1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

06 May 2016

Pencernaan Sensitif Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak?

Acara Nutritalk tanggal 28 April lalu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Apa yang disampaikan kedua narasumber ahli: Dr. Badrul Hegar, Ph.D, SpA(K) dan Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) sangat bermanfaat untuk semua orang tua terutama yang masih mempunyai masih balita (bawah lima tahun). Kenapa? Karena Nutritalk kali ini membahas tentang pencernaan sensitif anak dan hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sebelum acara dimulai, di depan ballroom, peserta diajak untuk mengetahui cara mengukur pencernaan anak sensitif melalui game. Serta pengetahunan tentang 1000 HPK (hari pertama kehidupan).



Di game ini, saya diajak menjawab pertanyaan seputar pencernaan si kecil. Pertanyaannya diantaranya:
1. Frekuensi BAB anak.
Normalnya, anak usia 0 - 3 bulan yang diberikan ASI frekuensi BABnya adalah 5 - 40 kali/minggu.
Anak usia 6- 12 bulan 5 - 28 kali/minggu. Anak usia 1-3 tahun 4 - 21 kali/minggu.
2. Warna Tinja. dan
3. Konsistensi
Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar.



Penjelasan tentang 1000 HPK.
HPK ( Hari Pertama Kehidupan ) yaitu sejak bayi dalam kandungan sampai usia 2 tahun.


"Tumbuh kembang maksimal terjadi pada periode kritis anak, yakni usia dini , jika kesempatan ini lewat, maka tidak bisa diulang."
Ada juga Photo Booth.
Disini peserta bisa foto-foto keren, foto foto cantik, atau foto-foto heboh seperti ini.
Foto dari mbak Ade Anita

Oiya, FYI, Nutritalk ini adalah forum diskusi yang diselenggarakan untuk menyebarkan pengetahuan kesehatan anak kepada masyarakat luas. Masyarakat diajak untuk meningkatkan pengetahuannya tentang Dasar dan Pedoman Praktis Mengatasi Saluran Cerna yang Sensitif pada Anak. "Nutritalk sudah sering diselenggarakan di Jakarta. Tapi ilmu itu selalu ada sesuatu yang baru dan berguna", sambutan bapak Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada.

Dr. Lula Kamal oke banget membawakan acaranya. Beliau juga menceritakan pengalaman pencernaan sensitif pada anaknya waktu masih kecil. Dan ternyata sebagian besar yang hadir, anaknya juga pernah mengalami gangguan pencernaan seperti diare dan konstipasi.
Dr. Lula Kamal sebagai MCnya.
Dari pemaparan dokter Badriul Hegar, saluran cerna itu memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Sebab dari saluran cerna itulah anak mendapatkan asupan gizi dari yang ia makan. Sekarang, jika saluran pada anak sensitif, maka nutrisi yang seharusnya bisa diserap sempurna oleh tubuh untuk kebutuhan tumbuh kembangnya juga akan terganggu.
Selain itu, saluran cerna adalah jalan paling besar masuknya bibit penyakit. Di dalamnya ada ada 40% jaringan limfoid yang merupakan sel sistem imun.
Pertanyaannya, kenapa bayi sering sekali sakit? Dikit-dikit mencret, dikit-dikit bebelan alias konstipasi. Menurut dokter Badriul itu karena,
- Secara fisiologi, saluran cerna pada bayi belum matang sempurna sehingga perannya sebagai sistem imun (pertahanan tubuh) juga belum sempurna.
- sel-sel pada permukaan usus masih dalam posisi renggang. sehingga memudahkan kuman  masuk. Sedangkan sel-sel pada permukaan usus yang sudah matang saling terikat satu sama lain. Selama satu tahun pertama, sel imun ini berkembang dengan pesat.
ilustrasi sel dinding usus
Diare, Penyebab Kematian Nomor Dua di Indonesia

Diare ada 3 macam, yakni akut, berkepanjangan dan persisten/kronis. Diare sangat berpengaruh pada berat badan. biasanya setelah anak diare, berat badannya akan turun drastis. Selain itu juga mengurangi pertumbuhan tinggi badan. Tapi yang paling berpengaruh dan menggaggu tinggi dan berat badan adalah diare persistent.

Resiko diare persistent pada anak di bawah 2 tahun akan mempengaruhi AASS (Age at starting school) alias berisiko alami keterlambatan sekolah dan akan mempengaruhi nilai IQ hingga kurang lebih 10 point.

Anak teman saya, beberapa waktu lalu diopname di Rumah Sakit. Penyebabnya karena anaknya Dehidrasi -berawal dari diare yang tidak tertangani dengan benar.
Kata dokter, langkah pertama saat anak diare itu adalah ORANG TUA JANGAN PANIK. Kalau orang tua panik, tidak bisa berfikir secara jernih apa tindakan yang sebaiknya dilakukan. tetap berikan cairan dengan banyak minum, dan teruskan memberi ASI untuk anak yang masih minum ASI.

Masih kata dokter, penyebab diare pada anak dibawah 2 tahun adalah Rotavirus. Cirinya : BABnya menyembur, bau fesesnya asem, perutnya kembung (kentut-kentut). Diare jenis ini tidak memerlukan antibiotik. Ibu tetap tenang dan tetap beri cairan kepada anak.

baca juga : cara menangani diare pada anak

Konstipasi mempengaruhi tumbuh kembang anak?

Ya! Konstipasi ternyata juga bisa berakibat fatal jika tidak tertangani dengan baik. Menurut dokter Wawan ( Ahmad Suryawan ), konstipasi bisa mempengaruhi psikologi anak. Ketidaknyamanan anak ketika mengalami gangguan pencernaan akan mempengaruhi perkembangan perilaku, ini yg sering disepelekan orang tua.
Dokter Wawan bercerita, ada seorang anak SD menjadi minder di sekolahnya. Si anak "dikatain" bau oleh teman-temannya karena itu tadi, feses keluar sedikit-sedikit.
Feses yang keras di ujung lubang dubur akan menghambat feses di belakangnya menumpuk dan menjadi keras. Sehingga saat BAB, anak merasakan sakit. Hal ini yang menyebabkan anak trauma untuk BAB. Anak yang mengalami konstipasi biasanya akan 'mojok' atau bersembunyi saat merasakan HIP (hasrat ingin pup).

Dhia dulu waktu kecil juga pernah kayak gini. Berawal dari BAB yang ditahan-tahan sehingga fesesnya keras. Jadi Dhia menangis saat hendak buang air besar. terus lama-lama ia sering pup di celana. Cuma nge-flek aja, nggak sampai keluar banyak. Waktu itu saya menganggapnya hal biasa karena ketidaktahuan saya akan akibatnya.Tapi alhamdulillah sekarang sudah enggak.

Buat ayah-bunda yang anaknya mengalami konstipasi, takut ke WC, menangis / takut saat hendak BAB tolong dicari tahu mengapa anak seperti itu. Segera atasi agar tidak semakin parah. Tips dari dokter Wawan sih, lakukan toilet training .
- Toilet training dilakukan pada anak usia diatas 2 tahun . Ini yang memakai closet atau WC duduk (walaupun memakai dudukan khusus anak). Kalau anak masih kecil, lubang kloset masih terlalu besar sehingga nanti anak malah takut kecemplung. :D
- Lakukan toilet training tepat setelah makan. Biasakan setelah makan, anak congkok di WC/ duduk di closet. Maksudnya agar usus melakukan gerakan peristaltik. Idealnya toilet training dilakukan selama 10 - 15 menit, bukan untuk BAB, tapi melatih konsistensi kerja usus tadi.

Diare mempengaruhi perkembangan anak dalam jangka waktu singkat tetapi untuk pemulihannya memerlukan waktu yg lama. Begitu juga konstipasi, dengan terapi dalam jangka waktu tertentu misal 12 minggu. Konsultasikan dengan dokter spesialist tumbuh kembang anak seperti dokter Ahmad Setyawan , misalnya. :)

Gangguan Percernaan bukan hanya mengancam kematian pada anak tapi juga mengancam tumbuh kembang dan kecerdasannya. So, parents... yuk lebih care terhadap kesehatan pencernaan anak.


13 comments:

  1. Ais dulu juga baru toilet training usia 2 tahun n berhasil di 3 tahun. Ortu emang kudu peka sama fisiologis anak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. kudu bisa membaca bahasa tubuh mereka. :)

      Delete
  2. Beruntung banget ya..kita bisa ikut acara ini. Jadi tahu segala macam permasalahan kesehatan anak dan tumbuh kembang anak. Semoga ada kesempatan lagi buat ikut acara2 kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kita beruntung ya. Aku jadi bisa ketemuan sama njenengan. :)

      Delete
  3. asyiknya ya bisa ikut acara ini banyak hal yg bisa kita ketahui

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak. seneng banget bisa ikut acara ini

      Delete
  4. Anakku sebelum dua tahun ALhamdulillah udah lepas diapers sih, tapi tiap anak kondisinya beda ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak, diapers udah lepas sebelum dua tahun

      Delete
  5. baru tau ada namanya toilet tranning *maklum belum punya anak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah jadi tau ya mas. buat bekal jadi ayah

      Delete
  6. anakku baru lepas diapers pas umur tiga tahun Mba :)

    ReplyDelete
  7. saya juga baru yang namanya toilet tranning, di daerah saya juga pada eggk tau.. baru di sini di artikelnya mbak saya taunya... :)

    ReplyDelete
  8. Senangnya emak2 sekarang, edukasi kesehatannya banyak dari berbagai sumber yang mudah diakses.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)