1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

17 December 2017

Curhat di Gathering Netizen MPR dan Blogger Bandung

Senin kemarin (11/12), saya berniat berangkat dari rumah di Cimahi menuju hotel Aston Tropicana di Cihampelas-Bandung di acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG dengan harapan bisa bertemu dengan ketua MPR RI pak Zulkifli Hasan dan mengutarakan keresahan saya sebagai netizen (pengguna internet).

Akhir-akhir ini gejolak politik di tanah air mempengaruhi pula "temperatur" kehidupan maya ( baca : sosial media ). Setiap kali membuka timeline sosial media yang ada (kebanyakan dari teman-teman) share-share berita dan hatespeech yang menurut saya enggak ada gunanya. Nggak ada gunanya karena nggak menyelesaikan masalah. Saya pikir netizen berpikiran mundur. Mbokyaaa, menyampaikan pendapat pribadi itu yang bisa menyelesaikan masalah gitu lho. Bukannya menjadi sebuah "bola salju" yang lama-lama tanpa mereka (penyebar provokasi dan kebencian) sadari akan menjadi boomerang. Dan bola salju yang sudah membesar itu menghancurkan mereka sendiri. Kenapa begitu? Karena menurut pemikiran bodoh saya ini, dengan menyebarkan hatespeech, orang (yang waras) enggak akan respec dengan orang yang tiap hari membuat emosi muncul di hati orang lain.

Kamu sendiri gimana Win? Saya sendiri? Saya mah memilih enggak berkomentar apa-apa mengenai dunia perpolitikan yang makin panas....ya begitulah. Bukan saya apatis. Saya emang gitu orangnya. Ada sisi plegmatis dalam diri saya. Orang plegmais itu ya pengennya adem ayem, nggak suka mematik konflik. Nggak suka berdebat apalagi di dunia maya yang nggak bisa melihat dan mendengar mimik dan intonasi suara. Selain itu, saya ngeri membayangkan bahwa setiap orang yang membaca provokasi dari saya (misalnya) lalu dalam hatinya mendoakan saya dengan hal yang mengerikan (sumpah serapah misalnya). Saya ngeri kalau malaikat mencatat bisikan orang itu lalu Allah mengabulkan. Na'udzubillah.

Acara ngobrol bareng netizen dan MPR RI ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya. Lalu usai menyanyikan lagu, pak Zulhasan hadir beserta pak Ma'ruf Cahyono (Sekretaris Jendral MPR RI). Setelah menyapa para netizen yang semuanya merupakan blogger Bandung dan sekitarnya, pak Zul mempersilahkan peserta yang hadir untuk menyampaikan uneg-uneg dan mencurahkan isi hati mereka. Mumpung ada yang menampung dan pak Zul memang mempersilahkan kami untuk curhat, BloggerBDG banyak yang mau menyampaikan pendapat.




Namun entah mengapa saya mah enggak berani mengangkat tangan untuk menyampaikan keresahan saya sebagai warga negara Indonesia dan netizen. Mungkin karena kemampuan public speaking saya yang memprihatinkan sehingga takut berbicara di depan banyak orang. Belum apa-apa sudah ndredeg duluan. hahaha

Dari sepuluh orang yang curhat, ada satu orang yang menarik topiknya. Yaitu tentang persekusi ustadz Abdul Somad yang tengah ramai dan viral di jagad maya. Sehingga ada ramai-ramai bahwa ustadz menjadi sasaran tembak lalu Bali dinyatakan sebagai daerah intoleran karena provokasi segelintir orang.

ps. buat yang belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, silahkan baca klarifikasi resmi ustad Abdul Somad dan cari sumber berita yang kredibel.

Jadi beginilah tanggapan yang menentramkan dari pak Zul mengenai hal tersebut :

"Memang sangat disayangkan hal tersebut bisa terjadi. Tangkap saja orang yang menjadi provokatornya. Karena yang 'nakal' dari kejadian di Bali itu hanya beberapa orang. Tangkap saja.
Lalu, dengan kejadian tersebut, janganlah lalu mengecap Bali sebagai daerah intoleran. Yang salah itu cuma beberapa orang. Banyak orang Bali yang baik-baik. Teman saya, ada orang Bali dan mereka pun baik. Sama halnya dengan yang menyebut Islam intoleran. Yang intoleran itu hanya sedikit orang. Jadi jangan juga karena beberapa orang Islam yang tidak baik, jadi mencap bahwa Islam intoleran. Karena masih banyak orang Islam yang baik-baik."

ps. tulisan tidak sama persis dengan ucapan pak Zul, namun intinya adalah seperti itu.

Kesembilan penanya lain mengangkat tema yang berbeda. Diantaranya keresahan kelangkaan gas melon 3 kg, permasalahan sampah di kota Bandung, pajak royalti penulis buku yang sangat besar, plagiasi semakin marak, dan sebagainya dan sebagainya.

Waktu satu jam saya rasa enggak cukup untuk ngobrolin semua permasalahan rakyat kepada wakil rakyat di MPR. Namun setidaknya, suara kami ini didengar langsung oleh pak Zul dan dan semoga disampaikan kepada wakil kami di legislatif untuk kemudian hari mereka membuat peraturan perundangan di Indonesia yang berpihak kepada rakyat kecil.

Acara ngobrol bareng netizen seperti ini sangat membuat rakyat jelata kayak saya menjadi seperti enggak ada pembatas dengan wakil kami di legislatif (MPR). Jadi seperti orang tua dan anak gitu yang sedang ngobrol mencurahkan isi hati. eaak..
Kalau diadakan tiap tahun dan menyasar ke berbagai daerah sih kurasa akan sangat baik. Lalu, mungkin nggak ya MPR ngadain ngobrol bareng mahasiswa atau anak-anak SMA? Agar dedek-dedek gemesh ini juga sedikitnya aware sama 4 Pilar Kebangsaan.

Pertemuan netizen dan MPR RI sore itu ditutup dengan foto bersama dan nggak lupa netizan yang hadir bergantian mengajak wefie pak Zul. :))

Semoga lain waktu bisa ngobrol-ngobrol lagi ya, Pak.

Salam

sumber foto diambil dari instagram @bangaswi 


10 comments:

  1. senangnya Bu bisa ketemu ketua MPR , sayang keresahannya bener nggak bisa kesampaian

    ReplyDelete
  2. wah tulisannya lengkap

    #kerennnn

    Seneng ya bisa ketemu langsung dengan Ketua MPR yang ternyata ramah

    Mbak Uwien, boleh pinjam fotonya pak Zul, punya saya backlight

    #sedih

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen ikutan langsung acaranya

    ReplyDelete
  4. acaranya seru banget yah, bisa langsung bertemu dengan ketua MPR RI yang menjawab langsung semua kegelisahan kita

    ReplyDelete
  5. Seru ya ngobrol barengnya, banyak kebenaran yang selama ini dipertanyakan akhirnya terkuak

    ReplyDelete
  6. aku aja baru tau nih soal pilar kebangsaan.wkwkwkw

    ReplyDelete
  7. terus semangat bu saya bangga jadi blogger dengan melihat postingan-postingan ibu sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  8. sama mbak... akupun males ribut di sosmed, pinginnya yang seneng-seneng aja. Lagipula dalam politik itu terlalu banyak trik dan intrik jadi males mau nanggepinnya...

    ReplyDelete
  9. Aku pun gitu Win,kalo ada yang nyetatus ngebahas politik dll yang mengandung SARA, no komen deh, mendingan pajang poto2 yg adem lihat2 poto2 yg traveling bikin adem

    ReplyDelete
  10. Ah iya. Perseteruan di media sosial itu sering kali begitu menyeramkan. >.<

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)