1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

22 April 2014

Prompt #47 : Kaila


credit

Kaila yang duduk di sebelahku tengah serius merunduk. Kedua jempolnya menari indah di atas telepon genggamnya.

"Psst.. gila lo. Kalau ketahuan bisa mampus kita." Bisikku tetap mengawasi bu Erri yang berdiri di depan kelas. Kaila tak peduli, ia terus saja melakukan aktivitasnya. Bermain game.
Sepanjang waktu kerjaannya nge-game. Hanya saat tidur dia berhenti. Huh! Bahkan aku pernah lihat dia memainkan jempolnya dalam tidur. Mungkin saat itu dia sedang bermimpi main game.

"Ehh, bu Erri melihat ke arah lo tuh." Aku tendang kakinya. Kaila tergagap, secepat kilat hapenya sudah masuk ke dalam tas, kemudian pura-pura mengerjakan soal ulangan.

"Kenapa lo nggak bilang, Mel ?" Kaila berbisik, melotot padaku.

Gigiku beradu hingga menimbulkan bunyi, "Udah tauk. Lo aja yang nggak denger."

Disaat Kaila stress, pelariannya adalah bermain game.
"Satu-satunya yang bisa menghilangkan penat gue adalah ini, Mel." katanya dua tahun lalu.

Dia memang gamer sejati. Di telepon genggamnya berbagai jenis permainan ada. Dan itu ia mainkan di setiap waktu, termasuk di kelas saat ulangan seperti sekarang. Kecuali ketika mata pelajaran yang gurunya killer, baru dia bisa duduk manis.

Kaila yang anak tunggal dari pasangan pebisnis besar memang haus kasih sayang dan perhatian. Yang ia tahu ,kasih sayang dari kedua orang tuanya adalah dengan memberinya gadget. Makanya, dari kecil teman Kaila hanyalah game. Setelah masuk SMA barulah dia berteman, itupun hanya denganku. Anak perempuan dari keluarga sederhana.

Hari ini di kantin, Kaila main game lagi. Aku yang duduk di depannya tak digubris. Aku hanya bisa geleng-geleng sambil menikmati mi bakso, traktiran dari Kaila.

"Kaila sayaaaang, lo harus makan dulu. Inget perut tuh, udah keroncongan!"
"Hemmm.." Kaila hanya bergumam.
"Ntar kalo maag lo kumat lagi, siapa coba yang repot? Gue La..gue!"

Kemudian aku bicara panjang lebar mengingatkan Kaila ketika penyakit maagnya  kambuh karena dua hari tidak makan nasi. Karena nge-game sepanjang waktu. Waktu itu aku yang menungguinya di rumah sakit. Sementara mama papanya hanya mempercayakan anaknya kepadaku. Tentu mereka memberiku upah yang cukup besar. Dasar Kaila, dalam keadaan terbaring di tempat tidur rumah sakitpun ia masih mencari telepon genggamnya dan bermain game.

Sepertinya Kaila mulai mengaminkan perkataanku, jempolnya berhenti.
"Oke deeech, nyonya besar." Kaila menyeruput kuah bakso dan mulai makan. Aku tersenyum puas.
" Oya ,Mel. Pulang sekolah bareng, ya. Kita mampir dulu ke FO. Gue pengen beliin sesuatu buat ibu lo." Aku hanya mengangguk.

Hari ini di sekolah aku sangat bahagia karena Kaila mau menuruti perkataanku. Aku tersenyum puas. Memandang Kaila menghangatkan dadaku. Aku merasa semakin menyayanginya seperti saudara sendiri. Kami sudah berteman hampir tiga tahun. Banyak kejadian yang membuat kami semakin dekat. Dan kali ini  dia membelikan baju yang harganya selangit untuk ibuku tercinta.

"Thanks ,ya La. Gue nggak bisa membalas semua ini." Air mataku hampir tumpah.

Aku menggamit lengan Kaila yang dari tadi masih bermain game. Kami keluar dari FO dan hendak menyeberang jalan. Kulihat tali sepatuku lepas, akupun jongkok untuk menalinya. Tiba-tiba terdengar klakson dan rem mobil berderit. Saat kudongakkan kepalaku, tubuh langsing Kaila telah terpental dan jatuh di aspal. Darah mengalir membanjiri aspal.

"Kailaaa..!"

***End***
Bandung, 22 April 2014

495 kata
untuk Monday Flash Fiction Prompt #47 : Sang Mariyuana

2 comments:

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)