1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

15 June 2013

FF Prompt#16 : Kisah dari Balik Jendela


Dokumen Pribadi  Hana Sugiharti
"Woow.. bagus sekali Ma. Lihat sini dech Ma!" Rasha melambaikan tangan kepadaku dengan mata berbinar.

"Oya?" jawabku dengan antusias.

Lalu kudekati Rasha yang berdiri di jendela. Kutempelkan pipiku di pipinya, mencoba mencari sesuatu yang menarik, yang sedang Rasha lihat. Aku mengernyitkan dahi karena tak menemukan sesuatu yang menyolok.

"Rasha lihat apa? Ceritakan dong." pintaku dengan wajah memelas seperti anak kecil.

Bagi Rasha, berdiri di jendela flat lantai lima ini merupakan sesuatu yang baru. Ia begitu terpesona dengan pemandangan jauh di luar sana. Umurnya baru tiga setengah tahun, dan ini pertama kali ia berdiri di situ.

"Ma, itu apa? Kalau yang itu apa? Itu di sana apa?" Rasha mencerocos.

Lalu kuarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rasha.

"Oh, itu namanya pohon kurma." jawabku ketika Rasha menunjuk ke arah bawah. Berarti itu berada di lingkungan flat kami.

"Kalau yang itu, yang ada menara yang tinggi namanya masjid." jawabku ketika Rasha menunjuk lurus ke arah depan.

"Nah, kalau yang jauh di sebelah kiri Rasha, yang luas sekali, itu namanya gurun pasir, sayang." jawabku ketika Rasha menunjuk arah kirinya. Aku hafal sekali pemandangan di luar jendela itu sebab sudah sebelas tahun aku dan suamiku tinggal di sini.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

"Sayang, itu tante Hana sudah datang. Mama bukakan pintu dulu ya."

Hana adalah adikku. Setiap hari dia datang untuk mengajak Rasha bermain, mengajarinya menggambar, atau sekedar mengobrol denganku.

"Hai Rasha" sapa Hana.

"Tante Hana, ayo kita menggambar lagi. Sekarang menggambar gurun pasir saja. Barusan Rasha melihatnya sama Mama." Rasha mencerocos lagi. Aku lalu duduk di sofa dekat jendela.

Hana yang lihai menggambar segera mengambil pensil dan kertas. Tak berapa lama jadilah gambar yang sama seperti yang dilihat oleh Rasha.

"Nah, sekarang coba Rasha yang menggambar." Hana memberikan krayon dan kertas gambar kepada Rasha. Rasha sudah terbiasa setiap kali tantenya habis menggambar lalu iapun akan diminta menggambar oleh tantenya. Rasha naik ke atas meja makan yang berada di dekat jendela, kemudian larut dalam kertas dan krayon. Sesekali ia melongok ke luar jendela, memastikan apa yang ia gambar itu menyerupai aslinya.

Sementara aku memperhatikan Rasha dengan mata berkaca-kaca. Semakin menambah buram penglihatanku saja, Rasha terlihat hanya seperti bayangan.

"Kak, kakak menangis lagi." ucap Hana setelah duduk di sampingku.

"Aku tidak tega melihat Rasha, Han. Sampai kapan aku akan begini terus. Sampai kapan juga kau akan menemani Rasha setiap hari. Suatu hari nanti engkaupun akan punya keluarga, punya anak yang lucu-lucu. Kakak tidak mau merepotkan kamu terus." air mataku sudah tak terbendung lagi. Memang biasanya juga begini. Aku masih belum sepenuhnya menerima kehilangan sebagian penglihatanku tak lama setelah melahirkan Rasha.

Rasha menghampiri kami. Ia menunjukkan kepadaku hasil menggambarnya.

"Ma, bagus tidak?"

"Iya iya sayang, bagus sekali gambarmu. Anak mama pinter menggambar ya seperti tantenya" jawabku terbata sambil memeluk Rasha.

Aku menciumi rambut Rasha sambil menangis. Gambar Rasha semakin tak terlihat oleh mataku, pun dengan puluhan gambar hasil karya Rasha yang lain yang tertempel di dinding. Hana mengelus dengan lembut punggungku. Entah berapa lama lagi Glaukoma ini benar-benar merenggut penglihatanku.

"Rasha, maafkan mama harus berpura-pura." ucapku dalam hati.

credit
=================================================================

spesial pake telor dibuat  untuk MFF

7 comments:

  1. Mak, masih kepanjangan. Masih bisa dipadetin lagi ;)

    ReplyDelete
  2. Wah...
    Idenya bagus, kak ^^

    ReplyDelete
  3. sip. tambahkan sedikit penjelasan, apa yang terjadi dengan mata mama. glaukoma sepertinya bisa.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)