24 January 2014

Menebar Energi Kasih Sayang


"Tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah SWT akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina."


Suatu hari Umar bin Khathab berjalan-jalan di seputar Madinah. Saat itu ia melihat seorang anak kecil sedang memainkan seekor burung pipit. Timbullah rasa iba dalam hati Umar. Ia pun segera membujuk si anak untuk menjual burung pipit mainannya. Anak itu setuju. Segera setelah bertransaksi, Umar melepaskan burung itu ke udara.

Setelah beliau wafat, sebagian sahabat mimpi berjumpa dengan Umar. Mereka bertanya, "Bagaimana Allah memperlakukan Anda?" Umar menjawab, "Allah mengampuni dan memuliakan."

Para sahabat bertanya kembali, "Apakah sebabnya? Apa karena kedermawananmu, keadilanmu, atau karena kezuhudanmu?".

"Ketika manusia menguburkanku dan mereka pulang, tinggallah aku sendirian di dalam kubur. Maka datanglah dua malaikat. Akalku hilang dan aku pun gemetar ketakutan. Mereka mendudukkanku untuk menanyaiku. Saat itulah terdengar suara tanpa rupa: 'Wahai Malaikat, tinggalkanlah hamba-Ku ini! Tidak usah kalian tanya atau kalian takut-takuti dia, sebab Aku menyayanginya dan akan Aku bebaskan siksaan daripadanya. Karena dia adalah seorang yang mengasihi seekor burung pipit waktu di dunia. Maka di akhirat Aku menyayangi-Nya," demikian keterangan Umar.

Di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Satu hukum yang menjelaskan bahwa sebuah energi tidak akan pernah hilang, ia hanya sekadar berubah bentuk. Sebagai sebuah ilustrasi, dari dulu hingga sekarang jumlah benda cair selalu tetap jumlahnya, hanya bentuknya saja yang berubah-ubah.

Hukum ini berlaku pula pada manusia. Setiap energi yang dihasilkan, entah itu energi positif (amal saleh) maupun negatif (dosa), nilainya tidak akan pernah hilang. Kita menolong orang yang kesusahan misalnya, maka energi positif tersebut akan selalu ada dan akan kembali pada kita. Bentuknya bisa sama, ditolong kembali oleh yang lain saat kita kesusahan, ataupun dalam bentuk berbeda, berupa pujian dari manusia, ketenangan jiwa, atau pahala di sisi Allah.

Bahkan, dalam pandangan Allah Swt, energi kebaikan tersebut akan dikembalikan kepada pembuatnya dalam jumlah yang berlipat-lipat. Difirmankan, Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walau sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (QS An-Nisa' [4]: 40).

Pengalaman Umar bin Khathab menjadi contoh konkret akan adanya hukum kekekalan energi. Walau hanya menolong seekor pipit, Allah SWT membalasnya dengan pahala yang teramat luar biasa. Umar telah memberikan energi kasih sayangnya dan Allah SWT membalasnya dengan energi kasih sayang yang jauh lebih besar. Tidak hanya itu, kebaikan yang terlihat "sepele" tersebut makin mengangkat derajat Umar di hadapan Allah dan semua makhluk-Nya.

Benar apa yang dikatakan Rasul bahwa tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah Swt akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina.

Ada kisah lain yang menunjukkan betapa energi kasih sayang yang dianggap sepele, mampu mengangkat pelakunya pada tempat yang terhormat. Di antaranya kisah seorang pezina yang diampuni Allah dan dimasukkan ke dalam surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Sebaliknya, ada seorang ahli ibadah yang divonis masuk neraka hanya karena mengurung seekor kucing tanpa diberi makan, sampai kucing tersebut mati kelaparan.

Kasih sayang dan kualitas beragama
Hakikat keberagamaan adalah terjalinnya kasih sayang. Allah SWT menurunkan Islam sebagai pemandu bagi manusia agar saling berkasih sayang dan menyebarkannya pada penghuni bumi yang lain. Allah SWT berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya' [21]: 107).

Karena itu, tidak mungkin seorang yang mengaku Muslim tega menyakiti makhluk Allah lainnya tanpa alasan yang jelas. Mukmin adalah mereka yang bisa memberi kedamaian kepada semua objek di sekitarnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Kalian tidak dianggap beriman sebelum kalian saling menyayangi." Para sahabat bertanya, "Bukankah masing-masing kita memiliki kasih sayang?". Beliau menjawab, "Yang dimaksud bukanlah kasih sayang seorang di antara kalian kepada sahabatnya. Tetapi kasih sayang untuk umat manusia, kasih sayang yang bersifat umum".

Bila kasih sayang sudah menyebar di muka bumi, maka curahan kasih sayang Allah pun akan tertuang di atasnya. "Kasihilah yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihi yang di langit". Sebaliknya murka Allah akan turun tatkala kita menzalimi yang di bumi.

Boleh jadi, kesempitan hidup yang kita derita, salah satu penyebabnya adalah telah lunturnya kasih sayang di dalam hati kita. Lihatlah, kita sering tidak peka terhadap kesusahaan orang lain. Saat teman sakit, kita anggap itu biasa dan tidak terenyuh untuk sekadar menanyakan kabar atau menjenguknya. Saat ribuan TKI diusir dari negara lain, kita menganggapnya sebagai hal biasa. Jarang kita memberi perhatian pada mereka walau dengan seuntai doa.

Ada satu hadis dari Abu Hurairah yang layak kita renungkan. Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat, 'Wahai Anak Adam! Aku telah sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku'. Dia (Anak Adam) menjawab, 'Ya Rabbi, bagaimanakah aku menjenguk-Mu, padahal Engkau Rabb al-Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu, bahwa hamba-Ku telah menderita sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu menjenguknya, niscaya kamu dapati (pahala dari) Ku berada di sisinya'.

'Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan'. Dia menjawab, 'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabb al-Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya makan, niscaya kamu dapati balasannya ada pada-Ku'.

'Wahai anak Adam! Aku meminta minum, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum'. Dia menjawab: 'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabb al-'Alamin?'. Allah berfirman, 'Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa kalau kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapati balasannya ada pada-Ku'." (HR Muslim).

Apa makna dari "Aku sakit engkau tak menjenguk-Ku, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan. Aku haus tapi engkau tak memberi-Ku minum?". Bagaimana Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahakaya berfirman bahwa Dia sakit, Dia lapar dan Dia haus? Hakikatnya, Allah itu bersama orang-orang yang kesusahan. Siapa yang menyayangi dan menolong mereka, nilainya sama dengan menyayangi dan "menolong" Tuhannya.

Siapa yang menebarkan energi kasih sayang, maka ia akan mendapatkan balasan yang sama bahkan lebih. Wallahu a'lam bish-shawab.

0 komentar:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)