03 November 2013

Seorang Bocah dan Mak Nininya



Ketika tengah asyik ngobrol sama Mamah Dzaky, ibunya teman anak saya, datanglah seorang wanita tua. Jalannya sudah sangat pelan dan tangannya pun gemetetan. Selangkah demi selangkah. Begitu lama. Dari gerbang sekolah sampai ke depan pintu ruang kelas TK (Taman Kanak-Kanak) itu sekitar 5 menit. Padahal jaraknya cuma 4 meter.

Tidak adakah yang membantu? Ada atuh. Ibunya temen anak saya, Mamah Azzam, yang menuntun tangannya. Mereka berdua mengobrol sesuatu yang saya nggak ngerti apa yang mereka obrolkan. Karena tempat saya duduk agak jauh dari situ. Wanita tua itu bicara sesuatu pada Mamah Azzam sambil menunjuk-nunjuk ruang kelas TK.

"Ada...ada. Ada...ada." Berkali-kali ibunya Azzam mengatakan kepada wanita tua itu.

Terlihat wanita tua itu kurang puas akan jawaban tadi. Iapun berniat masuk ke dalam kelas. Namun sebelum ia melepas alas kakinya, anak-anak TK mulai berhamuran ke luar kelas.

"Naon kadieu wae? Lieur abina oge!" seorang bocah berkata kepada wanita tua tadi.
(Napain kesini mulu? Pusing akunya juga!)

Sontak para ibu yang duduk tak jauh dari situ menahan tawa.

Setelah tanya-tanya, ternyata wanita tua tadi adalah mak nini (nenek)-nya bocah laki-laki murid TK ini. Setiap hari ia bolak-balik sampai 2 atau 3 kali berjalan dari rumahnya yang nggak dekat dari sekolah, dengan kondisi buyuten, karena ingin memastikan cucunya ada di sekolah.
Ah, Seorang enin yang sangat sayang sama cucunya.

Tak berapa lama setelah wanita tadi meninggalkan sekolah, mamahnya Azzam menyolek pundak saya.
"Ngges pikun."
........


Sebenernya apa sih yang ingin saya bahas? (<-- lah="" malah="" nanya="" p="">Awalnya saya cuma mau menulis kelucuan bocah tadi ketika ngomong sama Nin-nya, begitu polos ,apa adanya. Dengan logat Sunda yang kental.
Namun, saya juga pengen menggaris bawahi (abaikan bahwa wanita itu sudah pikun) seorang nenek sangat sayang kepada cucunya. Tak ingin cucunya kenapa-napa. Saya sedih dan terharu, karena saya sudah nggak punya nenek. Nenek yang sayang sama saya. Nenek saya sudah meninggal.
Namun lagi, saya tidak hendak menggurui kawan-kawan tentang bagaimana bersikap kepada orang tua, karna sayapun bisa berbuat salah sama orang-orang tua yang sudah pikun.
Yang perlu dicatat adalah kita akan menjadi tua juga.

0 komentar:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)