1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

12 November 2013

Tamu Tak Diundang



Pagi ini, sebelum berangkat kerja, aBudi bilang : “Mungkin nanti ada tamu yang datang. Kalau laki-laki, gak usah dibukain pintu ,ya .”
Aku hanya mengangguk tanda setuju. Akupun mengantarnya berangkat kerja dengan senyuman termanisku di depan pintu.
“Daaa, hati-hati ya sayang. Semoga hari ini dimudahkan rezekinya. Bawalah rezeki yang halal untuk istri dan anak-anakmu.” Kataku seraya melambaikan tangan.

Siang harinya, bel berbunyi lalu diikuti suara salam. Suara laki-laki. Siapa, ya? Aku bertanya dalam hati. Kembali bel rumah berbunyi dan diikuti salam. Ada rasa penasaran namun aku nggak berani membukakan pintu, juga nggak berani mengintip dari jendela karena pasti terlihat oleh sang tamu. Jadi, aku hanya diam saja di dalam kamar lantai bawah.

Kemudian terdengar suara teh Lia, tetanggaku. Sudah dipastikan sang tamu tadi bertanya ke tetangga. Terdengar suara teh Lia menjelaskan kepada lelaki itu,  namun tak terlalu jelas terdengar dari dalam rumah. Kemudian hening. Sang tamu sudah pergi.

Siang hari menjelang sore sekitar jam 3 . Bel kembali berbunyi, dua kali. Diikuti suara, seperti suara perempuan,tapi juga seperti suara laki-laki. Aku bingung, bukain nggak ya? Bel bunyi lagi, kali ini dikuti suara permisi, punteun, selamat sore. Aku tetap bergeming di dalam kamar bersama anak-anakku. Kuberikan kode kepada si sulung dengan jari telunjukku di depan mulut. Untungnya ia mengerti, seketika nggak ribut dan bicaranya bisik-bisik.

Rupanya sang tamu yang kedua ini bertahan agak lama, ia memencet bel, mengetrok pintu juga mengucapkan kata permisi, selamat sore, punteun. Karena nggak juga dibukakan pintu, sang tamupun sepertinya meninggalkan rumah ini, tanpa jawaban pasti dari pemiliknya.

Dalam hati aku merasa bersalah. Namun kalau dibukakan pintu, aku nggak tau apa yang akan terjadi. Bukan bermaksud su’udzon, namun waspada. Apalagi suami sudah berpesan jangan bukain pintu kalau tamunya laki-laki. Karena hari ini beliau tidak ada janji sama siapapun untuk ketemuan di rumah.

Well, alangkah lebih baik jika aku menurut saja tanpa banyak tanya ini itu ( walaupun dalam hati penasaran siapa dan ada perlu apa bertamu juga merasa bersalah pasti kan orang itu ada perlu sama yang punya rumah). Selama perintah suami bukan sesuatu yang buruk, harus dituruti, sami'na wa atho'na (dengarkan dan lakukan ). Ini adalah salah satu bentuk ketaatan ku kepada suami. Nggak  ada yang tahu kan ketika aku buka pintu untuk tamu tak diundang hari ini lalu terjadi hal yang tak diinginkan?

Yeah, tetap waspada bo', hehehe. ^_^V

0 komentar:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)