1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

06 April 2014

Prompt #45 : Janji Kita

credit
"Sssst, jangan bilang siapa-siapa, ya! Ini rahasia kita berdua."
Aku mengangguk. Panji melempar senyum.

"Nanti saat usia kita 21 tahun, kita ketemu lagi di sini. Ingat ya, Wik, tanggal 10 Desember. Di manapun saat itu kita berada, kita harus kembali ke sini dan membuka isi kaleng itu." Dia berdiri dan berkacak pinggang. Melihat sekeliling.

"Aman."

"Ayo, Wik. Kita pulang. Nanti kamu dicari Simbokmu." Ia menarik lenganku.
Aku menoleh ke belakang, memandang gundukan tanah di bawah pohon itu.
Aku ingin tahu apa isinya. Tapi aku sudah berjanji pada Panji untuk tidak membukanya.

Panji semakin erat menggandeng tanganku.
"Siap ya Wik, kita akan berlari." Belum lagi aku menyiapkan diri, Panji sudah menyeretku.

"Ayo! Masih jauh dari rumah. Tadi aku pamit ke emakku cuma mau belajar kelompok. Bisa babak belur aku kalau sampai kemaleman." Aku dan Panji masih berlari.

Kutatap wajahnya dari samping. Keringat membanjiri kening dan lehernya. Aku tersenyum sambil terus berlari mengiringi irama kakinya.
*
Hari ini, tiba-tiba aku teringat akan pohon di halaman sekolah SD kami. Pada kaleng itu. Pada janjiku dan Panji dikala. Setelah sekian lama melupakannya. Mencoba melupakannya, karena Panji sudah menikah dengan perempuan Aceh, dan tinggal di sana. Sehari sebelum waktu dimana kita akan membuka kaleng itu.

Dan tiga tahun aku berjuang melupakan Panji. Aku benar-benar lupa.Isi kaleng itu, aku sudah tidak tertarik lagi. Pada akhirnya aku menikah dengan Jarwo, teman SD ku, teman dekat Panji. Lalu setelah menikah dengan Jarwo aku diboyong ke Semarang. Lima tahun menikah, cerai karena aku mandul.

Lalu, kenapa saat ini aku jadi teringat akan janji itu? Dan entah rasa apa ini, yang tak terbendung dan mengaduk aduk perasaan untuk kembali ke pohon itu.

Apakah pohon di halaman sekolah kini masih ada?
Apakah kaleng itu masih ada di sana?
Atau sudah lenyap di makan usia?

Keesokan harinya, aku bertekad kembali ke Situbondo. Naik bus kota menuju tempat kelahiranku. Walaupun Simbok dan Bapak sudah tiada, namun rumah bekas kami tinggal masih ditempati oleh Bu Lek. Sekalian silaturahmi, pikirku.

Begitu sampai di Situbondo, desa Curah Tatal, aku langsung menuju SDN 7 Curah Tatal, tempat aku bersekolah dulu. Bangunannya banyak berubah setelah lima tahun aku tidak melihatnya. Namun pohon itu...pohon itu masih ada. Aku berlari menghampiri. Lalu menangis tersedu memeluknya. Seperti memeluk Panji yang tiba-tiba saja kurindui.

Kubuka kaleng yang sudah berkarat itu. Secarik kertas yang sangat usang, dan sebuah jepit rambut. Jepit rambut  satu-satunya yang kupunya. Ada tulisan di dalamnya. Aku termangu setelah membaca tulisan itu.
Wiwik koncoku, janji lho... balikin kelerengku yang kamu lemparin ke sungai. Semuanya ada 255 buah. Nanti aku balikin jempit rambutmu ini. Panji.
 Aku telah salah sangka. Panji, kukira kau menyukaiku. Tidakkah kau dengar janjiku? Janji seorang perempuan kepada laki-laki yang dikasihinya. Walau janji di dalam hati saja, karena aku ... bisu.

*** 

Bandung, 06-04-2014
445 kata

Dibuat untuk Prompt Challenge #45 : Ada Apa Dengan Cinta Monday Flash Fiction.

5 comments:

  1. awwwww...
    Perasaan cinta si "aku" sebenernya bisa dibikin mendayu-dayu lagi Mak, biar endingnya kerasa lebih jleb!! :D

    Mmmm... jadi pengen ngremake XD

    ReplyDelete
  2. iya dech, aku pengennya juga gitu. Cuman gak tau musti gimana meng-eksekusi endingnya. Hu huuuhu, itu sebenernya pengen pake syair yang Ingin Bersama Selamanya untuk isi kalengnya. Tapi mosok anak kelas 6 SD bisa bikin syair "dewasa" gtu.
    T_T
    #galau tudemaks

    ReplyDelete
  3. Mesakke... wis bisu, mandul. :(

    ReplyDelete
  4. si aku ini kok nelangsa banget ya..

    ReplyDelete
  5. kasihan ya nasib si aku. :(

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)