Ada nggak yang pernah dibilang :
"Iiiiih, ibu ini cerewet
banget, sih!"
"Lo bawel banget , sih!"
"Yak ampuuun,
ngomong sama kamu nggak habis-habis , deh!"
Kalau saya pernah. -__-
Padahal saya dulunya
itu pendiam dan pemalu. Waktu masih sekolah dan awal-awal lulus juga
masih nggak - tahu - musti - ngomong - apa kalau ketemu sama orang. Bahkan ketemu
temen akrab sendiri juga, saya lebih banyak mendengarkan cerita mereka dari
pada saya yang ngomong.
Engg, nganu...
saya sih bukan nggak punya bahan cerita, tapi mungkin karena mulut saya nggak
sinkron dengan isi kepala saya yang sangat rumit. bwahaha
Memang aneh.
Sungguh ANEH !!
Saya sendiri juga
nggak nyangka , teman-teman saya sampai bilang saya cerewet atau bawel.
Terus ada juga
yang bilang, kalau sudah emak-emak apalagi sudah punya anak,
ke"cerewet"an itu akan muncul secara otomatis. Bener nggak sih?
Mungkin bisa jadi benar, walaupun ada juga ibu-ibu yang kalem dan jarang
ngomong di rumahnya. Katanya males dan kitanya capek sendiri.
Sampai-sampai komunikasi kepada anggota keluarga nggak berjalan
dengan lancar. Anak-anak nggak disiplin , semaunya sendiri, dan susah
diatur.
Nggak mau hal
semacam itu terjadi, jadi semenjak punya anak, saya memutuskan #beranilebih cerewet . Saya pikir, cerewet itu penting
dalam menjaga stabilitas dan keutuhan rumah tangga. (*duuh bahasanya ).
Terutama dalam mendidik anak. ya kan, ya kan? Iyalaah.
Misalnya dalam
mendisiplinkan anak-anak, agar mereka bangun pagi, langsung mandi dan nggak
terlambat pergi ke sekolah. Mendisiplinkan anak-anak biar selesai bermain,
mainannya diberesin. Mendisiplinkan anak untuk beribadah tepat waktu. atau
mengerjakan Pe Er sebelum pergi tidur. Pada awalnya (sebelum mereka menjadi
disiplin) perlu dicerewitin juga, kan?
Kalau yang nggak perlu, *saya angkat topi* berarti suatu
anugerah yang sangat luar biasa anda memiliki anak yang super keren.
Naaaah, terutama
sekali, nih, cerewet kepada suami. Bagi saya dan suami yang perbedaannya sangat
banyak, beda karakter, beda kesukaan, dan beda sistem. Pokoknya segalanya
berbeda. Mendisiplinkannya lebih susah daripada mendisiplinkan anak-anak. Misalnya
saja, mendisiplinkan agar selesai mandi handuknya nggak ditaruh dimana aja, atau
pakaian yang kotor langsung taruh di keranjang cucian.
Kalau saya tanya kenapa kayak gitu , jawabnya : “Kan sudah ada
yang beresin di rumah,” #gubraak.
Setelah 7 menikah, saya baru sadar kenapa nggak dari dulu cerewet,
ya. :D
Oh well, cerewet itu mengasyikkan
, kan? Menghilangkan stress dan membuat hidup bahagia. Bwahaha.
Facebook : Winursih UwienBudi
Twitter : @uwienbudi




