Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

16 April 2018

[Sharing Session Episode Yogjakarta] Kisah Sukses Mereka Berawal dari Nol

Dear Friends, assalaamu'alaikum warahmatullah..
Sebelum ke sharing materi Sharing Session, saya mau curcol bentar yak. :)))

Minggu lalu, saya ke Yogjakarta selama 4 hari 4 malam dalam rangka liburan ( dapat menang hadiah pertama dari acara Sharing Session Dapur Hangus x Dydie the Kitchen Hero with Grand Tjokro Bandung, yang hadiah utamanya itu trip ke Yogja ). Berangkat dari Bandung Sabtu malam, lalu nyampe di Bandung lagi hari Selasa sore. Sempat nggak percaya juga sih kenapa saya yang menang. Tapi yang namanya rezeki kadang memang nggak disangka-sangka, disini hanya Allah dan para juri yang tahu alasannya :)) . Alhamdulillah, Abudi support penuh dari handle urusan duo bocah sampai ngasih uang saku biar saya bisa belanja #penting :p. Jadi saya tenang-tenang aja sih liburan sendiri tanpa keluarga.

Dari 4 hari itu, saya berkesempatan mengikuti acara yang asyik yaitu Sharing Session Dapur Hangus x Dydie the Kitchen Hero. Hari Minggu, 8 April 2018 di hotel yang sama tempat saya menginap - Tjokro Style Yogjakarta. Saya merasa bersyukur sekali bisa menyimak sharing dari narasumber yang menekuni hobby dan passion lalu bisa berhasil seperti sekarang. Maknyuss banget ceritanya. Di blogpost ini, saya coba rangkum sharing dari ketiga narasumber yang hebat ini, ya.



Tiga narasumber tersebut adalah mas Thomas Wirananda food photografer, Pak Roy Wibisono owner Nuanza Porcelain, dan teh Dyah Prameswari penulis buku/ fiksi kuliner sekaligus food blogger.

Serta dipandu oleh moderator asyik mbak Ika Rahma @dapurhangus (yang juga sering memperkenalkan diri sebagai Raisa/Isyana/Nela Kharisma). :D



1. Sharing Session dari mas Thomas Wirananda


Thomas Wirananda atau dikenal dengan Thomas Sastrowardoyo adalah seorang food photography.
Pemilik akun Instagram @streetfoodstories ini mengawali sharing dari awal bagaimana beliau menekuni dunia food photography. Mas Thomas yang hobi makan/kulineran dan hobi foto menemukan passionnya saat masih sekolah, lho. Kemudian, merantau dari Purwokerto ke Yogjakarta untuk kuliah di fakultas Ekonomi/Akuntasnsi di Universitas Atmajaya Yogjakarta. Lho kok nggak nyambung dari  profesi yang sekarang, mas? hihi. Memang nggak nyambung, terjun bebas, kata beliau. Jadi kalau disimpulkan, sampai bisa sesukses sekarang itu prosesnya enggak instant, ya teman-teman.


Selanjutnya, mas Thomas berbagi tentang Food Photography yang lagi kekinian/hits di era sekarang dan berbagi tips agar foto-foto makanan yang kita hasilkan makin kece. Pertama-tama, saat akan memulai menekuni dunia food photography, kita sering bingung bagaimana sih menghasilkan karya yang keren? Langkah pertama adalah duplikasi karya orang lain/ kita buat sama dengan foto/karya orang lain dalam hal penataan, props foto, dll. Tidak apa-apa, karena semakin lama dan semakin sering kita lakukan, kemampuan akan meningkat dengan sendirinya sehingga bisa luwes dalam food styling dan menemukan gaya khasnya sendiri.

Berikut adalah gaya Food Photography yang kekinian :

a. Flatlay
-Sangat baik bila menggunakan lensa lebar/lensa kit/lensa bawaan.
-Pilih background yang kontras dengan objek
-Beri ruang diantara objek
-Tentukan tema (tema menentukan props yang digunakan)
-Jarang bisa diaplikasikan ke menu-menu fun dining yang bentuknya meninggi

b. Hands in frame
Hands in frame merupakan gaya foto yang menggunakan unsur tangan di dalam frame foto
Biasanya memberikan  nuansa yang lebih hidup (adanya unsur tangan manusia)
Sangat cocok untuk Ice Cream Cone
Editing seminimal mungkin. Setting dari awal.

c. Food With Style
Gaya foto yang diambil  dengan memadukan unsur food&lifestyle dalam satu frame.
Pada food with style ini, properti harus menyesuaikan dengan makanan yang akan difoto.

Dan yang paling makjleb adalah kata-kata beliau :
"Saya lebih memilih mati-matian setting di awal, daripada harus meng-edit berlebihan"

2. Sharing Session dari Pak Roy Wibisono


Pak Roy adalah owner dari Nuanza Porcelain ( ig @nuanza_porcelain ) yang pabriknya ada di Boyolali - Jawa Tengah. Beliau bercerita bahwa ketertarikannya terhadap porcelain itu dari saat beliau remaja, lalu berlanjut saat bekerja di perusahaan porcelain Jepang yang berada di Korea. Saat pindah ke Australia pun beliau belajar porcelain di sana. Lalu saat di Indonesia, beliau berhasil membuat pabrik porcelainnya sendiri.


Saya kemarin juga berkunjung ke pabrik porcelainnya, ternyata proses pengerjaannya perlu skill dan ketelitian yang tinggi serta proses yang panjang. Nanti cerita dan informasinya saya tulis di blogpost terpisah, ya.

Selain sharing tentang perjalanannya bagaimana menekuni porcelain dari nol hingga sekarang produknya dipakai oleh hotel-hotel dan resto terkenal hingga diekspor ke luar negri, Pak Roy juga sharing tentang pemasaran produk Nuanza. Beliau mengaku melakukan pemasaran melalui Instagram sejak 11 bulan/1 tahunan yang lalu, sejak itu peminat dan penjualan meningkat dengan signifikan.

Untuk menambah followers, yang dilakukan Nuanza adalah dengan endorse atau bekerjasama dengan akun-akun instagram yang memang "bersentuhan" langsung dengan konsumen atau penggemar barang-barang porcelain seperti @dapurhangus . Lama-lama, Nuanza lebih banyak bekerjasama dengan chef atau resto sehingga penjualan sekarang pun sudah merambah ke hotel-hotel dan resto bahkan masjid pun ada yang menggunakan produk porcelain dari Nuanza untuk dekorasi temboknya.

Kenapa nggak pakai ig ads aja pak? Sementara untuk instagram ads, menurut beliau tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan walaupun sudah dipersempit target marketnya.

Menyimak cerita beliau ini asyik banget deh. Sebagai penutup sharing beliau menyampaikan bahwa :

"Untuk Sukses ada 1001 cara, fokus (pada satu bidang yang disukai) dan tekun (mengerjakannya) pasti akan sukses."

3. Sharing Session dari teh Dyah Prameswarie


Teh Dyah Prameswarie a.k.a Dydie ( ig : @dyahprameswarie) adalah seorang penulis buku/novel fiksi kuliner dan juga food blogger. Berawal kecintaannya terhadap sunia tulis menulis dan juga baking, juga ketertarikannya dengan sejarah kuliner, teh Dydie berhasil melahirkan novel bertema tentang kuliner yaitu Djoeroe Masak.

Dalam sharingnya, teh Dydie bercerita bahwa pertama kali menerbitkan novel ia membutuhkan waktu 5 tahunan sampai novel pertamanya terbit. Bukan waktu yang sebentar, bukan? Lalu setelah novel pertamanya itu beliau kembali melahirkan novel-novel lainnya seperti Dua Dunia di Mata Fe dll.

Novel Djoeroe Masak adalah novel kulinernya yang terbaru, terdiri dari 4 buah buku yang sudah tersedia di Gramedia dan toko buku-toko buku lainnya. Proses pembuatan novel ini, seperti yang teh Dydie ceritakan, membutuhkan proses panjang, tantangan yang berbeda dari menulis novel biasa dan membutuhkan kesabaran yang tinggi. Mulai dari penulisannya, riset riset riset, mencari ilustrator, dsb. Fiuuuh, kebayang ya kerja kerasnya menghasilkan karya itu bukanlah hal mudah seperti membalikkan tutup gelas.

Setelah semua narasumber sharing, acara dilanjutkan dengan workshop fotografi oleh mas Thomas. kali ini kita akan memotret mangut ikan patin, salah satu menu di Cytrus restonya hotel Tjokro Style Yogjakarta. Setelah dijelaskan bahwa memotret makanan itu cahaya harus datang dari belakang atau samping dan nggak boleh dari depan, peserta workshop pun diberi kesempatan memotret 2-3 kali jepretan.
Ya Allah kaaaak Raisaaaa... padahal saya kalau motret itu nggak cukup 10 kali jepret loh, kak, walaupun yang dipakai cuma satu foto. heuheuheu




Baca juga : [Sharing Session Episode 2] Jurus Jitu Menguasai Food Photography

Oiya, acara sharing session ini juga bertabur doorprice loh. Setelah acara ditutup, kami semua turun ke Cytrus Resto untuk langsung praktek memotret makanan. Sambil motret sambil berkali-kali nelen liur, glek-glek.

Ini dia beberapa foto makanan yang asal jepret , karena buru-buru mau makan.
(ya Allah, Wiiiiin. kacida kamu ih)






Demikian ya teman-teman rangkuman sharing session episode Yogja kali ini. Walaupun enggak semua bisa ditulis mudah-mudahan teman-teman juga bisa ngambil ilmunya, karena lebih asyik kalau mendengarkan dan menyimak langsung sih. hehehe
Jadi nantikan event Dapur hangus x Dydie's the Kitchen Hero episode selanjutnya ya, manteman. ;) Semoga ada lagi.
Komen di bawah kalau kotamu mau didatengin sama Dapur hangus dan Dydie the Kitchen Hero.

Sampai jumpa di event selanjutnya. bye!

maafkan nampang dikit.
foto milik : Lies Wahyoeni


13 March 2018

3 Jurus Tepat Menguasai Photography, Sharing Session with Grand Tjokro

Hari Sabtu pagi-sore saya kemarin (10/04) bergizi banget, deh. Soalnya selain kentjan sama Abudi dengan sarapan berdua di restonya hotel Grand Tjokro Bandung, saya juga ikut satu acara keren masih di tempat yang sama. Ruang Bougenville di lantai dua masih sepi kala saya datang. Perut saya sudah "aman" untuk diisi sharing bergizi dari tiga orang wanita dengan kisah mereka. Acara ini bertajuk "From Hobby to Money". Dari temanya aja udah kebayang 'kan ya, gimana mereka akan membagikan ilmu dan kisah suksesnya kepada saya dan sekitar 45 peserta yang hadir lainnya.



Ngomong-ngomog mengenai from hobby to money, saya sebenernya juga pernah memulai bisnis berawal dari hobi saya nge-craft. Jadilah akun IG @crafterdiary dan blog craftersdiary.blogspot.com
Sempat banyak sekali pesanan sampai saya keteteran. Akhirnya sekarang memilih "menyerah sementara" untuk fokus ke hal lain. Untuk ketiga pembicara kita ini, tentunya nggak ada kamus menyerah hingga mereka seberhasil sekarang.

Sekilas tentang 3 Pembicara :


Ika Rahma

Pemilik Dapur Hangus ini memulai usahanya dengan modal nol rupiah. Setelah enam tahun berjuang, mbak Ika kini sudah mempunyai kamera keren, lampu untuk keperluan memotret, aneka props dan dua orang karyawan. Beliau memulai karier dengan blog makanan, hingga akhirnya memutuskan untuk berjualan props foto dan menyediakan jasa memotret makanan.

Desy Budiyanti

Beliau adalah Class Manager 5758 Coffee Lab (atau biasa disebut Maju Mapan Coffee Lab).

Amelia Devita

Pemilih Denu Cokelat. Berawal dari dapur sederhana dan membuat cokelat sendiri, kini Denu Cokelat berhasil mengembangkan sayap sebagai salah satu merek cokelat lokal yang digemari di Indonesia.

Begitulah sang moderator, mbak Mery ( dari Angin Photo School ) memperkenalkan para pembicara. Saya menyimak dengan sesekali menyesap Honesty ThaiTeanic rasa green tea.

Sharing Session dari mbak Ika Rahma



Mbak Ika berbagi 3 jurus tepat menguasai photography. Pembawaannya yang sederhana dan cara bicaranya yang ringan dan renyah membuat saya tak bisa lepas menyimak sharingnya. Apa saja 3 jurus tersebut?

Pertama adalah Lighting.
Koentji memotret makanan itu haruslah menempatkan lighting yang tepat. Arah cahaya terbaik adalah dari samping dan belakang. Saat memotret makanan, jangan menggunakan cahaya dari arah depan (makanan) karena hal ini bisa menghilangkan tekstur makanan.

Kedua adalah Understanding Food
Jurus ini, kita harus mengerti yang manakah bagian makanan yang paling bagus/kondisi paling bagus dan mau ditonjolkan. Misalnya :
- Samosa : saat paling bagus adalah sesaat setelah selesai digoreng.
- Kue nastar : 1 jam setelah keluar dari oven
- Kastengel : 1 hari setelah matang
- Brownies : setelah dingin

Ketiga adalah Pick the right Props
Pada jurus ini kita bisa gunakan properti yang tepat dan sesuai dengan tema makanan. Misalkan makanan untuk anak-anak, kita bisa menambahkan mainan anak untuk propertinya.
Kita juga bisa bermain bentuk seperti memadukan alas foto dengan pola bergaris dengan mangkuk lingkaran, piring lonjong dan sebagainya.

Sharing Session dari mbak Desy Budiyanti


Sebagai Class Manager 5758 Coffee Lab, Mbak Desy sering kali berhubungan dengan influencer. 5758 Coffee Lab biasanya mengundang para influencer untuk mengikuti salah satu kelas yang ada sehingga selain dapat mempublikasikan usaha mereka, para influencer juga memiliki pengalaman yang berbeda. Untuk itu beliau seringkali kepo-in akun para calon influencernya. Beliau memilih yang benar-benar penikmat kopi, bisa memotret dan bercerita dengan baik, serta sosial media yang "bersih".

Lewat brand 5758 Coffee Lab (Maju Mapan), PT. Belajar Kopi Bersama yang berdiri tahun 2015 ingin meningkatkan kualitas para pelaku usaha bidang kopi di Indonesia. Salah satunya lewat pendidikan kopi. Bukan hanya bagi barista, pendidikan soal kopi juga buat konsumen, roaster, grader, hingga petani kopi.

Harapannya, pendidikan ini membuat kualitas kopi di Indonesia makin mantap. Petani menanam dengan tenang, pelaku berkreasi dengan senang, dan penikmat menghargai dengan pantas.

Sesuai namanya, Maju Mapan merupakan landasan filosofis bahwa PT. Belajar Kopi Bersama diharapkan menjadi perusahaan profesional yang bervisi jauh ke depan dan mampu memberikan keuntungan finansial bagi para pemilik saham. Tujuan akhirnya, turut meningkatkan kualitas bisnis kopi menyeluruh di Indonesia.

Keren, ya!

Sharing Session teh Amelia Devita


Wanita cantik berkacamata yang biasa dipanggil teh Amel ini menceritakan kisahnya ketika awal mula membangun Denu Cokelat. Karena alasan kesukaannya makan cokelat bersamaan dengan itu ternyata alergi cokelat, maka teh Amel membuat cokelatnya sendiri. Di sini beliau nggak bercerita gimana reaksi alerginya, sebenernya saya penasaran dan ingin bertanya cuman nggak ada kesempatan hihihii.

Dari dapur sederhana rumahnya, beliau mulai membuat cokelat. Bereksperimen memadu-padankan bahan-bahan sehingga tercipta rasa cokelat. Semakin lama, cokelat yang ia buat semakin disukai oleh kosumen. Semakin banyak pesanan dan sudah tidak bisa meng-handle sendiri, ia pun memberanikan diri menghire orang untuk menjadi asistenya. 

Strategi yang ia gunakan adalah pemasaran online dengan aktiv berinteraksi dengan follower, sering mengadakan kuis dan giveaway, dan yang paling penting adalah secara konsisten mengembangkan produknya (inovasi).

Kini telah ada puluhan produk olahan cokelat dan 13 (#cmiiw) orang karyawan. 

Kisah mereka inspiratif sekali, bahwa kesuksesan yang didapat sekarang selalu ada investasi waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan kata mbak Ika, seseorang bisa dikatakan "bisa" itu setelah melakukan hal tersebut sebanyak 10.000 jam.

***

Sharing session ini diakhiri dengan sesi memotret makanan yang telah disiapkan oleh hotel Grand Tjokro Premier Bandung. Ada beberapa jenis menu yang salah satunya belum bernama. Para peserta diminta mencari nama yang tepat untuk satu menu ini. Kayak bikin sayembara nama gitu lah. 

Hasil jepretan para peserta nantinya akan dilombakan dengan hadiah trip ke Yogjakarta dan mengikuti Sharing Session episode 3 di Hotel Tjokro Style Yogjakarta. uw uw uw!! asyik bener deh ah kalau bisa menang.

Ini dia beberapa jepreten saya yang asal jepret tea' ningan






Buat teman-teman, mbak-mak, pak-bapak yang ada di Yogja dan sekitarnya : yuk ikutan acara ini tanggal 8 April 2018. Cukup dengan Rp 80.000 sudah mendapatkan goodie bag dan makan siang. Saran saya sih mending daftar dari sekarang aja daripada kehabisan seat. Informasi dan pendaftaran langsung kontak ke Irma ( 081320106386 )

Baca juga : Pilihan Menu Makan Siang di Street Grill & Friend

16 December 2015

Wordless Wednesday : Green

Hello, Desember!!

Katanya kalo sudah nulis status seperti di atas itu udah kekinian banget. hahaha
Aku mah baru sekarang (di blog ini) tauk nulis "Hello Desember!" Padahal ini udah pertengahan bulan, yes.

Kalau di negara empat musim di belahan bumi bagian utara, Desember udah masuk musim dingin ceunah. Kalau di belahan bumi bagian selatan, saat ini sedang musim panas.
Lha, kalau di Indonesia sendiri, sekarang sudah hujan setiap hari, ya kan? Berarti udah masuk musim penghujan.

Udah gak aneh ih musim penghujan, musim kemarau. Mbok ya sekali-kali pengen ngerasain tinggal di negara empat musim, biar bisa poto-poto daun maple yang sedang berguguran dan salju yang baru turun. (aamiin ya Allaah...aamiin)
Tapi masak iya karna pengen kekinian jadi mau nyebut winter in Indonesiah hanya karna pagi-pagi di sini dinginnya poool, megang air udah kayak megang air dari kulkas, dan tentu saja jadi malas mandi pagi. #jiaaah banget.
Yang ada, ini lagi musim mangga, bok. Sekilo udah sepuluhribu lho di pasar.  Kalo musim rambutan kayaknya belum nampak tuh. Bentar lagi keknya. Sabar.

Oiya, beidewei... Saya senang banget kalau musim hujan. Soalnya rerumputan di halaman pada numbuh lagi. Walaupun dalam waktu yang bersamaan, saya cedih karena rumputnya cepet banget gondrongnya. Jadi mood motongin rumput gak sebanding dengan kecepatan tumbuhnya rumput.

Tapi objek foto yang ijo-ijo dan syeger-syeger bisa dengan mudah saya dapatkan cuma modal kukurusukan / blusukan di halaman depan, samping, dan belakang rumah. Saya suka moto yang ijo-ijo soalnya syeger aja gitu, dan moodnya kembali naik kalo udah lihat yang ijo-ijo.

Judulnya wordless, tapi kata pengantarnya udah segambreng. Yaudin, ini saya aplot foto-foto yang saya ambil beberapa hari ini. Temanya : Green.

Lihat juga : Rumput Liar Berbunga Cantik

Saya senang nge-share hasil jepretan #asaljepret saya ke Instagram. Monggo mampir kesana dan jangan lupa di follow. (modus dikit)

embun pagi
Seperti buah buni, tapi bukan
Sepertinya rasanya enak asem-asem gitu. Tapi saya nggak berani nyoba, takut mabok atau keracunan.

Tanaman Arbei yang saat kemarau hampir nggak berbunga
dan berbuah, begitu hujan kembali seger dan mulai berbuna lagi.

Ini waktu saya kecil, dipake buat jadi cabe
saat bermain masak-masakan.

bunga Iris


ilalang

Ilalang lagi
 Ini juga lagi happening, nih. Setelah heboh kebun bunga di Yogjakarta itu, kini ilalang menjadi sasaran. muahaha
Saya gak perlu jauh-jauh nyari padang rumput ilalang. Ini ada di halaan samping tempat tinggal saya. Yang mau foto-foto sama rumput sini sini. *dikeplak*
Biarin atuh, kan pada nggak tahu rumah saya dimana.. :p

Ini mirip tanaman Kumis Kucing, ya.
Tapi ini bukan. Cuma rumput aja ini mah.
Rumput liar, gak tahu namanya
(payah banget dalam pengetahuan akan rerumputan)
Jangan lupa follow IG saya ya Kakak. :) @uwienbudi

~*~*~*~

Tentang Wordless Wednesday

Jika kamu mau ikutan, buat postingan berupa foto di hari Rabu dengan sedikit kata atau tanpa kata. Tapi kalau saya sih, banyak kata bahkan kalimat juga boleh, kok. :) Bebas aja. (hahaha gak sesusai sama judulnya dong ceu')

Lalu, isi mr. Linky yang ada di bawah ini. Link/URL yang ditulis adalah URL postingan untuk Wordless Wednesday saja, bukan home blog, yeaa.

Manfaatnya apa? Link blog kamu nyantol di blog saya. Mayan buat nambahin viewers, kan. Bisa menjalin silaturahim juga diantara kita. Siapa tahu jadi lebih ikrib. :)
Dan yang pasti, senang-senang aja sih.



08 January 2015