17 January 2014

Ekspedisi Goa Jomblang

Waktu 'ngacak-acak' komputer ( semua hardisk dari laptop-laptop dan komputer jadul di jadiin satu di komputer ini ), saya nemuin banyaaaak sekali foto Kang Budi saat masih muda dulu, bareng temen-temennya di SQUAD. Foto apaan? Foto saat mereka bareng-bareng mendaki gunung. Yup. kerjaannya pecinta alam , khan, naik-turun gunung.

Saya pun penasaran. Kali ini saya tertarik sama Gua Jomblang karena bentuknya yang vertikal amazing banget , lain dari gua-gua lain yang umumnya horizontal. Jadi, hari ini saya mengumpulkan hasil wawancara ( *halah wawancara) kemarin, lusa, dan kemaren kemarennya lagi -maafkeun informasi waktu yang tak karuan soalnya ngobrolnya kepotong potong- di sini. Biar kalau sewaktu-waktu saya lupa, bisa dibaca-baca lagi. Sekaligus ngasih perbandingan Gua Jomblang dulu dengan yang sekarang . Pssst, kata salah satu temen saya udah jadi obyek wisata, lho. Dan ternyata setelah saya gugling, memang benar sekarang banyak yang menawarkan jasa tour Luweng Jomblang.

Emm, kembali ke tanya jawab saya. Pertama kali saya liat foto ini saya melongo. Belum pernah liat gua vertikal yang gede banget : "Wuiih, keren. Ini siapa Kang?"
"Oooh, itu saya dan temen-temen SQUAD waktu ekspedisi ke Luweng,"


Saat masuk ke Luweng Jomblang. Keren ya.  Gak lupa mengibarkan bendera SQUAD

Saya : " Berapa orang yang ke sana?"
Kang Budi : " Kami berenam. Di foto ini cuma lima. Satu orang sebagai tukang fotonya."

fotonya keliatan jadul, orangnya juga jadul-jadul , kekeke :p


Saya : " Kang, tahun berapa pertama kali ekspedisi ke Luweng Jomblang?"
Kang Budi : " Pertama kali tahun 2006. Kemudian tahun-tahun berikutnya 2007 dan 2009. Waktu pertama kali ke sana warga di sekitar sana pada heran 'Ngapain ke Luweng' kata warga yang kebetulan berpapasan dengan kami . Karena waktu itu belum pernah ada yang ke sana (Luweng Jomblang)."
Saya : "Jadi, sebelumnya belum pernah ada yang ke sana?"
KB : " Sebelumnya mungkin sudah, cuma nggak banyak seperti sekarang. Setelah orang dari luar negri itu datang dan syuting di situ tahun 2009, selanjutnya para pecinta alam ramai ke situ kan? Dan bahkan yang saya dengar, sekarang anak kecilpun bisa masuk kesana, karena sudah ada pemandu dan peralatan yang lengkap. "

Saya : " Ceritakan dong bagaimana perjalanan dari Bandung sampai di sana( Gua Jomblang, Yogyakarta )
Kang Budi : "Kami berenam touring pake motor. Kebetulan di Yogya ada kenalan saat jadi relawan waktu gempa dulu. Jadi, kami istirahat di sana.

di sinilah kami melepas lelah

Saya : " Trus, apa yang paling berkesan dengan ekspedisi ini?"
KB : " Tentu saja semuanya berkesan. Bayangin aja, kami hanya berenam saja di dalam hutan yang belum sering dijamah sama manusia. Masih ada binatang buasnya. Penduduk sekitar situ juga tidak pernah ke luweng. Mereka (warga sekitar) masih takut, karena ketika malam hari muncul suara-suara dari dalam gua. Lalu, ada juga saat mau turun ke dasar luweng dan saat naik kembali ke atas. Dan yang paling mengesankan ketika masuk ke dalam gua horizontalnya, setelah berjalan sekitar 300 meter sampai pada sebuah gua vertikal lagi namanya gua Grubug. Gua Grubug terlihat lebih kecil penampakannya (namun sebenarnya gede juga) karena Gua Grubug lebih tinggi yaitu 90 meter. Kalo cuaca sedang cerah dan masuk pada jam sebelas sampai sekitar jam 1 atau jam 2, kita akan melihat pancaran cahaya dari luweng Grubug ini. Kalo sekarang lebih terkenal dengan....sssh apa namanya? Cahaya Syurga kalo nggak salah. "

Saya : ...diam...
 *hening*
Selanjutnya biarlah foto-foto yang bicara :)

persiapan sebelum turun


 turun ke dasar Luweng


Apa-aaan.. cuma gitu doang?
iya

Jadi, mana yang disebut 'cahaya syurga' itu?
Sabar ya.. nanti kita lanjutkan di 'Ekspedisi Goa Jomblang bagian kedua'.

2 comments:

  1. Dulu memang dikenal serem karena katanya para korban pembantaian PKI dibuang di goa Jomblang. Setelah kemudian goa tersebut dibersihkan dari tengkorak-tengkorak, jadi gak dianggap serem lagi.

    Dulu juga katanya truk-truk bisa masuk sampe deket goa jomblang. Tujuannya untuk mengambil bebatuan di sekitar sana. Setelah tanah di sekeliling goa Jomblang dibeli semua sama Cahyo Alkantana, sekarang truk udah gak boleh masuk ke sana lagi. Lahan sekitar yang tandus karena akibat penambangan pun 'dihijaukan' sama Cahyo. Dan, sempet ngobrol sama penduduk sana, mereka berterima kasih karenanya.

    Sekarang memang jadi tempat wisata. Betul, anak saya yang kecil pun bisa masuk. Tapi, saya rasa Cahyo sebagai pemilik lahan sekitar (bukan pemilik goanya, ya), juga akan menjaga. Makanya wisata ke sana dibikin mahal harganya. Salah satu tujuannya supaya gak terlalu banyak orang yang bisa ke sana. Itupun tetap ada pembatasan wisatawan biar gak rusak goanya. Waktu saya kesana, mereka tegas tentang do's & don'ts nya

    Malah dia pernah mengkritik tentang goa pindul. Yang karena salah manajemen, diantaranya karena biaya yang sangat murah dan tidak membatasi jumlah wisatawan, akhirnya wisatawan yang kesana membludak. Dan itu bisa merusak goa pindul

    Panjang banget komen saya, ya :D

    ReplyDelete
  2. Iya bener banget, memang seperti itu ceritanya.

    Waktu mbaca cerita Ke2nai ke Jomblang, saya jadi iri. Kecil-kecil udah sampe sana (Jomblang). Ayah Bundanya keren banget, sich. Nanti kalo Dhia dan Akram udah segede Ke2nai skrg mau saya ajakin ke sana juga. :)

    Mak Myr, makasih banyak info tambahannya buat pembaca. ^_^

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)