1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

04 November 2013

27 Maret


credit
Mataku masih tertuju pada cowok di dekat jendela. Entah kenapa gak bisa lepas dari sihir tubuh kurus dan tinggi itu. 
 Apa yang sedang dia cari?
Aku mengintip dari balik novel yang pura-pura kubaca, takut ketahuan. Kulirik kiri kanan, hanya satu orang selain aku dan cowok itu,sedang duduk khusyuk membolak-balik halaman buku.
Kulirik juga jam tanganku.
 Sudah jam 3 sore. Kenapa Feri belum datang juga? Katanya mau janjian.
Kuambil ponsel dari saku kemeja. Dengan cepat kukirim pesan singkat untuk Feri, teman kerjaku.

"Hei bray, inget... ini tgl brp?" | "27 maret, knp lo,lupa tgl?" | "Astaga...lo di mana? inget hari ini mo ngapain?" | "Auk dah, lo ganggu gue aja. Lagi enak-enak tidur." | "Hei, gue udah di Sekar Wangi dari tadi tauk! buru ke sini!"|
 Lalu kusimpan lagi ponselku ke dalam saku.

Sedetik kemudian kucari lagi cowok tadi, jangan sampai kehilangan jejaknya. Dengan cepat kutemukan sosoknya. Cowok itu, mirip sekali dengan teman semasa SMA yang pernah kusukai.

Eh, mau kemana dia?  Mataku terus mengikuti gerakannya
Oooh, rupanya bertanya pada penjaga toko.

Jantungku yang sedari tadi berdebar-debar, kini semakin berdegup kencang tak karuan, karena ada sebuah harapan akan bertemu dengan si dia setelah 5 tahun terpisah. Ya, di toko buku ini, yang luas namun tenang, akan jadi sejarah.

 Apakah itu dia? Kalau bukan, bagaimana?
Aku mengumpulkan keberanianku untuk segera menemuinya. Kubalikkan tubuhku menghadap dinding, kusandarkan punggungku di rak buku. Kutarik nafas dalam, sekali lagi.

Baiklah. Inilah saatnya. Aku yakin itu dia. Mirip sekali. Kalaupun ada beda mungkin karena sudah lama tak bertemu, wajar kalau ada sedikit yang berubah di wajahnya.

Begitu jantungku sudah agak tenang, kubalikkan badan dan berjalan mantab menuju ke arahnya.

beep...beep

Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk. Oh, Feri si lelet itu.

"Hey, udah di mana lo?" jawabku dengan suara pelan dan mengambil tempat agak tersembunyi.

"Gue lagi di parkiran, Jes. Lo masih di toko buku itu, kan?"

"Iya, cepetan lo kesini."

Kututup ponselku lalu hendak kembali berjalan menemui cowok yang selama sejam ini aku amati diam-diam.

Baru berjalan lima langkah terdengar suara orang marah-marah. Ku datangi sumber suara yang ternyata itu di dekat kasir. Mataku melotot karena ada cowok itu di sana. Kami sempat beradu pandang. Sebentar. Aku terus berjalan melewati kasir. Penjaga toko masih saja berkata dengan suara mengancam kepada cowok itu.

"Mas harus membayar buku-buku ini, kalau tidak maka Mas akan kami laporkan kepada Polisi!"
.....

389 kata
Flash Fiction ini dibuat untuk MFF

0 komentar:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Tapi mohon maaf, komen dengan link hidup terpaksa saya hapus yaa :)