03 May 2014

Prompt Quiz #4 : Pulang

credit
Malam semakin pekat, namun aku tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Di dalam gerbong 7 ini tak banyak yang beraktifitas, sebagian memilih tidur karena perjalanan masih panjang untuk sampai ke Jawa Timur. Aku memilih melihat ke luar jendela, dari pada mengobrol dengan sebelahku. Di luar sana, malam tak bertabur bintang berhiaskan lampu dari rumah-rumah penduduk.

Kinanti, ibu pulang, nak.

Hampir delapan tahun aku meninggalkannya di desa bersama suami dan kedua kakaknya. Aku masih ingat tatapan sendu Kinanti, seperti mengikatku erat. Dia tek rela melepasku pergi. Namun, dengan berat dan hati hancur berkeping-keping, aku tetap melangkah pergi. Menjadi pembantu di Arab Saudi adalah pilihan terakhir setelah banting tulang di negeri sendiri tak merubah apapun.

Kini aku sudah cukup punya tabungan untuk menyekolahkan ketiga anakku dan sebagian untuk modal usaha. Aku kembali dengan senyum kemenangan. Walau di luar negri hanya sebagai pembantu, namun di kampungku aku akan menjadi orang yang kaya raya. Aku sudah tak sabar melihat keluarga menyambutku dengan senyum bahagia.

Membayangkan hal itu, aku jadi tersenyum sendiri. Kereta tetap melaju membelah kepekatan dan dinginnya malam.

Akhirnya setelah lima belas jam perjalanan dari Jakarta, aku sampai di kampungku. Sudah banyak berubah. Sekarang lebih bersih dan terang. Tanah kosong kini sudah berubah jadi kebun sayur. Jalannya juga telah di aspal. Beberapa orang yang masih mengenalku, menyapa dan mengaku kaget dengan kedatanganku.

"Darsih, oalaaah pangling aku. Sudah pulang ta dari Ngarab? Tambah manis ae." ujar lek Pon dengan suara tingginya.

"Iya, lek. Tapi maaf, lek. Darsih pengin cepet sampai rumah. Nanti kita ngobrol lagi."
Aku berseloroh pergi. Lek Pon menjulurkan tangannya hendak menahanku. Namun tidak jadi karena aku langsung pergi.

Aku sampai di depan rumah. Kusapukan pandangan ke sekitar. Pohon di depan rumah sudah tinggi dan besar. Dulu Kinanti suka bermain ayunan di situ. Aku tersenyum sendiri mengingat tawa renyahnya. Kemudian aku masuk rumah, lebih tepatnya bilik yang dari dulu tak pernah terkunci itu. Aku menyesal karena tidak pernah mengirim uang maupun berkirim kabar.

"Mas Joko, Bondan, Sarji, Kinanti !"
Rumah ini terlihat rapi terawat. Anak-anak yang rajin.

"Kinanti." aku menemukannya duduk di dingklik dekat tungku kayu bakar. Beringsut aku dekati Kinanti yang tertunduk. Rambut panjang menutupi sebagian wajahnya.

Kupegang bahunya. Dingin. Kinanti mengangkat wajahnya.

"Oouuh..!" aku membekap mulutku saat melihat wajah Kinanti hitam bak jelaga.

"Darsih..Darsih..! teriakan lek Pon memaksa aku keluar rumah.

"Lek..." aku menunjuk rumahku, tak sanggup meneruskan kalimat.

"Ngapain kamu jongkok dan bicara sendiri? Rumahmu kebakaran saat suami dan anak-anakmu tengah tidur lelap. Lek ndak tau cara ngabari kamu waktu itu."

Kubalikkan badanku. Kini pemandangannya jauh berbeda dari saat aku datang. Rumah kayu itu hanya menyisakan hitam jelaga di tanahnya.

~* End *~

"Untuk QUIA MONDAY FLASH FICTION #4 - Scetch Prompt"


432 kata

6 comments:

  1. Duh, kinanti nya dah mati, ya? Seremm

    ReplyDelete
  2. Waduh, serem ceritanya mba...
    Tapi kesian sekali Darsih ini, jauh2 ke Arab tapi ketika pukang tinggal seorang diri..sediiiiih :(

    ReplyDelete
  3. Subhanallah, Kasihan Darsih… tinggal sebatang kara.. :(

    Salam kenal dari Adelays,
    Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah Rp. 12.500.000, saya share disini :
    http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/

    ReplyDelete
  4. Hmmm... kalo narasi di awal2 cerita itu dibikin flashback sembari "aku" jalan pulang, kayaknya lebih menarik deh Mak...

    ReplyDelete
  5. bagus mak, setuju sama mak carra :)))

    ReplyDelete
  6. Jadi.... boleh diedit ladi gak? wkwkwk :D

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)