1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

01 January 2014

Menginstall Sabar



Seminggu ini, saya merasakan banyak terjadi “tantrum” pada diri saya. Awalnya saya nggak menyadari. Hingga tadi sore, menjelang Maghrib, Kang Budi bilang begini:
“Kenapa, siiih. Teriak-teriak mulu, Mi?”
“Ini lo, Bi. Akram numpahin air”

Lalu, beberapa menit kemudian.
Prang !!
“Astaghfirullah, Akram. Mau dibawa kemana toplesnya?” pekikku saat Akram (1,5 tahun) menenteng toples beling sambil berjalan kesana-kemari.
“Kenapa lagi, Mi?” tanya Kang Budi masih dengan suara datarnya. Seperti pura-pura nggak tahu. Iya, soalnya beliau lagi membaca, sih.
“Ini lho, Bi. Akram angkat-angkat toples, terus toplesnya jatuh menimpa mangkok kesayangan Umi.” Kataku sembari membersihkan pecahan beling.

gambanya dari sini


Dan…masih banyak yang lain lagi di hari-hari sebelumnya. Untuk hal-hal kecil seperti ini, sekarang saya mudah kaget dan menjerit atau teriak.
Dua minggu lalu, Kang Budi masih menganggap hal ini wajar (katanya tadi), ketika saya sedang ‘merah’ maka emosi akan  mudah meledak. Namun, seminggu setelah ‘merah’ berlalu, kok, masiiih ada saja tantrumnya. Hal ini telah beberapa kali diisyaratkan oleh Kang Budi. Cuman sayanya nggak paham.

Maka dari itu, sebelum tidur malam ini, saya menulis di sini.
Saya berusaha memahami isyarat dari suami saya. (Beliau diam, seperti biasa menunggu beberapa saat biar saya mengerti dengan sendirinya). Dan setelah saya terdiam cukup lama (sambil ngelonin anak saya yang kecil) saya jadi mengingat lagi kejadian yang dulu-dulu, ke masa-masa saya masih punya anak satu yang masih batita.
Saya masih ingat dengan jelas. Kalau cuma persoalan anak menumpahkan air, mengacak nasi dari piring, memecahkan gelas, atau membudal buku-buku dari lemari, itu sama sekali nggak membuat saya marah. Ckck, ah… itu adalah hal kecil dan biasa saja. Namun, ketika sudah ada anak yang kedua dan anak pertama sudah lebih besar, saya merasa hal kecil semacam itu menjadi pemicu ledakan emosi.

Saya jadi berpikir, kalau begini berarti saya harus meningkatkan kesabaran saya, ya? Kalau begitu saya harus menginstall kesabaran saya ke level 2.
Ya! Mungkin seperti itu. Anak saya sudah dua, tapi kalau kesabaran saya masih di level satu, ya nggak bakal nyampe. Akibatnya, rasa kasih sayang yang ingin kita tunjukkan kepada anak-anak bisa jadi “salah jalan”. Maksud hati ingin melindungi anak dari rasa sakit atau marabahaya (misalkan ketika anak batita kita sedang seneng-senengnya naik turun tangga, atau suka memanjat pohon, atau suka lari-larian), yang keluar justru omelan, bentakan, pukulan, atau yang lebih parah udah diomelin dicubitin pula.
“Jangan naik-naik. Awas nanti jatuh!”
Atau,
“Kamu tuh,ya.. Jadi anak nggak bisa diem apa? Pecicilan saja. Kalau jatuh gimana coba?” Ngomel-ngomel sambil nyubitin.
Kalau untuk kejadian yang satu ini, saya belum pernah sampai segitunya. Cuma, saya menyaksikan sendiri bagaimana Bibi saya melakukan itu kepada anaknya.
Nah kawan-kawan, hal inilah yang sedang saya pikirkan.
Jangan-jangan memang antara punya anak 1, 2, 5, 11, dan seterusnya itu tingkat kesabaran ibu harusnya juga ikut bertambah levelnya, ya. Jangan-jangan, anak hadir dalam kehidupan saya biar saya juga belajar lebih sabar dari sebelumnya.
Bisa jadi hal ini berlaku juga kalau anak-anak semakin bertambah besar lalu menginjak usia remaja dan seterusnya.

Lalu saya berpikir lagi. Berarti, LUAR BIASA ya, seseorang yang memiliki banyak anak, itu pasti level sabarnya juga lebih tinggi. Luar biasa ya, seseorang yang mempunyai anak remaja yang sedang mencari jati diri dan tetap sabar menyikapinya.
Sampai akhir tulisan ini, saya masih berpikir terus.

“Sepertinya itulah yang harus saya lakukan. Kesabaran itu kan nggak ada batasnya. Saya harus menaikkan level sabar saya ke level yang lebih tinggi. Mulai saat ini kawan.”

Oiya, ingatkan saya kalau saya kurang sabar,ya. Biar saya install lagi sabarnya ke level 3, 4, 5, 11 dan seterusnya.

2 comments:

  1. anak saya masih satu, mbak tapi saya emang pada dasarnya berwatak impatient jadi learning by doing ^^
    intall sabar juga aaah...

    ReplyDelete
  2. teman2 dan keluarga saya juga bilang saya itu sabar. Hal di atas kadangkala muncul ketika sabarnya lagi down, :)

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)