1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

06 February 2014

Prompt #37 : Lenyap Bersama Angin


sketsa oleh Masya Ruhulessin

Aku telah puluhan kali mencoba mengayunkan tongkat ini, namun tetap saja tidak berfungsi seperti biasanya. Kulemparkan tongkat itu ke tanah karena kesal.

"Hei, etrapiot, kenapa denganmu hari ini? Keluarkan kemampuanmu seperti biasa!" aku membentak tongkat berwarna ungu itu.

Kalau begini terus, aku tidak bisa bekerja dan mengikuti seleksi hari ini. Dan peri Carra pasti akan murka.

Kugigit kuku sambil berjalan mondar-mandir mencoba berfikir apa yang telah terjadi dengan tongkatku. Kuambil kembali etrapiot dari tanah dan sekali lagi kucoba mengayunkan tongkat sambil  mengucap mantranya. Nihil. Tak juga bereaksi.

"Enjes marikojes!" kuucap mantra lebih keras, namun pucuk tanaman ini tidak juga tumbuh seperti kemarin.

"Iriish!" peri Carra memanggilku dari kejauhan. Nafasku tercekat.

Apa yang  harus kulakukan? Aku dalam masalah besar.

"Irish, kenapa kamu masih di sini? Yang lain sudah menunggu di Pohon Pertemuan. Ayo,lekas ke sana!"

Kemudian aku mengikuti peri Carra dari belakang. Kudengar peri Carra masih memanggili anak buahnya yang belum berkumpul. Hari ini adalah hari penting. Hari dimana para peri akan menunjukkan kualitasnya. Peri yang kemampuannya meningkat maka ia berhak naik jabatan. Dan aku sangat sangat mengharapkan itu. Aku ingin lepas dari kelompok peri Carra yang sangat galak. Jika penampilanku memukau Ratu Floresia maka kedudukanku akan menyamai peri Carra sebagai pengawas peri.

Semua peri sudah berkumpul. Disusul Ratu Floresia bicara. Aku menunduk dalam barisan peri pekerja dan berharap keajaiban terjadi. Kupandangi etrapiot,tongkatku, sambil berdoa dalam hati.

"Semoga terjadi keajaiban. Etrapiot kembalilah seperti semula."

Mataku membelalak tatkala kulihat nama Irvina tercantum di tongkat yang kupegang. Dalam barisan peri tidak nampak Irvina.

"Edith, kau tahu di mana Irvina?"

"Tidak. Tapi tadi aku lihat dia sedang latihan di hutan pinus."

Ini kesempatanku, peri Carra sedang sibuk di depan. Aku harus mencari Irvina. Jika tongkat ini tidak dikembalikan, kami berdua dalam masalah. Sekarang aku ingat kemarin kita sama-sama menumbuhkan pucuk pohon pinus, lalu aku tertabrak seekor burung yang sedang terbang dan tongkatku terjatuh. Kemudian Irvina menolongku. Mungkin pada  saat itu tongkat kami tetukar karena warnanya sama jadi tidak kuperhatikan.

Langkahku terhenti tatkala mendengar rintihan dari bawah pohon. Kudekati sumber suara itu.

"Oh.. Irvina!!" desisku.

Kudekap tubuh yang mulai memudar di bagian kakinya. Irvina  berusaha membuka matanya.
"Kau tahu, Irish? Seorang peri tanpa kekuatannya bukanlah apa-apa. Dia sudah tak berguna. Begitu juga denganku, akan lenyap bersama angin." ucap Irvina terbata-bata. Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuhnya menghilang bersama hembusan angin.

***
Aku memandangi tongkat Irvina lekat-lekat. Sekarang tepat setahun ia menyatu dengan alam. Aku kehilangan  sahabat terbaikku. Irvina gagal mempertahankan diri dari serangan Hawk saat akan pergi ke Pohon Petemuan. Tanpa tongkat ajaib ini, seorang peri hanya seperti serangga bersayap.

Sejak saat itu setiap bulan purnama, selalu terdengar tangisan dari pohon pinus tempat Irvina meninggal. Dan sekarang adalah bulan purnama.

"Irvina, aku kembalikan tongkat ini. Aku berhasil menjadi ketua pengawas sekarang berkat menyatukan kekuatan tongkat kita."

Kusisipkan tongkat Irvina di pohon pinus, kemudian terbang menjauh.

----#----
end

 467 kata
Monday FlashFiction

4 comments:

  1. Ceritanya baguuus, Mak! Serasa benar2 seperti dalam dunia peri. Tapi ada yang sedikit mengganggu saya, kalimat ini ==> Irvina gagal mempertahankan diri dari serangan Hawk saat mau pergi ke Pohon Petemuan. Mungkin akan lebih baik jika kata 'mau' diganti 'akan', supaya lebih baku gitu kayak bahasa buku cerita anak bergambar. Hehe. Dan cerita ini endingnya manis, tapi no twist menurut saya. Tapi tak apa, saya suka saya suka! ^_^

    ReplyDelete
  2. Oke,Mak. *edit* Trims a lot yaa ^.^

    ReplyDelete
  3. Oh, jadi ceritanya kalo peri nggak megang tongkatnya sendiri, jadi nggak bisa mengoperasikan tongkat itu ya...? *berusaha memahami kehidupan peri :D

    ReplyDelete
  4. iya setuju sama mbak kartika. no twist.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)