putar kembali saat sedang bercengkerama sekarang-sekarang ini.

Di awal pernikahan kami sering banget mendatangi hotel-hotel di Lembang. Bukan . Bukan mau bulan madu, atau nongkrong-nongkrong cantik. Tapi untuk menghadiri seminar-seminar dan training-training seputar bisnis. Kami sedang membangun bisnis dari awal waktu itu jadi harus banyak belajar sama ahlinya. Sering pulang malam karena belajar, di akhir pekan bukan jalan-jalan tapi belajar bisnis.

Baca Juga: Stay Cation di Hotel Galeri Ciumbuleuit

Lagian, pernikahan bukan sekadar bulan madu atau jalan-jalan, bukan?  Dan saya yaqin (pake Q) bahwasanya banyak orang yang walaupun nggak bulan madu, pernikahannya tetap bahagia lahir dan batin. Yang ngalamin boleh komen. :))

Di delapan tahun pernikahan saya ini, kami sudah berencana dari jauh-jauh hari. Rencananya sih simple aja. Kami mau menginap di sebuah hotel yang tempat dan fasilitasnya nyaman untuk kami berdua. Tapi, berangkat berdua anak-anak sama siapa? Pasti kalau ditinggal kami akan kepikiran walau judulnya hanimun. Malah enggak tenang jadinya. 
Oke, kami pengen hanimun tapi anak-anak tetap turut serta.

Nginep di hotelnya nggak usah jauh-jauh dari rumah ah Cukup dengan menginap semalam di hotel. Pilihan kami jatuh pada salah satu hotel di Lembang. Di Lembang, Bandung sudah banyak hotel berbintang yang fasilitas dan pelayanannya membuat kita nggak pengen cepet pulang, kan ya. Hahaha.

sumber foto : destinasi.co.id

Itulah sedikit cerita curhat saya tentang bulan madu dan awal pernikahan. Kalau teman-teman, apa cerita di awal pernikahannya? Adakah yang sama seperti saya. Atau malah bulan madu ke tempat eksotik nan indah? Ceritakan yuuk…


Di sini, pengennya lalu saya bikin GA ( give away ) bertema Cerita di Awal Pernikahan dengan hadiah voucher menginap di hotel dari Traveloka.