1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

08 June 2013

Ikhlas

Kapal sudah merapat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Kapten Birawa bersama 800 pasukannya segera turun dari kapal. Dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Kapten Birawa sudah rindu sekali pada istri dan kedua anaknya. Selama 12 bulan ia meninggalkan keluarganya untuk bertugas di daerah perbatasan RI-Papua Nugini. Selama itu pula ia dan keluarganya tak saling berkirim kabar. Hanya sekali ia mengirim surat untuk istrinya, sekali itu juga di balas.

Sampai di rumah, Kapten Birawa mulai curiga karena rumah yang ia dan keluarga tempati tampak kotor tak terawat. Hatinya mulai khawatir ketika tak mendapati istri dan anak-anaknya di sana. Hatinya semakin tak karuan ketika menanyakan kepada tetangga terdekat, namun tak ada satupun yang menjawab. Birawa mencoba menenangkan pikirannya. Ia duduk di ranjang yang sudah berdebu itu. Tak sengaja, ia melihat ada amplop warna merah muda tergeletak di bawah vas bunga. Dia bertanya dalam hati, "surat cinta milik siapa ini? Jangan-jangan istriku pergi bersama pria pemilik surat ini."

Dengan tangan yang gemetar Birawa membuka amplop itu, kemudian membacanya.

untuk Mas Birawa tercinta,


Hatiku remuk-redam ketika mendengar kabar bahwa Kapten Birawa menghilang saat bentrok dengan pemberontak. Kemudian ada kabar lagi bahwa Kapten Birawa telah dinyatakan gugur, akan tetapi tidak ditemukan jasadnya. Mas ini sangat sulit untuk kuterima. Sepuluh bulan aku bertahan di rumah ini menunggu keajaiban. Aku sangat merindukanmu. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Kudus, ke rumah orang tuaku. Karena jika aku di sini terus, kasihan anak-anak. Mungkin aku sudah gila karena mengharapkanmu kembali dalam keadaan hidup. Maka, kutulis surat ini jika engkau kembali segeralah susul aku ke Kudus. 


salam rindu,
Sri

Kemudian, Birawa segera ke Kudus. Sampai di depan rumah orang tua Sri, Birawa mematung. Tubuhnya bagai tersambar petir. Ia melihat di dalam rumah sedang ada pengajian. Terlihat Sri dan kedua anaknya yang sedang menangis sesenggukan memeluk fotonya. Sesaat dia bingung, iapun meraba wajahnya, melihat tangan, kaki, dan tubuhnya yang serba putih bercahaya. Menyadarkan Birawa untuk mengikhlaskan semua yang terjadi pada dirinya.


Cerita ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta



6 comments:

  1. Huaaaa.... Kirain istrinya salah dapat kabar. Hiks..
    Kapten Bhirawa ke Kudus naik apa? Hehehe... Usil nanya2 :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kok ya punya pertanyaan sama hihihi jail

      Delete
    2. orang usil&jail enaknya diapain yaaa :\
      hehe

      Delete
  2. Wah.. ternyata Kapten Bhirawanya disini tinggal arwah.. :'( Tapi, pasti cintanya pada keluarga begitu besar, hingga dia menyempatkan pulang kerumah dulu sebelum 'pulang' :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. cup cup cup, *sodorin tissue :')

      Delete
  3. ternyata udah meninggal.. hiks..
    makin banyak baca, malah makin minder nih. FFnya keren2

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)