09 December 2013

Prompt #31: Air Keabadian Cinta

credit
Percy menghempaskan tubuhnya di rerumputan. Merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.

"Percy, ayo sini! Angin sedang bagus....(kamu mau melewatkan ini hanya dengan duduk di bawah pohon saja, huh?!)" pekik Pram dari kejauhan.

Percy tak mendengar kalimat Pram selanjutnya. Fokusnya tertuju pada keayuan wajahnya. Percy terpesona dengan kelincahan Pram memainkan layang-layang. Angin membuat rambutnya yang panjang tergerai ikut terbang bersama khayalan Percy.

Percy memegang dada kirinya, "Ish, kenapa jantungku semakin berdegup kencang?" batinnya. Percy mengalihkan pandang matanya ke langit, ia tak kuasa lagi memandangi Pram.

Layangan membumbung tinggi ke langit. Pram mengikatkan benangnya pada sebuah tiang kayu, kemudian berlari menghampiri Percy.

"Huuft!" Pram menghempaskan tubuhnya di samping Percy yang sedang duduk.

Pram menoleh, degup jantungnya kembali mengencang. Ketika bersama-sama Prameswari selalu saja seperti ini. Entah sejak kapan Percy sendiri tak tahu persis, yang pasti setiap kali memandang wajah dan senyum gadis remaja itu, hatinya selalu tak karuan. 

"Kau ingat sejak kapan, Pram? Kita sudah sering bermain bersama. Main di kali atau menyelam menikmati keindahan taman laut, ke perpustakaan, atau main layangan seperti ini." Percy membuka percakapan. Pandangannya menuju lautan lepas di depan mereka. Bermain layang-layang di pantai sangat mereka sukai.

"Ya, aku ingat dengan jelas." ujar Pram.

"Pram, apakah kamu merasakan perasaan yang sama sepertiku?" Percy hanya mampu bertanya dalam hati.

"Percy, ayo kita pulang!"

"Ah. Oh, kamu pulanglah dulu. Aku masih ingin di sini."

Prameswari melangkah meninggalkan Percy yang sedang gundah.

Percy melangkah menuju tepian laut dan duduk di sana.

"Ayah, kau tahu perasaanku? Sepertinya aku menyukai Pram. Ah, tidak. Bukan suka, tapi aku sudah jatuh cinta padanya. Aku tak ingin terpisah darinya." Percy bicara pada laut.

Sejenak diam lalu kembali berkata, "Yah, engkau adalah seorang Dewa Laut. Bantulah aku agar aku dan Pram bisa terus bersama."

Poseidon mendengar curahan hati anaknya. Ia memberikan sesuatu untuk membantunya. Dari kejauhan Percy melihat kilau cahaya mendekat ke arahnya kemudian terhenti di dekat kakinya. Sebuah botol berisi cairan merah.

"Minumlah air itu bersama dengan orang yang kamu cintai, niscaya cinta kalian abadi. Tapi, jika dia tidak mencintaimu, sesuatu yang buruk akan terjadi." Percy mendengar seruan yang hanya ia sendiri yang mendengar.
***
Pram baru saja keluar dari ruang kelasnya. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Percy sudah menunggunya di bangku taman dengan membawa dua gelas jus apel, jus yang sudah dicampur dengan air keabadian cinta. Mereka sedang asyik berbincang sambil menikmati kripik kentang dan jus apel ketika tiba-tiba langit yang cerah menjadi gelap. Gemuruh angin semakin mendekat dan memusari tubuh Pram. Tubuh Pram membumbung tinggi. Sesaat Percy mendengar teriakan Pram sebelum tubuhnyapun ikut tergulung pusaran angin.

***
Pas 400 kata
FlashFiction ini dibuat untuk MondayFlashFiction

4 comments:

  1. kata 'tetiba' itu bukan kata baku, lho. :) | Ide memadukan dua cerita fiksi berbeda 'budaya' patut dihargai. Namun keluwesan dalam bercerita masih perlu diasah lagi. Oh ya, ada yang membingungkanku. Dikatakan kalau Prameswari dan Percy sama-sama memiliki ibu yang bekerja sebagai dayang istana. Istana yang mana? Istana di darat atau laut? Di kalimat selanjutnya Percy meminta bantuan pada ayahnya Sang Dewa Laut, Poseidon. Poseidon beristrikan dayang? Nah, lubang logika begini yang harus lebih diperhatikan. Salam. :)

    ReplyDelete
  2. pram minum sendirian ga ngajak2 percy? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, harusnya dua-duanya meminumnya. *)edit :)

      Delete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)