1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

22 December 2013

Simbokku Sayang



Tadi pagi, saya nelpon Ibu saya di kampung. Berhubung Hari Ibu jadi pinginnya saya mengucapkan "Selamat Hari Ibu" gitu, pingin memberikan suatu kata-kata yang manis, yang spesial dan membuat kami lebih dan lebih menyayangi. Namun, begitu telpon dari saya diangkat sama Ibu yang terdengar bukannya suara yang saya rindui, tapi malahan ocehan dari ponakan saya yang tinggal (red: diasuh) sama Ibu. Errr, langsung gak mood, dech, asli!

Biasanya saya nelpon Ibu bisa sampai 20 bahkan 30 menit. Ngobrol apa aja tentang saya, kadang gantian Ibu yang cerita keadaan di kampung. Lha ini gak sampai 10 menit sudah saya tutup, habisnya niat awal khan mau bersayang-sayangan sama Ibuk.

Dari waktu yang sebentar tadi, yang saya ngobrol sama Ibu diiringi ocehannya ponakan, beliau mengabarkan kalau di sana lagi kebanjiran. Dari satu kabupaten, 6 kecamatan kebanjiran. Yang ada, sekarang saya malahan sedih.

Jadi,ya.. sekarang saya masih rindu sama Ibu saya. Mau minta dianterin buat pulang sama Kang Budi, gak enak karena untuk liburan sekolah kali ini kita gak berencana ke rumah orang tua. Dan, Kang Budi pun lagi banyak cetakan buku yang harus diselesaikan.

Oh, jadi panjang lebar begini curhatnya.

Hari Ibu kali ini, saya kangen juga sama lagunya Iwan Fals yang judulnya Ibu. Sembari nulis ini, saya puter berulang-ulang lagunya.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu...Ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu...Ibu
 

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu...Ibu

Ibuku persis seperti yang digambarkan Iwan Fals dalam lagunya. Beliau dari kecilnya,dari umur 12 tahun, sudah ikut membantu ibunya mencari nafkah. Begitu menikah dengan Bapak saya, beliau juga banting tulang mencari nafkah sendiri untuk membiayai kelima anaknya, dan juga suaminya. Sampai anak-anaknya tumbuh besar, sekolah, bekerja, bahkan anak-anaknya sudah menikahpun, beliau masih terus bekerja.

"Kemana, anak-anakmu wahai Ibu!" jerit hatiku. Sayapun sampai sebesar ini belum mampu membalas semua perjuanganmu. Setidaknya membiarkannya menikmati masa tua dengan senang. Saya belum mampu, Ibuuuu. Dengan apa kumembalas??

Ingin selalu menemani hari-harimu, melayanimu, membahagiakanmu dan Bapak. Namun di sisi lain, akupun harus menemani suamiku memperjuangkan cita-cita dan mimpi-mimpi kami.

Hanya do'a-do'a yang selalu aku panjatkan kepada Yang Maha Esa, semoga Simbok (panggilan untuk Ibuku) selalu sehat dan bahagia.
Simbok...engkau adalah Bidadari dari taman syurga-Nya, yang diutus untuk menjadi malaikat penjagaku di dunia.




sumber Youtube

4 comments:

  1. I feel you mak. Ibuku jauuuuuh. Setahun sekali ketemunya, dibagi sama mertua waktunya :(

    ReplyDelete
  2. Trims Mak. qta senasib. Jauh dari orang tua itu membuat rasa cinta semakin besar.

    ReplyDelete
  3. setiap ibu memang seorang pejuang ya... hebat simboknya mak :')

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)