1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

27 November 2014

Ngomongin Makro


Ceritanya beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan hunting foto -mumpung ada kamera SLR- sekaligus belajar makro. Walaupun cuaca di Cimahi sedang dingin karena habis hujan gede, mendung tebal dan kabut juga turun tipis, sore hari yang cloudy itu tak menyurutkan tekad saya untuk blusukan di kebun, di pekarangan samping dan depan rumah.

Jaket dan sepatu boot (jangan mbayangin saya make boot yang trendi, wakaka ) sudah saya kenakan. Langsung dah meluncur ke halaman.

semut di atas ilalang
foto di atas pake kamera hape

Begitu sampai halaman yang pertama sekali saya cari adalah semut. Biasanya, semut, kalau habis hujan gini suka angkut-angkut gitu, entah angkut makanan atau angkut telurnya untuk disimpan di sarang dan tempat yang aman. Ahaai... ketemu seekor semut.
Lalu saya berpindah ke tempat lain, menemukan belalang, lebah, lalat, capung, bapak pocung, kepik, dan bermacam-macam serangga yang ukurannya kecil-kecil.

Sudah berpuluh kali jepret, tapi setelah direview hasilnya kok nggak memuaskan banget. Beberapa foto makro sudah  saya posting di Belajar Makro yang Gagal. 
Kalau boleh saya bilang, moto makro itu susyah banget, apalagi untuk saya yang biasanya cuma moto bermodal kamera handphone. Saat memotret memakai kamera SLR masih belum bisa menyesuaikan diri. Secara berat, jelas kamera SLR lumayan berat
dibandingkan dengan hape. Hal itu membuat tangan menjadi cepat capek. Lalu, karena makro ini mengambil obyek-obyek kecil seperti binatang kecil, jadi saya berjalan sangat hati-hati, gerakan tubuh juga harus pelan, jika tidak maka target bisa saja kabur sebelum sempat dijepret.
Binatang-binatang kecil yang senangnya ngumpet memaksa saya untuk bergaya dalam mengambil angle yang tepat. Widiiiih, ini bisa dengan gaya jongkok, nungging, ndlosor, dan lain-lain. Keringat keluar semua. Kalo kata teman saya, sekalian olahraga. Bener juga! :D

Yang paling seru dalam belajar makro adalah ketika mau ngambil gambar harus tahan napas dulu dan nggak boleh gemeteran biar nggak goyang. Jika saya review hasil jepret kemarin, kok nggak ada yang benar-benar bening, ya? Padahal saat saya moto makro bunga-bunga cantik itu bisa bening dan jelas detailnya.

Jadi saya mengambil kesimpulan sendiri, bahwa foto-foto saya yang banyak noisenya alias bintik-bintik dan nggak tajam itu karena:
1. Belum terbiasa dengan kamera SLR.
2. Belum mengetahui teknik memoto makro.
3. Kurang pencahayaannya karena mendung, dsn kabut.
4. Tangan saya belum stabil, saat memoto masih ndredeg.

Jadinya tujuan makro yang untuk menampakkan detail yang nggak kasat mata, masih belum sempurna saat fotonya burem.

Hemm, mau gimana lagi... saya harus sering-sering belajar njepret pake kamera SLR dan belajar tekniknya.

5 comments:

  1. Pakai SLR kalau blm terbiasa suka goyang. Jadi gambarnya kurang tajem ^^

    ReplyDelete
  2. Nggak punya kamera SLR tapi pernah punya mirrorless. Hasilnya memang lain dari kamera digital biasa.

    ReplyDelete
  3. mak Ika, he eh... kalo aku kayaknya gak terbiasa sama lensa yg bukan dari pabriknya (lensa manual) jadi aja gak maks hasilnya.

    ReplyDelete
  4. waaah, itu (mirrorless) pun keren , mak Lusi.

    ReplyDelete
  5. masih belum fokus ya mak fotonya... hehehe... semangat terus belajarnya mak...

    kalau susah foto objek kecil yang bergerak seperti semut, mungkin bisa dicoba dulu objeknya diganti mainan. aku dulu belajar makro juga pakai mainan.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)